
"Rian sepertinya kita harus pulang," ucap Tuan Felix.
"Tapi kita belum makan Pah," jawab Rian.
"Nanti kita makan di rumah ya!" ucap Tuan Felix.
"Ada apa Pah?" tanya Rian.
"Tidak ada. Papa hanya ingin pulang saja," jawab Tuan Felix.
Rian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut cafe. Ia mencari alasan ayahnya ingin segera pulang. Namun Rian yang tidak tahu apa-apa hanya bingung karena tidak ada yang mencurigakan di sekitar cafe.
"Ayo!" ajak Tuan Felix sambil menarik tangan Rian.
Langkah Tuajn Felix yang tergesa-gesa membuat Rian yakin kalau memang ada sesuatu dengan Tuan Felix. Tapi ini bukan saatnya untuk berdebat. Rian hanya mengikuti apa yang Tuan Felix inginkan tanpa banyak bertanya.
Selama perjalanana keduanya saling bungkam. Suasana di dalam mobil pun begitu hening. Sesekali Rian melihat ke arah ayahnya. Tatapan Tuan Felix hanya ke arah kiri. Ia mengamati jalanan tanpa mempedulikan keberadaan Rian.
"Papa ke kamar dulu ya!" ucap Tuan Felix saat mereka sampai di rumah.
"Pah, tunggun. Aku mau bicara," ucap Rian mencegah langkah Tuan Felix.
"Ada apa?" tanya Tuan Felix.
"Aku tahu kalau aku tidak bisa membantu Papa dalam hal ini. Tapi paling tidak, aku mau Papa berbagi denganku. Aku bukan anak kecil lagi Pah. Cerita padaku," ucap Rian.
"Papa baik-baik saja. Tidak ada apa-apa Rian. Kamu tenang saja ya!" ucap Tuan Felix.
"Pah, berhenti membohongiku. Aku tahu Papa sedang menyimpan masalah. Setiap kali kebahagiaan Papa, aku selalu tahu dan ikut merasakannya. Tapi kenapa saat seperti ini Papa memilih sendiri?" desak Rian.
"Rian, tolong jangan berpikir macam-macam. Papa baik-baik saja," ucap Tuan Felix.
"Tidak ada yang baik-baik saja Pah. Cerita padaku jika Papa memang menganggapku sebagai anak," ucap Rian.
Tuan Felix menatap Rian. Ya, sepertinya ia memang butuh teman untuk bercerita. Dan Rian bisa menjadi salah satu teman yang bisa mendengarkan semua kegelisahannya. Tapi apakah itu tidak akan membebaninya? Tidakkah semua itu justru akan membuat kuliahnya terganggu?
Ah tidak! Tuan Felix kembali mengelak. Namun Rian yang terus mendesaknya akhirnya membuat Tuan Felix kalah. Ia mulai becerita pada Rian tentang semua kegelisahannya.
"Jadi dia menyimpan mata-mata di perusahaan Papa?" tanya Rian.
Tuan Felix menggeleng dan menarik napas panjang.
__ADS_1
"Jahat sekali," ucap Rian.
"Dia memang licik," ucap Tuan Felix penuh kebencian.
"Apa yang bisa aku lakukan Pah?" tanya Rian.
"Kamu cukup menjadi pendengar yang baik saja. Dan siapkan dirimu. Papa takut kalau Papa tidak bisa membantumu mendirikan perusahaan baru di Indonesia," ucap Tuan Felix.
"Jangan pikirkan aku Pah. Kita harus menyelesaikan masalah ini dulu," ucap Rian.
"Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan Papa. Lebih baik kamu fokus kuliah saja. Papa tidak mau jika kuliahmu terganggu hanya karena masalah Papa," ucap Tuan Felix.
"Papa tenang saja. Aku tidak akan terganggu sama sekali," ucap Rian.
"Baguslah. Sekarang kamu istirhat ya! Papa juga mau istirahat," ucap Tuan Felix.
"Papa lupa kalau Papa belum makan. Makanlah dulu. Jaga kesehatan Pah," ucap Rian mengingatkan.
"Nanti saja. Papa belum lapar," ucap Tuan Felix.
"Pah, kesehatan itu penting. Sehebat apapun Papa menghadapi lawan, kalau Papa sakit tidak bisa apa-apa. Pikirkan juga kesehatan Papa," ucap Rian.
"Ri, terima kasih ya karena kamu sudah mendengarkan cerita Papa. Maaf karena Papa membuatmu ikut khawatir," ucap Tuan Felix setelah selesai makan.
"Pah, tidak perlu berterima kasih begitu. Ini sudah menjadi hal yang wajar," ucap Rian.
Tuan Felix tersenyum. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Meninggalkan Rian yang kekanak-kanakkan. Kini anak yang ia asuh sudah benar-benar dewasa. Rian sudah bisa menjadi partner untuk berbagi.
Rian mengantarkan Tuan Felix ke kamarnya. Memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja. Melihat wajah tua itu memikirkan banyak ketakutan, Rian menjadi merasa bersalah. Ia tidak bisa apa-apa.
Setelah memastikan Tuan Felix baik-baik saja, Rian segera kembali ke kamarnya. Menatap dirinya di depan cermin.
Tubuhku semakin besar dan tinggi.
Rian menatap tumpukan buku dan layar komputer di sampingnya.
Aku juga berhasil masuk ke kampus terbaik di sini. Semua karena Papa. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk Papa? Apa aku hanya bisa memitivasi Papa saja? Aku rasa itu tidak cukup. Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah Papa lakukan untukku.
Rian memang masuk ke kampus itu dengan beasiswa. Karena kemampuan akademiknya yang luar biasa hingga ia bisa kuliah tanpa biaya sedikitpun. Namun semua tentu berkat dukungan Tuan Felix. Ia tidak pernah sekalipun melupakan kebaikan Tuan Felix.
"Aku harus tetap tenang dan berpikir langkah apa yang bisa aku ambil untuk membantu Papa," gumam Rian.
__ADS_1
Rian mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memikirkan Mia. Sempat terlintas untuk berbagi cerita dan meminta saran pada Mia. Namun ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin Mia ikut terbebani dengan masalah ini.
Aku tidak menyangka jika mantan suami Papa masih terus mengincar perusahaan itu. Dasar wanita tidak tahu diri. Dia yang meninggalkan Papa demi pria lain. Kenapa dia meminta perusahaan menjadi harta bagian? Bukankah Papa sudah memberikan rumah dan sebagian uang saat pembagian harta?
Rian tidak bisa tidur. Kepalanya memikirkan wanita jahat yang ingin menghancurkan kehidupan Tuan Felix. Ia tidak habis pikir jika ada wanita sejahat itu. Berpikir tentang wanita jahat, Rian kembali teringat Maudi. Bagaimna Maudi ingin menghancurkan kehidupannya.
Rian bergidik saat mengingat semua kejahatan Maudi. Ia beruntung saat bisa melupakan Maudi. Namun sayangnya, ia terjebak dengan perasaannya pada Riri.
"Mpus apa kabar ya?" gumam Rian.
Rian tersenyum saat mengingat kepolosan Riri yang apa adanya. Ia selalu bersikap tenang dan tidak pernah menunjukkan beban hidupnya di hadapan siapapun.
"Beruntung sekali siapapun yang bisa mendapatkan kamu, Pus." Rian kembali bergumam.
Tiba-tiba saja bayangan Rey menghiasi kepalanya. Ia berusaha menghilangkan semua pikiran buruknya tentang Rey. Tapi dalam pikirannya, Rey adalah pria beruntung itu. Dan Rian tidak bisa menerima semua kenyataan itu.
"Pergi Rey! Jangan mengganggu malamku begini," ucap Rian kesal sambil melempar guling yang sedang ia peluk.
Rian berusaha mengontrol emosinya hingga ia benar-benar tidur. Mempersiapkan hari besok dengan rangkaian rencana yang sudah ia susun. Tidur lebih larut membuat Rian bangun lebih siang dari biasanya. Bahkan Rian sudah tidak menemukan Tuan Felix pagi itu.
"Papa sudah berangkat?" tanyanya pada diri sendiri.
Jam dinding besar itu masih menunjukkan angka tujuh. Tapi Tuan Felix sudah tidak ada di rumah. Rian segera mengecek mobil Tuan Felix dan tidak ada. Ia segera mandi dan bersiap.
Hari ini Rian masuk jadwal siang. Biasanya pagi-pagi Rian menghabiskan waktunya untuk bermain game atau mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai. Tapi kali ini Rian memilih untuk ke kantor. Ia akan mempelajari berbagai data yang ia bisa.
Sampai di kantor, Rian dikejutkan dengan keributan yang terjadi di kantor. Ternyata Tuan Felix sedang marah besar karena data keuangan anjlok hingga lima puluh persen.
"Pah, tenang Pah." Rian segera memberi segelas air minum pada Tuan Felix.
Beruntung Rian datang tepat waktu. Semua karyawan dibubarkan dan kembali ke pekerjaannya masing-masing. Rian juga meminta maaf atas sikap Tuan Felix yang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Ri, kenapa kamu ke sini? Kamu bolos kuliah?" tanya Tuan Felix setelah lebih tenang.
"Aku masuk siang. Jangan kahwatir Pah. Aku tidak akan mengganggu waktu kuliahku. Papa kenapa?" Rian balik bertanya.
"Keuangan anjlok. Dalam dua hari keuangan anjlok lima puluh persen. Papa harus bagaimana?" ucap Tuan Felix gelisah.
"Pah, aku tahu Papa gelisah dan marah. Tapi mereka tidak bersalah," ucap Rian mengingatkan.
"Ya, Papa salah. Papa tidak bisa mengontrol emosi saat melihat data keuangan hari ini," ucap Tuan Felix menyesal.
__ADS_1