
Tuan Felix duduk di kursi kerjanya. Tangannya meraih kalender yang ada di atas meja.
"Ini bukan hari ulang tahun Papa," ucap Tuan Felix.
"Memangnya hari ulang tahun Papa kapan?" tanya Mia.
Tuan Felix membuka kalender dan mencari angka yang sudah ia lingkari.
"Nih," jawab Tuan Felix menunjukkan tanggal ulang tahunnya.
"Ih, Papa narsis deh. Masa ulang tahun sendiri diingat-ingat. Sampai di kalender ditandai begitu," ucap Mia sambil tertawa.
"Eh, jangan salah. Papa cuma mau kalau pas hari ulang tahun, Papa meluangkan satu hari buat istirahat. Anggap saja sebagai hadiah atas diri ini yang sudah banyak berjuang untuk tetap bahagia," ucap Tuan Felix membela diri.
Jika boleh jujur, semua itu Tuan Felix memang sengaja lakukan. Ia hanya ingin tahu apakah anaknya ada yang mengingat hari ulang tahunnya atau tidak. Memang sedikit berlebihan mungkin, namun ia hanya melihat kasih sayang anak-anaknya.
"Mia tahu ulang tahun Papa tidak sekarang. Tapi mumpung Mia ke sini, Mia mau memberi kejutan ini untuk Papa. Karena kemungkinan besar di tanggal ulang tahun Papa, Mia tidak bisa ke sini untuk merayakan hari lahir Papa. Tapi Papa kok tidak senang sih?" tanya Mia.
"Mana cucu Papa?" Tuan Felix balik bertanya.
Mia melihat Dion, Rian dan Riri. Semuanya nampak menahan tawa. Seolah mereka sedang mengiyakan apa yang sudah dibahas saat di dalam mobil tadi.
"Mia kan ke sini juga sekalian kerja. Tidak lama. Sementara Narendra dan Naura juga harus sekolah," ucap Mia membela diri.
"Kan bisa izin sebentar," ucap Tuan Felix.
"Lain kali aku ajak mereka ke sini ya Pah," ucap Mia.
"Lain kali itu kapan? Papa tahu kamu ini sibuk, Mi. Tapi harusnya kamu juga tahu kalau Papa rindu sama mereka," ucap Tuan Felix sedih.
"Kalau waktunya sudah tepat, Papa pasti bertemu sama cucu Papa. Tapi sekarang kan kak Mia mewakili si kembar untuk membuat kejutan untuk Papa. Masa Papa malah sedih?" tanya Riri.
"Ah, maafkan Papa. Papa bahagia Mi. Papa bahagia sekali," ucap Tuan Felix sambil kembali memeluk Mia.
Mia tersenyum senang dalam pelukan Tuan Felix. Lagi-lagi Riri dibuat iri. Ia benar-benar merindukan keluarganya. Ingin sekali rasanya berkumpul kembali seperti keluarga Tuan Felix.
Mah, Pah, tunggu aku. Nanti setelah selesai kuliah, aku akan datang menemui kalian. Aku akan memeluk kalian dan melepas semua rinduku. Maafkan aku pergi tanpa kabar pada kalian. Aku tahu aku salah. Tapi rasa sakitku terlalu dalam hingga aku bertindak sebodoh ini.
"Pus, sini peluk Papa juga. Kata Papa kamu juga anaknya," ucap Mia membuyarkan lamunan Riri.
"Hah?" ucap Riri terkejut.
"Sana!" ucap Rian.
__ADS_1
Rian membawa kue yang sedang Riri pegang. Membiarkan Riri merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang ayah. Ya, Rian tahu jika Riri sangat merindukan keluarganya. Ia tidak yakin jika kejadian hari ini membantu Riri mengobati kerinduannya pada keluarganya. Ia lebih yakin jika setelah hari ini Riri justru semakin merindukan keluarganya.
"Oh ya Pah, maaf. Tadi kue ulang tahun yang aku pesan terlambat di kirim. Untung saja Mpus membeli kue ini. Ini adalah kasih sayang Mpus untuk Papa. Selamat ulang tahun Pah," ucap Rian.
"Waaaw, terima kasih Pus. Papa sangat bahagia sekali. Setelah bertahun-tahun tidak ada kue ulang tahun, akhirnya Papa mendapatkan kue spesial ini. Terima kasih ya!" ucap Tuan Felix.
Ya, memang begitu kenyataannya. Rian yang sering merayakan hari ulang tahun Tuan Felix tidak terbiasa menyiapkan kue seperti itu. Pemesanan kue kali ini pun atas permintaan Mia. Rian biasanya mengucapkan selamat dan memberikan sebuah kado kecil untuk Tuan Felix.
"Pah, maaf ya kita juga tidak bawa apa-apa. Tadi buru-buru jadi tidak sempat beli kado," ucap Mia.
"Ah kalian ini memang sangat menyebalkan. Jadi ini satu-satunya hadiah untuk Papa?" ucap Tuan Felix.
"Heem," jawab Mia sambil mengangguk.
"Ya ampun Mia, Rian, kalian ini sebenarnya anak Papa bukan sih? Kok malah Mpus yang bawa kue? Kalau begitu aku mau ganti saja Mpus jadi anakku," ucap Tuan Felix.
"Yaaa, jangan dong Pah. Iya, iya nanti aku sama Rian beli kado buat Papa. Pokoknya yang istimewa deh," ucap Mia.
"Ah, terlambat. Papa sudah terlanjur kecewa," ucap Tuan Felix.
"Jangan ambekan. Nanti cepat tua. Keriputnya makin banyak loh," ucap Mia.
"Hah? Memangny iya?" tanya Tuan Felix terkejut.
Semuanya tertawa, termasuk Riri. Ia menjadi salah satu orang baru yang sangat bahagia di hari ini. Tanpa ia tahu jika semua yang terjadi juga salah satu cara mereka untuk menghibur Riri.
Kado spesial dan mewah dengan angka yang fantastis pun sudah Mia siapkan. Namun tentu tidak Mia tunjukkan di depan Riri. Ia tidak ingin kemewahan yang Mia punya membuat Riri merasa tidak berharga.
Perayaan ulang tahun berlanjut ke acara makan malam yang dilakukan di salah satu cafe kesukaan Tuan Felix. Cafe temannya yang menyediakan makanan Indonesia. Mereka semua makan makanan Indonesia.
"Pus, makan yang banyak. Anggap saja kita sedang pulang kampung," bisik Mia.
Riri tertawa menutupi betapa ia sangat merindukan tanah airnya. Suap demi suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, dipenuhi dengan pikiran kerinduan yang mendalam.
Rian dan Mia segera mengalihkan pembicaraan. Mereka tidak lagi membahas tentang rindu dan keluarga. Kini Mia membahas kuliah dan persiapan pasca lulus pada Rian dan Riri.
"Aku sih mau jadi arsitek hebat," ucap Rian.
"Belajar yang serius. Tidak mudah mewujudkan impian," ucap Mia.
"Pasti dong Kak," ucap Rian.
"Kalau kamu Pus, gimana kuliahnya?" tanya Mia.
__ADS_1
"Sejauh ini semuanya baik-baik saja Kak. Aku sih berharap kalau nilaiku bisa memuaskan," ucap Riri.
"Sudah punya rencana buat ke depannya?" tanya Mia.
"Belum," jawab Riri sambil menggeleng.
"Kamu kerja sama saja sama Mia. Istriku ini suka sekali urusan model-model pakaian. Kalian pasti punya butik yang hebat kalau designernya kalian berdua," ucap Dion.
Mia menatap Dion tidak percaya. Inikah cara Dion membuat Riri percaya diri tapi seolah menjatuhkan Mia? Padahal sebenarnya Dion sangat tahu jika Mia tidak pandai urusan fashion.
"Ya, kamu selesaikan kuliahmu dengan baik. Nanti kita kerja sama ya!" ucap Mia.
"Kakak serius?" tanya Riri.
"Tentu," jawab Mia.
Meskipun penuh kebohongan, namun Mia berusaha untuk membangun semangat Riri. Paling tidak nanti ia bisa menyediakan tempat dan modal untuk Riri.
"Ah, Mia senang sekali. Terima kasih banyak Kak," ucap Riri.
Setelah makan malam usai, Rian mengantrkan Riri untuk pulang ke rumah Mr. Aric. Tidak terlalu malam karena Rian takut jika hal itu membuat masalah untuk Riri.
"Pus, terima kasih ya untuk hari ini. Papa senang sekali dengan kehadiran kamu," ucap Rian.
"Aku yang seharusnya terima kasih Mas. Keluarga kalian begitu baik dan hangat. Aku bisa merasakan ketulusan itu," ucap Riri.
"Nanti kalau sudah lulus, ingat ya kalau Kak Mia menunggu kerja samanya." Rian kembali mengingatkan Riri tentang kerja sama itu.
Ya, Rian tidak tahu kerja sama itu benar atau tidak. Yang pasti, Rian hanya ingin melihat Riri semangat kuliah. Riri berhak hidup lebih baik. Ia yakin Mia akan menyayangi Riri. Jika Riri bersama Mia, Riri akan menjadi orang yang selalu bahagia. Ketulusan Mia membuat orang disekitarnya merasa nyaman dan bahagia.
"Iya Mas. Sampaikan salamku pada Kak Mia dan yang lain. Aku sangat bahagia hari ini," ucap Riri.
"Iya. Nanti aku sampaikan," ucap Rian.
Saat Rian berpamitan, Riri menerima pesan jika Mr. Aric sudah menunggunya di dalam rumah. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Mengungkapkan ketegangannya hanya lewat tatapan mata saja.
"Mas pulang saja. Aku masuk ya!" ucap Riri.
"Aku masuk. Aku akan menjelaskan semuanya pada Mr. Aric," ucap Rian cemas.
"Mr. Aric tidak membutuhkan itu semua Mas. Mr. Aric hanya sedang menungguku. Mas pulang ya!" ucap Riri.
"Ok. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku," ucap Rian.
__ADS_1
Rian pergi dengan pikiran yang sangat kacau. Ia takut jika Mia akan kena hukuman dari Mr. Aric. Ia mencoba menarik napas panjang dan berpikiran positif.
Semoga kamu baik-baik saja, Pus.