Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Surat kaleng


__ADS_3

Rian masih berusaha menjadi teman yang baik untuk Rina. Ia menemani Rina bercerita malam ini. Saling bertukar pikiran. Rina bingung saat calon suaminya habis kontrak tepat satu bulan setelah pesta pernikahan mereka nanti.


Mereka harus memilih antara melangsungkan pesta sesuai dengan yanhmg direncanakan atau membatalkannya. Karena pemberitahuan untuk putus kontrak itu sangat mendadak. Sementara sebagian uang DP sudah masuk. Bahkan undangan sudah dicetak.


"Lakukan semua rencana kamu. Uang yang kamu punya simpan untuk tabungan. Sedangkan untuk resepsi aku yang siapkan ya!" ucap Rian.


"Jangan ngaco kamu," ucap Rina sedih.


"Loh kok ngaco? Aku serius," ucap Rian.


Rina melihat Rian begitu meyakinkan. Tapi ia sadar diri bahwa biaya yang harus dikeluarkan itu tidak kecil. Tidak mungkin ia menggantungkan semua itu pada Rian.


"Kamu tidak percaya?" tanya Rian.


Rina menggeleng.


"Memangnya berapa biaya yang harus aku bayar?" tanya Rian.


"Mahal pokoknya," ucap Rina.


"Ya berapa?" tanya Rian.


Rina masuk dan kembali membawa beberapa lembar pembayaran yang harus ia lunasi pada saatnya nanti. Rian melihatnya satu per satu lalu menjumlahkannya. Ia melihat Rina yang masih cemberut.


Rian menatap Rina dengan senyuman tulus. Ia melihat sahabatnya yang juga tulus berteman dengannya tanpa embel-embel harta dan tahta yang Rian miliki.


"Aku bayar semuanya. Anggap saja ini hadiah untuk pernikahan kalian," ucap Rian.


"Hah?" tanya Rina.


"Hah, Hah, Hah, seperti keong saja kamu ini. Sudahlah jangan sedih lagi. Aku tidak suka melihat kamu cemberut begitu. Pokoknya kamu jangan khawatir, semua ini aku yang lunasi ya!" ucap Rian.


"Tapi ini mahal Rian," ucap Rina sambil mengangkat beberapa nota di tangannya.


"Yang bilang murah siapa?" tanya Rian.


"Terus kenapa kamu mau bayar semua ini?" Rina balik bertanya.


"Karena persahabatan kita bukan tentang nominal. Kamu sudah selalu sabar menjadi temanku. Mendengarkan setiap keluhanku. Bahkan sering memberiku masukan meskipun aku tidak pernah mendengarkanmu," ucap Rian sambil tertawa.


"Lalu bagaimana aku harus membayarnya?" tanya Rina.


"Aku tidak meminjamkanmu. Aku memberikan semua ini untuk hadiah," ucap Rian.


"Tapi kemahalan," ucap Rina.


"Kalau begitu kamu cukup membayarnya dengan berjanji kalau kamu akan menjadi temanku sampai kapanpun," ucap Rian.


Rian mengangkat jari kelingkingnya. Rina hanya menatap Rian dengan wajah bingung. Sampai akhirnya Rian menarik tangan Rina dan mengaitkan kelingking Rina dengan kelingkingnya.


"Semua sudah selesai kan?" tanya Rian.


Rina masih belum bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk.


"Kalau begitu istirahat ya! Aku mau pulang. Sampai bertemu besok," ucap Rian.


Rina masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Ia merasa janji Rian hanya sebuah mimpi yang tidak mungkin jadi kenyataan. Biaya yang harus Rina keluarkan cukup besar. Mana mungkin Rian akan melunasinya.

__ADS_1


Meskipun Rian sangat kaya, tapi Rina cukup sadar diri. Tidak mungkin ia menerima semua pemberian dengan cuma-cuma. Kalaupun Rian benar-benar melunasi semua itu, artinya ia harus berpikir bagaimana cara mengembalikan uang itu nantinya.


Ah, Rina tidak peduli bagaimana ia membayarnya nanti. Yang pasti pesta pernikahan itu harus dilangsungkan. Surat undangan dan lainnya sudah disiapkan. Belum lagi ia akan dibully oleh teman-temannya kalau pesta itu dibatalkan. Rina bergidik membayangkan apa yang terjadi padanya kalau semua itu sampai benar-benar terjadi.


Rina bangun pagi sekali, ia sudah bersiap karena hari ini piket pagi. Saat ia keluar rumah, Rian sudah duduk di depan rumahnya.


"Ada apa?" tanya Rina.


"Mau tanya nomor rekening," jawab Rian.


"Sudah lama di sini?" tanya Rina.


"Baru sepuluh menit," jawab Rian.


"Kok tidak teriak-teriak panggil aku?" tanya Rina.


"Katanya berisik," jawab Rian.


Rina terdiam mendengar semua jawaban Rian yang sangat sulit ia percaya. Rian benar-benar sudah kembali seperti pertama kali ia mengenalnya.


"Sudah tanya-tanyanya? Jadi mana nomor rekeningnya?" tanya Rian lagi.


"Nanti saja. Kata dia jangan merepotkan orang lain," jawab Rina.


"Oh, jadi kamu masih menganggapku orang lain?" tanya Rian.


"Bukan begitu," jawab Rina panik.


"Kamu tadi bilang begitu," ucap Rian.


"Ya maksudku bukan begitu," ucap Rina.


Rina menjelaskan bahwa ia yang baru mengenal Rian beberapa bulan terakhir ini nerasa tidak pantas untuk mendapat kebaikan Rian. Itu berlebihan menurutnya.


"Aku tidak enak," ucap Rina.


"Kasih kucing kalau tidak enak," ucap Rian.


Rina hanya cemberut saat melihat Rian mengejeknya. Sementara Rian hanya melihatnya sambil menahan tawa.


"Mana nomor rekeningnya? Sudah siang, aku mau ke kantor." Rian memberikan ponselnya.


Rina menolak ponsel Rian. Ia tidak bisa dengan mudah menerima bantuan yang terlalu besar.


"Ah lama. Ya sudah aku berangkat ke kantor," ucap Rian.


"Iya," ucap Rina.


Rina membalas lambaian tangan Rian saat pria itu berjalan semakin menjauh dengan senyumnya yang tulus. Sampai saat ini ia merasa Rian adalah satu-satunya yang mau bersahabat dengannya. Begitupun sebaliknya, Rian merasakan hal yang sama.


Keduanya menjalin persahabatan dengan penuh ketulusan. Meskipun dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda, namun keduanya nyambung saat bercerita satu sama lain.


Sore hari Rian sudah nampak duduk di depan rumah Rina sambil menelepon. Dari kejauhan Rina mengamati Rian dengan seksama. Rian terlihat senyum bahagia. Siapa sebenarnya yang tengah menelepon Rian hingga membuat Rian bahkan sampai tertawa lepas?


"Sudah dulu ya! Rina sudah datang," ucap Rian saat Rina sudah berdiri di hadapannya.


"Siapa?" tanya Rina.

__ADS_1


"Shelin," jawab Rian.


Shelin? Benarkah Shelin yang sudah membuat Rian kembali terlihat ceria? Apakah memang Riri sudah tidak berarti sama sekali di hati Rian?


"Sudah lama nunggu aku?" tanya Rina.


"Lumayan. Kamu kok baru pulang sih?" Rian balik bertanya.


"Aku ada perlu dulu tadi," jawab Rina.


"Nih," ucap Rian sambil memberikan sebuah kado untuk Rina.


"Pernikahanku masih lama. Kok kadonya dari sekarang?" tanya Rina.


"Karena kado itu akan berguna sekarang. Pakailah," ucap Rian.


Setelah Rian pergi, Rina melihat kado yang ada di tangannya. Ia sudah menduga kalau kadi itu isinya adalah uang tunai. Untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak, Rina membuka kado itu. Dan ternyata benar sesuai dugaannya.


"Uang ini banyak sekali," ucap Rina.


Rina meneteskan air mata saat melihat uang itu di hadapannya. Ia tidak menyangka jika ada orang baik seperti Rian. Padahal ia baru saja nyaris kecewa saat sudah pergi ke pegadaian, tapi uang yang ia butuhkan tidak cukup.


Rina segera menghubungi kekasihnya dan mengabarkan kado terbaik itu. Kekasihnya sempat menolak, tapi Rina meyakinkan kalau suatu saat mereka bisa membayar uang yang diberikan oleh Rian.


Berkat bantuan Rian, Rina bisa menggelar pesta pernikahan yang diimpikannya. Rian datang sebagai tamu undangan yang paling dinantikan oleh Rian. Tangannya terliha bergandengan dengan seorang wanita yang sangat cantik.


Kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian. Bukan saja karena kecantikan dan ketampanan mereka berdua, tapi juga keramahan yang mereka tunjukkan pada semua tamu undangan yang lain. Keduanya terlihat sangat serasi.


"Terima kasih untuk kadonya, Ri." Rina tersenyum senang saat bersalaman dengan Rian.


"Sama-sama. Selamat ya!" ucap Rian.


"Terima kasih Tuan. Saya berjanji akan membayar apa yang anda berikan setelah saya kembali bekerja," ucap suami Rina.


"Namaku Rian. Jangan kaku begitu, aku tidak suka. Tentang apa yang kamu bahas, jangan sekali lagi membahas hal itu di hadapanku. Aku memberikan itu sebagai sebuah kado. Dan tidak ada kewajiban untuk membayar kado," ucap Rian.


Keramahan Rian membuat suami Rina bisa bernapas lega. Akhirnya bebannya tidak terlalu berat. Benar kata Rina, kalau Rian adalah orang yang sangat tulus. Hal itu bisa dirasakan oleh suaminya Rina padahal mereka baru pertama kali bertemu.


Rian dengan bangga menggandeng Shelin. Ia tahu banyak orang yang melihat kebersamaannya. Shelin nampak tidak nyaman dengan kondisi ini. Rian yang peka segera mengajak Shelin untuk segera meninggalkan acara itu.


"Terima kasih ya!" ucap Shelin.


"Seharusnya kamu belajar untuk terbiasa dengan acara seperti itu. Kamu akan menjadi pusat perhatian saat kita menghadiri suatu acara," ucap Rian.


Shelin mengangguk. Ia adalah seorang guru. Sudah terbiasa berdiri dan berbicara di depan umum. Tidak aneh sebenarnya menjadi pusat perhatian seperti itu. Tapi mereka melihatnya dengan tatapan yang berbeda. Shelin tidak suka. Mereka tidak seperti anak sekolah yang menatapnya penuh cinta.


Siang ini Rian mengantarkan Shelin pulang ke rumahnya. Ia sempat mengecup dahi Shelin sebelum kembali ke kantor. Senyum Shelin mengantar kepergian Rian dari rumah itu.


Waktu terus berlalu semakin membaik. Namun Maudi tidak suka dengan semua itu. Dengan bantuan Hiro untuk mencari tahu tentang kehidupan Riri saat ini. Keberuntungannya yang menjadi harapan semua orang diceritakan pada Shelin. Dengan dalih kagum, Maudi sengaja ingin membuat Shelin tidak percaya diri.


Sebuah surat kaleng yang Maudi kirim, berhasil membuat Shelin merasa kalau dirinya sangat tidak ada apa-apanya dibanding Riri. Seorang wanita cantik yang sudah menjadi pemilik resmi sebuah perusahaan ternama di Jerman.


Surat yang Maudi tulis juga membuat dada Shelin terasa sangat sesak. Seolah menyalahkan Shelin, Maudi menyebut Shelin lah yang membuat hubungan Rian dan Riri kandas. Padahal mereka sudah bertunangan di Jerman.


Riri hanya bisa menangis. Emosinya belum terkontrol. Ia tidak mungkin membahas ini dengan Rian. Ia juga ingat jika Rian bukan orang biasa. Tentu akan banyak sekali hal-hal yang mengganggu hubungan mereka. Shelin sadar hal itu sejak dulu. Bahkan ia pernah membahasnya dengan Rian.


Tapi pada kenyataannya ia tetap merasa sangat sakit saat apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Selalu saja ada yang membandingkan Shelin dengan Riri. Padahal Rian sudah jelas menyebut Riri adalah masa lalunya.

__ADS_1


Sabar Shelin. Ingat kamu harus dewasa. Ini mungkin hanya sebagian kecil dari duri yang mengganggu hubungan dengan Rian. Aku harus kuat. Ya, aku harus kuat. Aku harus percaya kalau Rian akan memperjuangkanku. Sebaik apapun Riri, dia adalah masa lalu Rian. Dan aku adalah pemenangnya.


__ADS_2