
Rian yang merasa tersudutkan segera mengakhiri panggilannya dengan Mia. Dalam kesendiriannya, Rian menatap dirinya pada pantulan cermin. Kembali terngiang pertanyaan Mia sesaat sebelum panggilan itu berakhir.
Pilih Riri atau Maudi? Aku bahkan tidak tahu hatiku sekarang seperti apa. Rasanya aku masih mencintai Maudi. Tapi kenapa aku merasa sangat ingin tahu tebtang kehidupan Riri?
"Rian, gimana?" tanya Tuan Felix.
"Apanya yang gimana Pah?" tanya Rian bingung.
Rian nampak terkejut dengan kedatangan Tuan Felix. Ia juga semakin bingung dengan pertanyaan yang tidak jelas itu. Namun rupanya Tuan Felix masih penasaran dengan cicilan Riri. Rian pun menjelaskan cicilan pertama Riri.
"Jadi hanya karena cinta dia jadi seorang pembantu?" tanya Tuan Felix.
"Aku tidak tahu itu ada hubungannya atau tidak Pah. Mpus hanya bilang jika dia sudah mati rasa karena ditinggal menikah. Miris sekali ya Pah," ucap Rian.
"Hati-hati. Papa khawatir kalau kamu akan senasib dengan Mpus," ucap Tuan Felix.
"Hah? Kok jadi ke aku sih Pah," ucap Rian.
"Memangnya kamu tidak takut ditinggal nikah sama Maudi?" tanya Tuan Felix.
Rian diam. Ia memang masih sangat takut kehilangan Maudi untuk selamanya. Meskipun saat ini Maudi sudah menjadi pacar Rey, tapi Rian masih berharap jika dia yang akan menikahi Maudi suatu saat nanti.
"Mpus itu wanita kuat dan hebat. Pengalaman pahitnya dalam sebuah rasa menjadikan Mpus bertekad kuat dalam mewujudkan asanya. Tidak seperti kamu," ucap Tuan Felix.
"Memangnya aku gimana?" tanya Rian.
"Kamu itu kebalikannya. Asamu nyaris hilang kendali karena sebuah rasa yang salah. Memperjuangkan rasa yang tidak seharusnya kamu perjuangan adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Papa sarankan kamu belajar banyak hal dari Mpus," ucap Tuan Felix menepuk bahu Rian.
Rian melihat sosok Tuan Felix itu pergi semakin menjauh hingga ia tidak menangkap bayangan itu sama sekali. Rian membayangkan jika Maudi benar-benar menikah dengan Rey. Ia bergidik dan segera mengusap wajahnya.
"Makan malam di luar yuk!" ajak Tuan Felix.
"Boleh Pah," jawab Rian bersemangat.
Ini adalah malam minggu. Pasti suasana di luar akan sangat ramai. Rian dan Tuan Felix sudah lama tidak pernah menikmati malam minggu di luar rumah. Biasanya mereka hanya menghabiskan malam minggu di depan tv dan membahas tentang kuliah Rian.
"Ayo!" ajak Rian bersemangat setelah mengenakan jaket jeans berwarna navy.
"Mau ketemu siapa?" tanya Tuan Felix.
"Kok ketemu siapa? Kita mau makan malam di luar kan? Ya pasti ketemu banyak orang dong," jawab Rian.
"Orang spesial?" tanya Tuan Felix.
"Papa adalah orang spesial di mataku," goda Rian.
"Kamu bisa gombal begitu tidak ke Mpus?" goda Tuan Felix.
Kena lagi. Rian berusaha membuat Tuan Felix kesal tapi ujung-ujungnya dia lagi yang kena. Sepertinya Tuan Felix adalah mak comblang Rian dan Riri jalur keluarga.
"Ayo ah berangkat!" ajak Rian.
__ADS_1
Tuan Felix hanya tertawa melihat Rian yang kesal. Ia mengikuti Rian setelah meraih jaket coklatnya yang tersimpan di atas kursi.
"Kemana nih Pah?" tanya Rian.
"Papa mau ke cafe bagus. Kamu ambil kanan ya nanti di depan," jawab Tuan Felix.
"Cafe apa namanya?" tanya Rian.
"Cafe apa ya namanya, Papa lupa. Pokoknya cafe baru. Punya teman Papa," jawab Tuan Felix.
"Cafe baru?" tanya Rian.
"Iya. Baru buka sebulan," jawab Tuan Felix.
Rian menatap Tuan Felix. Cafe yang sudah buka sebulan masih dikatakan sebagai cafe baru. Apakah hanya karena mereka benar-benar tidak pernah keluar rumah malam-malam seperti ini?
Mereka berdua menikmati suasana malam yang sangat mereka rindukan. Obrolan ringan dan hangat menemani mereka hingga sampai ke tempat yang dituju.
"Nah itu di depan stop," ucap Tuan Felix menunjuk cafe mewah di seberang jalan.
"Ini tempatnya?" tanya Rian.
"Iya. Bagus kan?" ucap Tuan Felix.
Rian mengangguk. Bukan hanya bagus, ini sangat mewah. Pengunjung yang banyak membuat Rian yakin jika makanan di sana pasti enak. Air liurnya sudah mencair membayangkan menu makan malamnya.
"Ayo pah!" ajak Rian bersemangat.
Keduanya memasuki cafe mewah itu. Banyak orang yang tengah menikmati makanan yang dihidangkan di meja masing-masing. Rian melihat hampir semua bangku terisi sampai akhirnya mereka dikejutkan dengan seseorang yang menghampiri.
"Kalian baru ke sini?" tanya teman Tuan Felix.
"Ya, maafkan aku baru sempat ke sini," jawab Tuan Felix.
"Tidak masalah. Aku mengerti kamu sibuk," ucap teman Tuan Felix.
Rian tampak bingung melihat obrolan keduanya yang begitu akrab dan fasih bahasa Indonesia. Beruntung Tuan Felix menyadari apa yang sedang Rian pikirkan.
"Rian, ini teman Papa. Dia asli dari Indonesia dan sukses membuka beberapa cafe di sini. Ini adalah cafe kelimanya," ucap Tuan Felix memperkenalkan temannya.
"Hallo, Tuan. Aku Rian," ucap Rian sambil mencium tangan teman Tuan Felix.
"Jangan panggil aku Taun. Panggil aku om saja. Sering-seringlah main ke sini. Kita satu negara," ucap teman Tuan Felix.
"Tentu. Kapan-kapan aku pasti ke sini lagi," jawab Rian.
"Kalau dia ke sini membawa seorang teman wanita, kabari aku. Aku mau tahu siapa wanita pertama yang akan dia ajak makan di sini," ucap Tuan Felix.
Rian tersenyum malu dengan ucapan Tuan Felix. Sementara teman Tuan Felix hanya tertawa mendengar ucapan Tuan Felix.
"Biarkan saja. Memang sedang masanya mengenal wanita yang akan ia nikahi," ucap teman Tuan Felix.
__ADS_1
"Hussst, menikah. Dia masih sangat muda. Kuliah saja baru semester tiga," ucap Tuan Felix.
"Ya kan untuk saling mengenal itu membutuhkan waktu. Ya cukuplah jika saling mengenal dari sekarang," ucap teman Tuan Felix.
"Ah sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Oh ya, aku lihat cafe ini penuh sekali," ucap Tuan Felix.
"Ya, malam minggu biasanya banyak sekali pengunjung. Tapi kalian tenang saja. Untuk kalian, akan aku siapkan tempat khusus. Ikut aku!" ajak teman Tuan Felix.
Mereka duduk di ruangan khusus dengan dekorasi yang sangat indah. Bernuansa alam, hijau menyejukkan. Membuat Rian seketika rindu Indonesia. Tidak lama, datang dua orang pelayan membawa makanan khas Indonesia dan khas Jerman.
"Rian, setidaknya ini akan mengobati kerinduanmu pada kampung halaman," ucap teman Tuan Felix.
Rian tersenyum lebar menatap menu yang ada di hadapannya. Ia senang dan berterima kasih. Setelah pemilik cafe meninggalkan mereka berdua, Rian segera melahap makanannya.
"Kamu lapar ya?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sangat lahap.
"Aku rindu makanan Indonesia Pah," jawab Rian yang kemudian melanjutkan lagi makannya.
Tuan Felix menggeleng.
"Pelan-pelan. Nanti tersedak," ucap Tuan Felix.
"Iya," jawab Rian sambil mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Selesai makan, keduanya pamit pada pemilik cafe yang merupakan sahabat Tuan Felix. Dengan perut yang kenyang, mereka kembali menuju rumah. Namun sayangnya di jalan Rian melihat seorang wanita tengah cekcok dengan pria. Mobil berhenti sebentar.
"Jangan ikut campur urusan orang," ucap Tuan Felix.
"Tapi dia Maudi," ucap Rian setelah yakin dengan wanita yang tengah cekcok itu.
"Biarkan saja. Kamu tidak ada masalah dengan dia kan?" tanya Tuan Felix.
"Tapi Maudi temanku Pah," ucap Rian.
"Hanya teman. Jalan!" perintah Tuan Felix.
Rian kembali melajukan mobilnya meskipun kepalanya dipenuhi dengan tanda tanya besar. Siapa pria yang bersama Maudi? Dia bukan Rey. Lalu kenapa mereka cekcok di jalan begitu? Ada masalah apa mereka?
"Perhatikan jalanmu!" ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Sampai mobil berhenti di depan rumah, Tuan Felix pergi lebih dulu ke dalam rumah. Dari sikapnya, Rian yakin ayahnya sedang kecewa padanya. Tapi Rian juga tidak bisa membohongi dirinya. Ia khawatir dengan Maudi.
Setelah masuk ke dalam kamar, Rian mencoba menghubungi Maudi namun panggilannya diabaikan. Rian menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung.
Apa aku cari tahu pada Rey saja ya?
Rian menekan nama Rey pada ponselnya. Namun tidak lama ia mengurungkan kembali niatnya. Ia tidak mau jika Rey menganggapnya mengadu domba.
Nanti juga Rey tahu sendiri apa yang terjadi pada Maudi. Lebih baik sekarang aku tidur saja.
__ADS_1