
Malam yang terasa sangat panjang sudah berhasil mereka taklukan. Mereka tidur bergantian demi menjaga seorang wanita yang begitu dicintainya dengan tulus.
"Ri," panggil Dion sambil mengguncang pelan tubuh Rian.
"Hmmm," ucap Rian sambil menggeliat.
"Hari ini kamu ke kantor tidak?" tanya Dion.
"Tidak. Aku jaga di sini saja. Mama gimana Kak?" tanya Rian sesaat sebelum menguap.
"Mama baik," jawab Dion sambil menatap Rian yang masih mengucek matanya.
Dion tahu Rian pasti sangat mengantuk karena hanya tidur dua jam saja. Ia senang saat Rian memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dengan alasan ingin menjaga Nyonya Helen. Namun di sisi lain, ada rasa tidak enak saat ia membebankan ibunya pada Rian. Sayangnya tidak ada pilihan lain.
Hari ini perusahaan Dion kedatangan tamu istimewa yang memang sudah dinantikan dari jauh-jauh hari. Kalau seandainya Mia yang menyambut tamu itu, Dion takut emosi Moa belum stabil sepenuhnya.
"Apa aku boleh titip Mama untuk hari ini? Setelah makan siang aku janji akan langsung ke sini lagi," ucap Dion.
"Ya ampun Kak. Bicara apa sih? Kalau Kakak ada urusan jangan khawatirkan Mama. Ada aku di sini," ucap Rian.
Dion mengaku jika ia sebenarnya malu saat harus pergi ke kantor dengan keadaan ibunya seperti sekarang. Namun Rian menjelaskan jika mereka berdua sama-sama anak Nyonya Helen. Sama-sama punya kewajiban yang sama. Hingga menurut Rian, kalau Dion tidak bisa maka tidak ada yang perlh dikhwatirkan selama Rian ada di sana.
"Tapi aku malu. Kenapa aku tidak bisa meninggalkan kantor sedangkan kamu bisa dengan mudah izin untuk tidak masuk kantor," ucap Dion.
"Kakak pasti lupa kalau aku punya Pak Manto dan Kak Dan, eh. Maksudnya aku punya Pak. Manto yang siap mengerjakan semua pekerjaan kantor saat aku tidak di sana," ucap Rian.
"Kenapa ada eh nya segala? Selain Manto ada siapa lagi?" tanya Dion.
"Ah, maaf Kak. Aku tidak bermaksud begitu," ucap Rian merasa sangat bersalah.
"Danu kan maksudnya?" tanya Dion.
"Maaf," ucap Rian penuh sesal.
"Kenapa harus minta maaf? Aku memang harus mengakui kinerja Danu memang bagus. Terlepas dari siapa dia di kehidupan pribadiku, dia memang orang yang bertanggung jawab dan sangat totalitas." Dion menarik napas dalam setelah itu.
Rian diam. Ia tidak merespon sedikitpun ucapan Dion. Padahal hatinya ingin sekali mengiyakan apa yang diucapkan oleh Dion. Danu memang orang yang baik. Ia selalu memisahkan urusan pribadi dan kerja. Bahkan Danu selalu memanggilnya dengan sebutan Pak setiap kali berada di lingkungan kantor.
Dion menilai jika diamnya Rian memang membenarkan apa yang diucapkan olehnya. Ia juga menjelaskan jika hatinya mulai terbuka untuk berdamai dengan keadaan. Ia pun menjelaskan jika rencananya ingin membuatkan pesta itu salah satunya untuk bisa duduk bersama dengan Danu.
"Tapi semua sepertinya tidak bisa dilanjutkan," ucap Dion.
"Tidak masalah Kak. Dengan niat Kakak saja itu sudah menyatakan kebesaran hati Kakak," ucap Rian.
"Aku hanya berusaha agar semua lebih baik dari ini. Bagaimanapun, Sindi juga sahabat baik Mia. Karena sikapku, Sindi jadi menjauh dari Mama. Padahal Mama sayang sama Sindi seperti anaknya sendiri," ucap Dion.
Rian mengangguk. Ia semakin meyakini jika Dion memang benar-benar sudah berubah. Ia ingin membuang embel-embel mantan suami Mia dari nama Danu. Memang sulit, namun kenyataannya ia harus bisa menekan egonya.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya! Nanti kalau Mama bangun, katakan aku tidak akan lama." Dion segera bersiap untuk pulang.
__ADS_1
Dion tidak pamit pada Nyonya Helen, karena masih tidur dengan pulas. Pengaruh obat yang diberikan membuat Nyonya Helen bisa tidur dengan nyenyak. Hal itu membuat Dion bisa sedikit tenang saat meninggalkan ibunya.
Tidak lama, sesuai janji Dion yang akan pulang setelah jam makan siang. Ia benar-benar sudah kembali ke rumah sakit. Pemandangan yang membuatnya iri nampak di depan matanya. Terlihat Rian sedang menyuapi Nyonya Helen sambil sesekali memijat lengannya.
"Di, kok tidak masuk?" tanya Tuan Wira yang baru saja kembali dari luar.
"Eh Papa. Ini baru mau masuk. Aku baru sampai," jawab Dion.
Sapaan Tuan Wira yang tiba-tiba membuat Diom terkejut. Dan kebohongan pun tidak bisa dielakkan. Karena tidak mungkin Dion mengakui kecemburuannya pada Rian.
"Sudah disiapkan?" tanya Tuan Wira.
"Sudah Pah," jawab Rian.
"Apanya yang sudah disiapkan?" tanya Dion sambil menatap mereka bergantian.
"Mama bisa pulang hari ini," jawab Tuan Wira.
"Benarkah?" tanya Dion dengan perasaan sangat senang.
"Iya Kak. Hasil pemeriksaan hari ini menyatakan kalau Mama bisa pulang dan istirahat di rumah," jawab Rian.
"Ah syukurlah," ucap Dion.
Setelah mengurus semuanya, mereka kembali ke rumah. Di sana sudah ada Mia dan kedua anak kembarnya. Kedatangan Nyonya Helen disambut dengan senyum ceria dari Naura dan Narendra.
"Akhirnya Oma pulang. Naura kangen," ucap Naura sambil memeluk Nyonya Helen.
"Oma, maaf ya Rendra tidak ke rumah sakit. Rendra sibuk," ucap Narendra.
Semua mata memandang padanya setelah mengucapkan kalimat itu.
"Rendra," ucap Dion dengan nada penuh penekanan.
"Memangnya cucu oma sibuk apa?" tanya Nyonya Helen.
"Aku sibuk mendoakan oma," jawab Narendra dengan senyum lebar.
"Anak baik. Terima kasih ya!" ucap Nyonya Helen.
Suasana yang sempat tegang pun akhirnya sudah kembali mencair. Nyonya Helen diantar ke kamar untuk beristirahat. Sementara yang lain berkumpul di ruang keluarga. Mia dan Rian masih dingin. Tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Dion sangat menyadari keadaan yang tidak mengenakkan itu hingga mengajak Mia untuk pulang.
"Biar Naura sama Rendra yang menemani Mama malam ini," ucap Dion.
Setelah jam delapan malam, Dion mengajak Mia untuk pulang. Naura dan Narendra juga sudah masuk ke kamar mereka karena belum mengerjakan PR. Rian masuk ke kamar Nyonya Helen untuk memastikan jika ibunya sudah benar-benar istirahat.
"Rian, belum tidur?" tanya Nyonya Helen.
"Aku pikir Mama sudah tidur," jawab Rian.
__ADS_1
"Sini!" panggil Nyonya Helen sambil melambaikan tangannya.
"Ada apa? Ada yang sakit Ma?" tanya Rian.
"Tidak. Papa mana?" tanya Nyonya Helen.
"Papa di ruang kerja. Katanya tidak lama," jawab Rian.
"Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Nyonya Helen.
"Boleh Ma," jawab Rian.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Nyonya Helen.
Darah Rian seakan berhenti mengalir. Wajahnya pucat dan sangat dingin. Ia tidak percaya jika permintaan itu sudah berubah jadi pertanyaan.
"Doakan ya Ma," jawab Rian.
Hanya itu jawaban yang bisa ia berikan. Dengan jawaban itu nampaknya Nyonya Helen peka. Ia memberi saran untuk meminta bantuan Tuan Felix. Selain sama-sama tinggal di Jerman, Tuan Felix juga sudah dianggap orang tua oleh Riri.
"Iya Ma. Nanti aku hubungi Papa ya," ucap Rian.
Setelah keluar dari kamar Nyonya Helen, Rian kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan merenung. Menimbang apakah saran Nyonya Helen bisa dilakukan atau tidak.
Keraguan memang menyelimuti Rian saat ini. Namun akhirnya ia tidak punya pilihan lain selan mengikuti saran Nyonya Helen. Ia memang sudah mengabari Tuan Felix atas sakitnya Nyonya Helen. Namun untuk permintaannya, ia belum berani.
"Ah, lebih baik aku minta bantuan Papa. Bagaimanapun saat ini Riri memang sangat sulit aku hubungi," gumam Rian.
Hanya dalam hitungan detik ia segera menghubungi Tuan Felix. Dari mulai basa basi hingga akhirnya ia benar-benar menceritakan semuanya. Dan Tuan Felix juga sudah berjanji akan membantunya.
Perlu digarisbawahi jika Tuan Felix akan membantunya, bukan berjanji akan menyelesaikan masalahnya. Semua kembali lagi pada Riri. Tapi paling tidak Rian senang karena akhirnya ada usaha sebelum nanti mungkin akan menjadi kabar buruk.
Hubungan Tuan Felix dan Riri yang sudah semakin membaik membuat ia bida menemui Riri dengan mudah di kantornya. Perlahan dan tertata hingga apa yang disampaikan Rian sudah sampai pada Riri.
Bukan main senangnya Tuan Felix saat tahu jika Riri menikah dalam waktu dekat. Namun saat ini ia terbentur dengan waktu dan wali nikahnya nanti.
"Aku masih berusaha memperbaiki keadaan keluargaku," ucap Riri.
"Papa akan membantu semuanya sebisa Papa," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih banyak ya Pah," ucap Riri.
"Papa yang seharusnya berterima kasih padamu," ucap Tuan Felix.
Tuan Felix segera pamit setelah mendapat kabar baik itu. Akhirnya ia segera mengabari Rian apa yang sudah ia bicarakan dengan Riri. Keputusan yang sudah pasti akan sangat membahagiakannya.
"Papa serius?" tanya Rian saat mendengar kabar itu.
Rian sampai menganga karena tidak yakin jika apa yang ia dengar itu adalah jawaban Riri. Ia yang sudah pesimis ternyata mendapat kejutan luar biasa. Meskipun ia tidak tahu ke depannya akan seperti apa, saat ini yang ia inginkan adalah memenuhi permintaan Nyonya Helen.
__ADS_1
Rumah tangga seperti apa yang akan ia jalani nanti, menjadi urusan belakangan. Rasanya Rian juga sudah siap jika harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Riri nanti.