Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Seminggu


__ADS_3

Jarak kembali memisahkan antara Tuan Felix dengan orang-orang terkasihnya. Ada kesedihan tersendiri yang ia rasakan. Namun ia sadar, apa yang ia lakukan semua semata-mata demi kebahagiaan semua orang ke depannya.


"Rasanya sangat berat berjauhan dengan mereka," ucap Tuan Felix sambil mengusap layar ponselnya.


Saat ini Tuan Felix tengah duduk di depan jendela sembari melihat isi galeri dOK ponselnya. Dua hari di Indonesia membuat galeri ponselnya nyaris penuh dengan foto-foto orang terkasihnya.


Lelah yang ia rasakan karena perjalanan kali ini, membuatnya tidur nyenyak. Melupakan sejenak pekerjaan yang memang sudah menunggunya. Menyiapkan energi yang penuh untuk menghadapi hari-hari ke depannya.


Pagi hari Tuan Felix sudah siap dengan pakaian rapinya. Usai sarapan, ia tidak membuang-buang waktu lagi. Setibanya di kantor pun, ia segera mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan.


Kinerja Tuan Felix memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Meskipun ia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan kemampuannya masih sangat bisa diandalkan.


Siang hari saat istirahat, Tuan Felix menghubungi Riri. Ia masih tetap mengontrol kegiatan Riri. Bagaimanapun, ia sangat menjaga wanita yang sangat dicintai oleh Rian. Ia adalah salah satu orang yang akan mengurusnya nanti saat sudah resmi menjadi menantunya. Hingga ia punya kewajiban untuk memastikan bahwa Riri harus baik-baik saja.


"Besok?" tanya Tuan Felix.


"Iya, Pah." Terdengar nada sedih saat Riri menjawab pertanyaan dari Tuan Felix.


Saat ini mereka sedang membahas tentang keberangkatan Riri ke negara lain untuk mendampingi Mr. Aric. Sebenarnya Riri berat karena sekitar satu minggu baru ia akan kembali ke Jerman. Untuk ke Indonesia? Entahlah, Riri tidak tahu.


"Kenapa kamu tidak menolaknya, Pus?" tanya Tuan Felix.


Bukan tidak mau, tapi Riri lebih sadar diri siapa dirinya di mata Mr. Aric. Ia sudah diselamatkan dan kuliahkan oleh Mr. Aric. Lalu sekarang akan meninggalkannya begitu saja? Apalagi ia sudah diberi sebagian dari harta milik Mr. Aric.


"Ikuti saja dulu alurnya. Nanti biar Papa yang bicara," ucap Tuan Felix.


"Jangan Pah. Biar nanti aku saja yang bicara," ucap Riri.


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Aku tidak mau nanti masalahnya jadi melebar. Apalagi hubungan Papa sama Mr. Aric jadi tidak baik," jawab Riri.


Ya, Tuan Felix memang harus mengakui kalau Riri selalu berpikir panjang. Tapi kadang ia merasa Riri terlalu banyak ketakutan, hingga oa sendiri selalu mengalah meski kadang itu membuatnya kecewa dan sakit.


"Lalu Papa harus sabar menunggu sampai kapan?" tanya Tuan Felix.


"Aku yakin pasti akan ada waktu yang tepat," jawab Riri.


"Kapan? Apa kamu tdmidak memikirkan bagaimana Rian menunggumu?" desak Tuan Felix.


Riri diam. Bukan hanya Rian, sebenarnya ia juga menunggu dan mendambakan hal yang sama. Tapi ia juga tidak mau jika dicap sebagai orang yang tidak tahu terima kasih atau balas budi. Mr. Aric sudah sangat mengubah hidupnya. Ia tidak bisa mengambil keputusan begitu saja.


"Aku sangat mencintai Mas Rian. Tapi aku yakin Mas Rian juga akan sangat mengerti," jawab Riri.


Tuan Felix tidak bisa memaksakan kemauannya. Ia hanya menarik napasnya lebih dalam dan menahan diri. Ia tahu bukan kapasitasnya untuk memaksa Riri mengikuti maunya. Tapi ia harus meyakini rasa yang ada diantara keduanya memang begitu kuat.


Setelah panggilan dengan Riri berakhir, Tuan Felix merenung. Ponsel itu masih ia pegang erat dalam genggamannya. Pikirannya menerawang jauh membayangkan betapa merindunya Rian pada Riri.


"Maafkan Papa yang belum bisa berbuat apa-apa ya, Ri." Tuan Felix mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Memang benar apa yang ada di pikiran Tuan Felix tentang Rian. Ia tengah kecewa saat Riri memberi tahu keberangkatannya ke negara lain selama satu minggu. Sedangkan untuk pulang ke Indonsesia, Riri belum bisa menjawab sama sekali.


"Apa mungkin aku dan Riri tidak berjodoh?" gumam Rian.


Tiba-tiba Rian menggelengkan kepalanya saat terbayang jika Riri akan menjadi milik orang lain. Apalagi bayangan pria itu adalah Hiro. Rian segera menepis pikiran buruknya.


"Kenapa, Pak?" tanya Manto yang melihat Rian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ti-tidak apa-apa," jawab Rian gugup.


Rian melupakan keberadaan Manto. Ia hanya fokus pada Riri yang tidak jelas kapan kembali ke Indonesia.


"Sebaiknya Bapak istirahat saja kalau emmang sedang lelah," ucap Manto.


Begitu perhatiannya Manto. Ia sampai memperhatikan apa yang terjadi pada Rian. Padahal ia sangat tahu kalau Manto tengah fokus dengan pekerjaannya.


"Saya baik-baik saja Pak," ucap Rian.


Tidak ingin Manto semakin curiga padanya, Rian segera kembali fokus pada laptopnya. Meskipun deretan angka berjejer di layar laptopnya, tapi bayangan Riri jauh membuatnya lebih pusing.


Mata Rian memang memandang lurus ke layar laptop, tapi pikiran Rian tidak di sana. Jarinya yang menempel di atas keyboard laptop tidak bergerak sama sekali beberapa waktu. Manto melihat sikap Rian yang tidak seperti biasanya. Namun tidak berhak bertanya apa alasannya. Manto berusaha menjaga privasi atasannya itu.


"Permisi," ucap Danu saat jam istirahat.


"Kak Danu," ucap Rian yang baru saja terperanjat dari lamunannya.


"Saya membawakan ini untuk Bapak dan Pak Manto," ucap Danu membawa dua kantong di tangannya.


"Makan siang dari Sindi," jawab Danu.


"Menu baru lagi?" tanya Rian.


"Tidak. Ini menu yang biasa," jawab Danu.


"Menu lama? Aku pikir Kak Sindi mengirim menu baru untuk aku review lagi," ucap Rian.


"Tidak Pak. Ini hanya menu makan siang biasa untuk Bapak dan Pak Manto. Katanya setiap hari akan ada kiriman makan siang dari istri saya," ucap Danu.


"Dalam rangka apa?" tanya Rian bingung.


Sementara Manto hanya diam dan melihat keduanya bicara.


"Sebagai rasa terima kasih karena kemarin Tuan Felix memberi tambahan modal yang sangat besar," jawab Danu.


"Oh ya?" ucap Rian.


Rupanya Rian tidak tahu kalau Tuan Felix memberinya dana yang sangat besar hingga Sindi bisa mengembangkan usahanya. Cek kosong yang tidak diterima itu ternyata dikembalikan lagi oleh Tuan Felix. Ia mengisinya dengan nominal besar.


Sindi sempat menolak, tapi Tuan Felix memaksanya. Anggap saja ini untuk makan siang Rian dan Manto selama usaha Sindi masih terus berjalan.

__ADS_1


"Katanya biar ada yang memperhatikan Bapak sebelum ada yang perhatian. Ini tidak berlaku kalau Bapak sudah menikah," ucap Danu sambil tersenyum.


Rian kembali salah tingkah setiap kali membahas menikah. Ia segera mengalihkan pembicaraan agar bahasan pernikahan tidak jadi melebar.


Rian dan Manto makan siang bersama dengan menu yang dikirim oleh Sindi. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya itu.


Makanan itu Rian foto dan dikirimkan pada Tuan Felix. Antara ucapan terima kasih atau sengaja karena ingin membuat Tuan Felix merindu Indonesia. Namun sampai saat ini Rian belum mendapat respon dari Tuan Felix.


Hari ini berlalu dengan penuh rasa dalam hidup Rian. Ia berusaha untuk menikmati setiap rasa yang singgah mewarnai hidupnya. Meski pahit sekalipun.


"Selamat malam," sapa Rian baru sampai ke rumah Tuan Wira.


Dua orang yang sudah menganggap anak kandungnya itu segera melihat sumber suara. Mereka saling melihat satu sama lain setelah melihat wajah lesu Rian. Sementara Rian hanya mencium tangan keduanya lalu pamit ke kamarnya.


"Pah, Rian kenapa tuh?" tanya Nyonya Helen saat Rian sudah tidak terlihat lagi.


"Pusing kali Ma. Banyak kerjaan," jawab Tuan Wira.


"Tapi biasanya juga kalau pulang kerja tidak sekusut itu Pah," ucap Nyonya Helen penasaran.


"Ya maklum lah Ma. Namanya juga sudah remaja menuju dewasa. Masalahnya sudah mulai banyak kali," jawab Tuan Wira.


"Jadi semakin bertambah umur semakin banyak masalah? Begitu?" tanya Nyonya Helen


"Mama ini kebiasaan deh. Kita sedang bahas apa, tiba-tiba bahas apa. Jangan baper dong," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen masih cemberut saat Tuan Wira membahas tentang usia. Ia yang menyadari kalau usianya terus bertambah. Dan kadang ia tidak siap dengan banyaknya perubahan dalam usianya.


Saat makan malam, Rian tidak datang-datang. Karena khawatir, Nyonya Helen meminta asisten rumah tangganya untuk memanggil Rian. Namun tidak lama asisten rumah tangganya kembali lagi seorang diri.


"Mana Riannya?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah tidur, Nyonya." Asisten rumah tangga itu menunduk hormat.


"Tidur? Jam segini Rian sudah tidur? Apa dia sudah makan di luar?" tanya Nyonya Helen.


Tuan Wira hanya menggelengkan kepalanya dan mulai mengambil nasi ke atas piringnya.


"Papa kok malah sibuk sendiri? Rian gimana?"!tanya Nyonya Helen.


"Tadi kan sudah diberi tahu kalau Rian sudah tidur," jawab Tuan Wira santai.


"Tapi kalau dia belum makan gimana Pah?" tanya Nyonya Helen bingung.


"Ya kalau belum makan nanti dia bangun kok. Rian bukan anak kecil lagi, Ma. Mama jangan selalu memperlakukan Rian seperti anak kecik dong," ucap Tuan Wira.


Sebenarnya bukan tidak peduli, tapi Tuan Wira hanya tidak mau kalau istrinya terlalu panik dan berlebihan pada Rian. Apalagi akhir-akhir ini Rian akan sering seperti ini. Sepertinya Tuan Wira tahu kondisi yang sedang dialami oleh Rian.


"Ayo makan, Ma!" ucap Tuan Wira saat melihat istrinya hanya mengaduk makanannya di piring.

__ADS_1


Sudah setengah nasi di piring Tuan Wira mulai habis, sedangkan nasi di piring istrinya masih tetap utuh.


__ADS_2