
Rian memeluk ponselnya dengan kegirangan. Ia membayangkan hari itu tiba. Melihat wanita cantik itu di depan matanya. Ingin rasanya ia culik dan bawa kabur Riri dari Mr. Aric.
"Ah, mikir apa aku ini." Rian menepuk dahinya.
Rian menggelengkan kepalanya dan segera beristirahat. Besok pagi ia sudah membuat janji dengan Dion untuk pergi ke kantor barunya. Tidur nyenyak malam ini disponsori oleh kabar baik dari Riri, wanita pujaan hatinya.
Alarm biologis tercipta begitu saja. Rian bangun lima menit sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia segera ke kamar mandi dan bersiap. Sebelum keluar kamar, ia selfie dan mengirimkan foto itu pada dua orang sekaligus.
Ya, siapa lagi kalau bukan Tuan Felix dan Riri. Rian menunggu ponselnya berbunyi. Berharap salah satu dari mereka membalas pesannya. Namun sampai lima menit berlalu, ponselnya masih hening. Beberapa kali Rian melihat ponselnya. Hasilnya sama, tidak satupun pesan masuk ke ponselnya.
******* nalas berat Rian menandakan kekecewaan. Rupanya Rian tidak ingat kalau ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Jerman. Seharusnya ia sadar jika apa yang tengah keduanya lakukan akan sama dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Dengan wajah kusut Rian memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Kebiasaan buruknya adalah selalu mengacak rambut saat frustasi seperti ini.
"Om," panggil Naura sambil membuka pintu.
"Sudah siap sekolah?" tanya Rian.
"Om ganteng sekali," ucap Naura.
"Benarkah?" tanya Rian yang berbunga-bunga.
Entah sudah berapa tahun tidak ada yang memujinya tampan. Baru kali ini ia kembali mendapat pujian itu. Meskipun pujian itu datangnya dari seorang anak kecil, namun ia senang saat ada yang menayadari tampang kerennya. Lagi pula lebih bagus dipuji anak kecil, karena dia tidak mungkin berbohong.
"Iya. Om ganteng. Om mau kemana?" tanya Naura.
"Om mau ke kantor. Belajar untuk membiasakan diri. Kan Om harus kerja. Tapi tenang saja, Om pasti antar kamu dan Rendra ke sekolah." Rian mendekati Naura dan merapikan bedaknya yang agak berantakan.
"Pulangnya?" tanya Naura.
Rian tersenyum melihat wajah Naura yang ditekuk. Ia tahu kalau Naura lebih senang jika ia selalu ada untuk anak itu. Naura dan Narendra memang sudah semakin besar. Tapi baginya, mereka tetap menjadi anak kecil yang menggemaskan. Apalagi saat Naura memakai bedak dengan tidak rapi.
"Dijemput sopir dulu ya! Tapi nanti kalian boleh pulang ke kantor Om," jawab Rian.
"Om pulang dari kantor jam berapa?" tanya Naura.
"Jam empat," jawab Rian.
__ADS_1
"Yaaaah," ucap Naura kecewa.
"Om janji setelah pulang kantor, om ajak kalian jalan-jalan ya. Kalian mau kemana?" tanya Rian yang berusaha membujuk Naura agar tidak kecewa.
Naura menggelengkan kepalanya. Hari ini Naura tidak mau diajak jalan-jalan. Rupanya kekecewaannya pagi ini karena Rian tidak bisa mengantarnya ke pesta ulang tahun temannya.
"Naura, jangan sedih begitu. Kamu akan bertemu banyak teman-teman di sana. Kamu pasti akan tetap senang meskipun om tidak ikut," ucap Rian.
Tapi kan Naura jadi tidak bisa pamer kalau Naura punya om ganteng.
Naura masih cemberut sampai akhirnya Rian mengantarkannya ke sekolah. Beberapa bujukan sudah Rian usahakan. Tapi Naura masih cemberut. Rian tidak bisa apa-apa kecuali menyerah.
"Naura, memangnya kamu mau punya om pengangguran?" tanya Narendra sesaat sebelum Rian pamit.
Rian merasa tertolong dengan pertanyaan receh dari anak SD itu. Narendra menjelaskan kalau Rian bekerja agar bisa menghasilkan uang. Tentu saja ujung-ujungnya adalah mall dan mainan baru. Paling tidak, kini Naura tidak begitu marah padanya.
"Belajar yang semangat ya! Jangan nakal. Nanti kita bertemu di rumah," ucap Rian.
Naura mengangguk dan mencium tangan Rian, lalu melambaikan tangan. Narendra bergantian mencium tangan Rian dan berlari menyusul Naura.
"Kalian ini memang ada-ada saja," gumam Rian.
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja," ucap Rian.
"Tidak masalah Tuan," ucap wankta itu.
"Jangan panggil aku Tuan, panggil aku Rian saja." Rian tersenyum.
"Shelin," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, ya. A-aku Rian," ucap Rian gugup sambil membalas uluran tangan wanita itu.
Bukan gugup karena kecantikan wanita itu, namun ia hanya gugup dengan sikapnya. Kenapa jadi kenalan? Ah tiba-tiba saja ia merasa bersalah karena mengingat Riri.
Tuhan, jangan sampai kejadian ini seperti film-film yang pernah aku tonton.
Ya, Rian takut kalau seandainya perkenalan itu membawa mereka semakin akrab. Tentu Rian tidak menginginkan hal itu. Ia begitu mrnjaga hati Riri agar tidak kecewa karena tingkahnya.
__ADS_1
"Oh ya, Pak Rian mengantar anaknya ke sini?" tanya Shelin.
"Anak?" tanya Rian terkejut.
Rian meraba wajahnya. Ia berpikir setua itukah dirinya hingga dikira sudah memiliki anak SD?
"Oh maaf jika pertanyaan saya menyinggung bapak," ucap Shelin saat menyadari ketersinggungan Rian.
Menyinggung? Ya, Rian sangat tersinggung sebenarnya. Sebutan bapak yang ia terima seolah menguatkan dugaan Shelin kalau ia memang sudah memiliki anak SD.
"Ti-tidak masalah. Saya permisi," ucap Rian gugup.
Rian segera pergi setelah pamit pada Shelin. Ia tidak mau Shelin mengajaknya bercerita lebih banyak. Bayangan Riri terus memenuhi kepalanya saat Shelin berusaha mengajaknya mengobrol.
"Ah, akhirnya aku bisa lolos dari wanita itu." Rian merasa lega saat sudah masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat mobil itu berlalu meninggalkan sekolah untuk menuju kantor barunya. Parkiran luas di depan gedung mewah yang sudah jelas menjadi miliknya itu, membuat Rian kagum sendiri. Ia tidak percaya jika akhirnya ia memiliki kantor sebesar dan semewah itu.
"Rian," panggil Dion.
Dion nampak berdiri dengan seorang pria di dekat pintu masuk. Entah baru datang atau memang sengaja menunggunya di sana. Namun Rian segera berlari menemui Dion.
Salam hormat Rian tunjukkan pada dua pria yang ada di hadapannya. Rasa kagum terlihat jelas pada orang yang tengah bersama Dion itu. Dia adalah orang yang menangani kantor Rian hingga seperti ini.
"Wah, terima kasih banyak ya Pak atas kerja samanya. Saya sangat puas dengan kinerja bapak dan team. Saya juga yakin bapak adalah orang yang selalu bekerja keras dan totalitas," puji Rian.
Ah, Tuan berlebihan. Saya hanya mengerjakan apa yang seharusnya saya lakukan. Syukurlah kalau Tuan menyukai bahkan puas dengan hasil kerja kami," ucap orang itu.
"Jangan memanggilku Tuan. Panggil Rian saja," ucap Rian.
Orang itu tidak percaya dengan sikap Rian yang menurutnya terlalu merendah. Disaat banyak sekali orang yang gila pujian, Rian justru tidak ingin diperlakukan seperti itu.
Setelah obrolan itu selesai, Rian diajak mengelilingi kantor barunya oleh Dion. Sepanjang perjalanan, Rian mengamati dengan seksama satu per satu ruangan yang dilaluinya. Ya, sesuai dengan apa yang ia mau. Benar-benar hasil kerja yang bagus.
"Nanti setelah kamu mulai produktif di sini, kamu bisa sekalian tata ulang kantor ini kalau ada yang tidak sesuai." Dion memindahkan sebuah pahatan bentuk becak di meja kerja Rian.
Ucapan itu justru membuat Rian kembali merasa tidak enak. Ia bingung kenapa Dion harus memanggil orang lain untuk menata bangunan itu. Apa dia lupa kalau pemilik perusahaan itu juga seorang arsitek? Ah sudahlah. Apapun alasannya, Rian tidak mau hatinya kembali terluka. Ia tidak ingin pikiran buruknya mengacaukan semuanya.
__ADS_1
"Aku suka. Semua sudah tepat. Persis seperti keinginanku," ucap Rian.