Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Memangnya tante diajak main?


__ADS_3

Dion dan Mia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka tentang Tuan Wira. Bukan hanya karena takut terdengar oleh orang lain, namun mereka tidak mau kembali berlarut dalam kesedihan.


"Kira-kira seminggu lagi kantor ini beres," ucap Dion.


"Mia juga sudah menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk mengisi setiap ruangan," tambah Mia.


"Terima kasih. Papa memang tidak salah sudah mengandalkan kalian," ucap Tuan Felix.


Sementara Rian tidak ikut bicara. Ia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi dengannya. Ia benar-benar mendifinisikan dirinya sebagai orang yang paling beruntung di dunia ini.


"Ri, kamu baik-baik saja?" tanya Dion.


"Ri," panggil Tuan Felix saat Rian tidak menjawab pertanyaan Dion.


"Eh iya," ucap Rian.


"Kamu kenapa?" tanya Mia.


"Aku merasa ini semua mimpi. Aku yang bukan siapa-siapa, kini berdiri di sini. Dikelilingi orang baik dan perhatian. Aku merasa seperti sedang berada di negeri dongeng," jawab Rian.


"Jangan berlebihan begitu. Ini semua juga karena kebaikanmu. Seharusnya kami yang berterima kasih karena kehadiranmu. Kalau saja saat itu kamu tidak ada, mungkin aku tidak bisa bersama dengan Papa." Mia menatap wajah Tuan Felix dan memeluknya.


Ya, Mia dan keluarganya bukan orang yang mudah melupakan jasa seseorang. Apalagi ini menyangkut dengan nyawa Tuan Felix. Kedatangan Rian yang tepat saat Tuan Felix membutuhkan transfusi darah membuat hubungan baru yang tercipta diantara keduanya.


"Kakak ini masih saja mengungkit masalah itu," ucap Rian.


"Sudah. Papa tidak mau kita nangis bersama hanya karena mengingat masa-masa itu lagi. Papa mau hari ini dan selanjutnya kita selalu bahagia. Itu saja," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


Setelah beberapa waktu berkeliling di gedung baru yang belum selesai itu, mereka pergi ke kantor Mia. Jaraknya lumayan jauh. Perlu dua jam untuk sampai ke kantor Mia.


"Selamat datang Pah," ucap Mia saat mereka sudah sampai di kantornya.


Beberapa karyawan sudah berbaris dan memberi salam hormat saat Tuan Felix dan Rian datang ke kantor. Terlihat sebuah kebanggan tersendiri saat ia mendapat perlakuan yang sangat luar biasa itu. Menurutnya Mia sudah sangat menyiapkan penyambutan itu saat tahu jika ia akan datang ke kantornya.


Rasa bangganya tidak selesai sampai di sana, ia melihat banyak sekali perubahan pada kantor yang sudah lama ia bangun untuk Mia. Mia mengubahnya mengikuti perkembangan yang ada. Banyak juga piala yang berjejer di sana. Senyum Tuan Felix mengembang lebar.


"Kamu memang sangat cerdas Mi," ucap Tuan Felix.


"Semua karena bantuan Papa dan A Dion juga," ucap Mia.


"Kenapa ruangan ini terlihat berbeda?" tanya Tuan Felix saat membuka pintu ruangan kerja Dion.


Mata Tuan Felix sangat tajam saat mengamati ruangan Dion. Tidak ada laptop dan berkas yang bertumpuk di meja Dion, menjadi tanda tanya besar bagi Tuan Felix.


"Oh iya Pah, sudah seminggu aku bekerja dari kantor Papa. Tapi aku masih mengerjakan semua tugasku dengan baik," ucap Dion.


"Jadi kamu berangkat ke kantor Wira sedangkan kamu mengerjakan pekerjaan kantor ini?" tanya Tuan Felix.


"Aku membagi waktuku. Aku bisa memastikan jika semua pekerjaan tidak ada yang tidak selesai," jawab Dion membela diri.


"Iya Pah. Meskipun A Dion tidak di kantor, tapi semua pekerjaan bisa di handle. Perusahaan masih aman Pah," ucap Mia ikut membela Dion.

__ADS_1


"Hey, kenapa kalian menyerangku?" tanya Tuan Felix sambil tertawa.


Mia dan Dion saling menatap dengan penuh tanya. Ternyata Tuan Felix tidak marah saat tahu kalau Dion tidak di kantor selama satu minggu. Tuan Felix justru bangga pada Dion saat ia bisa menangani dua perusahaan sekaligus.


"Aku pikir Papa akan marah padaku," ucap Dion sambil mengusap dadanya berkali-kali.


"Aku juga sampai ikutan tegang," ucap Rian yang ikut mengusap dadanya.


"Papa justru bangga padamu. Kamu memang benar-benar bisa diandalkan. Kamu masih bisa bertanggung jawab kepada ayahmu, tapi kamu tidak membiarkan istrimu berjuang sendiri. Mia memang tidak salah pilih," ucap Tuan Felix.


Mia yang memang hatinya sangat mudah tersentuh kini tengah mengusap sudut matanya. Pria yang sangat ia cintai itu ternyata sudah benar-benar membuktikan cinta dan tanggung jawabnya.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan semampuku Pah. Aku harus banyak berterima kasih atas semua kepercayaan yang Papa berikan," ucap Dion.


Tuan Felix memang beruntung saat mendapatkan menantu seperti Dion. Pria bertanggung jawab yang bisa membuatnya tenang saat tidak bisa berada di samping Mia.


Begitupun sebaliknya. Dion juga beruntung karena mendapatkan mertua seperti Tuan Felix. Selain sahabat ayahnya sendiri, Tuan Felix selalu mendukung karir dan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


Seharian mereka mempelajari tentang perusahaan. Rian yang sesekali memperhatikan keromantisan Dion dan Mia menjadi tidak sabar ingin segera menikah dengan Riri.


"Om," teriak Naura yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Rian.


"Haii," ucap Rian sambil mengusap telinganya.


Rian melihat perubahan sikap Rendra. Nampaknya anak itu masih tidak suka saat Naura mengejek gambarnya.


"Rendra, om mau minta diajak jalan-jalan. Mau mau kan?" tanya Rian.


Rian mengalihkan pandangannya dari Rendra. Ia melihat Naura begitu bersemangat saat mendengar kata jalan-jalan. Namun berbandin terbalik dengan Rendra.


"Sama Rendra juga ya!" ajak Rian.


"Aku cape om," tolak Narendra.


"Mau om pijitin?" tanya Rian sambil memegang pundak Narendra. "Memangnya Rendra tidak rindu? Om kan mau bercerita banyak sama kalian berdua," lanjutnya.


"Memangnya kalau Rendra tidak ikut kenapa sih Om? Kan ada aku," ucap Naura.


"Kan lebih seru kalau kita jalan sama-sama. Mau ya Rendra," bujuk Rian.


"Kalian mau kemana?" tanya Mia.


"Jalan-jalan saja. Aku kan belum kemana-mana sama anak-anak," jawab Rian.


"Memangnya boleh Pah?" tanya Mia.


"Tidak boleh," jawab Tuan Felix.


"Opaaa," rengek Naura.


"Tidak boleh kalau tidak sama Opa. Ayo kita berangkat!" ajak Tuan Felix.


Naura pun segera melompat kegirangan. Tuan Felix juga tidak lupa membujuk Rendra. Dengan bujukannya dan Rian, akhirnya Narendra pun ikut pergi bersama. Beberapa pusat perbelanjaan mainan anak mereka singgahi. Rian yang memiliki uang sisa, membelikan beberapa mainan untuk Naura.

__ADS_1


"Kamu belum membeli apa-apa," ucap Rian.


"Aku tidak mau apa-apa Om," ucap Narendra.


"Kalau Om belikan sesuatu, kamu mau kan? Ingat, tidak boleh menolak rejeki ya!" ucap Rian.


Rian pergi meninggalkan mereka bertiga. Ia membeli alat lukis untuk Narendra. Saat kembali, Rian mengangkat alat lukis itu dari kejauhan. Narendra yang melihatnya terlihat sangat antusias.


"Buat aku, Om?" tanya Rendra.


Rian mengangguk.


"Kamu suka?" tanya Rian.


"Iya om. Nanti ajari aku ya!" ucap Narendra.


"Siapp," jawab Rian sambil mengangkat jempol tangannya.


Tuan Felix memperhatikan kedekatan keduanya. Ia tidak tahu kalau Rian ternyata jauh lebih mengenal cucu laki-lakinya itu. Rian memang mudah dekat dengan anak kecil.


"Riaaan," panggil seorang wanita.


Keempat laki-laki itu melihat ke arah sumber suara. Rian dan Tuan Felix membuang muka saat melihat kedatangan Maudi.


"Kamu di sini juga? Sepertinya kita berjodoh ya!" ucap Maudi.


Rian hanya mendecak kesal dan menggelengkan kepalanya. Namun Maudi dengan begitu percaya diri terus mengikuti Rian seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.


"Tante mau ikut main juga?" tanya Naura.


"Iya. Kenalkan, aku Maudi." Maudi mengulurkan tangannya.


"Namaku Naura," ucap Naura sambil membalas uluran tangan Maudi.


"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Maudi yang bersikap begitu akrab dengan mereka.


"Memangnya tante diajak main ya sama Om Rian?" tanya Naura dengan begitu polosnya.


"Tidak. Tidak ada yang mengajaknya," ucap Tuan Felix.


Maudi mengepalkan tangannya. Ia menahan amarahnya dan pergi meninggalkan mereka. Sepanjang jalan, ia menggerutu kesal. Dengan cepat ponselnya memanggil Hiro. Ia menceritakan semua kekesalannya pada adiknya.


Semenjak Maudi tahu kalau Hiro sedang membantunya untuk membalas dendam, ia selalu mengadu pada adiknya. Ia juga selalu memantau selama Rian masih kuliah di Jerman.


Setelah aku sabar menanti selama ini, ternyata Rian masih saja menghindariku. Lihat saja nanti. Aku akan membuat semuanya kembali seperti dulu. Aku pastikan kamu akan mengemis untuk kembali menjadi kekasihku.


Mata Maudi terbelalak saat melihat mobil yang sangat ia kenal menepi di pinggir jalan. Ya, pria yang selama ini berstatus sebagai kekasih Maudi ternyata sedang menepi di pinggir jalan. Padahal yang Maudi tahu kalau kekasihnya itu sedang sakit, sehingg tidak bisa menemaninya siang ini.


Saat Maudi akan turun, ia semakin terkejut saat melihat seorang wanita dengan pakaian mini datang dan masuk ke dalam mobil kekasihnya.


"Kurang ajar. Apa lagi ini? Aku harus mengikuti dia," ucap Maudi geram sambil menggenggam kuat setirnya.


Hari ini menjadi hari yang buruk bagi Maudi. Ia yang dipermalukan di depan umum, kemudian harus mendapat tamparan lagi saat mendapati kekasihnya pergi dengan wanita lain. Membohonginya dengan berpura-pura sedang sakit demi bertemu dengan selingkuhannya.

__ADS_1


__ADS_2