
Malam kian larut. Rian segera ke kamar setelah sampai ke rumahnya. Berkas itu ia simpan di atas meja belajarnya. Tepat di atas laptop. Ia sendiri mandi dulu untuk sekedar menyingkirkan rasa mengantuknya. Keluar dari kamar mandi, ia lebih segar. Namun saat melihat jam yang menempel di dinding kamarnya, Rian sudah melihat jarum jam diangka sepuluh.
"Besok aku masuk pagi. Tapi tugasku belum selesai. Belum lagi ini," ucap Rian sambil memegang laporan keuangan.
Rian duduk dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Bagaimanapun, ia harus tetap kuliah. Ia baru selesai saat jam dua belas malam. Matanya sudah tidak bisa dipaksakan. Ia tidur tanpa mempelajari berkas dari kantor.
Rian bangun lebih siang dari seharusnya, karena mungkin bukan hanya tubuhnya saja yang lelah. Pikirannya sendiri lelah dengan memikirkan perusahaan ayahnya. Belum lagi ia harus membagi waktu dengan kuliahnya.
"Aku bisa," gumam Rian.
Rian segera bersiap untuk masuk kelas pagi. Berkas itu tidak lupa ia bawa, karena setelah pulang kuliah ia akan langsung menuju kantor.
"Pah, kenapa belum siap-siap?" tanya Rian saat melihat Tuan Felix masih menggunakan baju tidurnya.
"Papa tidak harus kemana-mana. Papa bisa kerja di rumah," jawab Tuan Felix.
"Papa sakit?" tanya Rian.
"Tidak. Papa baik-baik saja," jawab Tuan Felix.
"Kalau Papa sakit, aku akan memanggilkan dokter. Kalau tidak, aku harap Papa bisa ke kantor dan bekerja seperti biasa. Semakin Papa terpuruk begini, semakin membuat ia menang. Aku tidak mau itu terjadi Pah," ucap Rian.
"Ri, bagaimanapun berita ini akan menyebar. Nama Papa pasti akan mulai didengar di seluruh dunia industri," ucap Tuan Felix.
"Pah, kita akan tetap berusaha. Walaupun mungkin tertatih-tatih, tapi kita akan tetap berjalan hingga akan berlari kembali. Kita bisa Pah," ucap Rian optimis.
Melihat semangat Rian yang membara, malu rasanya Tuan Felix yang justru pesimis. Ia kembali mengumpulkan rasa semangatnya. Harapannya akan ia pupuk kembali agar semuanya kembali membaik.
"Papa akan ke kantor nanti. Kamu pergilah ke kampus. Ingat! Ketika di kampus, jangan sekalipun mengganggu fokusmu hanya karena urusan kantor. Semua itu tanggung jawab Papa. Tugas utama kamu adalah kuliah," ucap Tuan Felix mengingatkan.
Rian bahkan sudah hapal dengan kalimat itu. Sering sekali Tuan Felix mengingatkan jika tugasnya hanyalah fokus kuliah. Tapi melihat keadaan yang seperti ini, Rian tidak bisa seperti itu. Pikirannya pasti tetap terbagi dengan kondisi perusahaan yang memburuk.
"Kalau Papa mau aku fokus kuliah, tolong tunjukkan semangat Papa. Rasa pesimis Papa membuat aku justru semakin memikirkan perusahaan," ucap Rian.
"Kamu jangan memikirkan itu, Ri. Kalaupun Papa bangkrut, itu tidak akan mempengaruhi masa depanmu nanti. Papa sudah siapkan tabungan untuk kamu setelah lulus nanti," ucap Tuan Felix.
Ya. Sebenarnya Rian tidak perlu terlalu memikirkan kebangkrutan ayahnya, jika hanya takut kuliahnya tidak tuntas. Ia sendiri kuliah dengan beasiswa. Untuk masa depan, ia bisa mencari kerja sendiri kalaupun Tuan Felix tidak bisa membuatkan lapangan pekerjaan untuknya.
"Tapi ini bukan perkara uang Pah. Ini tentang harga diri. Berapa kali aku bilang. Aku tidak akan malu jika harus melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Tapi aku malu melihat Papa pesimis begini. Mana Papa Felix yang aku kenal dulu? Papa yang selalu mengajarkan kerja keras dan optimis," ucap Rian.
Tuan Felix terdiam. Ia mengingat semua ucapan Rian. Memang benar, ia bukan orang yang pesimis. Bahkan bisa dibilang ambisius jika tentang pekerjaan. Tapi rekaman wajah puas dari mantan istrinya membuat Tuan Felix benar-benar runtuh.
Ucapan mantan istrinya yang merendahkan dirinya, akhirnya meyakinkan Tuan Felix jika kebangkrutan itu benar-benar di depan mata. Hal itu yang membuat Tuan Felix tidak bisa berpikir tenang.
__ADS_1
Bayangan kebangkrutan sudah menghantuinya. Namun Rian selalu membuatnya berusaha untuk bangkit. Sulit memang, tapi tatapan dan ucapan Rian perlahan membuatnya mulai belajar menata harapan.
"Ya, Papa akan ke kantor. Kamu berangkatlah. Papa janji akan ke kantor. Kita akan bertemu nanti siang di kantor," ucap Tuan Felix.
Rian tersenyum. Itu yang ia inginkan. Akhirnya Tuan Felix sudah kembali. Ia segera ke kampus setelah menyelesaikan sarapannya. Dengan semangat, Rian memfokuskan pagi ini untuk kuliahnya.
"Ri, tugasmu sudah selesai?" tanya Rey.
"Sudah," jawab Rian.
"Baguslah," ucap Rey.
Tidak lama, pembelajaran segera dimulai. Rian sibuk dengan tugas-tugas yang harus ia selesaikan secepatnya. Seperti biasa, Rian akan menjadi mahasiswa paling aktif selama pembelajaran.
Rian tidak tahu jika Rey tengah mengamatinya sejak tadi. Rey tahu masalah yang dihadapi oleh Rian dari Riri. Bukan tanpa alasan, Riri memberi tahu Rey masalah Rian tidak lain untuk membantu Rian.
Ri, tenyata Rian tidak membutuhkan kita. Dia tidak menunjukkan jika dia tengah memiliki masalah. Dia masih fokus dan sangat semangat ditengah masalahnya.
"Rey, aku pulang duluan ya!" ucap Rian.
"Iya. Hati-hati ya!" ucap Rey.
Setelah selesai pembelajaran, Rian segera pulang. Ia harus menumpuk rindunya pada Riri sampai akhirnya bisa menyelesaikan semua masalah di kantor ayahnya.
"Benarkah?" tanya Riri.
Riri tidak percaya jika Rian bisa masuk kuliah dan semangat untuk perkuliahannya tentang hari ini, di tengah masalahnya. Rey melihat kekaguman pada Riri saat menceritakan tentang Rian.
"Dia butuh kamu, Ri. Support dia," ucap Rey.
"Tentu. Aku tentu akan support Mas Rian. Mas Rey juga pasti support kan?" ucap Riri.
Pantas saja Rian tidak yakin padamu. Kamu tidak peka, Ri. Ampun deh.
"Mas, Mas support juga kan?" tanya Riri.
"Eh iya pasti. Aku pasti support Rian," ucap Rey. "Tapi aku rasa Rian tidak membutuhkan kita," lanjut Rey.
"Mas tapi masalah Mas Rian itu sangat berat. Aku yakin Mas Rian akan keteteran dengan kuliahnya. Aku rasa Mas Rian akan mengambil cuti dan kesempatan beasiswanya akan hilang. Dan aku mau kita bersama membantu Mas Rian," ucap Riri.
"Apapun itu aku siap bantu sebisaku," ucap Rey.
"Terima kasih ya Mas," ucap Riri.
__ADS_1
Rey tidak bisa menebak bagaimana perasaan Riri pada Rian. Wanita yang ada di hadapannya sangat peduli pada Rian. Namun di sisi lain, Riri sangat tidak peka. Rey menjadi gemas sendiri melihat sikap Riri.
Mereka berdua pulang. Riri sudah kembali di jemput dengan orang kepercayaan Mr. Aric. Ia tidak bisa membantu Rian lebih banyak. Waktunya terbatas.
Riri hanya bisa memantau Rian melalui ponselnya. Akhir-akhir ini ia kesulitan mendapat informasi tentang Rian, karena Rian terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya di kantor.
"Ri, dari tadi ponselmu berdering terus. Siapa yang meneleponmu?" tanya Tuan Felix.
"Mpus Pah," jawab Rian.
Rian hanya menatap Tuan Felix sebentar lalu setelah itu ia kembali menatap berkas yang sedang ia pelajari.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Tuan Felix.
"Nanti saja setelah semuanya selesai," ucap Rian.
"Jawab dulu. Jangan membuat orang yang peduli padamu mengkhawatirkanmu," ucap Tuan Felix.
Orang yang peduli? Khawatir? Jadi Mpus peduli padaku? Dia mengkhawatirkanku? Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Jatuh itu sakit. Aku tidak mau terbang terlalu tinggi.
"Ri, jawab teleponnya." Tuan Felix menunjuk ponsel Rian yang masih tergeletak di atas meja.
"Nanti saja Pah," jawab Rian sambil membalikkan ponselnya agar nama Riri tidak terbaca lagi oleh Tuan Felix.
"Sini biar Papa yang jawab," ucap Tuan Felix membawa ponsel Rian.
"Eh Pah," ucap Rian.
Rian gagal menahan Tuan Felix yang sudah terlanjur menjawab panggilan dari Riri.
"Pus, calon suami kamu sedang sibuk. Kamu bantu doa ya!" ucap Tuan Felix.
"Papa, Mas Rian temanku. Aku pasti mendukungnya. Sebagai seorang teman, aku dan Mas Rian selalu saling mendukung." Riri menjawab begitu tenang.
Itu yang membuat Rian selalu kagum pada Riri. Wanita itu selalu tenang. Siapapun dan apapun yang dihadapi, Riri selalu santai. Ia menganggap semua masalah itu pasti bisa diselesaikan.
"Oh, cuma teman ya? Papa pikir sudah lebih," ucap Tuan Felix.
"Papa apa sih?" tanya Riri.
"Papa mendukung kamu dan Rian. Papa yakin kamu akan membuat Rian bisa menjadi lebih semangat. Papa yakin itu," ucap Tuan Felix.
Rian hanya bisa menutup wajahnya karena malu. Namun Riri menghadapi ucapan Tuan Felix dengan tertawa, hingga Tuan Felix juga ikut tertawa bahagia. Ternyata Rian semakin meyakini jika kehadiran Riri selalu membawa kebahagiaan dalam hidupnya.
__ADS_1
Sepertinya aku sudah terlalu mencintai Riri. Tuhaaaan, bagaimana ini?