Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Teman baru


__ADS_3

Dion senang saat mendengar Rian suka dengan semua yang ada di kantor itu. Tanpa sepengetahuan Rian, orang itu sengaja ditugaskan Tuan Felix untuk menyelesaikan kantor Rian. Jika tidak ada komplen dari Rian, artinya orang itu cocok.


Ya, orang itu adalah orang yang akan membersamai Rian dalam perusahaan barunya. Orang Indonesia asli yang justru terkenal di luar negeri. Tuan Felix segera merekrutnya dengan kontrak yang luar biasa.


Harga mahal bukan masalah, karena Tuan Felix yakin jika Rian bersama orang itu maka kemajuan perusahaan tidak perlu diragukan lagi.


"Benarkah?" tanya Rian saat Dion mengetahui informasi tentang orang itu.


"Ah, Tuan Dion terlalu berlebihan. Biasa saja," ucap orang itu.


"Tidak. Kak Dion tidak berlebihan. Saya bahkan bisa melihat langsung semua kenyataan ini. Oh ya kita belum sempat berkenalan. Nama Anda siapa?" tanya Rian.


"Saya Hermanto, Tuan. Anda bisa memanggil saya Herman atau Manto," jawab Manto.


"Sepertinya saya lebih tertarik dengan nama Manto. Baiklah Tuan Manto, selamat bekerja sama." Rian mengulurkan tangannya.


"Terima kasih atas sambutan yang begitu hangat ini, Tuan. Senang bisa bekerja sama dengan Anda. Semoga kita bisa mengembangkan perusahaan ini sesuai target. Dan satu lagi, jangan panggil saya Tuan. Panggil saya Pak Manto saja," ucap Manto sambil mengulurkan tangannya.


"Oke Pak Manto. Kalau begitu Anda juga bisa memanggil saya Pak Rian. Meskipun saya belum bapak-bapak, tapi lebih nyaman dibanding dengan harus dipanggil Tuan." Rian melepaskan genggaman tangannya.


"Tetapi paling tidak, Anda akan menjadi calon bapak. Kapan Pak?" tanya Manto.


"Nah tuh, kena skakmat kan?" ucap Dion.


Hal itu tentu membuat suasana menjadi penuh tawa. Rian merasa sangat nyaman dengan orang pilihan Tuan Felix. Batinnya senang sendiri. Ayah kandungnya itu memang sangat memahami apa yang ia butuhkan.


Setelah perkenalan itu dirasa cukup, Dion pamit untuk kembali ke kantor Tuan Wira. Karena sampai saat ini, Tuan Wira belum bisa masuk kantor. Meskipun sekarang, sudah ada beberapa pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah.


"Kak, terima kasih banyak untuk semuanya." Rian menunduk hormat saat Dion pamit.


"Jangan begitu. Kita ini saudara. Sudah seharusnya saling membantu apa yang kita bisa," ucap Dion.

__ADS_1


Manto tersenyum kagum melihat keakraban Dion dan Rian. Padahal seperti informasi yang ia dapatkan bahwa keduanya tidak ada hubungan darah sama sekali. Ia semakin yakin jika bosnya ini adalah orang baik dan sangat jujur.


Hari pertama dilalui dengan sangat melelahkan. Rian cukup sulit mengimbangi cara kerja Manto yang begitu cekatan. Padahal menurut yang lain, cara kerja Rian juga sudah sangat baik.


Tidak salah orang ini sangat dihargai diluar negeri. Karena kinerjanya memang bagus. Aku sampai kewalahan. Papa memang tahu orang yang paling baik untuk memperkuat perusahaan ini. Terima kasih Pah. Aku janji akan membuat Papa bangga. Aku juga akan membuat perusahaan ini segera maju. Biar Papa segera tinggal di sini dengan aku dan yang lain.


"Jangan melamun!" ucap Manto saat mengambil sebuah pulpen yang ada di meja Rian.


"Eh, iya." Rian mengerjap membuyarkan lamunannya.


"Memangnya Pak Rian ini memikirkan apa sih?" tanya Manto.


"Tidak ada Pak. Saya hanya senang saja meliht cara kerja Pak Manto," jawab Rian.


"Saya pikir bapak sedang memikirkan pacarnya," ucap Manto.


"Ah, masa sedang kerja begini malah mikirin pacar," ucap Rian mencoba mengelak.


"Ya makanya kalau tidak mau memikirkan pacarnya segera dinikahi. Biar tenang karena sudah jadi milik bapak seutuhnya," ucap Manto.


Rian sempat berpikir jika rekan kerjanya itu adalah peramal. Sehingga ia bisa tahu apa yang terjadi dalam kehidupannya. Namun ia segera menepis pikirannya itu. Kini ia berpikir mungkin Manto hanya menebak saja. Dan kalaupun ia memang benar-benar tahu, pasti Tuan Felix yang sudah menceritakan semuanya.


"Bapak tidak mau menikah secepatnya?" tanya Manto.


"Saya kan baru belajar usaha. Masa sudah memikirkan menikah. Nanti fokus kerjanya malah menurun," ucap Rian.


Lagi-lagi Rian berbohong. Karena pada kenyataannya, ia memang ingin segera menikah dengan Riri.


"Loh, jangan salah. Saya menikah waktu masih kuliah loh. Dan buktinya lain. Saya malah dapat dukungan penuh dari istri. Apalagi saat lahir anak, duh semangatnya double-double. Rejekinya makin deras. Bukan ngalir lagi Pak, badai." Manto begitu bersemangat menceritakan kisah singkatnya.


"Masih kuliah?" tanya Rian terkejut.

__ADS_1


"Loh, memangnga kenapa?" Manto balik bertanya.


"Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak bisa membayangkan jika menikah saat aku maih kuliah," jawab Rian.


Manto pun menceritakan kisah hidupnya. Ia adalah alumni dari kampus yang sama dengan Rian. Namun saat kuliah, ia tertarik dengan seorang temannya yang juga sedang kuliah di sana. Karena keduanya kuliah dengan beasiswa, mereka memutuskan untuk menikah.


"Bapak menikah di Jerman?" tanya Rian.


Manto menceritakan kalau mereka menikah di Indonesia. Saat sedang libur kuliah, mereka pulang dan menikah. Saat itu memang orang tua istrinya yang sudah sakit-sakitan meminta anaknya untuk segera menikah. Bertemu dengan Manto, hal itu disambut dengan serius hingga akhirnya pernikahan itu berlangsung.


"Lalu kenapa Pak Manto tidak bekerja di Indonesia?" tanya Rian.


"Saat itu tawaran di luar lebih menjanjikan. Melihat situasi istri dan keluarga saya yang memang membutuhkan biaya, jadi saya pilih kerja di luar saja." Manto tersenyum mengingat kejadian itu.


Manto juga mengingatkan Rian untuk segera memantapkan tujuannya. Dari segi ekonomi. Rian jauh lebih mapan dibanding dengan keadaannya saat menikahi istrinya. Apa yang Rian takutkan sebenarnya.


Akhirnya karena merasa ada jalan, Rian pun curcol. Ia menceritakan kisah cintanya dengan Riri. Manto tidak sekepo Rian. Ia tidak banyak bertanya. Entah karena memang sifatnya yang lempeng atau justru karena is sudah tahu banyak hal tentang Rian dari Tuan Felix. Ia hanya memberikan semangat agar Rian tetap berjuang demi wanita pujaannya.


"Waduh, sudah semakin sore nih Pak. Sepertinya kita keasyikan bercerita. Boleh saya pulang sekarang?" tanya Manto.


Rian segera melihat pergelangan tangannya. Jam berwarna silver yang terlihat mahal itu memang menujukkan jam pulang. Bahkan sudah lewat sepuluh menit dari jam pulang.


"Astaga. Maaf ya Pak. Silahkan, silahkan pulang." Rian mempersilahkan Manto untuk pulang.


"Terima kasih banyak. File hari ini saya kirim ke email bapak. Sampai jumpa besok ya!" ucap Manto.


Rian terkejut saat melihat file yang dikirim Manto. Padahal mereka berbincang cukup lama. Tapi Manto berhasil menyelesaikan pekerjaan hari ini.


Meskipun aku dan Manto bekerja di satu ruangan yang sama, tapi Manto masih bisa tetap fokus. Hebat sekali orang itu. Aku masih kalah jauh.


Rian kini mengerti kenapa ia disimpan satu ruangan dengan Manto. Tidak ada ruangan khusus masing-masing. Untuk Tuan Felix, mereka bukan atasan dan bawahan. Tapi benar-benar partner. Meskipun Manto sempat menolak karena merasa tidak enak. Namun akhirnya Manto juga merasa nyaman dengan sikap dan kepribadian Rian.

__ADS_1


Selain itu, Tuan Felix juga tidak mau Rian sendirian. Dan seperti yang terjadi hari ini, Rian benar-benar merasa senang meskipun seharian berada di dalam kantor. Karena ia punya teman yang asyik dan tidak mengesampingkan pekerjaan.


Bagi Manto Rian adalah atasannya. Meskipun terkesan akrab, Manto tetap menjaga tutur kata dan sikapnya pada Rian. Ia tidak mau kepercayaan yang diberikan Tuan Felix disia-siakan begitu saja.


__ADS_2