Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tersisih


__ADS_3

Rian dan Riri asyik dengan cerita satu sama lain hingga Riri menyadari jalan yang sedang mereka lalui.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Riri panik.


"Katanya mau main ke rumahku," jawab Rian santai.


"Tapi ini jalan menuju kampus Mas," ucap Riri.


"Iya nanti juga sampai kok. Santai saja," ucap Rian.


"Kamu tidak berniat menculikku kan Mas? Mr. Aric tidak mungkin menebusku meskipun dia adalah orang kaya," ucap Riri.


"Menculik? Ngaco kamu. Mana mungkin aku menculikmu," ucap Rian.


Ternyata tadi mobil sudah melaju hingga ke depan rumah Rian. Tapi obrolannya dengan Riri masih sangat asyik. Rian memutuskan untuk berputar agar perjalanan lebih lama. Dan akhirnya cerita Riri selesai juga. Walaupun Rian masih meminta bunga dari cicilan cerita Riri.


Riri nampak terkejut saat Rian menceritakan alasannya terus melajukan mobilnya hingga rumahnya sudah ia lewati. Perasaannya campur aduk. Antara kesal namun ia merasa tingkah Rian ini sangat menghiburnya.


"Kamu ini Mas. Ada aja kelakuannya," ucap Riri.


"Aku yakin suatu saat nanti kamu akan merindukan semua tingkah dan ketampananku," ucap Rian dengan begitu percaya diri.


"Aku hanya akan merindukan orang-orang yang berjasa dalam hidupku," ucap Riri.


"Kurang berjasa apa aku? Aku bahkan jadi sopir pribadimu hari ini," ucap Rian.


"Perhitungan. Memang dasar rentenir," ucap Riri.


Rian hanya tertawa. Bersama Riri, Rian bisa kembali tertawa. Setelah seharian kemarin ia menghabiskan waktunya dengan penuh kegelisahan dan kekecewaan.


"Pus, terima kasih ya!" ucap Rian.


"Mas menyindirku ya?" tanya Riri.


"Menyindir apa?" tanya Rian.


"Karena aku tidak bilang terima kasih kan? Ya sudah terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan sore ini," ucap Riri.


Rian tersenyum. Lagi-lagi ia harus menyembunyikan apa yang ia pikirkan. Ingin rasanya Rian bisa terbuka seperti Riri. Tapi Rian tidak punya keberanian saat ini.


"Ayo turun!" ajak Rian setelah mobil sudah terparkir di rumahnya.


"Wah, rumahnya besar sekali." Riri terpesona melihat rumah Rian.


"Rumah Papa," jawab Rian.


"Mas kan anaknya," ucap Riri.


"Nanti aku cerita," ucap Rian.

__ADS_1


"Cerita apa?" tanya Riri.


"Awas," ucap Rian menarik Riri saat Riri akan menabrak tembok.


"Aduh, maaf Mas. Aku norak ya?" ucap Riri malu sendiri.


"Mpus," panggil Tuan Felix.


"Papa," ucap Riri.


Riri menghampiri Tuan Felix dan mencium tangannya.


"Papa sehat?" tanya Riri.


"Papa selalu sehat. Kamu juga sehat kan?" tanya Tuan Felix.


"Iya Pah, aku juga sehat. Maaf ya Pah, aku main ke sini tidak izin dulu." Riri nampak asyik berbicara dengan Tuan Felix.


"Jangan meminta maaf. Kamu adalah anakku juga. Ke sini lah setiap kamu mau. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," ucap Tuan Felix.


"Wah, terima kasih banyak ya Pah." Riri tersenyum senang.


"Mr. Aric tahu kamu ke sini?" tanya Tuan Felix.


Riri menggelengkan kepalanya.


"Tidak di rumah? Mr. Aric kemana?" tanya Tuan Felix.


"Mr. Aric sedang ke luar negeri untuk melakukan pengobatan lanjutan," jawab Riri.


"Dia sakit apa?" tanya Tuan Felix.


"Maaf Pah, tapi Mr. Aric akan sangat marah kalau aku memberi tahu Papa. Aku harap Papa mengerti keadaanku," ucap Rian.


"Oh ya sudah tidak apa-apa. Aku hanya berharap jika Mr. Aric segera sehat lagi. Oh ya kamu nyaman tidak di rumah itu?" tanya Tuan Felix.


"Nyaman. Aku selalu nyaman dengan orang-orang yang peduli padaku. Dan Mr. Aric adalah salah seorang yang peduli," jawab Riri.


"Kalau seandainya aku memintamu untuk tinggal di rumah ini?" tanya Tuan Felix.


"Aku akan menolak," jawab Riri.


"Loh, kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Aku tidak mungkin meninggalkan orang yang sangat peduli dan berjasa dalam hidupku. Apalagi Mr. Aric sedang sakit. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja," jawab Riri.


"Tapi sekarang saat dia berobat, kamu juga tidak mendampinginya. Artinya kamu tidak dibutuhkan olehnya," pancing Mr.Aric.


"Ini salah satu bentuk kepedulian Mr. Aric. Ia tidak mau kuliahku ketinggalan. Mr. Aric hanya memberiku satu kali kesempatan. Kalau sampai nilaiku jelek, aku tidak bisa mengulang lagi. Aku akan ditarik dan hanya akan bekerja di rumah," ucap Riri.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu akan sangat terbebani dengan semua itu. Kalau kamu bersama Papa, papa tidak akan menuntutmu seperti itu. Papa tidak akan membebanimu," ucap Tuan Felix.


"Mungkin bagi orang lain itu adalah beban. Tapi buat aku, itu adalah motivasi. Aku jadi sangat semangat dengan target yang diberikan Mr. Aric. Lagi pula, semua itu untuk masa depanku juga. Mr. Aric sama sekali tidak diuntungkan dengan target yang ia berikan," ucap Riri.


"Mr. Aric pasti akan sangat diuntungkan dengan pencapaian kamu. Bukankah nanti kamu akan bekerja untuk Mr. Aric?" tanya Tuan Felix.


"Sayangnya tidak seperti itu. Ada kontrak yang sudah aku tandatangani. Hubungan aku dan Mr. Aric hanya majikan dan pembantu. Semua biaya kuliah dan hidupku di sini adalah bayaran atas apa yang aku lakukan untuknya. Meskipun aku merasa ini terlalu royal dan tidak masuk akal. Kontrak kerja dan kuliah hanya akan terjadi selama kuliah. Setelah itu akan dikembalikan ke Indonesia dengan modal untuk membuka butik di sana. Katanya, itu adalah uang pesangon," ucap Riri dengan mata berlinang.


Bukan hanya Riri yang terharu. Tuan Felix dan Rian juga ikut terharu. Mereka tidak menyangka jika Mr. Aric yang gila kerja ternyata sangat peduli terhadap Riri.


Cerita Riri tentu sudah diketahui Mr. Aric. Mereka bisa menyimpulkan jika tujuan Mr. Aric adalah untuk menunjukkan kesuksesan Riri pada keluarhanya.


Sebenarnya bukan hanya itu. Mr. Aric juga ingin Riri kembali pada keluarganya. Bagaimanapun juga, Mr. Aric yang tinggal sendiri tidak ingin Riri juga merasakan hal yang sama. Riri belajar banyak hal dari dinginnya sikap Mr. Aric. Ketegasan Mr. Aric tidak dijadikan beban. Riri justru merasa ia lebih mempunyai tujuan hidup.


"Papa salut padamu. Kamu anak yang sangat tahu balas budi. Papa yakin kamu akan menjadi orang yang sukses suatu hari nanti," ucap Tuan Felix mengusap kepala Riri.


Rian menatap Riri yang tersenyum dan merasa nyaman dengan perlakuan Tuan Felix.


Papa tidak tahu saja hidup Mpus rumitnya seperti apa. Aku yakin kalau Papa sudah tahu, Papa akan semakin sayang padanya. Jangan! Aku bisa jadi punya saingan. Bahaya. Nanti aku tersisih.


Rian bergidik saat ia takut kasih sayang Tuan Felix semakin terbagi dengan Riri. Rian yang sudah menganggap Tuan Felix ayah kandungnya selalu takut jika kasih sayang ayahnya berkurang. Ia tidak punya siapapun selain Tuan Felix.


"Tapi Papa juga salut kan padaku? Aku juga akan sukses kan nanti?" ucap Rian yang merasa dicuekan sejak hadirnya Riri di rumah itu.


"Iya, iya. Kalian berdua akan sukses. Apalagi kalau Tuhan menakdirkan kalian berjodoh. Suksesnya bisa double-double" goda Tuan Felix.


Rian nampak salah tingkah dengan ucapan Tuan Felix. Sementara Riri hanya tertawa dan senang melihat sikap keduanya yang benar-benar menerima kehadirannya. Ia sama sekali tidak pernah menganggap ucapan Tuan Felix tentang perjodohan. Berbeda dengan Rian yang selalu merasa jika perjodohan itu memang serius.


"Oh ya Pah, kalau boleh tahu ibunya Mas Rian dimana?" tanya Riri.


Riri yang tidak tahu cerita Rian, masih berpikir jika Rian adalah anak kandung Tuan Felix. Keduanya hanya bisa terdiam. Riri hanya menangkap sikap kaku dari keduanya. Mereka saling menatap satu sama lain. Suasana menjadi hening.


"Eh maaf ya kalau pertanyaanku tidak sopan," ucap Riri.


"Oh tidak, tidak. Tidak masalah dengan pertanyaanmu. Maaf, tapi ibunya Rian sudah meninggal." Tuan Felix nampak gugup.


"Oh maaf ya, Pah. Mas, maaf ya!" ucap Riri tidak enak.


"Tidak masalah," ucap Rian.


"Papa hebat ya, tidak menikah lagi walaupun ibunya Mas Rian sudah tidak ada. Suami setia. Mas harus contoh tuh," ucap Riri.


Tuan Felix nampak semakin kaku. Ia segera pamit ke kamar untuk mandi. Ia takut dengan pertanyaan seperti itu. Ia tidak mau ada yang tahu kalau Rian adalah anak angkatnya.


"Mas, Papa marah ya sama aku?" tanya Riri.


"Tidak. Papa hanya butuh istirahat saja. Kamu lihat sendiri tadi Papa belum mengganti pakaian kerjanya," jawab Rian.


Meskipun Rian juga merasa tidak nyaman dengan bahasan Riri, namun ia berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


__ADS_2