
Suasana seketika hening. Rian masih menyimpulkan jawaban Dion yang terkesan aneh. Sedangkan Dion hanya mengamati ekspresi Rian yang tengah dilema. Antara senang dan bingung.
Rupanya Dion mengerti maksud tatapan Rian padanya. Ia pun menjelaskan apa maksud ucapannya.
"Begini." Dion membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Sebagai laki-laki, kamu ini memegang peranan penting. Kamu itu imam, baik buruknya pasangan kamu, tergantung cara kamu mendidiknya." Dion melanjutkan ucapannya.
"Jadi aku boleh menikahi Maudi?" tanya Rian.
"Selama kamu sanggup mengubah Maudi menjadi lebih baik, kenapa tidak? Kuncinya ada di kamu. Kamu siap atau tidak. Kamu sanggup atau tidak. Jalan kamu masih sangat panjang. Manfaatkan waktumu dengan baik. Aku kelyar dulu ya!" ucap Dion.
Tanpa menunggu komentar Rian, Dion segera meninggalkan kamar itu. Membiarkan Rian mencerna sendiri apa yang sudah ia ucapkan. Dion yakin jika Rian pasti akan mengerti maksudnya.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Rian kembali mengingat ucapan Dion. Ia berusaha menerjemahkan arti dari setiap kalimat yang sempat ia dengar. Sampai akhirnya ia berhenti pada kesimpulan yang membuatnya ngeri sendiri.
Bisakah Maudi berubah?
Rian menghela napas panjang. Rasanya ia tidak mungkin bisa mengubah Maudi untuk mengikutinya. Maudi cukup egois dan selalu dominan dalam sebuah hubungan. Ia tidak yakin jika Maudi bisa mengikutinya.
Karena ucapan Dion, entah mengapa Rian menjadi punya harapan lagi dengan Maudi. Meskipun harapannya sangat kecil.
"Rian," panggil Tuan Felix.
Rian terkejut saat Tuan Felix membuka pintu kamarnya.
"Papa," ucap Rian.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Tidak apa-apa," jawab Rian dengan sesantai mungkin.
"Kita pulang besok?" tanya Tuan Felix.
"Besok?" tanya Rian.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Ah tidak. Aku hanya ingin pamitan dulu dengan anak-anak," jawab Rian.
"Kamu bisa pamitan besok," ucap Tuan Felix santai.
"Iya Pah," jawab Rian.
Setelah itu Tuan Felix keluar dari kamar Rian. Kembali sendiri membuat Rian merasa sepi. Pulang besok? Ini bahkan sangat jauh dari rencananya yang akan menghabiskan waktu liburnya di Indonesia.
Keesokan paginya, Rian sudah bersiap. Semua barangnya sudah tersusun rapi di dalam kopernya. Namun saat ia keluar kamar, ia tidak menemukan Tuan Felix.
"Kamu mau kemana?" tanya Mia.
"Pulang Kak," jawab Rian.
"Pulang kemana?" tanya Mia.
"Ke Jerman, jawab Rian.
"Kamu marah padaku?" tanya Mia.
"Tidak," jawab Rian sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu kenapa kamu akan pulang?" tanya Mia.
"Papa yang mengajakku pulang hari ini," jawab Rian.
"Papa bahkan masih tidur saat kamu sudah siap untuk pulang. Kalau aku ada salah, aku minta maaf. Jangan begini Rian," ucap Mia sedih.
"Kak, aku tidak ada maksud seperti itu. Aku benar-benar akan pulang dengan Papa karena memang Papa tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama," ucap Rian.
"Buktinya Papa masih tidur," ucap Mia.
Rian mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya jika Tuan Felix masih tidur. Padahal Tuan Felix sendiri yang memastikan Rian untuk pulang hari ini.
"Om Riaaaaan," teriak Yaza.
"Yaza?" ucap Rian tidak percaya.
"Aku kangen om," ucap Yaza sembari memeluk Rian.
__ADS_1
"Om juga," jawab Rian.
"Kak Maya sengaja ke sini?" tanya Rian.
"Iya, aku sengaja mau menitipkan Yaza di sini. Boleh kan?" tanya Maya.
"Boleh, boleh. Biarkan Yaza di sini bersama Rian," jawab Mia.
Rian semakin bingung. Yaza dititipkan dengannya, sementara ia sendiri sudah ada rencana untuk pulang ke Jerman. Ya, meskipun tidak yakin kalau ia akan benar-benar pulang.
"Aku permisi dulu ya Mi. Rian, aku titip Yaza sebentar ya!" ucap Maya.
"Maya tunggu!" ucap Mia.
"Kenapa?" tanya Maya.
"Mia juga mau ke kantor. Sepertinya kita bis berangkat bersama," jawab Mia.
"Lalu Dion?" tanya Maya.
"Suamiku sudah berangkat lebih dulu tadi," jawab Mia.
"Oh ayo!" ajak Maya.
"Rian, hati-hati di rumah ya!" ucap Mia.
"Ta-tapi Kak," ucap Rian gugup.
"Nanti kalau Narendra dan Naura bangun, katakan aku dan Dion sudah berangkat." Mia melambaikan tangannya meninggalkan Rian yang masih mematung kebingungan.
"Om Riaaaaan," teriak Dandi.
Belum usai kegelisahan Rian, ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Dandi. Dengan cepat tubuh mungil itu memeluk Rian. Berdesakan dengan Yaza yang sudah lebih dulu memeluk Rian.
"Dandi ke sini sama siapa?" tanya Rian.
"Diantar Papa," jawab Dandi.
"Papanya mana?" tanya Rian.
"Ke kantor," jawab Dandi.
"Mama sedang ada urusan, om. Ayo om main om," ucap Dandi.
Rian ditarik oleh Dandi dan Yaza menuju ruangan khusus untuk anak-anak. Jujur saja, Rian memang sangat menikmati waktu seperti ini. Bermain dengan anak kecil, merupakan cara Rian melupakan sejenak beban di kepala dan bahunya.
Hal itu berbeda untuk saat ini. Rian merasa sekarang kepalanya bingung memikirkan apa yang terjadi dengan hidupnya. Ia harus mengasuh anak-anak, padahal kopernya sudah menanti.
Belum lagi Mia dan Dion serta Maya yang sudah berangkat sepagi ini. Ia semakin bingung saat Tuan Felix yang sampai saat ini belum bangun juga.
"Om Riaaaan," teriak Narendra dan Naura bersamaan.
"Hai," ucap Rian.
Rian dan keempat keponakannya bermain bersama. Berusaha melupakan beban di dalam dirinya. Perlahan, ia sudah hanyut dengan anak-anak yang nampak bahagia dengan kehadirannya.
"Rian," panggil Tuan Felix.
"Pah, baru bangun?" tanya Rian.
"Maafkan Papa kesiangan," jawab Tuan Felix.
"Lalu rencana pulang?" tanya Rian.
"Besok saja," jawab Tuan Felix dengan begitu santai.
Tuan Felix segera bergabung dengan keempat cucunya dan Rian. Mereka bermain bersama, menghabiskan waktu membangun kenangan indah dengan anak-anak lucu itu. Waktu yang akan sangat ia rindukan ketika sudah kembali ke Jerman.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Tuan Felix.
Rian menggeleng. Ia sampai melupakan sarapan pagi ini.
"Tunggu sebentar ya!" ucap Tuan Felix.
Menggunakan sebuah ponsel, Tuan Felix meminta menu sarapan untuk segera diantar ke ruangan itu. Ah, bukan sarapan. Ini sudah jam sembilan.
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu!" ucap Tuan Felix.
"Papa tidak makan?" tanya Rian.
"Papa sudah makan. Suapi anak-anak sekalian," ucap Tuan Felix.
Rian segera makan dan menyuapi anak-anak. Mereka nampak sangat lahap. Tuan Felix melihat adanya ketulusan pada diri Rian. Ia meyakini jika suatu saat nanti, Rian benar-benar akan menjaga mereka seperti ia menjaga Rian saat ini.
"Mau kemana?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian berdiri.
"Mau menyimpan ini," jawab Rian mengangkat piring dan gelas yang sudah kosong itu.
"Jangan!" ucap Tuan Felix.
"Jangan?" tanya Rian bingung.
"Maksudku simpan saja di sana. Nanti akan ada orang yang mengambil piring kotor itu," jawab Tuan Felix.
"Biar aku saja Pah. Hanya menyimpan ini saja. Tidak lama," ucap Rian.
"Lebih baik kamu habiskan waktumu dengan mereka. Papa tidak mau kamu kehilangan momen ini," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih Pah," ucap Rian.
Rian kembali bermain dengan anak-anak. Tuan Felix juga ikut bermain, sesekali ia mengabadikan momen bahagia itu dalam kamera ponselnya yang canggih, keluaran terbaru.
Tidak terasa waktu sudah semakin siang. Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Siapa?" teriak Tuan Felix.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara ketukan untuk yang kedua kalinya.
"Biar aku buka saja," ucap Rian.
"Happy birthday," ucap Mia, Maya dan Sindi secara bersamaan.
Rian hanya menatap ketiga kakaknya dengan tatapan bingung. Antara sedih, senang, terharu, semua bercampur dalam dadanya.
"Waaaah, kue ulang tahuuun. Om Rian ulang tahun?" tanya Naura.
"Iya. Hari ini ulang tahun Om Rian," jawab Mia.
"Tiup lilinnya. Nanti meleleh ke kuenya," ucap Sindi.
"Eh iya," ucap Rian.
Setelah meniup lilin, suara tepuk tangan dan ucapan selamat mengalir untuk Rian. Rian masih tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini.
"Selamat ulang tahun Rian," ucap Tuan Felix sembari merentangkan tangannya.
"Papa, terima kasih banyak." Rian segera memeluk Tuan Felix.
"Mia, kenapa kamu nangis?" tanya Sindi.
"Aku terharu," jawab Mia sembari mengusap pipinya.
"Kamu juga menangis," ucap Maya menunjuk Sindi. "Aku juga," lanjutnya sembari mengusap pipinya.
"Kalian ini," ucap Tuan Felix.
"Jadi ini alasan Papa menunda kepulangan kita?" tanya Rian.
"Mia yang meminta Papa menunda kepulangan kita. Kamu harus tahu kalau ini adalah bentuk kasih sayang Mia untukmu," ucap Tuan Felix.
"Kak Mia, terima kasih banyak ya!" ucap Rian.
Melihat Mia sudah berlinang air mata, Rian segera memeluk Mia. Wanita yang lembut itu menangis dalam pelukan Rian.
"Maafkan aku jika kadang bersikap berlebihan padamu," ucap Mia.
"Aku yang seharusnya meminta maaf pada Kakak. Tapi satu hal yang harus Kakak tahu, aku tidak akan merebut apapun dan siapapun dari Kakak. Jadi jangan pernah cemburu lagi ya!" ucap Rian sembari mengusap pipi Mia.
Mia tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau kuenya," ucap Naura.
__ADS_1
"Aku juga," ucap Narendra, Yaza, dan Dandi.
"Ayo kita kita potong kuenya. Kita bagi-bagi ya!" ucap Rian dengan senyum yang mengembang di bibirnya.