
"Selamat pagi Pak," sapa Manto saat menyadari kedatangan Rian.
"Pagi," jawab Rian dengan wajah bingung.
"Selamat datang kembali di kantor Pak," ucap Reza.
"Iya, terima kasih. Tapi maaf kenapa kalian semua di sini?" tanya Rian sambil menatap mereka bertiga bergantian.
"Meja kami sengaja di pindah Tuan. Mulai saat ini sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan, kami memang di ruangan ini." Manto menjelaskan alasannya pindah ruangan.
"Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kami memang akan tetap satu ruangan seperti ini. Ruangannya juga besar dan cukup untuk kita bertiga," tambah Reza.
"Iya tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba Pak Manto pun ikut pindah? Ada masalah dengan saya?" tanya Rian.
"Tidak, Tuan. Sama sekali tidak ada masalah apapun," jawab Manto panik.
"Lalu kenapa?" tanya Rian.
"Ini permintaan Tuan Felix. Ini juga sebenarnya hanya sementara. Karena rencananya beberapa minggu ke depan Papa akan membuat ruangan baru," ucap Danu.
"Papa?" tanya Rian.
"Iya, Tuan Felix." Danu mengangguk sopan.
"Kenapa Papa meminta Pak Manto pindah ke sini?" tanya Rian.
"Biar kami lebih mudah untuk menyesuaikan data kantor saja Pak," jawab Danu.
Alasan yang membuat Rian mengerutkan dahinya. Menurutnya jawaban Danu tidak bisa dijadikan alasan yang kuat.
"Tapi kan saya jadi sendiri. Biasanya enak ada Pak Manto yang menemani saya. Sekarang jadi sepi," ucap Rian.
"Tapi kan sekarang sudah ada istri. Pak Rian tidak akan kesepian," jawab Reza.
"Ya istri saya kan di rumah. Masa ke kantor saya bawa-bawa istri," ucap Rian.
"Oh, jadi istrinya tidak dibawa Pak?" tanya Danu.
"Tidak. Kenapa saya harus membawa istri saya ke sini? Dia kan tidak punya kepentingan di sini," jawab Rian.
"Oh," ucap Reza dan Manto hampir bersamaan.
__ADS_1
Ketiganya saling berpandangan. Dari gestur tubuh ketiganya, jelas terlihat ada kejanggalan. Tapi apa? Mereka tidak mungkin menjawab pertanyaannya. Ia segera pamit untuk kembali ke ruangannya. Ia harus menanyakan langsung alasan Tuan Felix atas kejadian ini.
"Halo Pah," ucap Rian saat panggilan dengan Tuan Felix sudah terhubung.
"Nanti Papa telepon lagi," ucap Tuan Felix.
Tanpa persetujuan Rian, Tuan Felix segera mengakhiri panggilannya. Rian sampai mengerutkan dahinya atas sikap ayahnya yang tidak biasa. Namun ia melupakan rencana Tuan Felix tadi pagi.
"Astaga, Papa kan sedang di rumah Mpus." Rian menepuk dahinya saat menyadari semua rencana itu.
Rian mengabaikan rasa penasarannya sementara waktu. Saat ini Rian memilih untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa meskipun dipenuhi banyak pertanyaan di kepalanya. Bahkan saat ini Rian bukan hanya memikirkan alasan Tuan Felix memindahkan Manto ke ruangan Danu. Pertanyaan lain juga muncul. Bagaimana hasil dari pertemuan Tuan Felix dengan keluarga Riri.
Rian sangat tidak fokus. Berkali-kali ia melihat ponselnya. Bukan hanya melihat pesan atau panggilan, tapi ia juga melihat jam. Waktu terasa begitu lama. saat ia tidak sedang bersama dengan Riri.
"Permisi," ucap Danu dari balik pintu.
"Masuk Kak," ucap Rian.
Sebelum melihat Danu, Rian sudah yakin betul jika suara itu memang suara Danu. Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Rian.
"Maaf Pak, kalau boleh tahu apa istri Bapak akan membawakan makan siang ke sini?" tanya Danu.
"Kalau begitu ini makan siang untuk Bapak," ucap Danu sambil menyerahkan sebuah kantong.
"Terima kasih Kak. Ini pasti masakan Kak Sindi ya?" tanya Rian.
"Iya Pak. Seperti biasa. Tapi kata Sindi kalau Bapak dibawakan bekal olegh istrinya, bekalnya harus di bawa pulang lagi." Danu tersenyum.
"Ya ampun Kak Sindi. Pelit banget sih. Memangnya kalau aku dibawakan makanan sama Riri aku jadi tidak bisa punya jatah lagi ya?" tanya Rian.
"Katanya sih begitu," jawab Danu.
"Ya ampun pelit banget. Katakan sama Kak Sindi, jangan pelit-pelit. Orang pelit kuburannya sempit," ucap Rian sambil tertawa.
Setelah Dany memastikan jika makan siang Rian sudah benar-benar diterima, Danu pamit untuk kembali ke ruangannya. Kantong dari Sindi ia simpan di atas meja. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya sebentar lagi.
Setelah selesai, Rian memandangi kantong itu. Kantong itu memang berbeda dari biasanya. Namun ia yakin jika rasanya tidak mungkin berubah. Kualitas masakan Sindi memang tidak bisa diragukan lagi.
Rian menghubungi Riri untuk sekedar mengucapkan selamat siang. Ah tidak, kali ini Rian sudah menjadi suami Riri. Ia harus lebih perhatian. Rian menanyakan keseharian Riri. Tentu ia jiga tidak lupa untuk mencari tahu keadaan Nyonya Helen.
Senyum ceria mengembang di wajah Rian karena melihat Riri sedang makan siang bersama. Dengan penuh kebanggan, Rian juga menunjukkan menu makan siang yang dikirimkan Sindi untuknya.
__ADS_1
Hari pertama bekerja dengan status sebagai seorang suami, Rian makan siang bersama dengan istri dan ibunya walaupun secara virtual. Namun semua itu sama sekali tidak mengurangi keharmonisan keluarganya.
Baru saja Rian selesai makan siang, Tuan Felix masuk ke ruanganya. Rian sampai tersedak saat Tuan Felix datang dengan tiba-tiba. Masih dengan napas terengah-engah, Tuan Felix mengabaikan Rian yang tersedak. Ia menceritakan kejadian saat ia sedang berada di rumah Riri.
Menurut cerita Tuan Felix, Rara sampai menangis saat ia datang ke rumahnya. Sebuah cek kosong ia berikan pada kakak kandung Riri sebagai ucapan selamat tinggal pada adiknya.
"Apa maksudmu? Tidak ada yang namanya bekas Kakak," ucap Rara.
"Tapi aku tidak yakin kamu kakak kandung menantuku," ucap Tuan Felix.
"Kamu hanya mertuanya, sedangkan aku adalah kakak kandungnya. Selama belasan tahun kami hidup bersama. Sudah berapa tahun kamu mengenal adikku?" tanya Rara sinis.
"Adik? Sejak kapan kamu menganggapnya adik? Bahkan kau merebut kekasihnya. Kamu juga tidak mempedulikan Riri saat ia pergi dari rumah. Dan saag ia kembali? Kamu menuntutnya banyak hal karena tahu kalau dia adalah orang kaya?" tuduh Tuan Felix.
Dada Rara terlihat kembang kempis menahan amarahnya. Ia tersulut emosi saat membahas tentang mantan Riri yang direbut olehnya. Seandainya bisa, Rara memilih untuk tidak menikah dengan pria itu. Pria yang hanya manis di awal namun kini berselingkuh dengan begitu keji.
Mungkin hal itu juga yang menjadi alasan Rara membenci Riri. Namun sebenarnya Rara tidak berhak marah pada adiknya. Karena mungkin pria itu tidak akan berubah saat menikah dengan Riri. Wajar jika pria itu berubah. Karena Rara hanya menikahinya karena uang.
"Tutup mulutmu Pak! Kamu tidak berhak menuduhku seperti itu. Kamu tidak tahu apa-apa dan jangan pernah ikut campur dengan urusan keluargaku," ucap Rara dengan nada tinggi.
Ibu dan ayahnya segera menarik Rara agar ia tidak dikuasai emosi. Namun Rara masih tetap setia dengan amarahnya. Beberapa gelas sudah menjadi korbannya. Pecahan beling itu sudah berserakan di lantai. Namun tidak sedikitpun Tuan Felix bergeming. Ia masih duduk santai saat menyikapi Rara yang tengah berapi-api.
"Oh, kamu lupa. Sekarang Riri adalah menantuku. Istri dari pria yang sangat mencintainya, Rian. Pemilik perusahaan besar di sini. Dia adalah anakku. Itu artinya, Riri adalah keluargaku sekarang. Jadi jangan coba-coba mengganggunya," ucap Tuan Felix mengingatkan.
"Jangan berlebihan. Apapun yang terjadi, Riri tetap bagian dari keluarga ini." Rara menatap tajam Tuan Felix.
"Kalau kamu menganggap Riri adalah bagian dari keluarga ini, jangan pernah sekalipun mengganggunya. Tulis di sini berapa uang yang kamu butuhkan. Aku tidak peduli berapapun angkanya. Karena saat ini, kebahagiaan kamu bukan hanya soal uang. Tidak sepertimu yang kesepian dan kurang kasih sayang dari keluarga mertuamu. Bahkan tidak sama sekali," ucap Tuan Felix panjang lebar.
Rara tidak bisa menahan emosi. Hampir saja Tanganny menampar Tuan Felix. Namun tangan Tuan Felix segera menangkapnya. Ia kembali mengingatkan jika Riri adalah menantunya.Tuan Felix juga mengatakan jika akan membawa Riri pergi jauh dan tidak akan kembali kalau seandainya Rara terus bersikap seperti itu.
Keyakinannya atas keputusannya ternyata tidak di dukung oleh ayah dan ibunya. Terutama ibunya yang menangis tersedu saat tahu jika mereka mungkin tidak akan bertemu lagi untuk selamanya.
"Jangan Pak. Jangan begitu. Aku tidak butuh uang ini. Tapi tolong jangan bawa Riri pergi lagi. Biarkan dia pulang. Aku merindukannya," ucap ibunya sambil menangis bersujud di kaki Tuan Felix.
Tuan Felix segera mengangkat wanita itu dan membantunya agar berdiri tegak. Dengan sangat tegas, Tuan Felix tidak akan membawa Riri ke rumah itu. Kalau mau, mereka bisa bertemu dengan Riri di rumah Nyonya Helen. Akhirnya mereka memilih untuk menemui Riri dan mengabaikan cek itu.
Dengan senyum sinis, Tuan Felix segera mengambil kembali cek kosong itu dan menyimpannya. Nampak Rara yang kecewa karena ibunya sudah tidak bisa dipengaruhi lagi.
"Jadi sekarang ibunya Mpus dimana?" tanya Rian.
"Mereka di rumah. Masalah sudah selesai. Jangan khawatir," ucap Tuan Felix.
__ADS_1