Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Besan?


__ADS_3

Rian menatap pergelangan tangannya. Belum ada pesan lagi dari Mia. Tiba-tiba ponselnya menerima sebuah pesan. Riri menyatakan kalau penerbangan kali ini ternyata tidak langsung ke Indonesia. Ia pergi ke negara lain dulu.


Ada rasa kecewa namun Rian mencoba tenang. Di satu sisi Rian memang seharusnya bersyukur karena ia belum sembuh benar. Baju yang sudah ia siapkan akhirnya kembali masuk ke dalam lemari.


"Ri," panggil Dion.


"Iya Kak," jawab Rian sambil membuka pintum


"Gimana keadaanmu? Sudah membaik?" tanya Dion.


"Sudah Kak," jawab Rian.


"Syukurlah. Sudah makan?" tanya Dion.


"Belum," jawab Rian.


"Ayo kita makan bareng," ajak Dion.


Rian mengikuti Dion untuk pergi ke ruang makan. Mereka berkumpul bersama. Sudah beberapa hari Rian tidak ikut berkumpul seperti itu. Bahagia rasanya saat bisa menikmati waktu yang sangat berarti itu.


"Om Rian jangan lupa minum obat ya!" ucap Naura.


"Iya," jawab Rian sambil tersenyum senang.


Rian tak henti-hentinya bersyukur bisa berada di keluarga Mia. Orang asing yang selalu memperlakukannya sangat istimewa. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan keluarga itu.


Selesai makan, Naura dan Narendra kembali ke kamar. Mereka melakukan rutinitas seperti biasa. Belajar lalu tidur. Sedangkan Rian dan Dion pergi ke ruang keluarga. Tidak lama, Nyonya Helen dan Tuan Wira ikut bergabung bersama mereka.


"Eh, Mia pikir pada kemana." Mia ikut duduk di sebelah Dion.


"Aku pikir kamu istirahat sayang," ucap Dion sambil menggenggam tangan Mia dengan hangat.


"Mia belum ngantuk," jawab Mia.


"Sudah selesai?" tanya Dion.


"Sudah," jawab Mia.


Obrolan yang hanya mereka berdua yang mengerti. Rian hanya menatap mereka suka. Ia membayangkan kalau suatu saat apa yang Mia dan Dion lakukan, akan ia alami bersama Riri.


"Hey, jangan bengong." Nyonya Helen menepuk bahu Rian.


"Eh, Mama." Rian tersenyum canggung.


Mereka kembali bercerita. Membahas tentang perusahaan Rian yang mulai berkembang pesat. Ada rasa yang begitu bangga saat mereka memuji perusahaannya.


"Aku yakin perusahaanmu akan segera menjadi perusahaan yang sangat besar," ucap Tuan Wira.


"Terima kasih banyak Pah," jawab Rian.


Ya, modal yang besar dan penempatan orang yang tepat di perusahaan itu menjadi alasan utama keyakinan Tuan Wira. Bukan hanya Tuan Wira, bahkan beberapa orang yang ikut mengamati perkembangan perusahaan Rian juga ikut berkomentar yang sama.


Jam sepuluh malam semua bubar. Masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Beristirahat karena besok mereka harus sudah kembali dengan pekerjaannya.


Seperti yang lain, malam ini Rian tidur nyenyak. Mungkin karena pengaruh obat yang sudah ia minum. Untung saja alarm ia pasang tepat di dekat telinganya.


"Aduuh, masih ngantuk." Rian meraba ponselnya dengan mata yang masih tertutup rapat.


Tangannya dengan cepat mematikan alarm itu dan kembali tertidur. Tiga puluh menit kemudian alarmnya kembali terdengar nyaring. Ruan menggeliat dan meraba mencari ponselnya. Ia bangun setelah alarm itu sudah berhenti berdering.


"Hoooam," Rian menggeliat dan mulai membuka matanya sempurna.


Dengan sangat berat, Rian melawan rasa ngantuknya yang sangat besar. Ia memaksa kakinya untuk melangkah ke kamar mandi. Air dingin yang mengguyur badannya berhasil mengusir rasa ngantuknya.

__ADS_1


Rian memilih baju dan segera merapikan diri. Di depan cermin Rian menatap wajahnya. Ia merasa waktu sangat cepat berlalu. Tiba-tiba ia teringat beberapa tahun ke belakang, saat ia masih menjadi tukang lotek.


Bibirnya tersenyum. Lalu matanya mengamati setiap sudut kamarnya. Kamar yang pertama kali ia tempati saat sampai ke rumah itu. Masih tidak berpindah. Kamar Rian masih di tempat yang sama.


"Mama dan Papa terlalu baik padaku," ucap Rian.


Matanya menyapu dinding kamar. Saat melihat jam sudah semakin siang, ia segera keluar untuk sarapan bersama.


"Eh, Mas Rian." Seorang asisten rumah tangga terkejut melihat Rian keluar dari kamarnya.


"Bawa ke dapur saja. Aku makan di dapur, mba." Rian tersenyum ramah.


"Mas Rian sudah sembuh?" tanya asisten rumah tangga itu.


"Sudah. Terima kasih ya sudah merawatku dengan sangat baik," ucap Rian.


Asisten rumah tangga itu tersenyum senang. Ia adalah salah satu orang yang ikut senang dengan kesembuhan Rian. Bagaimanapun Rian adalah bagian dari keluarga Tuan Wira. Rian juga baik kepada semua asisten rumah tangga yang bekerja di sana.


"Kamu mau kemana?" tanya Mia saat melihat Rian dengan setelan kerjanya.


"Ke kantor," jawab Rian sambil duduk di samping Dion.


"Kamu sudah siap kerja?" tanya Dion.


"Sudah Kak," jawab Rian.


"Ri, kalau belum sembuh benar jangan memaksakan diri. Kamu istirahat saja," ucap Nyonya Helen.


"Iya. Lagi pula di sana ada Manto. Kamu tidak perlu khawatir," timpal Dion.


"Tidak apa-apa Kak. Aku sudah sehat," ucap Rian.


"Apa perlu biar Dion yang stay di kantormu? Karena hari ini Papa akan mulai ke kantor lagi," ucap Tuan Wira.


Saat ini Tuan Wira memang belum mengenakan pakaian kerja. Tapi ia sudah berniat pergi ke kantor. Ia akan ke kantor lebih siang dari yang lain. Menunggu agar staff yang lain sudah masuk ke ruangannya. Alasannya agar tidak terlalu mencuri perhatian. Padahal kehadirannya di kantor tetap saja akan menjadi pusat perhatian.


"Kenapa?" tanya Tuan Wira menatap Dion dengan tatapan tidak suka.


"Kalau Papa ada waktu, nanti bisa mampir ke kantorku ya Pah. Pak Manto pasti senang kalau Papa ke sana," ucap Rian.


Ucapan Rian menyelamatkan pertanyaan Dion yang membuat Tuan Wira tidak suka.


"Memangnya Pak Manto mengenalku?" tanya Tuan Wira.


"Aku sering menceritakan tentang Papa pada Pak Manto," jawab Rian.


"Jangan berlebihan. Papa bisa malu kalau ternyata ekspektasi orang lain tidak sesuai dengan keadaan Papa," ucap Tuan Wira menahan rasa senang.


"Papa memang pantas untuk dibanggakan," ucap Rian.


"Sudah ah ayo makan," ucap Tuan Wira.


Nampaknya pujian Rian berhasil membuat Tuan Wira terbang melayang. Ia tidak mau Rian akan terus membuatnya semakin terbang dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Om, Naura berangkat ya!" ucap Naura setelah selesai makan.


"Ayo biar om antar," ajak Rian.


"Serius om?" tanya Narendra.


"Memangnya wajah tampan om ini terlihat becanda ya?" tanya Rian dengan begitu percaya diri.


"Yeaaaay. Ayo berangkat!" ucap Naura dengan girang.

__ADS_1


Mereka melambaikan tangannya. Berangkat lebih dulu karena Mia dan Dion akan mampir ke rumahnya dulu. Ada beberapa barang yang harus mereka ambil di rumah itu.


"Nanti Papa nyusul," ucap Tuan Wira.


"Siap Pah. Aku tunggu di kantor," ucap Dion sambil mengangkat jempol tangannya.


Setelah Dion dan Mia berangkat, Tuan Wira segera bersiap. Ini adalah hari pertamanya mengenakan kembali pakaian kerja setelah beberapa lama tidak mengenakannya.


"Ma, Papa kurusan ya?" tanya Tuan Wira.


Tuan Wira menatap dirinya dari pantulan cermin. Ia melihat bajunya semakin longgar.


"Bagus dong Pa. Dulu kan Papa mau diet susahnya minta ampun. Ya kalau sekarang jadi semakin kurus alhamdulilah," ucap Nyonya Helen.


"Iya sih. Tapi kok jadi kendor begini ya?" tanya Tuan Wira sambil meraba pipinya.


"Ingat umur Pah," ucap Nyonya Helen.


Mereka memang semakin tua. Meskipun jiwa mereka tetap muda, tapi usia tidak bisa disembunyikan. Garis kerutan sudah nampak semakin jelas di wajah keduanya.


"Ah Mama ini kalau ngomong sama saja seperti Dion. Asal jeplak," ucap Tuan Wira kesal.


Bukan tidak menyadari usianya, tapi ia tidak suka saat istrinya sebegitu jujur membahas usia.


"Kan Papa yang ajarin," ucap Nyonya Helen.


"Enak saja," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen tertawa saat melihat Tuan Wira kesal padanya. Ia membantu suaminya memakaikan jas dan mengantarnya hingga ke depan rumah. Mencium tangan dan melambai dengan senyum merekah saat mobil yang ditumpangi Tuan Wira berlalu meninggalkan rumah itu.


"Akhirnya Papa bisa kembali ke kantor," ucap Nyonya Helen dengan penuh rasa syukur.


Istri mana yang tidak senang saat melihat suaminya sembuh dan kembali semangat untuk bekerja. Bukan masalah uang, namun ia tidak tega melihat keluhan suaminya setiap kali melihat anak dan menantunya pergi ke kantor.


Nyonya Helen kembali ke kamarnya. Ia kembali menata pakaian kerja Tuan Wira yang sudah lama tidak digunakan. Matanya nanar saat mengingat hari bahagia ini. Hari yang sudah lama ia nantikan akhirnya terjadi juga.


Dering ponsel membuat Nyonya Helen mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ia segera meraih ponselnya. Matanya mengernyit saat melihat nomor baru pada layar ponselnya.


Seperti biasa, Nyonya Helen akan mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Namun sudah tiga kali nomor itu terus menghubunginya.


"Siapa sih?" tanya Nyonya Helen.


Dengan ragu ia menjawab panggilan itu.


"Halo Nyonya Helen, apa kabar?" tanya si penelepon.


"Baik. Ini siapa?" Nyonya Helen balik bertanya.


"Masa sudah lupa dengan suaraku. Coba diingat-ingat lagi," jawab si penelepon.


Nyonya Helen kembali mengernyitkan dahinya.


"Siapa ya?" tanya Nyonya Helen.


Sungguh malas saat ia harus mengingat-ingat suara siapa yang sudah menghubunginya.


"Aduh, Nyonya Helen ini keterlaluan. Masa sama suara besan sendiri sudah lupa," jawab si Penelepon.


"Besan?" tanya Nyonya Helen tidak percaya.


Ya, dia adalah besan Nyonya Helen. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Nathalie. Tentu Nyonya Helen sempat tidak percaya. Karena sudah sangat lama sekali ia tidak ada komunikasi dengan besannya. Tapi kenapa tiba-tiba besannya mengabarinya dengan nomor baru.


"Halo, Nyonya Helen. Apa Anda masih ada di sana?" tanya Nyonya Nathalie.

__ADS_1


__ADS_2