
Beres? Apanya yang beres? Aku bahkan belum memulainya sama sekali. Dan itu semua karena Mama. Tuhaaaan, kenapa godaanku untuk mendapatkan hak sebagai suami begitu berat dan berliku?
"Mama ada apa ke sini?" tanya Rian mengalihkan pikiran kotor Nyonya Helen.
"Kata Mia kamu tidak mengangkat teleponnya sejak tadi. Mia khawatir sama keadaan Tuan Felix. Mana mama tahu kalau kamu sedang ibadah di jam segini. Maaf ya kalau Mama ganggu," ucap Nyonya Helen.
Rian teringat panggilan yang sejak tadi mengganggu pemanasannya. Berharap semua berjalan lancar dengan mengorbankan panggilan yang ia tolak berkali-kali. Nyatanya itu semua malah membuat harapannya gagal total.
"Oh iya tadi itu, anu, emmm.." Rian bingung sendiri dengan jawabannya.
"Ya sudah tidak apa-apa. Mama ngerti. Sangat mengerti. Kalian itu pengantin baru dan itu wajar. Nanti kalau sudah ada waktu kamu bisa telepon Mia ya!" ucap Nyonya Helen.
Tanpa menunggu jawaban Rian, Nyonya Helen pamit dan segera pergi meninggalkan Rian yang semakin tersudutkan. Wajahnya merah dan salah tingkah. Lagi-lagi ia jadi korban salah tuduh. Mereka yang sudah membayangkan Rian tengah menikmati masa-masa pengantin baru tidak tahu penderitaan Rian. Sampai saat ini pun Rian masih tersiksa dengan penantian yang belum berujung itu.
"Mama mana Mas?" tanya Riri.
"Telat," jawab Rian sambil cemberut.
"Loh kok marah?" tanya Riri.
"Kamu curang. Harusnya kalau malu ya kita sama-sama dong. Harus adil," jawab Rian.
"Ya maaf. Aku kan tadi spontan lari ke kamar mandi. Aku bingung harus bagaimana," ucap Riri.
"Kamu pikir aku tidak bingung? Kamu tidak lihat mukaku merah begini? Malu. Aku malu sama Mama," ucap Rian sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Riri memang merasa bersalah. Namun melihat tingkah Rian, ia justru merasa lucu. Ia bahkan tertawa puas melihat Rian gelisah dengan sikap Nyonya Helen.
"Ya sudah. Biar Mas tidak kesal lagi kita lanjutkan yang tadi ya. Aku sudah siap menjadi milik Mas seutuhnya," ucap Riri dengan suara menggoda.
"Kamu pikir selama ini kamu belum menjadi milikku seutuhnya? Setelah mahar dan pesta yang digelar saat itu bahkan kamu masih berpikir jika kamu belum jadi milikku?" tanya Rian.
Pertanyaan Rian membuat Riri menarik napasnya dalam-dalam. Ia benar-benar kehilangan mood. Niatnya menggoda Rian agar bis melanjutkan hal yang seharusnya sudah selesai itu, malah jadi salah paham.
"Ah, Mas susah diajak romantis. Aku jadi ikutan kesal sekarang," ucap Riri.
"Tuh, kok jadi kamu yang marah sih?" ucap Rian.
"Ya sudah maaf. Nanti saja dilanjutnya. Sekarang aku harus menelepon Kak Mia. Kata Mama tadi Kak Mia khawatir karena nomor Papa tidak aktif," ucap Rian.
__ADS_1
Belum sempat Rian menelepon Riri, tiba-tiba ponselnya sudah menerima panggilan lagi. Dering ponsel membuat keduanya melihat benda pipih yang tergeletak di samping Rian. Melihat nama Shelin yang terpampang di layar ponselnya, wajah Riri langsung berubah.
"Aku mau bertemu Mama dulu," ucap Riri.
"Hey, tunggu dulu." Rian menarik tangan Riri.
Rian semakin pusing saat masalah yang satu belum selesai, tiba-tiba masalah lain datang. Membuat kesalahpahaman ini semakin melebar saja.
"Ya sudah kalau mau telepon bilang aja. Tidak perlu bawa-bawa Kak Mia," ucap Riri.
"Jangan menuduhku. Aku memang benar-benar akan menelepon Kak Mia. Mana aku tahu kalau dia tiba-tiba menelepon," ucap Rian membela diri.
Sempat terjadi perdebatan diantara keduanya. Riri menuduh jika selama ini mereka masih sering berkomunikasi. Ya selama ini Riri tahu jika wanita bernama Shelin itu adalah wanita yang pernah istimewa di hati Rian. Dia wanita yang sempat menggantikan posisinya di hati Rian saat itu. Bahkan mereka nyaris akan menikah.
"Kamu jangan salah paham dong. Jangan nangis begini," ucap Rian sambil memeluk Riri.
Riri berusaha menolak namun Rian terus mendekapnya. Ia mau Riri merasakan ketulusan cintanya. Ia mau jika Riri sadar bahwa semua hanya masa lalu dan tidak perlu membuat masa depannya terusik.
"Kalian ada apa sebenarnya? Jangan selingkuh Mas," ucap Riri sambil menangis.
Rian sebenarnya marah dan ingin tertawa. Ucapan Riri benar-benar tidak beralasan. Bagaimana ia bisa berselingkuh dengan Shelin, bahkan ia sendiri yang meninggalkan Shelin demi Riri.
"Ya sudah angkat!" ucap Riri sambil mengusap pipinya yang basah.
Rian menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau jika nanti masalah akan menjadi semakin rumit. Namun Riri terus memaksanya. Dengan terpaksa Rian menjawab panggilan itu.
"Mas, istrinya ada?" tanya Shelin saat panggilannya sudah tersambung.
Rian sengaja meloudspeaker panggilan itu agar Riri tidak salah paham. Riri mengerutkan dahinya saat Shelin justru menanyakan keberadaannya.
"Istriku ada di sini. Ada apa?" tanya Rian.
"Boleh aku bicara?" pinta Shelin.
Setelah Riri menganggukkan kepalanya, Rian memberikan ponselnya pada Riri. Mereka pun mulai mengobrol. Dari mulai kenalan sampai akhirnya mereka terlihat seperti dua orang yang sudah saling mengenal sejak lama. Sampai akhirnya Shelin mengajak Riri untuk doubel date.
"Mas Hiro besok ulang tahun. Aku harap kedatangan kalian berdua akan menjadi kejutan tersendiri untuknya," ucap Shelin.
Riri menatap Rian. Setelah berunding, akhirnya ia menyetujui permintaan Shelin. Mereka sudah menjadwalkan waktu dan tempatnya. Riri tersenyum dan meminta maaf karena sudah menuduh Rian yang tidak-tidak.
__ADS_1
Meskipun ada rasa kesal karena masih tidak rela jika Riri harus bertemu dengan Hiro, namun ia juga bersyukur karena kesalahpahaman itu sudah berakhir. Lagi pula jika ditarik cerita masa lalu, Hiro adalah salah satu orang yang membuat cintanya dan Riri bisa bersatu.
"Sekarang aku harus menelepon Kak Mia. Dia pasti sudah menunggu penjelasan dariku," ucap Rian.
Rian segera menelepon Mia dan menjelaskan keadaan Tuan Felix sesuai informasi dari Manto. Meskipun ia tidak tahu masalahnya sudah diselesaikan sejauh mana, tapi Rian meyakinkan Mia jika Tuan Felix baik-baik saja.
"kakak jangan khawatir. Ada Pak Manto di sana. Dia akan selalu menjaga Papa," ucap Rian.
Setidaknya Mia bisa tenang karena Rian sudah meyakinkannya. Selama ini rasa cemburunya pada Rian sering terkubur saat tahu jika Rian juga menyimpan perasaan yang sama. Kasih sayang Tuan Felix untuk Rian sebanding dengan rasa yang diterimanya dari Rian.
Hal itu yang membuat Mia luluh. Kasih sayang ayahnya mungkin terbagi. Tapi itu semua diganti dengan rasa yang seimbang. Tidak apa, Mia sudah semakin mengerti dengan keberadaan Rian.
"Sudah selesai Mas?" tanya Riri.
"Iya. Mau sekarang?" Rian balik bertanya.
Riri menutup dadanya dengan kedua tangannya. Nanti saja. Tunggu sampai situasi benar-benar aman. Jangan sampai terganggu lagi agar Rian tidak uring-uringan.
Sampi akhirnya waktu itu benar-benar datang. Jam sebelas malam. Saat suasana di rumah sudah mulai hening, Rian mulai memberikan kode. Riri yang sudah sangat mengerti kode itu segera mendekat. Pakaian yang sudah dipakai Riri untuk dinas malam ini membuat Rian menelan salivanya.
"Yang ini baru ya?" tanya Rian.
Ya, pakaian dinas itu memang baru. Baru saja diberikan oleh Nyonya Helen sore ini. Tidak tahu apa maksudnya, namun Nyonya Helen bilang ini hadiah malam jumat untuknya.
Seolah tidak peduli lagi dengan semua pikiran kotor setiap orang padanya. Saat inu yang ia pikirkan hanya bagaimana haknya bisa dapatkan malam ini tanpa gangguan lagi.
Pemanasan yang sudah terasah mulai Rian jalani. Bukan hal sulit untuk membuat Riri merasa terbang melayang. Karena saat ini Rian sudah tahu titik kelemahan istrinya. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, Riri sudah benar-benar mempersiapkan semuanya untuknya.
Baju dinas yang tipis itu mulai jatuh dari ranjang. Teronggok begitu saja bagai benda yang sudah tidak dibutuhkan sama sekali. Pelan tapi pasti, hak itu mulai ia dapatkan. Ekspresi wajah Riri sangat menandakan bahwa Rian adalah yang pertama baginya.
"Tahan ya," bisik Rian.
Rasa sakit itu tentu tidak bisa dielakkan. Meskipun Rian tahu setelah itu, kenikmatan sudah benar-benar mereka reguk bersama. Dengan keringat yang membasahi tubuhnya, Rian terus memacu semangatnya. Ia menguasai tubuh Riri yang terkunci dibawahnya.
Suara Riri yang terdengar menggoda di telonga Rian membuat pria itu tak bisa menguasai diri. Ia menyerang membabi buta tanpa permisi. Sampai akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya di samping Riri. Mengatur napas yang sudah semakin tidak beraturan.
"Terima kasih, Pus." Rian mengecup dahi Riri yang masih tidur tanpa daya dan pakaian.
Riri hanya mengangguk dan tersenyum. Akhirnya ia bisa memberikan apa yang ia jaga pada pria yang berhak atas dirinya. Meskipun menyisakan rasa sakit, tapi rasa bahagia sudah lebih besar menguasai dirinya.
__ADS_1