
Perlahan Rian mengikuti Riri dan Tuan Felix ke dapur. Masih dengan kebingungan, Rian memikirkan apa alasan Tuan Felix berkata jika ia belum sarapan. Padahal jelas-jelas mereka sarapan bersama pagi ini.
"Kamu mau masak apa?" tanya Tuan Felix.
"Apa saja, Pah. Sesuai bahan yang ada," jawab Riri.
"Ada apa ya? Kamu cek sendiri lah," ucap Tuan Felix.
"Ya sudah. Papa duduk saja di kursi. Biar aku yang memasak," ucap Riri.
Riri mulai membuka kulkas. Mencari bahan masakan yang bisa ia kreasikan hari ini di rumah Tuan Felix. Ia menemukan kol, tomat dan sosis dari dalam kulkas.
"Ada mie instan tidak?" tanya Riri.
"Tidak ada. Kami sangat jarang mengkonsumsi mie instan," jawab Tuan Felix.
"Oh ya sudah tidak apa-apa," ucap Riri.
Riri kembali berkutat dengan alat dan bahan yang ada di dapur. Sementara dua pria nampak sedang mengamati bagaimana tangan Riri dengan terampil menggunakan perabotan di dapur.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Kenapa Papa harus bohong? Aku jelas melihat Papa sarapan tadi pagi," bisik Rian.
Mata Tuan Felix membulat dan menyikut Rian. Memberi kode agar ia mencari tempat lain untuk membahas semua ini. Namun ia kesal saat Rian tidak mengerti kode yang ia berikan.
"Ri, tolong ambilkan ponsel Papa di kamar!" pinta Tuan Felix pada Rian.
Rian hanya mengernyitkan dahinya. Hampir saja Rian membuat Riri curiga. Namun mata Tuan Felix yang semakin menatapnya tajam membuat ia segera pergi dari dapur.
"Aduh, Papa kok lupa. Ponsel Papa kan bukan di kamar. Pus, sebentar ya. Papa mau menyusul Rian dulu. Kasihan dia kalau pusing mencari ponsel Papa,"ucap Tuan Felix.
"Oh iya Pah," jawab Riri.
Tuan Felix segera mencari Rian ke kamarnya. Dan benar saja, Rian sedang mondar mandir di kamarnya. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Rian.
"Kamu sedang apa, Rian?" tanya Ruan Felix dengan geram.
"Nah itu ponselnya dipegang Papa," ucap Rian sambil menunjuk ponsel yanh dipegang oleh Tuan Felix.
Tuan Felix segera menutup pintu kamarnya.
"Rian, kamu ini kenapa sih? Bilang Mpus tidak peka. Kamu juga ternyata sama," ucap Tuan Felix kesal.
__ADS_1
"Kok sama sih, Pah?" tanya Rian.
"Kamu tanya kenapa alasan Papa berbohong bilang belum sarapan?" Tuan Felix balik bertanya.
"Iya," jawab Rian bingung.
"Harusnya kamu tahu, Mpus ingin membuatkan makanan untukmu. Kalau kamu bilang sudah, artinya kamu menolak. Belajar lagi untuk lebih peka," ucap Tuan Felix.
Rian baru mengerti maksudnya. Ia bahkan terdiam beberapa saat setelah Tuan Felix sudah meninggalkan kembali kamarnya.
"Apa iya aku tidak peka? Ah, tidak. Hanya Mpus yang tidak peka," gumam Rian.
Rian segera menyusul kembali Tuan Felix yang menemani Riri memasak di dapur. Lagi-lagi Rian harus melihat Tuan Felix dan Riri sangat akrab. Bahkan ia merasa Riri jauh lebih akrab dengan ayahnya dibanding dirinya.
"Kamu kenapa tidak mengambil kelas masak saja?" tanya Tuan Felix.
Riri menoleh sebentar dan tersenyum. Pertanyaan menggelitik baginya. Ia memang sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan memasak. Namun Riri tidak bisa menjadikan itu nomor satu. Selain memasak, Riri sangat menyukai dengan desain-desain pakaian.
"Impianku menjadi designer ternama dan hebat, Pah. Aku iri dengan mereka yang selalu berpenampilan cantik dengan fashion yang menarik. Dan aku akan menjadi perancang fashion kekinian suatu saat nanti," jawab Riri.
Meskipun Riri menjelaskan jawabannya sambil membelakangi Tuan Felix dan Rian, tapi jelas sekali jika bibir mungil itu tengah mengembang. Riri akan selalu bahagia jika ia membayangkan masa depannya yang cerah dengan pencapaiannya.
"Papa yakin kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Selama kamu benar-benar memperjuangkannya," ucap Tuan Felix.
"Tuh Rian, kamu lihat dong Mpus. Berjuang, biar apa yang kamu inginkan bisa tercapai," sindir Tuan Felix.
Rian yang paham jika sindiran itu ditujukan kepadanya hanya bisa mengiyakan dan salah tingkah.
Kriiiing.. Kriiing..Kriing
Dering ponsel Tuan Felix terdengar nyaring di dapur. Melihat nama Mia, Tuan Felix tersenyum lebar dan segera menjawab panggilan itu. Dengan senang, ia menceritakan jika ia merindukan Mia. Namun ia tidak perlu sedih karena ada Rian dan Riri yang menemaninya.
Panggilan video pun berlangsung. Narendra dan Naura mulai berceloteh banyak hal. Itu adalah cara mereka mengungkapkan kerinduannya pada Rian. Sementara Rian dengan hangat mendengarkan cerita keponakan kembarnya.
Berlindung di balik irisan bawang merah, Riri menangis saat tiba-tiba merindukan keluarganya. Kehangatan Rian dan Mia membuat ia ingat pada Kakak perempuannya. Mendengar teriakan Narendra dan Naura, membuat Riri bertanya tentang keadaan kakak kandungnya itu.
Dulu aku juga sempat sedekat dan sehangat itu dengan Mbaku. Semua terjadi jauh sebelum pria itu menghancurkan kebahagiaanku. Apakah Mba sudah punya anak? Ah, aku rindu kalian.
Lamunan Riri buyar saat mendengar Mia yang ingin mengobrol dengannya. Dengan cepat Riri mengusap pipinya.
"Kamu menangis, Pus?" tanya Mia.
"Tidak Kak. Mataku hanya pedih karena sudah mengiris bawang," jawab Riri dengan bohong.
__ADS_1
Tuan Felix melihat Rian yang sedang memperhatikan Riri. Mereka berdua tahu kebohongan Riri. Matanya yang merah bukan karena irisan bawang merah, tapi karena kerinduan akan keluarganya yang tidak ada komunikasi.
Begitu pun dengan Mia. Namun berpura-pura percaya dengan kebohongan Riri akan sedikit menghiburnya. Mia segera berbincang dengan Riri. Bahkan Narendra dan Naura juga ikut berkenalan dengan Riri.
Setelah panggilan video itu berakhir, Riri segera melanjutkan kembali kegiatan memasaknya. Dengan bahan seadanya, Riri membuat menu yang spesial.
"Nasi goreng buatan Riri, siap sajiii." Riri dengan senyum lebarnya menyajikan dua piring nasi goreng buatannya.
"Wah, nasi goreng." Rian segera menarik sepiring nasi yang sudah disajikan oleh Riri.
Tuan Felix melihat Rian yang sangat antusias dengan hasil tangan Riri. Ia memang tidak begitu antusias dengan nasi goreng yang ada di hadapannya. Namun lidahnya tiba-tiaba kelu.
Rasa yang ia nikmati seperti puluhan tahun silam. Rasa yang selalu disajikan Bu Ningsih dengan penuh ketulusan. Kelebatan bayang Bu Ningsih tiba-tiba membuat dadanya sesak. Tuan Felix mendorong nasi goreng yang sudah ada di mulutnya itu dengan air.
"Gimana? Enak Pah?" tanya Riri saat melihat ekspresi aneh dari Tuan Felix.
"Enak. Ini masakan terenak yang belum pernah aku temui sebelumnya. Terima kasih untuk nasi gorengnya," ucap Tuan Felix.
"Papa suka?" tanya Riri.
"Tentu," jawab Tuan Felix.
"Kapan-kapan aku buatkan lagi ya," ucap Riri.
"Terima kasih. Papa pasti senang," ucap Tuan Felix.
Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, Tuan Felix baru menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Ya ampun. Ini sudah sangat siang. Jadinya kita mau kemana?" tanya Tuan Felix.
"Memangnya Papa ada acara kemana?" tanya Riri.
"Ya maksudnya kamu mau kemana hari ini? Ini kan hari libur. Seharusnya aku mengajakmu jalan-jalan. Bukan malah memintamu memasak di sini," ucap Tuan Felix.
"Kalau aku pribadi sih, liburan itu tidak harus bermain atau menghabiskan waktu di luar. Di rumah pun, jika kita bahagia dengan orang-orangnya maka sudah menjadi liburan tersendiri bagiku." Riri membuat prinsip baru dalam hidup Tuan Felix.
"Ya, Papa setuju. Papa suka dengan prinsipmu. Memang betul. Percuma kita jalan-kalan keluar. Kita pergi bersama orang yang kita sayang. Tapi kita sibuk dengan ponsel masing-masing," ucap Tuan Felix.
Memang saat itu, sejak Riri masuk ke rumah Tuan Felix mereka sama sekali tidak sibuk dengan ponselnya. Ponsel hanya digunakan saat Mia melakukan panggilan video.
"Jadi kamu tidak apa-apa kan kalau kita hanya di rumah saja?" tanya Rian.
"Tidak Mas. Aku sudah merasa sangat bahagia di rumah ini," jawab Riri.
__ADS_1
Rian tersenyum dan kembali menunduk. Rasanya ia tidak tahan saat harus bersitatap dengan wanita di hadapannya itu. Apalagi saat Tuan Felix berdeham saat menyadari kejadian itu.