Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Bisnis Sindi


__ADS_3

Sudah waktunya Rian dan Tuan Felix berangkat ke bandara. Tiket sudah dipesan dan Rian tidak mungkin sampai mengganti tiketnya. Bukan soal uang, tapi soal janji pada Manto. Ada berkas yang harus segera ia tandatangani secepatnya.


"Mas, aku tidak antar sampai bandara. Pagi ini Mr. Aric akan pulang dan aku harus sudah ada di rumah sebelum Mr. Aric datang. Hati-hati ya!" ucap Riri.


"Tidak apa-apa. Aku antar kamu pulang ya!" ucap Rian.


"Tidak usah Mas. Papa sudah menyiapkan sopir untuk mengantarku pulang. Mas dan Papa harus sampai tepat waktu," ucap Riri.


Lagi-lagi Tuan Felix yang sudah mengatur semuanya. Rian tidak tahu apa jadinya ia tanpa Tuan Felix. Pria terbaik yang ia temui selama hidupnya.


"Terima kasih ya Pus. Aku berangkat," ucap Rian.


Riri mengecup punggung tangan Rian dan Tian Felix bergantian dan melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju. Riri pulang ke rumah Mr. Aric, sementara Rian dan Tuan Felix berangkat ke bandara.


Bagi Rian, perjalanan Jerman-Indonesia terasa lebih melelahkan dibanding perjalanan biasanya. Mungkin karena sebelumnya ia sudah lelah dengan pekerjaannya. Belum lagi pikirannya yang sudah terfokus pada pekerjaan yang akan dihadapinya.


Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, Rian segera pergi ke kantor. Sementara Tuan Felix masih tidur. Mereka menginap di hotel, karena ingin memberi kejutan pada Mia dan kedua cucu kembarnya.


"Nanto Papa ke kantor siangan ya! Hari ini Papa lelah," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah, istirahat saja." Rian pamit untuk berangkat ke kantor.


Rian segera mempelahari laporan yang diberikan Manto dan menandatanginya. Berkas itu harus masuk pagi ini. Dan semua berjalan lancar. Tinggal menunggu satu minggu lagi. Proyek besar akan segera menjadi milik perusahaan Rian.


"Terima kasih banyak Pak," ucap Rian.


"Semua berkat Pak Danu juga. Beliau sangat membantu pekerjaan yang dikejar deadline ini. Bapak tidak salah memilih pegawai," ucap Manto.


Danu yang tidak sengaja mendengar pujian Manto untuknya benar-benar merasa tersanjung. Ia yakin kalau Manto benar-benar jujur dan tulus. Padahal kalau saja Manto tidak menyebutkan keterlibatan Danu, Rian tidak akan tahu sama sekali. Tapi Manto dengan sangat terbuka membeberkan bagaimana keterlibatan Danu dalam pekerjaan itu.


"Kalian memang yang terbaik," ucap Rian.


Setelah urusannya dengan berkas itu selesai, Rian menyempatkan menemui Danu di ruangannya. Danu yang sudah kembali ke ruangannya segera menyambut kedatangan Rian.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Danu.


"Ah tidak. Sudahlah Kak, tidak usah seformal itu denganku," ucap Rian.


Danu yang banyak belajar dari Manto ternyata mengikuti apa yang dilakukan Manto. Membedakan urusan pribadinya dengan Rian. Bagaimanapun, di kantor Rian adalah atasannya. Sudah seharusnya Danu menghormati Rian agar menjadin contoh untuk yang lainnya.


Setelah Rian mengucapkan terima kasih dan rasa bahagianya atas mega proyek untuk perusahaannya, ia pamit untuk kembali ke ruangannya. Namun sebelum pergi, Danu memberikan sebuah kotak bekal untuk Rian.


"Dari Kak Sindi?" tanya Rian dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"Iya, katanya ini menu baru. Istri saya minta review rasanya Pak," jawab Danu.


"Menu baru?" tanya Rian.


"Sudah sejak sebulan lalu Sindi membuka usaha rumah makan sederhana Pak. Ya kecil-kecilan saja," ucap Danu.


"Astaga, aku sampai tidak tahu. Pantas saja Kak Sindi selalu mengirimiku makanan. Aku pasti review makanan ini secepatnya. Walaupun aku yakin kalau menu baru ini sangat enak," ucap Rian.


Setelah kembali ke ruangannya, Rian membuka kotak bekal itu. Senyumnya mengembang, ia senang melihat menu yang ada di hadapannya. Seharusnya makanan ini ia makan saat makan siang. Namun karena tadi pagi belum sempat sarapan, ia memakannya lebih pagi.


Sebuah video pendek ia kirimkan pada Sindi. Ucapan terima kasih atas menu baru yang sangat enak itu hanya berdurasi satu menit. Walaupun hanya sebentar, tapi itu membuat Sindi sangat senang.


Saat Rian sedang makan, Tuan Felix masuk ke ruangannya. Ia terlihat mengerutkan dahinya saat melihat Rian makan dengan laptop yang menyala di depannya.


"Aku baru selesai review masakan ini Pah," ucap Rian sambil menunjuk kotak bekal itu.


Tuan Felix tidak bertanya apapun pada Rian. Namun melihat wajah penuh tanya, Rian sudah bisa menebak apa yang ada di kepala ayahnya itu.


"Sejak kapan kamu jadi food vloger?" tanya Tuan Felix.


"Ti-tidak Pah," jawab Rian.


Sementara Manto segera berdiri memberi salam hormat pada Tuan Felix.


"Pak Rian baru kali ini makan di jam ini. Biasanya beliau selalu makan siang tepat waktu Tuan," ucap Manto.


"Apa kamu hanya makan sendiri?" tanya Tuan Felix pada Rian.


"Saya sudah ditawari, Tuan. Tapi saya sudah sarapan," ucap Manto.


Tuan Felix semakin yakin dengan pengabdian Manto pada Rian. Bahkan saat pertanyaannya belum terjawab oleh Rian karena gugup, Manto segera membelanya. Dan itu nilai plus untuk Manto.


"Lain kali kalau kamu makan, beli dua. Bahkan kamu tidak ingat sama sekali untuk Papa," ucap Tuan Felix sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku tidak beli, Pah. Ini pemberian Kak Sindi. Dia minta aku review menu barunya untuk bisnis rumah makannya," jawab Rian.


"Sindi buka bisnis rumah makan?" tanya Tuan Felix.


"Iya Pah. Aku juga baru tahu tadi saat ke ruangan Kak Danu," jawab Rian.


"Lalu dia hanya mengirimmu satu saja? Dia tidak memberi menu itu untuk Papa?" tanya Tuan Felix.


"Kak Sindi kan tidak tahu kalau Papa ikut ke sini," jawab Rian.

__ADS_1


"Kalau begitu, pulang dari sini kita harus ke rumah rumah makan Sindi. Papa mau mencoba semua menu yang ada di sana," ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," jawab Rian senang.


"Kamu juga ikut nanti ya!" ucap Tuan Felix sambil menunjuk Manto.


"Terima kasih Tuan, tapi saya langsung pulang saja." Manto menunduk hormat setelah menolak ajakan Tuan Felix.


"Sudahlah, jangan menolak. Kamu telepon istrimu katakan aku mengajakmu makan dulu di luar. Nanti kamu bawa menu yang sama untuk istri dan anakmu ya!" ucap Tuan Felix.


Manto mengangguk. Rupanya Tuan Felix tahu alasan penolakan Manto. Jarang sekali Manto makan di luar selama ia bisa pulang tepat waktu. Alasannya seperti yang ditebak Tuan Felix. Ia tidak mau kalau istri dan anaknya makan dengan menu yang berbeda dengannya. Ia ingin selalu merasakan apa yang mereka rasakan juga.


Rian yang tidak terlalu mengerti hanya tersenyum senang dengan anggukan kepala Manto. Kemudian ia mengantar Tuan Felix yang ingin bertemu dengan Danu. Lalu setelah perbincangan dan rencana ke rumah makan Sindi disampaikan, Rian membawa Tuan Felix berkeliling di kantornya.


Mata Tuan Felix menyapu seluruh sudut yang ia lewati. Mengamati setiap karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hal yang tidak terduga pun terjadi saat Tuan Felix ingin memeriksa kantin dan WC yang ada di perusahaan itu.


"Pah, bukankah lebih baik Papa langsung memeriksa berkas dan grafik kemajuan perusahaan?" tanya Rian.


"Yang bertanggung jawab untuk semua itu hanya kamu, Manto dan Danu. Papa bisa memberikan arahan kapanpun. Tapi kalau urusan kebersihan, Papa tidak punya banyak waktu. Ayo cepat!" ucap Tuan Felix.


"Baik Pah," ucap Rian.


Rian mengantar Tuan Felix mengunjungi WC karyawan dan kantin. Ia senang dengan apa yang ia lihat. Semua sudah berjalan sesuai dengan keinginannya.


Bagi Tuan Felix, meskipun WC karyawan, tapi kebersihan harus tetap diutamakan. Apalagi urusan kantin. Ia tidak mau kantin di perusahaannya terlihat asal-asalan dan tidak bersih. Yang harus diutamakan adalah kesehatan dan kenyamanan karyawan yang jajan di tempat itu.


"Semua sudah bagus. Kembali ke ruanganmu," ucap Tuan Felix.


Rian mengangguk dan kembali ke ruangannya. Manto segera berdiri dan menyambut Tuan Felix penuh hormat. Tuan Felix nampak memberikan kode dengan telapak tangannya agar Manto duduk kembali.


"Ri, bisa tolong panggilkan Danu ke sini? Papa ingin melihat laporan yang ditangani kalian bertiga," ucap Tuan Felix.


"Baik Pah," ucap Rian.


Rian menekan telepon yang ada di atas mejanya. Setelah terhubung dengan Danu, Rian menyampaikan maksudnya. Tidak lama Danu datang ke ruangan itu dengan laporan yang diminta oleh Tuan Felix.


"Permisi, Tuan." Danu menunduk hormat sebelum duduk saat masuk ke ruangan Danu.


Tanpa basa basi, Tuan Felix segera memulai pemeriksaan itu. Tidak ada yang terlihat tegang kecuali Rian. Ia tidak terbiasa melihat Tuan Felix bersikap seserius itu. Sementara Manto dan Danu nampak tenang karena semua berkas real dan tidak ada penyelewengan dana perusahaan.


Cara kerja mereka yang jujur dan sangat bertanggung jawab yang membuat kedua orang itu nampak tenang. Rian hanya mengamati ketiganya yang sedang berdiskusi. Rian merasa minder. Padahal saat itu ia adalah lulusan terbaik di kampusnya. Tapi saat sudah masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya, ia kalah dengan orang-orang yang memang jam terbangnya sudah tidak perlu diragukan lagi.


Perusahaan itu memang sepenuhnya milik Rian. Namun sampai saat ini, Tuan Felix masih mengawasinya. Bukan tidak percaya, justru karena ia ingin membangun mental dan jiwa kepemimpinan Rian. Sekalipun Rian akrab dengan Manto dan Danu, tapi untuk urusan kerja tidak ada negosiasi.

__ADS_1


"Kamu paham, Rian?" tanya Tuan Felix setelah menjelaskan panjang lebar tentang rencana pengembangan perusahaannya nanti.


"Iya Pah," jawab Rian.


__ADS_2