Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Cari alasan


__ADS_3

"Mba Maudi tidak sebaik yang Anda pikir, Tuan. Mas Rian bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab. Jadi stop memaksa Mas Rian untuk menikahi Mba Maudi," ucap Riri.


"Lancang sekali kamu! Anakku punya bukti yang kuat atas perbuatan dia," ucap ayah Maudi sambil menunjuk Rian.


"Lagi pula kamu itu bukan siapa-siapanya Rian. Bukannya kemarin kamu jalan dengan Rey? Jangan menuduhku sembarangan. Karena kenyataannya kamu yang murahan," ucap Maudi.


"Murahan? Mba tidak sedang menyindir diri Mba sendiri kan?" tanya Riri sinis.


"Hey, tutup mulutmu! Jangan sekalipun kamu merendahkan anakku. Kesalahan Maudi hanyalah tertipu dengan pria itu," ucap ayah Maudi sambil kembali menunjuk Rian.


"Jaga ucapan Anda, Tuan. Aku hanya takut Anda malu sendiri jika tahu kenyataannya seperti apa," ucap Riri.


"Apa yang kamu tahu? Apa?" tanya Maudi.


"Sebelum aku melangkah, aku hanya ingin tahu apakah kalian saling mencintai?" tanya Riri.


"Kami saling mencintai. Semuanya baik-baik saja saat tidak ada kamu. Tapi setelah kamu datang, semuanya berubah. Semuanya menjadi tidak baik bahkan sangat buruk," jawab Maudi.


"Kenapa jadi yang salah? Bukankah Mba yang berpacaran dengan Mas Rey karena hanya ingin membuat Mas Rian cemburu?" tanya Riri.


"Jangan terlalu ikut campur urusanku. Lebih baik kamu urus saja hidupmu sendiri," jawab Maudi.


"Aku janji tidak akan membuat keributan kalau kalian memang akan menikah karena saling mencintai," ucap Riri


"Tidak. Dulu memang perasaan itu ada. Tapi semuanya sirna setelah aku menandatangani surat itu. Rasa kecewa itu terlalu besar untuk dilewatkan begitu saja," ucap Rian.


"Jadi Mas tdiak mau menikahi Mba Maudi?" tanya Riri.


"Tidak," jawab Rian sambil menggeleng dan menunduk pasarah.


"Kalau begitu aku harus menunjukkan sesuatu," ucap Riri.


"Apa? Apa yang kamu punya? Hah?" ucap Maudi sambil mendorong Riri.


Riri nyaris terjatuh namun Rian dengan sigap menangkap tubuh Riri.


"Pus, sudahlah. Ini masalahku. Ini kebodohanku. Biarkan aku yang menyelesaikan semua ini. Aku tidak ingin kamu ikut terlibat dalam masalah ini," ucap Rian sambil menatap dalam mata Riri.


Mata yang selalu membuat Rian bersyukur. Karena hidupnya masih jauh lebih beruntung dibanding dengan Riri. Namun Riri orang yang tangguh. Itu yang membuat Rian iri pada Riri.


"Mas tidak bodoh. Mas hanya terlalu baik pada orang yang salah," ucap Riri.


"Apa maksudmu?" tanya Maudi.


"Mba sengaja kan memanfaatkan kebaikan Mas Rian?" tanya Riri.


"Aku punya bukti. Jangan sembarangan!" ucap Maudi tegang.


"Aku juga punya bukti kalau Mba memang memanfaatkan kebaikan Mas Rian," ucap Riri.


"Pus, apa maksud kamu?" tanya Tuan Felix.


"Pah, aku punya ini!" ucap Riri.


Riri mengeluarkan ponselnya dari dalam tas biru miliknya. Ia menunjukkan percakapan Maudi dan Rian saat di rumah sakit. Ia merekam jelas bagaimana Riri memohon pada Rian agar menandatangani surat itu. Air mata Maudi mengalir deras saat itu.

__ADS_1


Rian dan Tuan Felix merasa sangat bahagia dengan semua bukti yang Riri tunjukkan padanya. Rian berjanji akan melakukan apapun untuk Riri karena ia sudah menyelamatkan masa depannya.


"Sini!" ucap Maudi yang berusaha merebut ponsel milik Riri.


Sayangnya Riri tidak semudah itu melepaskan ponselnya. Ia segera menarik ponselnya dan memasukan kembali ke dalam tasnya.


"Kenapa? Belum puas nontonnya? Biar nanti Mas Rian yang kirim ke nomor Mba ya!" ucap Riri.


"Maudi," ucap ayahnya dengan suara penuh tekanan.


Maudi menunduk dan tidak berani menatap ayahnya. Ia sangat takut saat semuanya terbongkar. Ia tidak menyangka jika Riri menyimpan bukti itu.


Kurang ajar kamu Riri. Aku akan buat perhitungan denganmu. Kita lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Apalagi bersama Rian. Jangan pernah bermimpi pembantu murahan.


"Ayo pulang!" ajak ayahnya Maudi.


Maudi mengangkat wajahnya dan menatap Riri penuh kebencian. Lalu setelah itu ia mengikuti ayahnya. Sementara Riri sendiri terlihat sbegitu santai meskipun Maudi mengangkat bendera peperangan.


"Pus, terima kasih. Aku berhutang budi padamu," ucap Riri.


"Kamu itu dewa penyelamat bagi kami, Pus. Papa sampai menyerah saat sulit sekali mencari bukti yang bisa mematahkan bukti yang dipegang Maudi," ucap Tuan Felix.


"Jangan terlalu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," ucap Riri.


"Dari mana kamu bisa mendapat rekaman itu?" tanya Rian.


"Ayo masuk dulu! Kita cerita di dalam ya," ucap Tuan Felix.


Ketiganya masuk dan duduk di ruang tamu. Rian dan Tuan Felix duduk serius mendengarkan cerita Riri yang berhasil mendapat rekaman itu.


"Aku pikir yang sakit itu Papa. Makanya aku mengikuti Mas. Ternyata ada drama yang lebih heboh dari ada drama korea. Makanya aku segera mengebadikan momen itu," ucap Riri sambil menahan tawanya.


"Aku tidak percaya jika akhirnya kamu yang menyelamatkan hidupku," ucap Rian.


"Mas jangan berlebihan. Itu hanya kebetulan saja. Maaf aku tidak memberi tahu Mas soal rekaman itu. Karena Mas sama sekali tidak cerita padaku," ucap Riri.


"Aku tidak tahu harus cerita pada siapa. Aku takut hanya akan membebani pekerjaan dan perkuliahanmu," ucap Rian.


"Mas, sebagai seorang teman kita tidak boleh berpikiran buruk. Coba kalau Mas cerita. Mas tidak akan bolos kuliah gara-gara ini," ucap Riri.


"Iya. Seharusnya aku cerita padamu saat itu," ucap Rian.


Saat ini Rian memang tampak masih tidak percaya dengan sebuah keajaiban yang ia alami. Ia sama sekali tidak mengira jika akhirnya ia bebas dari masalah itu.


"Seharusnya saat di rumah sakit Papa juga bercerita padamu. Jadi Papa tidak perlu berlarut-larut dalam kebingungan," ucap Tuan Felix.


"Jadi Papa ke rumah sakit untuk mencari bukti lain?" tanya Riri.


"Iya. Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya pada Papa, Pus?" tanya Tuan Felix.


"Pah, aku rasa semuanya tidak perlu aku buka jika kejadiannya tidak seperti ini. Aku juga sengaja merekam bukan karena ingin membeberkan rekaman ini pada semua orang. Aku hanya persiapan saja. Karena feelingku saat itu buruk sekali. Aku tahu siapa Mba Maudi," jawab Riri.


Tuan Felix dan Rian semakin salut pada Riri. Ia cerdas dan tidak gegabah. Ia juga penyimpan rahasia yang paling aman.


"Lain kali aku akan cerita padamu. Aku yakin kalau kamu tidak akan membocorkan rahasiaku," ucap Rian.

__ADS_1


"Tergantung," jawab Riri.


"Tergantung apa?" tanya Rian.


"Kalau ceritanya soal Papa, sepertinya aku harus membocorkan semua itu. Aku kan tim Papa," jawab Riri sambil tersenyum.


Rian dan Tuan Felix tertawa mendengar jawaban Riri.


"Bagus. Kamu memang anak pintar," ucap Tuan Felix.


"Oh ya kok kamu bisa datang ke rumah sih?" tanya Rian.


Dering ponsel membuat Riri panik. Apalagi saat melihat nama Mr. Aric terpampang jelas di layar ponselnya. Ia izin untuk keluar dan menjawab panggilan Mr. Aric.


"Kapan-kapan aku jawab ya. Aku harus pulang sekarang," ucap Riri saat selesai menjawab panggilan Mr. Aric.


"Ayo aku antar pulang!" ajak Rian.


"Tidak perlu Mas. Aku akan pulang sendiri. Aku tidak ingin Mas kena masalah dengan Mr. Aric. Mr. Aric sudah sangat percaya dan kagum pada Mas. Aku tidak ingin ada salah paham," ucap Riri.


"Tidak Mas, aku mohon. Sepertinya aku lebih mengenal Mr. Aric dibanding Mas," ucap Riri.


"Sudah. Biarkan Mpus pulang sendiri. Papa yakin Mpus tahu mana yang terbaik buat semuanya," ucap Tuan Felix.


Khawatir dengan Riri, Tuan Felix segera meminta Riri untuk segera pulang. Ia tidak ingin pahlawannya itu mendapat hukuman karena pulang terlambat.


"Ya sudah hati-hati ya!" ucap Rian.


"Siap Mas," jawab Riri.


"Pus, tunggu sebentar!" panggil Rian saat melihat Riri semakin menjauh.


"Ada apa lagi Mas?" tanya Riri.


Riri menghentikan langkahnya. Ia menunggu Rian yang belari menghampirinya.


"Apa kamu akan cerita apa yang sudah terjadi hari ini pada Mr. Aric?" tanya Rian.


"Sepertinya tidak perlu," jawab Riri.


"Lalu apa alasan kamu pulang terlambat?" tanya Rian.


"Aku masih bisa cari banyak alasan, Mas. Tenang saja," jawab Riri.


"Berarti kamu berbohong dong?" tanya Rian.


"Kalau demi kebaikan kan katanya boleh, Mas." Riri tersenyum lebar.


"Riaaaan, biarkan Riri pulang. Jangan membuatnya semakin lama sampai di rumah," teriak Tuan Felix.


"Iya Pah iya," ucap Rian.


Riri hany tersenyum canggung dan segera pamit untuk pulang.


"Pus, hati-hati! Nanti kita cerita lagi ya," ucap Rian penuh harap.

__ADS_1


"Siap Mas," jawab Riri.


__ADS_2