Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Minta jatah


__ADS_3

Selesai makan, Rian dan kedua keponakan kembarnya segera pergi. Matanya mengedar mencari keberadaan Shelin dan Hiro di tempat yang ia lihat tadi. Namun keduanya sudah tidak ada. Narendra yang melihat tingkah Hiro hanya menggelengkan kepalanya sambi menahan tawa.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Narendra.


Narendra mengusap dadanya saat ketahuan tengah memperhatikannya. Beruntung Rian segera mengajaknya pulang. Di tengah perjalanan pulang, Narendra melihat Naura sedang tertidur. Ia mendekat dan berbisik.


"Kak Shelin sama siapa tadi?" tanya Narendra.


"Hah?" ucap Rian terkejut.


"Husssst, nanti Naura bangun. Mau Naura heboh?" tanya Narendra.


Rian segera menggeleng. Ia masih diam dengan kebingungannya atas pertanyaan Narendra. Ia tidak mengira jika Narendra akan melihat Shelin dan Hiro.


"Om," ucap Narendra sambil mengguncang pelan bahu Rian.


"Hemmm," jawab Rian.


"Tadi Kak Shelin sama siapa? Sama pacar barunya ya?" tanya Narendra sambil berbisik.


Rian menatap wajah Narendra yang nampak mengejeknya. Namun ia masih diam. Memilih jawaban yang paling tepat untuk Narendra.


"Tidak tahu," jawab Rian setelah tidak menemukan jawaban lain.


"Masa tidak tahu? Katanya berteman baik. Tapi gak tahu siapa yang sama Kak Shelin," ucap Narendra.


Rian mendelik menatap Narendra tidak suka. Sementara Narendea hanya menahan tawa yang membuat Rian semakin kesal.


"Ren, udah dong. Kamu ini masih anak kecil. Jangan ikut campur urusan orang dewasa," ucap Rian.


"Katanya dewasa, tapi ditanya begitu bukannya jawab malah ngambek. Kayak anak kecil," ucap Narendra.


Rian mengernyitkan dahinya saat mendengar Narendra mengucapkan hal itu. Ia pusing sendiri dengan ocehan Narendra yang memang seperti lebih tua dibanding usianya. Setelah jawaban itu, Rian dan Narendra tidak lagi bicara apapun di dalam mobil. Perjalanan pulang paling hening selama mereka satu mobil.


"Mama," teriak Narendra saat sudah sampai d rumahnya.


"Eh, eh, eh." Rian dengan cepat menarik tangan Narendra.


"Apaan sih Om?" tanya Narendra sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rian.


"Kamu mau apa teriak-teriak manggil Mama kamu? Pasti mau ngadu kan?" tuduh Rian yang masih belum melepaskan Narendra.


"Ih, om buruk sangka. Dosa tahu," ucap Narendra sambil melepaskan tangannya.


"Terus kamu mau apa teriak-teriak begitu kalau bukan mau lapor?" tanya Rian.

__ADS_1


"Aku mau bilang kalau Naura tidur," jawab Narendra.


"Om bisa menggendong Naura sampai ke kamarnya. Kamu tidak perlu repot-repot panggil Mama kamu," ucap Rian.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Narendra.


Narendra segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengganti baju dan istirahat. Tidak tahu apa yang Rian lalukan dan bagaimana perasaannya saat ini.


Sempat melihat Rian menggendong Naura ke kamarnya, tidak lama Narendra melihat Rian masuk ke kamar yang biasa ditempati omnya itu. Sepertinya malam ini Rian akan menginap.


Ya, malam ini Rian memang akan menginap di rumah Mia. Ia sedang mempelajari beberapa berkas dengan Dion. Ia kini bersemangat untuk terus belajar agar perusahaannya semakin berkembang.


Banyak hal yang Rian lakukan untuk mengisi hari-harinya. Ia berusaha keras agar memanfaatkan waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Menjadi seorang pemimpin di usia muda memang bukan hal yang mudah. Ia harus banyak belajar dan mengatur egonya yang masih tinggi. Tak jarang semua itu berimbas pada pekerjaannya. Beruntung ada Manto dan Danu yang menemaninya dan selalu membantunya.


Seperti akhir-akhir ini. Saat perusahaan mendapat beberapa proyek, Manto dan Danu adalah orang yang turut kerja keras. Tak jarang mereka tidur lebih larut dibanding biasanya demi menyelesaikan pekerjaannya.


Hasil memang tidak akan mengkhianati usaha. Kerja keras mereka membuahkan hasil. Perusahaan itu mendapat keuntungan berkali-kali lipat. Sebagai hadiah, Rian memberikan sejumlah uang untuk Manto dan Danu.


"Uang apa ini, Pak?" tanya Manto saat menerima sebuah amplop tebal dari Rian.


"Itu hanya sebagian kecil sebagai ucapan terima kasih saya atas perjuangan Bapak dan Kak Danu," jawab Rian.


Danu mengembalikan uang itu. Dengan halus Danu menolak sejumlah uang yang diberikan Rian karena menurutnya itu terlalu berlebihan. Ia sudah mendapat uang lembur. Apa yang ia kerjakan memang hal yang sudah seharusnya ia lakukan.


"Kak, ini rejeki. Terima ya! Pamali tahu menolak rejeki," ucap Rian sambil memberikan kembali uang itu pada Danu.


"Tapi ini bukan uang pesangon, kan?" tanya Danu.


"Terima kasih Pak," ucap Manto dan Danu bergantian.


Mereka melanjutkan kembali pekerjannya dengan perasaan campur aduk. Senang namun malu atas hadiah yang mereka terima saat ini. Rian memang seorang pemimpin yang sangat baik.


Usai jam kerja, Danu menyempatkan diri untuk menemui Rian. Ia secara pribadi mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah ia terima. Setelah sebelumnya berusaha untuk mengembalikan uang itu, akhirnya ia membawa pulang apa yang sudah Rian berikan untuknya.


"Kamu harus lihat ini!" ucap Danu saat tiba di rumah.


"Mas, apa sih? Datang-datang kok heboh begitu?" tanya Sindi yang sedang menyapu.


"Ayo sini!" ajak Danu sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Sebentar ya Mas. Aku sedang menyapu," ucap Sindi.


"Ah, kelaman. Sini!" ucap Danu sambil menarik tangan istrinya.


Sapu yang sedang ia pegang sampai terlempar begitu saja saat melihat uang yang Danu tunjukkan.


"Apa ini Mas?" tanya Sindi.

__ADS_1


Danu memegang dahi Sindi lalu mengernyitkan dahinya.


"Apa sih Mas?" tanya Sindi lagi.


"Kamu amnesia ya? Masa tidak tahu yang beginian?" goda Danu.


"Ya ampun Mas, anak bayi juga tahu jalau yang begini uang. Masalahnya ini uang apa? Uang gajian sudah aku terima. Ini uang halal kan?" tanya Sindi.


"Astaga. Jahat sekali kamu menuduhku begitu," ucap Danu sambil mengusap dadanya.


Melihat tingah Danu, Sindi hanya bisa tertawa.


"Susah menghadapi wanita akhir zaman. Tidak bawa uang cemberut. Giliran bawa yang dituduh yang tidak-tidak," ucap Danu sambil menggelengkan kepalanya.


Tawa Sindi semakin keras mendengar gerutuan suaminya. Setelah melihat suaminya semakin cemberut ia memeluknya.


"Terima kasih sayang. Walaupun aku tidak tahu uang apa yang kau bawa, tapi aku yakin uang ini halal. Kalaupun tidak, biar Mas sendiri yang tanggung dosanya. Yang penting besok aku mau nambah modal buat rumah makanku ya!" bisik Sindi sambil mengeratkan pelukannya.


Danu hanya bisa tersenyum dengan tingkah istrinya. Sudah sejak lama ia tidak melihat Sindi begitu senang. Bukan matre, ini adalah hal wajar bagi seorang wanita. Apalagi Sindi yang sempat hidup serba cukup namun mengalami kebangkrutan dan hidup susah dengan Danu. Beruntung Sindi berasal dari keluarga sederhana. Ia sudah terbiasa hidup susah. Tidak seperti Danu yang sesekali sempat mengeluh.


"Belanja sesuai apa yang kamu mau. Pakailah uang itu untuk kesenanganmu. Jangan memikirkan rumah makan terus," ucap Danu.


"Mas, mana mungkin aku mengahmburkan uang begitu saja. Aku tidak akan lupa bagaimana saat kita susah dulu," ucap Sindi sambil bergelayun manja di lengan suaminya.


"Itu kan uang bonus. Pakai saja," ucap Danu.


"Meskipun bonus, tapi semua atas kerja kerasmu. Tidak mungkin Rian memberikan ini cuma-cuma. Iya kan?" tanya Sindi.


Danu tersenyum. Sindi memang benar. Uang yang Rian berikan adalah hadiah atas kerja kerasnya saat menangani beberapa proyek besar bersaman.


Sebuah kecupan hangat dan pelukan penuh kasih sayang Danu berikan untuk Sindi. Istri yang sangat ia cintai. Wanita terbaik yang menemaninya apapun keadaannya.


"Terima kasih sudah berjuang buat aku dan anak kita," ucap Sindi.


Ucapan Sindi membuat hati Danu bergetar. Ia menatap wajah Sindi dengan lekat dan penuh cinta.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah selalu ada di sampingku. Kamu tidak pergi saat aku terpuruk," ucap Danu.


Sindi hanya tertawa.


"Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Danu.


"Aku mau pergi kemana? Sementara hatiku sudah Mas ambil. Separuh jiwaku ada dalam dalam diri Mas," ucap Sindi sambil membenamkan kepalanya di dada bidang Danu.


"Sudah pintar gombal ya! Ayo mana jatahku," ucap Danu sambil menggendong Sindi ke kamarnya.


Saat pintu kamar sudah tertutup rapat, Sindi menahan Danu. Ia meminta izin untuk merias diri agar menggoda di mata suaminya. Namun Danu menolak.

__ADS_1


"Kamu sudah sangat menggoda. Tidak perlu menggodaku lagi," ucap Danu.


Sindi segera memberikan pelayanan terbaiknya. Ia tidak mau memberikan jatah biasa saja setelah jatah yang diterimanya lebih dari biasanya.


__ADS_2