
Sepanjang makan malam, Riri terlihat menyimpan beban yang berat. Nyonya Helen sangat mengerti keadaan menantunya. Namun Rian yang tidak tahu apa-apa nampak tidak peka. Rian menikmati makan malamnya tanpa memperhatikan keadaan Riri.
Bahkan setelah masuk ke kamar, Rian terlihat santai. Ia justru memburu laptopnya saat sudah di kamar. Matanya langsung fokus ke layar laptop, tanpa tahu jika Riri tengah melamun. Memikirkan ucapan Nyonya Helen tentang kedatangan orang tuanya tadi siang.
"Sayang, malam ini libur dulu ya!" ucap Rian sambil sibuk dengan laptopnya.
Hening, Riri tidak menjawab ucapan Rian. Ia masih menatap kosong ke arah tembok. Rian baru menyadari saat dua kali mengulang ucapannya, namun masih tidak ada jawaban.
"Sayang," ucap Rian sambil mengguncang pelan bahu Riri.
Riri mengerjap dan segera menatap Rian. Gelagapan ia bertanya apa yang sudah Rian bicarakan padanya. Namun Rian justru mendesak apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku tidak apa-apa. Mas sibuk ya?" tanya Riri.
"Jangan mengalihkan pertanyaanku, Pus. Jawab. Kamu kenapa?" Rian mendesak Riri.
"Mas, ibu sama Kak Rara tadi ke sini. Katanya mereka memintaku untuk tinggal bersama mereka," ucap Riri sambil menunduk.
Riri hanyalah manusia biasa. Ia juga merindukan kehidupan normal layaknya orang lain. Berkumpul dengan keluarganya meskipun kakaknya berbeda. Kakaknya yang selalu menuhankan uang dan selalu menyudutkannya atas semua yang terjadi.
Di sisi lain, kini Riri sudah menjadi seorang istri. Ia harus tetap berada di samping suaminya. Apalagi ia sudah berjanji untuk menjaga Nyonya Helen yang sering sakit-sakitan.
"Terus kamu mau tinggal di sana?" tanya Rian.
"Menurut Mas gimana?" tanya Riri.
Rian menghela napas panjang. Bukan karena Nyonya Helen, tapi ia tahu kalau keluarga Riri tidak baik. Tidak mungkin rasanya Rian akan membiarkan Riri hidup bersama keluarganya yang jahat itu.
"Aku ingin kamu tetap di sini. Kalau mau, biar mereka yang ikut tinggal di sini. Gimana?" tanya Rian.
Riri hanya terdiam. Mungkin Riri merasa bukan itu yang diinginkan hatinya saat ini. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya diam dan pasrah.
__ADS_1
Melihat Riri begitu tertekan dan sedih, Rian berpura-pura untuk mengambil minum. Padahal ia menelepon Tuan Felix untuk memberi tahu apa yang sudah Rara lakukan tadi siang.
"Anak itu benar-benar keras kepala. Kamu jangan khawatir. Biar Papa yang urus nanti," ucap Tuan Felix.
Awalnya Rian hanya mengadu. Menceritakan apa yang terjadi pada istrinya tadi siang. Namun pada akhirnya Tuan Felix yang bercerita tentang kabar perusahaannya.
"Jadi semua sudah membaik?" tanya Rian senang.
"Sangat baik. Meskipun banyak sekali uang perusahaan yang hilang. Tapi semua sudah diselesaikan," jawab Tuan Felix.
"Lalu kapan Pak Manto pulang?" tanya Rian.
"Kenapa Manto yang kamu tanyakan? Kenapa bukan Papa?" tanya Tuan Felix cemburu.
"Bukan begitu, Pah. Papa sendiri yang bilang kalau semua sudah membaik. Artinya Manto sudah tidak dibutuhkan lagi," ucap Rian.
"Kamu salah, Ri. Karena keadaan perusahaan sedang tidak baik, sepertinya Papa harus membiarkan Manto mengurus perusahaan ini," ucap Tuan Felix.
Awalnya Rian sempat kecewa saat Manto akan memetap di Jerman dan mengurus perusahaan Tuan Felix di sana. Tapi akhirnya Rian senamg karena Tuan Felix yang akan ke Indonesia.
Keberadaan Manto di sana membuatnya tenang. Ia yakin perusahaan itu akan sangat maju dan berkembang di tangan Manto. Pria bertanggung jawab dan pekerja keras.
"Mas," panggil Riri.
Rian yang meminta izin untuk mengambil minum membuat Riri menyusulnya. Asyik mengobrol dengan Tuan Felix membuatnya lupa kalau ia hanya akan mengadu tentang kelakuan kakak iparnya itu.
"Hey, sebentar." Rian mengangguk.
Rian segera mengakhiri panggilan dengan Tuan Felix saat Riri memanggilnya. Ia segera merangkul Riri untuk kembali ke kamarnya.
"Mas katanya mau minum. Kenapa lama? Ada telepon dari siapa?" tanya Riri.
__ADS_1
"Tadi Papa menelepon," jawab Rian.
Rian pun menceritakan tentang rencana Tuan Felix yang akan menetap di Indonesia. Riri terlihat senang meskipun Rian masih melihat ada raut kegelisahan dalam hatinya.
"Sayang, urusan Mama dan Kakakmu nanti kita urus ya!" ucap Rian.
"Terima kasih ya Mas," ucap Riri.
Meskipun Riri sendiri tidak tahu apa langkah yang akan diambil Rian dengan kata di urus. Apa yang akan Rian lakukan sebenarnya pada keluarganya? Entahlah, Riri merasa kepalanya sangat berat untuk memikirkan ini dan itu dalam hidupnya.
Rian yang sibuk dan keadaan Riri yang sedang tidak baik membuat malam ini absen itu kosong. Tidak ada agenda untuk mengisi absen konyol yang sudah dibuat oleh Riri.
"Selamat tidur sayang," ucap Rian sambil mengecup dahi Riri.
Seperti biasa, Rian akan menemani Riri hingga tidur nyenyak. Namun kali ini, Rian turun dari ranjang meninggalkan Riri. Ia harus kembali berkutat dengan laptopnya. Ada pekerjaan yang menuntutnya untuk menyelesaikan pekerjaannya malam ini.
Sesekali Rian menyempatkan menatap Riri yang tengah terlelap. Ia tersenyum saat melihat ranjangnya berisi wanita cantik yang sejak lama diidamkannya.
"Aku tidak menyangka jika kamu akan menjadi istriku. Menempati ranjang yang sama denganku. Bergelut hingga berkeringat bersama. Aku sudah tidak sabar menunggu buah cinta tumbuh di rahimmu," gumam Rian.
Rian melanjutkan pekerjaannya dan segera tidur di samping Riri saat semua sudah selesai. Tidak sedetikpun Rian melepaskan pelukannya saat tidur. Ia ingin Riri selalu ada di sampingnya setiap waktu.
Pagi hari semua melakukan aktivitas seperti biasa. Rian dan Tuan Wira pergi ke kantor sedangkan Riri menemani Nyonya Helen. Di waktu yang bersamaan, Tuan Wira mengirimkan orang suruhannya hingga ia berhasil membuat Rara berjanji agar tidak mengganggu Riri lagi.
Sebagai hukuman atas sikap Rara yang berani mengganggu Riri, maka Tuan Felix meminta ayah dan ibu Riri untuk menginap di rumah Nyonya Helen selama dua malam. Tentu saja semua atas persetujuan Nyonya Helen sebelumnya.
"Semua beres," ucap Tuan Felix melalui sambungan telepon pada Rian.
"Terima kasih banyak Pah," ucap Rian.
Rian tersenyum saat mendengar kabar menyenangkan dari Rian. Ia sudah tidak sabar menunggu Riri tersenyum bahagia saat kedua orang tuanya datang. Dan hanya menunggu dua jam saja, orang rumah sudah mengirim foto istrinya dengan senyum lebar.
__ADS_1
Raut wajah Riri sangat berbeda. Berbanding terbalik dengan keadaannya malam tadi. Rian benar-benar ikut bahagia saat tahu jika istrinya juga sedang menikmati hari yang membahagiakan itu.
"Sayang, nikmatilah kebahagiaanmu. Sudah waktunya kamu bahagia. Jangan pernah bersedih. Aku ingin kamu selalu seperti ini," gumam Rian sambil memandangi foto yang masuk ke ponselnya.