
Rian dan Mia berhasil menghindari Maudi. Mereka bisa bebas membawa Naura dan Narendra bermain hari ini. Sedikit melupakan kesedihannya karena kepulangan Tuan Felix ke Jerman.
"Mau kemana lagi Kak?" tanya Rian.
"Kita pulang saja," jawab Mia.
"Yakin?" tanya Rian.
"Yakin," jawab Mia.
Setelah Rian mendapat jawaban pasti dari Mia, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Tuan Wira. Dalam perjalanan, Mia melihat kedua anaknya sudah terlelap.
"Naura, Rendra, bangun! Mau jajan es krim tidak?" tanya Mia.
"Tumben sekali Kakak memberi mereka es krim," ucap Rian sambil menatap Mia bingung.
"Aku hanya memastikan kalau mereka sudah tidur dengan nyenyak," ucap Mia sambil melihat kedua anaknya yang masih tidur nyenyak.
"Maksudnya?" tanya Rian semakin bingung.
"Aku ingin bicara denganmu. Makanya aku memastikan kalau mereka sudah benar-benar tidur. Aku hanya takut ada yang salah lagi di telinga mereka," jawab Mia.
Rian melihat kedua keponakannya yang masih terlelap dari kaca spion. Ya, tentu mereka benar-benar terlelap. Buktinya mereka tidak bangun meskipun Mia sudah menawarinya jajan es krim. Padahal kalau seandainya mereka tidak tidur, es krim adalah jajanan yang paling mereka sukai.
"Memangnya Kakak mau bicara apa?" tanya Rian.
"Tentang Maudi," jawab Mia.
"Maudi?" tanya Rian malas.
"Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Aku yang seharusnya bertanya. Memangnya ada apa dengan Maudi?" Rian balik bertanya.
"Jangan mencoba memutar keadaan. Aku hanya butuh kejujuranmu. apa hubunganmu dengan Maudi saat ini?" tanya Mia tegas.
"Kak, aku tidak ada hubungan apapun dengan dia. Bahkan berteman saja tidak. Aku sudah lama mengabaikan Maudi," jawab Rian.
"Lalu kenapa masih saja menghantuimu sepetti itu?" tanya Mia.
"Mana ku tahu," jawab Rian santai.
"Lalu bagaimana bisa dia selalu tahu saat kamu sedang di mall?" tanya Mia.
__ADS_1
"Mungkin dia memasang chip di badanku," jawab Rian.
"Rian," ucap Mia dengan tatapan tajam.
"Atau mungkin benar kata Rendra kalau dia adalah hantu mall," ucap Rian.
"Rian, aku serius. Jawab dengan serius," ucap Mia.
"Ya aku juga tidak tahu Kak. Kalau aku tahu akan ada Mia di mall, aku tidak akan mau pergi ke mall." Rian menjawab dengan santai.
Mia menggelengkan kepala. Ia mengingatkan Rian untuk tidak memberi Maudi harapan. A hanya tidak ingin jika Riri kecewa. Namun Ria. meyakinkan Mia kalau di hatinya hanya ada Riri.
Sebagai seorang wanita, Mia ikut merasakan apa yang mungkin Riri rasakan saat ini. Ia tahu kalau Rian sudah melamar Riri secara pribadi. Namun Mia meminta agar Rian melamar Riri ke keluarganya.
"Tapi Mpus tidak memberi tahu alamat keluarganya," jawab Rian.
"Selama bertahun-tahun kalian dekat bahkan sudah tunangan, tapi kamu tidak tahu keluarga dari calon istrimu?" tanya Mia terkejut.
Rian menggeleng.
"Astaga Rian," ucap Mia sambil menepuk dahinya.
"Tapi Mpus memang menutup rapat cerita tentang keluarganya. Mana aku tahu kalau dia saja tidak memberi tahuku," jawab Rian.
"Ingat ya Ri! Cepat atau tidaknya Papa ke Indonesia, selama ini hanya tergantung pada perkembangan perusahaanmu. Kita berjuang bersama ya!" ucap Mia.
"Iya siap, Kak. Aku pasti akan tetap memprioritaskan pekerjaan tanpa mengesampingkan Mpus. Kakak tidak perlu khawatir," ucap Rian.
Mia hanya berharap kalau itu semua bisa Rian wujudkan. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin. Karena sulit seseorang melakukan dua hal dengan fokus yang sama. Pasti hanya ada satu yang diprioritaskan. Dan tentunya akan ada satu yang terabaikan.
Ah tidak! Mia tidak berhak menilai Rian seperti itu. Mia yakin kalau Rian akan mengusahan keduanya dengan seimbang.
Mia terus berpikir positif dengan semua yang akan terjadi. Ia juga meyakini jika seucap kata adalah doa. Hingga ia akan selalu berusaha mengucap dan memikirkan hal-hal yang baik saja.
Ponsel Mia berdering nyaring. Nama Dion terpampang jelas di layar ponselnya. Ia segera menjawab dan berterima kasih dengan senyum lebarnya. Senyum dan syukur itu akhirnya dirasakan Rian. Akhinya semua hal yang berhubungan dengan persiapan kantor barunya Rian, nyaris rampung.
"Kak Dion memang best," puji Rian saat panggilan telepon sudah berakhir.
"Bisa saja gombalnya. Lagi latihan kalau nanti ketemu sama Mpus kan?" goda Mia.
Rian hanya tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan hingga mereka kembal ke rumah Tuan Wira. Ia menggendong Naura dan Narendra bergantian untuk dipindahkan ke kamarnya.
"Kamu juga istirahat ya Ri," ucap Mia.
__ADS_1
"Siap Kak," ucap Dion.
Ya, tentu ia akan istirahat sebentar. Karena lama berkeliling di mall membuat Rian merasa tubuhnya lelah. Ia memang sedang butuh istirhat. Namun ketika baru saja ia memejamkan matanya, panggilan Riri membuat rasa lelah itu hilang seketika.
Kembali saling bercerita yang berujung gombalan sering Rian lakukan pada Riri. Malam ini mereka menelepon cukup lama. Membahas semua hal yang berhubungan dengan rencana masa depannya.
Tawa dan pujian membuat Riri selalu bahagia dengan keberadaan Rian meskopun jauh dari. peradaban dunia. Namun jika melihat bagaimana ia sekarang, rasanya pantas Riri mendapat kebahagiaan itu.
Tiba-tiba ingat apa yang sudah ia bahas dengan Rian. Riri yang sudah nyaris mengakhiri panggilannya ditahan oleh Rian.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Riri.
"Aku ingin menemui keluargamu," jawab Rian.
"Nanti saja kalau aku pulang ya Mas," tolak Riri secara halus.
"Kenapa kamu tidak mau memberikan alamatmu?" tanya Rian.
"Aku bukannya tidak mau Mas, tapi belum waktunya. Nanti saja kalau aku sudah pulang," jawab Riri.
"Kamu kenapa sih? Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Rian.
Lagi-lagi mereka cekcok. Ada saja yang membuat mereka berakhir dengan bertengkar saat selesai menelepon. Ia mulai menyadari jika hubungan jarak jauh seperti ini memang membuatnya lelah. Hal sepele saja bisa menjadi masalah besar.
Ya Tuhan, apa salahku? Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menghadapi semua ini? Tenang Rian, tenang. Kamu harus fokus dengan kantor barumu yang hampir selesai itu. Ingat ada banyak orang yang menggantungkan harapan besar dengan calon kantorku itu.
Selesai menelepon dengan Riri, Rian berusaha untuk kembali tenang. Ia menyadarkan dirinya bahwa memang ada privasi Riri. Bukan tidak boleh, tapi mungkin belum boleh. Karena setelah mereka bertemu, Rian akan memaksa Riri untuk dipertemukan dengan keluarganya.
"Rian, Rian." Mia memanggil Rian dan mengetuk pintu kamar Rian.
"Iya Kak. Ada apa?" tanya Rian.
"Kamu kenapa?" Mia balik bertanya.
Mia yang ingin membahas tentang kantor baru Rian, mengurungkan niatnya. Ia melihat Rian sedang tidak ingin membahas apapun untuk saat ini.
"Tidak apa-apa. Kakak ada apa mencariku ke sini?" tanya Rian.
"Emm itu. Kamu melihat,,," ucap Mia dan menjedanya.
Mia berpikir, alasan apa yang bisa ia gunakan untuk tidak menjawab pertanyaannya.
"Nanti saja. Aku lupa," ucap Mia
__ADS_1
"Kakak memang aneh," ucap Rian.