
Rian dan Dion mengikuti Mia yang berjalan lebih dulu. Rian harus menahan tawa saat Dion masih belum selesai membahas Manto. Nampaknya Dion belum puas meluapkan perasaannya.
"Ini kenapa sih A masih terus saja membahas Pak Manto? Kasihan tahu dia. Telinganya pasti panas," ucap Mia.
"Biarin," ucap Dion dingin.
Mia menatap Rian dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Rian hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya. Lalu ia masuk ke dalam mobilnya.
Dua mobil itu berjalan beriringan menuju rumah Tuan Wira. Penghuni rumah sudah berkumpul di ruang tengah untuk menghabiskan waktu di sore hari. Ketiganya disambut hangat oleh teriakan Naura yang sangat nyaring.
Dion sampai menutup telinganya dan meringis. Mia juga menegur Naura agar lebih pelan saat bicara. Naura murung namun Rian segera memeluk Naura. Mengalihkan rasa sedihnya agar tidak berubah jadi tangisan.
"Naura main sama om ya!" ajak Rian.
Rian mengeluarkan beberapa coklat dari dalam tasnya. Sengaja ia beli sebelum mampir ke kantor Mia. Anggap saja sebagai permintaan maaf untuk Naura karena tidak menjemputnya pulang.
"Wah om baik sekali, terima kasih. Naura sayang sekali sama om," ucap Naura.
Sebuah pelukan hangat diperoleh Rian dari keponakan yang sangat menyayanginya itu. Ia senang saat mendapatkan perlakuan Naura yang hangat. Tidak seperti kemarin-kemarin. Terkesan acuh dan tidak peduli.
Saat makan malam Naura tidak banyak bicara. Alasannya karena sudah mengantuk. Padahal Rian sangat tahu kalau Naura masih marah pada Mia. Akhirnya setelah makan malam, Rian lebih memilih menemani Naura sampai anak itu benar-benar tidur.
Sedangkan di ruang keluarga, Dion menceritakan rencananya untuk pulang dulu ke rumah mereka. Sempat ditolak oleh Nyonya Helen dan Tuan Wira, karena Nyonya Nathalie pun belum tentu benar-benar datang ke rumah itu.
"Tidak lama kok Ma. Hanya dua malam saja," ucap Mia.
"Lalu bagaimana dengan Naura dan Rendra?" tanya Nyonya Helen.
"Mereka tetap di sini," jawab Mia.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama. Di sini sepi kalau kalian tidak ada," ucap Nyonya Helen.
__ADS_1
"Kan ada Rian. Nanti sebentar lagi dia juga bawa menantu kok ke rumah ini. Ya kan?" tanya Dion pada Rian.
Rian yang baru saja ikut bergabung jadi bingung. Ia hanya menatap Dion dengan perasaan campur aduk. Hanya salah tingkah tanpa bisa menjawab ucapan Dion.
"Jadi kapan?" tanya Nyonya Helen.
"Apanya Ma?" Rian balik bertanya, pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Nyonya Helen.
"Katanya mau ketemu sama calon istri, kan? Dibawa ke sini dong," ucap Dion sambil mengangkat alisnya menggoda Rian yang semakin gugup salah tingkah.
"Kak," ucap Rian.
Tatapan mengancam itu diabaikan oleh Dion. Ia terus menggoda Rian sampai akhirnya Rian mencari alasan untuk bisa kabur ke kamarnya. Dion yang lainnya tertawa saat melihat Rian menutup pintu kamarnya dengan rapat.
"Kak Dion kok bocor begitu, sih?" tanya Rian dengan salah tingkah.
Rian bolak balik di kamarnya. Dari ujung tembok ke tembok yang lain ia berjalan tidak jelas. Sesekali ia mengumpat kesal karena Dion sudah membuatnya malu.
Malam ini Riri sudah di Jakarta. Tapi ia tidak tahu kemana ia akan berkunjung. Besok pagi, Riri akan mengabarkan tempat yang akan dikunjunginya bersama Mr. Aric.
"Aku harus tidur lebih awal agar besok tidak kesiangan. Ke kantor lebih awal agar nanti bisa izin ke Pak Manto," gumam Rian.
Dengan rasa bahagia, Riri tidur memeluk guling. Sementara ponselnya terletak tidak jauh dari telinganya. Ia tidak mau jika besok sampai kesiangan dan menggagalkan semua acaranya.
Acara? Bahkan Rian belum tahu kegiatan Riri besok akan seperti apa. Bagaimana mungkin Rian membayangkan acara yang ia sendiri tidak tahu. Tapi ah sudahlah. Membaca pesan seperti itu saja sudah sukses membuatnya senang setengah mati.
"Aku sangat mencintaimu," gumam Rian.
Senyum lebar itu perlahan mengecup guling yang sedang ada dalam pelukannya. Rian semakin bahagia saat membayangkan kalau guling itu adalah Riri yang sudah sah menjadi istrinya.
Sementara Riri sendiri masih sibuk menyipkan pakaian untuk Mr. Aric besok. Setelah selesai berkabar dengan Rian, Riri memilih untuk beristirahat. Ia sadar jika ia ke Indonesia untuk bekerja, bukan untuk pulang kampung apalagi sekedar main.
__ADS_1
"Sudah selesai. Saatnya tidur," gumam Riri saat semua pekerjaannya sudah selesai.
Pagi hari alarm Riri sudah berdering. Beda tiga puluh menit dengan alarm yang ada di ponselnya dibanding Rian. Riri yang sudah terbiasa tidur larut malam dan bangun pagi, tidak masalah dengan hal itu. Berbeda dengan Rian yang belum terbiasa, hal itu membuat Rian memijat kepalanya.
Kalau saja ia tidak ingat akan bertemu dengan Riri hari ini, tentu Rian akan mematikan alarm itu dan tidur lagi. Hujan yang turun deras malam ini membuat Rian semakin nyenyak. Bahkan sampai pagi ini, hujan enggan berganti panas.
"Mpus kok belum menghubungiku lagi?" tanya Rian saat melihat ponselnya masih sepi.
Rian menepis pikiran buruknya. Ia dengan cepat menyadari jika Riri di sini untuk bekerja sebagai asisten Mr. Aric. Tentu ia akan sangat sibuk mengurus persiapan Mr. Aric mengunjungi beberapa perusahaan, yang ia sendiri tidak tahu perusahaan mana saja yang akan dituju.
Rian mandi dan bersiap. Pakaian yang sudah ia siapkan segera ia kenakan. Warna yang sudah ia sesuaikan dengan Riri sebelumnya. Rian menyisir rambutnya yang baru saja di cukur di depan cermin. Ia memandang wajahnya dari beberapa sudut.
"Aku tidak jelek kok. Naura pasti tidak malu kan kalau bertemu denganku?" tanyanya pada diri sendiri.
Rian segera membuka laci yang ada di meja rias. Sebuah alat cukur ia ambil untuk merapikan kumis dan jenggotnya yang sudah mulai tumbuh.
"Nah begini kan lebih tampan," pujinya sendiri.
Suara ketukan pintu membuatnya segera menjauh dari cermin. Tuan Wira sudah menunggunya di depan kamar.
"Kapan mau berteman dengan kucing kesayanganmu itu?" tanya Tuan Wira.
"Namanya Riri Pah. Atau biasa aku memanggilnya Mpus," jawab Rian.
"Iya, apapun itu. Jadi kapan?" tanya Tuan Wira.
"Mpus bilang dia sudah di Indonesia, tapi tidak tahu kapan aku bisa menemuinya." Rian menjawab dengan wajah ceria.
Tuan Wira senang saat melihat Rian tersenyum senang. Ia sangat tahu kalau Rian sangat bahagia dengan kabar kedatangan Riri.
"Jangan lupa kenalkan sama Papa ya!" ucap Tuan Wira sambil menepuk bahu Rian.
__ADS_1