
"Kamu kenapa Ri?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian pulang dengan wajah yang ditekuk.
"Tidak Pah," ucap Rian. "Papa sudah pulang?" lanjut Rian saat baru menyadari jika Tuan Felix pulang lebih cepat.
"Papa sedang ingin istirahat di rumah," ucap Tuan Felix.
"Papa sakit?" tanya Rian panik.
"Tidak. Mungkin hanya kurang tidur saja," jawab Tuan Felix.
Kurang tidur? Rasanya kemarin malam Tuan Felix masuk ke dalam kamarnya lebih siang dari biasanya. Lalu apa yang membuat ayahnya kurang tidur? Apa karena memikirkan Mia dan Dion?
"Sudah panggil dokter?" tanya Rian.
"Tidk perlu. Papa sudah minum vitamin," ucap Tuan Felix.
Rian mengamati Tuan Felix. Wajahnya sudah semakin menua. Rambut putihnya semakin banyak. Kulit keriputnya semakin terlihat nyata. Jelas sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan pertama kali Rian bertemu. Ia duduk di samping Tuan Felix.
"Kalau Papa ada apa-apa, Papa cerita. Ada aku di sini. Aku bisa melakukan apapun untuk Papa. Papa katakan saja," ucap Rian.
"Papa tahu itu. Papa hanya ingin kamu belajar dan meraih nilai terbaik," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku akan buktikan kalau aku bisa memberikan yang terbaik," ucap Rian.
Wajah Tuan Felix semakin sedih. Ia takut jika usianya tidak akan sampai melihat Rian sukses. Ia takut Rian tidak bisa mewujudkan apa yang diinginkannya. Sebenarnya bisa, namun ia ingin tidak mau jika Rian berjuang sendirian. Ia tahu dunia bisnis itu tidak mudah bahkan cenderung kejam.
"Pah, Papa kenapa?" tanya Rian.
"Ah tidak. Papa hanya ingin tidur. Papa ke kamar ya!" ucap Tuan Felix.
"Mari aku antar!" ucap Rian.
"Tidak perlu. Papa bisa sendiri," ucap Tuan Felix.
Rian hanya bisa menatap Tuan Felix yang semakin menjauh.
Pah, Papa kenapa? Ada masalah apa sebenarnya? Apakah memang hanya karena rindu pada Kak Mia? Tapi Papa tidak biasanya sampai seperti ini. Atau justru Papa benar-benar sakit? Aku harus mencari tahu semua penyebab semua ini.
Rian kembali ke kamarnya. Ia duduk menatap layar komputer yang masih padam. Melihat bayangannya sendiri dari pantulan layar itu. Ia ingat betul pertama kali menginjakkan kakinya di kamar itu. Badannya tidak setinggi itu. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama ia bersama Tuan Felix.
"Apa yang sudah aku berikan untuk Papa? Sementara Papa sudah memberikan semuanya untukku," gumam Rian.
Rian mengacak rambutnya kasar. Tangannya mengepal. Ia menahan emosinya agar tidak meledak. Ia kesal pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja bayangan Riri melintas di kepalanya.
"Apa aku bawa Mpus ke sini aja ya?" tanya Rian sambil menatap layar ponselnya.
Dengan cepat, Rian mengirim pesan pada Riri. Namun sayangnya Riri tidak membalas pesan itu. Rian masih menunggu sampai akhirnya sepuluh menit sudah berlalu. Rian mencoba menguhubungi Riri namun hasilnya nihil. Riri tidak menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Kamu kemana sih Pus?" ucap Rian kesal.
Rian melempar ponselnya pada kasur. Tidak lama ia menyusul. Ia menjatuhkan tubuhnya di tempat kesukaannya itu. Tempat paling nyaman setiap kali ia sedang bergelut dengan kekecauan hati maupun pikirannya.
Kepalanya yang ia tutup dengan bantal segera ia buka kembali. Hingga bantal itu ia lempar ke sembarang arah saat mendengar dering ponselnya. Tangannya dengan sigap mencari dan melihat panggilan ulitu dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Eh, aku pikir Mpus." Rian kembali melempar ponselnya saat nama Maudi yang tampil di layar ponselnya.
Aku yakin kehadiran Mpus bisa membuat Papa lebih ceria. Tapi kalau yang hadir model Maudi sih yang ada Papa malah naik darah.
Dering ponsel itu tidak berhenti meskipun Rian sudah mengabaikannya berkali-kali. Ia yang merasa kesal akhirnya mematikan ponselnya. Meskipun ia yakin jika setelah ponselnya aktof kembali, akan ada ancaman-ancaman dari Maudi. Tapi setidaknya sementara ini telinganya aman dari gangguan Maudi.
Rian membiarkan ponselnya mati semalaman. Menikmati tidur malam ini tanpa gangguan dari Maudi, meskipun ia ingin menerima kabar dari Riri.
"Hoaaam," Rian menguap sambil merentangkan tangannya. Menggeliat setelah menikmati tidur nyenyak semalaman.
Tangannya meraba kasur dan mencari ponselnya. Ia mendekap ponselnya dan berdoa sebelum mengaktifkan kembali ponselnya.
"Tuh kan. Sudah kuduga," ucap Rian.
Pesan-pesan itu mulai masuk satu per satu. Banyak sekali ancaman yang berdatangan dari Maudi. Rian sampai menggelengkan kepalanya dan segera mandi. Biasanya Rian akan gelisah setelah menerima pesan ancaman dari Maudi. Namun ucapan Riri melekat erat d telinganya untuk tidak menanggapi ancaman apapun dari Maudi.
Selesai bersiap, Rian pergi ke ruang makan seperti biasa. Namun ia tidak menemui Tuan Felix di sana. Ia segera mencari ke kamar.
"Pah," panggil Rian.
"Boleh aku masuk?" tanya Rian.
"Masuklah. Pintunya tidak dikunci," jawab Tuan Felix.
Rian segera membuka pintu kamar Tuan Felix. Ia harus memastikan jika ayahnya memang baik-baik saja. Dan Rian bisa benapas lega saat melihat Tuan Felix sedang duduk dengan laptop di hadapannya. Perlahan kacamata itu dilepaskan dan disimpan di atas meja.
"Ada apa?" tanya Tuan Felix.
"Papa baik-baik saja kan?" Rian balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat. Papa baik-baik saja," ucap Tuan Felix.
"Syukurlah," ucap Rian sambil mengusap dadanya.
Tuan Felix senang saat mendapati kekhawatiran dari Rian. Ia segera menjelaskan alasannya tidak ke kantor agar Rian tidak khawtir lagi.
"Jadi tamu itu akan ke sini?" tanya Rian.
"Tidak. Kita akan bertemu di hotel," jawab Tuan Felix.
Rian hanya mengangguk dan pamit untuk pergi ke kampus. Cukup lama di kamar Tuan Felix membuat Rian kehilangan waktu sarapan. Dalam perjalanan, kepalanya masih berpikir tentang apa yang terjadi dengan Tuan Felix.
__ADS_1
"Apa yang Papa sembunyikan dariku? Aku merasa Papa sedang tidak baik-baik saja," gumam Rian.
Sepanjang perjalanan, kepala Rian tidak berhenti memikirkan Tuan Felix. Masih jelas terbayang wajah kusut Tuan Felix saat bicara dengannya. Padahal mereka bicara saat masih pagi. Biasanya pagi hari Tuan Felix terlihat ceria dan semangat. Ia merasa sedang terjadi sesuatu pada Tuan Felix. Ia mencoba mencari kemungkinan yang terjadi pada ayahnya. Namun sepertinya ia merasa buntu.
"Papa kenapa tidak bilang sama aku ya kalau ada apa-apa?" gumam Rian yang semakin gelisah memikirkan ayahnya.
Setelah Rian sampai di kampus, kegelisahannya semakin bertambah saat melihat Riri sedang duduk di bebangkuan dengan seorang pria. Siapa lagi kalau bukan Rey.
Tidak ingin semakin merusak suasana hatinya, Rian segera pergi ke kelas. Ia tidak mau mendengar dan melihat pemandangan pagi itu. Di kelas, ia segera membuka laptopnya dan menyibukkan diri dengan materi kuliah.
"Ri, aku pikir kamu belum datang." Rey menepuk bahu Rian.
"Aku sudah di sini dari tadi," jawab Rian tanpa mengalihkan tatapannya.
Rian sama sekali tidak melihat ke arah Rey. Ia tetap fokus pada layar laptopnya. Tapi tidak saat Rey membahas soal Riri.
"Jadi ponselnya rusak?" tanya Rian.
"Iya," jawab Rey.
Baru saja Rian ingin bertanya apa penyebab rusaknya ponsel milik Riri, tapi dosen sudah masuk. Rian terpaksa harus menunda pertanyaan itu sampai nanti pelajaran sudah selesai.
"Rey, memangnya ponsel Riri rusak kenapa?" tanya Rian saat dosen sudah keluar kelas.
"Katanya sih tidak sengaja jatuh dari saku," jawab Rey. "Riri belum bilang padamu?" lanjut Rey.
"Belum," jawab Rian sambil menggeleng. "Dan sepertinya dia tidak perlu bilang padaku," lanjut Rian.
"Kenapa?" Kamu tidak peduli lagi pada Riri?" tanya Rey.
"Tidak peduli lagi?" tanya Rian.
"Aku pikir kamu mencintai Riri," jawab Rey sambil menahan tawanya.
"Apa sih," ucap Rian mencoba mengelak.
"Ayolah jujur saja. Aku tahu tentang perasaanmu Ri," ucap Rey.
"Apa? Jangan sok tahu kamu," ucap Rian.
Rian yang terlihat gugup jelas menjawab semua dugaan Rian. Ia yakin jika Rian menyimpan perasaan lebih pada Riri.
"Kenapa kamu tidak jujur saja?" tanya Rey.
"Aku ke toilet dulu ya!" ucap Rian.
Ya, begitulah Rian. Saat ia tidak bisa mengelak maka kabur akan menjadi jalan ninjanya. Sementara Rey yang sudah sangat paham, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1