
Setelah makan siang, Rian membujuk Shelin agar pulang. Sempat menolak karena ingin menemani Rian seharian, namun akhirnya Shelin bersedia untuk pulang.
"Tapi kado dari aku dibuka dulu dong," ucap Shelin.
Malas sebenarnya Rian membuka kado-kado seperti itu. Ia merasa sedang tidak menginginkan apa-apa saat ini, kecuali keluaef dari zona kegelisahannya.
"Nanti saja," ucap Rian.
"Tapi aku mau lihat kamu suka atau tidak sama kadonya," ucap Shelin.
"Apapun yang kamu berikan pasti aku suka. Kalau dibuka di sini kasihan Pak Manto nanti dia juga mau kado," ucap Rian.
Meskipun Shelin kecewa, namun ia tidak punya pilihan lain karena tidak bisa memaksa Rian. Saat Rian berkata tidak, maka artinya tidak ada lagi kata iya sesuai harapannya.
"Ya sudah aku pulang duluan ya!" ucap Shelin.
Sebagai seorang pria yang bertanggung jawab, Rian mengantar Riri sampai ke parkiran. Setelah sopir pribadinya membawa Shelin pergi dari kantor, Rian terlihat sangat lega. Ia kembali ke ruangannya.
"Pak terima kasih ya untuk kerja samanya," ucap Rian.
"Kerja sama yang mana Pak?" tanya Manto.
Ternyata Rian sangat senang saat Manto mengerti kode yang ia berikan. Ia memang tidak ingin mengenalkan Shelin terlalu luas. Karena sejujurnya, Rian takut jika Shelin bukan jodohnya.
"Kok bapak ngomongnya begitu?" tanya Manto.
"Ya kan saya bilang kalau, Pak. Yang menikah saja bisa bercerai apalagi saya yang baru tunangan," jawab Rian.
"Astaga Pak. Ya kalau ngomong yang baik-baik. Biar banyak yang aminkan. Jangan bicara yang tidak-tidak ah. Nanti dicatat malaikat," ucap Manto sambil bergidik.
Rian hanya menahan tawanya melihat respon Manto. Tapi ia ingat apa yang dikatakan Rina padanya. Jika memang belum berjodoh, sedekat apapun mereka tetap tidak bisa bersama. Tapi kalau seandainya berjodoh, sejauh apapun mereka terpisah kalau sudah jodohnya maka akan bertemu dan menyatu.
Aku berharap kamu adalah jodohku, Pus.
Ucapannya dalam hati yang membuat ia sampai terkejut dan memegang dadanya.
Aduh aku ini ngomong apa sih? Hey mulut jaga diri. Jangan ngomong sembarangan.
Rian nampak menutup mulutnya dan menekan-nekannya dengan tangan kanan. Ia segera kembali fokus dengan pekerjaannya karena tidak mau pikiran tentang Riri semakin liar di kepalanya.
Sampai pulang kerja, Rian nyaris meninggalkan kado dari Shelin. Namun Manto segera mengingatkannya. Dengan sangat malas Rian segera membawa kado itu dan pulang. Sementara Manto hanya menggelengkan kepala melihat sikap Rian.
Semakin hari Rian di mata orang-orang yang dekat semakin berubah. Mereka kadang tidak mengenali sikap Rian yang tidak seperti biasa. Namun mereka bersama-sama berusaha untuk mengerti keadaan Rian.
__ADS_1
Saat ini ia sedang labil. Di usianya sekarang, Rian menggebu-gebu dalam setiap urusan. Terlebih soal cinta. Namun sayangnya, harapan menikah muda itu tiba-tiba pupus. Rian mendapat banyak sanjungan karena keputusannya melamar Shelin di usianya yang belum genap 25 tahun.
Seandainya berita tentang Riri menyebar hingga menbuat Rian berubah, tentu penilaian itu akan berubah seketika. Semua stigma baik tentang Rian akan menjadi buruk dalam hitungan jam saja.
Rian beruntung karena di kelilingi orang baik yang mau menutupi semua keburukannya. Bahkan beberapa orang berusaha mengubah keadaan Rian. Namun sampai saat ini tidak ada yang berhasil. Rian masih tetap berdiri dengan keputusannya yang tidak jelas.
"Rin," panggil Rian.
Sore itu Rina tidak mendengar terikan Rian karena saat Rian pulang bekerja, ia tengah beres-beres pekarangan rumahnya. Mendengar panggilan Rian, Rina segera mengangkat kepalanya dan melempar senyum.
"Cieeee, bawa apa tuh? Aku masih pesan undangan, jangan repot-repot bawa kado dari sekarang," goda Rina saat melihat Rian membawa sebuah kado.
Rian mendekat dan duduk di bebangkuan depan rumah Rina. Ia menyimpan kado itu di atas meja.
"Kalau kamu mau, ambil saja." Rian mendorong kado itu ke arah Rina.
"Ah yang benar?" tanya Rina.
"Ambil," jawab Rian.
"Wah, dapat bonus ya? Kok tumben baik?" tanya Rina.
Rina yang tidak tahu apa-apa segera membawa kado itu dan memeluknya. Ia senang mendapat kado itu meskipun ia sendiri tidak tahu kado apa yang sedang ada di pelukannya. Terakhir ia mendapat kado beberapa bulan lalu saat ia berulang tahun. Itu pun hanya satu. Jangan tanya dari siapa? Yang pasti dari calon suaminya. Hanya dia makhluk di muka bumi ini yang membuatnya merasa menjadi wanita seutuhnya.
"Apa sih Rin?" tanya Rian.
"Kamu ini apa-apaan sih? Masa kado dari calon istrimu kamu kasih ke aku?" ucap Rina kesal.
Rian melihat kado yang sudah di buka itu. Rina bahkan menunjukkan sebuah surat dari Shelin. Surat yang membuat Rina tahu dari siapa kado itu sebenarnya.
Rian duduk dan membaca surat itu. Kata-katanya begitu romantis. Bahkan Rina sampai menyeka sudut matanya. Namun Rian sama sekali tidak bergeming. Padahal isi suratnya adalah curhatan hati Shelin yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Rian. Dengan sangat sabar Shelin ingin mendampingi Rian hingga kembali menjadi Rian yang ia kenal sebelumnya.
"Apa sih? Lebay," ucap Rian sambil menggulung kertas itu dan melemparnya ke tong sampah.
"Astaga Rian. Kamu memang benar-benar suda sakit ya!" ucap Rina.
Rina yang terkejut dengan sikap Rian hanya bisa mengusap dadanya. Ia benar-benar tidak mengenal Rian yang ada di hadapannya saat ini. Sama sekali bukan Rian yang ia kenal saat pertama bertemu.
Tidak ingin melihat lebih banyak perubahan buruk itu, Rina segera pamit untuk pulang. Ia harus memberikan waktu untuk Rian bisa sendiri. Namun Rina salah. Sendirinya Rian justru hanya membuatnya mengikuti kata hatinya.
Ia meninggalkan kado itu di teras rumahnya. Sedangkan Rian masuk dan tidur. Rina yang melihat kado itu masih tergeletak di atas meja, kembali ke rumah itu dan membawa kadonya. Kemudian ia mengetuk pintu rumah Rian. Kali ini Rina mengalah.
Sebagai orang yang lebih waras, biar aku yang bicara dengannya. Semoga hatinya bisa menerima ucapanku, Tuhan.
__ADS_1
Rina bicara panjang lebar, namun tidak sepatah katapun keluar dari bibir Rian. Pria itu hanya menunduk dan menerima kado yang Rina berikan ke tangannya. Setelah puas mengingatkan Rian, Rina kembali pulang.
Rina tidak bisa mengamati Rian karena pria itu langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Rina pikir Rian akan berpikir dan menyadari kesalahannya. Namun ternyata Rian menyimpan kado itu di atas nakas, sedangkan ia melanjutkan tidurnya.
Di waktu yang sama, Shelin nampak beberapa kali melihat ponselnya. Tidak ada satu pun pesan yang ia terima dari Rian.
"Apa dia belum buka kadonya?" gumam Shelin.
Shelin memberikan kado sebuah ponsel. Ia tahu ponsel Rian rusak makanya tidak bisa menghubunginya. Ia juga sudah menuliskan nomor ponselnya dalam surat itu. Namun Rian masih belum menghubunginya juga.
Shelin sebenarnya lelah. Namun ia tidak bisa berbuat apapun kecuali sabar menunggu Rian. Rasa cintanya yang begitu besar dan tulus membuat Shelin selalu berusaha untuk menerima setiap perubahan Rian padanya.
Saat pikiran buruk singgah di kepala Shelin, ia berusaha menghapusnya dengan cepat. Baginya, tidak ada alasan untuk berpikiran buruk ada calon suaminya. Rian sudah melamarnya. Artinya ia sudah dipilih oleh Rian. Lalu ia mau menuntut apa lagi? Menikah?
Sebenarnya Shelin yang meminta waktu satu tahun untuk saling mengenal lebih dalam setelah pertunangan itu. Walaupun baru beberapa bulan saja, rasa pertunangan itu suda hambar. Tapi Shelin berusaha menerima dan mengerti keadaan Rian.
"Ayo Shelin, jangan selalu berpikiran buruk. Dia itu sibuk, jadi wajar kalau dia lelah. Kamu yang harus mengerti," gumam Shelin.
Entah jam berapa Shelin terlelap. Yang pasti ponsel itu masih dalam genggamannya. Setelah terlelap pun Shelin masih berharap jika Rian bisa membangunkannya dengan panggilan telepon, jam berapapun itu.
Sayangnya sampai Shelin bangun pun Rian tidak menghubunginya sama sekali. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia tidak menyangka jika pengertian dan kesabarannya bisa sesakit ini.
Butuh waktu untuk Shelin mengambil langkah selanjutnya. Ia tidak boleh terus-terusan mengemis pada Rian. Pagi ini Shelin ingin ke kantor Rian, menemaninya dan mendapat jawaban kenapa ia begitu berubah. Namun Shelin mengurungkan niatnya.
Sudah cukup rasanya Shelin menuntut belas kasihan dari pria yang ia cintai itu. Ia menyadari jika Rian sudah berubah, ia juga sudah berusaha untuk tidak mempermasalahkan perubahan itu. Namun sikap Rian malah semakin menjadi.
Kesabaran Shelin sedang benar-benar diuji. Merasa batas kesabarannya nyaris habis, Shelin berusaha menghindar dari Rian. Ia kembali fokus dengan dunianya. Bersemangat untuk bertemu anak-anak lucu di sekolahnya.
"Bu guru, apa Om Rian baik-baik saja?" tanya Naura.
Shelin menghela napas panjang. Niatnya ke sekolah adalah berusaha untuk melupakan semua yang terjadi dengan hubungannya. Nyatanya ia malah terjebak dengan pertanyaan calon keponakannya itu.
"Om Rian baik-baik saja. Memangnya Naura tidak bertemu dengan Om?" tanya Shelin.
"Om Rian kabur. Kita semua tidak tahu dia tinggal dimana," jawab Naura sedih.
Kabur? Bahkan Shelin tidak tahu kalau Rian kabur dari rumah. Rian sama sekali tidak bercerita apapun padanya. Dadanya semakin sesak. Namun ia tidak mau menunjukkan rasa sakitnya di hadapan Naura.
"Om hanya butuh waktu untuk sendiri saja," ucap Shelin.
Rupanya Naura yang menguping obrolan Tuan Wira dan Nyonya Helen tidak tahu kalau semua itu akan menyakitkan hati Shelin. Ia yang masih polos hanya berpikir jika Shelin akan memberi tahu bahkan mengajaknya bertemu dengan Rian.
Naura harus menelan kecewa saat Shelin justru mengajaknya untuk segera masuk kelas. Seolah berusaha mengalihkan bahasan tentang Rian. Meskipun ia tidak mengerti apa alasannya, namun Naura masih berharap bisa bertemu dengan Rian.
__ADS_1
Kehilangan Rian membuatnya kesal dan sering uring-uringan. Narendra adalah salah satu korbannya. Tidak jarang mereka bertengkar hanya karena Naura mencari cara untuk mengalihkan kerinduannya pada Rian.