
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Apa yang mereka takutkan ternyata akan mereka jalani hari ini. Keduanya bersiap sejak pagi. Dua buah koper besar berwarna hitam itu sudah mereka siapkan sejak beberapa hari lalu.
"Ri," panggil Tuan Felix sambil mengetuk pintu kamar Rian.
"Iya Pah," jawab Rian.
Pintu kamarnya terbuka dan Rian memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Menyembunyikan perasaan sedihnya karena akan berpisah dengan ayahnya.
"Sudah siap?" tanya Tuan Felix.
"Sudah," jawab Rian.
Raut wajah Rian memang sangat terbaca oleh Tuan Felix. Namun Tuan Felix berusaha untuk tidak membahas itu semua. Semakin mereka membahasnya, kesedihan itu akan semakin terasa.
"Mpus tidak mengantarmu ke bandara?" tanya Tuan Felix.
Rian yang sedang memegang roti menyimpannya kembali ke atas piring. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Pertanyaan Tuan Felix membuat Rian merasa dadanya sesak.
"Mungkin tidak Pah," jawab Rian setelah diam beberapa saat.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix. "Apakah masalah kalian belum selesai?" lanjutnya.
"Mpus sedang sibuk Pah. Kemarin dia bilang kalau sempat mungkin dia akan ke bandara. Tapi kalau tidak sempat, Mpus hanya titip pesan agar aku semangat untuk mewujudkan cita-citaku." Rian berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Kamu harus percaya jika Mpus tidak mungkin mengecewakanmu," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku percaya," ucap Rian.
Rian memang percaya kepada Riri. Namun rasanya akan lebih bahagia jika Riri bisa mengantarnya sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Ayo berangkat!" ajak Tuan Felix.
Rian segera menarik dua koper berukuran besar itu. Dengan langkah berat, ia terus melangkah hingga ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan, keduanya diam tidak saling bicara. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Bandara. Tempat terakhir yang menjadi harapan terakhir untuk Rian bisa bertemu dengan Riri sebelum mereka benar-benar berpisah.
Rian mengeluarkan ponselnya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Riri.
Kamu kemana, Pus? Apa ponselmu masih rusak? Ah, sudahlah. Aku harus yakin jika Mpus baik-baik saja. Dia pasti sedang mendoakanku sekarang. Aku berangkat ya, Pus.
"Mas," teriak seorang wanita yang suaranya sudah tidak asing lagi.
Rian segera melihat sumber suara. Ia merasa yakin dengan pendengarannya, namun hatinya ragu. Benarkah itu Riri? Senyum lebar Rian hanya nampak beberapa saat setelah melihat Riri berjalan beriringan dengan Hiro.
"Kamu jangan manyun begitu," ucap Tuan Felix sambil menyikut Rian.
Rian tidak menjawab. Ia hanya merubah bibirnya yang mengerucut jadi lebih datar. Namun belum mampu untuk tersenyum.
"Mas, untunglah aku belum terlambat. Aku senang bisa bertemu dulu denganmu," ucap Riri dengan bibirnya yang merekah.
"Mas, jadwal sekarang ya? Sepertinya kita satu pesawat," ucap Hiro yang ikut nimbrung.
"Kamu mau pulang juga?" tanya Tuan Felix.
__ADS_1
"Iya," jawab Hiro dengan ramah.
"Bisa ikut denganku?" tanya Tuan Felix.
Hiro mengerti. Tuan Felix ingin membiarkan Rian dengan Riri berdua.
Tidak apa Hiro. Biarkan Rian bersama dengan Riri sebentar. Karena pada akhirnya, aku yang akan lebih lama dengan Riri.
"Bisa," jawab Hiro.
Tidak menunjukkan sikap apapun, Hiro mengikuti Tuan Felix yang menggandengnya untuk menjauhi Rian dan Riri. Hiro memang pintar bersandiwara.
"Kamu kenapa sih berangkat dengan Hiro?" tanya Rian kesal.
"Mas, aku tidak berangkat dengan Hiro. Aku bertemu dengannya tadi di depan," jawab Riri membela diri.
"Mau apa dia pulang?" tanya Rian.
"Mana aku tahu," jawab Riri.
"Kamu tidak bertanya padanya?" tanya Rian.
Riri menggeleng. "Untuk apa?" Riri balik bertanya.
"Bagus. Aku suka," ucap Rian senang.
"Karena aku akan berusaha untuk menjaga diriku. Apalagi saat kita jauh," ucap Riri.
"Ah, kamu membuatku semakin tidak sabar menunggu." Rian menatap Riri dengan lekat.
"Menunggu kamu selesai kuliah. Biar bisa," jawab Rian menggantungkan ucapannya.
"Biar bisa apa?" tanya Riri.
"Biar bisa sama-sama lagi," jawab Rian sambil tersenyum malu.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Rian.
"Aku juga mencintai Mas," jawab Riri.
Tuan Felix dan Hiro kembali setelah mereka harus segera berangkat. Pesawat sudah siap. Mata Riri mulai berkaca saat melihat Rian semakin menjauh.
Lambaian tangan Rian semakin membuat air mata Riri jatuh tidak bisa ditahan. Melihat Riri menangis, Rian sakit. Ingin rasanya ia kembali dan memeluk Riri. Meyakinkannya jika mereka pasti bersama kembali. Namun waktu memaksanya untuk menahan diri. Rian harus segera naik ke pesawat.
Riri masih menunggu di bandara sampai akhirnya pesawat sudah pergi dari bandara. Tangisannya semakin menjadi saat menyadari kalau Rian sudah benar-benar pergi.
"Ri," panggil seseorang.
"Hiro?" tanya Riri tidak percaya dengan pria yang datang menghampirinya.
"Jangan menangis seperti itu. Kamu tidak sendiri," ucap Hiro.
"Kamu tidak jadi pergi?" tanya Riri.
__ADS_1
"Mana mungkin aku membiarkanmu menangis sendiri," ucap Hiro.
"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja. Lebih baik kamu pergi saja," ucap Riri.
"Kamu mengusirku?" tanya Hiro.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin Mas Rian salah paham," jawab Riri.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Hiro.
"Ah sudah lah Hiro. Kamu tidak mengerti keadaanku," jawab Riri.
"Bagaimana aku mengerti kalau kamu tidak cerita padamu," ucap Hiro.
Cerita? Haruskan Riri bercerita pada Hiro? Saat ini ia memang butuh teman. Ah tidak. Ia ingat kalau Rian tidak mau jika Riri dekat dengan Hiro.
"Aku permisi," ucap Riri.
"Kamu mau pergi?" tanya Hiro.
"Iya. Aku mau pulang," jawab Riri.
"Kamu tidak menghargai perjuanganku? Aku bahkan tidak jadi pergi karena tidak mau meninggalkanmu menangis sendiri," ucap Hiro.
"Aku tidak memintamu untuk kembali menemaniku," ucap Riri.
Hiro mengepalkan tangannya dan kesal saat melihat Riri pergi begitu saja. Namun ia tersenyum sinis saat melihat Rian marah. Ya, Rian tentu marah karena Hiro dengan jelas mengatakan tidak jadi pulang. Alasannya? Tentu karena ia tidak tega melihat Riri sendiri.
Tenang Hiro. Kamu boleh kesal karena Riri bersikap dingin padamu. Tapi kamu harus tahu kalau Rian jauh lebih kesal saat membayangkan Riri sedang bersamanya. Aku rasa aku sudah sukses membuat Rian sakit hati hari ini. Sampai jumpa di sakit hati berikutnya, Rian. Aku pastikan akan lebih sakit dari ini.
Hiro tidak memaksa Riri untuk pulang bersamanya. Ia membiarkan Riri pergi sendiri. Sedangkan ia sendiri kembali ke rumahnya. Tertawa bebas dan merayakan kemenangannya atas kemarahan yang Rian rasakan.
"Aku yakin kamu pasti sedang marah dan kecewa. Cemburu dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku suka melihatmu seperti itu, Rian." Teriak Hiro sambil tertawa di dalam kamarnya.
Benar apa yang dipikirkan Hiro. Karena pada saat ini Rian memang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Penerbangan kali ini menjadi penerbangan terburuk baginya. Pikirannya kemana-mana.
"Tidurlah. Tenangkan hatimu. Jangan pikirkan Hiro," ucap Tuan Felix.
Percuma. Rian sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya. Yang ia tahu saat ini Riri sedang dengan Hiro. Hanya itu saja.
"Hey," ucap Tuan Felix sambil menyikut Rian.
"Iya Pah," ucap Rian saat sudah tersadar dari lamunannya.
"Jangan dipikirkan. Ingat, kamu punya tujuan. Jangan hancurkan semua rencanamu hanya karena ulah Hiro," ucap Tuan Felix.
"Pah, bagaimana aku tidak kecewa jika kali ini saja Hiro sudah bersikap kurang ajar. Lalu bagaimana dengan dia yang akan selalu dekat dengan Mpus?" tanya Rian kesal.
"Kamu tidak percaya pada Mpus?" tanya Tuan Felix.
"Bukan begitu Pah. Tapi aku hanya takut jika Hiro akan memanfaatkan keadaan," jawab Rian.
"Biarkan Rian dengan segala caranya. Tapi kamu harus ingat kalau Riri akan selalu setia untukmu," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Rian tahu jika Riri akan setia padanya. Namun ia juga menyadari bagaimana usaha Hiro yang membuat Riri menjauh darinya. Bahkan saat ini, demi membuat Rian kesal, ia rela mengeluarkan uang untuk tiket.
Berpura-pura akan pulang ke Indonesia namun tidak jadi hanya karena tidak tega melihat Riri menangis sendirian. Rencana yang sangat matang dam berhasil membuat pikiran Rian sangat kacau.