Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
PLAK


__ADS_3

Setiap kali Riri menceritakan kegelisahannya pada Tuan Felix, ia selalu yakin jika saat ini fokusnya harus diubah. Untuk saat ini yang terpenting adalah kesiapan ayah kandungnya untuk menjadi wali. Sementara masalah dengan kakaknya bisa ia selesiakan setelah semuanya selesai.


Riri harus menyelesaikan dulu urusannya di Jerman sebelum pulang ke Indonesia untuk menikah. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan agar semua berjalan sesuai dengan rencananya.


"Semoga semua baik-baik saja," gumam Riri.


Waktu terus berjalan sementara urusan Riri masih belum selesai. Bahkan Tuan Felix sampai turun tangan agar semuanya selesai tepat waktu. Di negara yang berbeda mereka sibuk dengan urusan yang berbeda. Meskipun sebenarnya tujuan utama mereka sama, yaitu tentang pernikahan.


Sampai tiba waktunya Riri harus pulang ke Indonesia. Riri tidak sendiri, ia ditemani Tuan Felix. Rasanya sangat senang, kepulangan yang sudah sangat dinantikan itu akhirnya sudah di depan mata.


"Kamu sakit?" tanya Tuan Felix saat melihat Riri pucat.


"Tidak Pah. Mungkin karena karena kurang tidur saja," jawab Riri.


Keringat dingin memang terlihat beberapa kali menetes di pelipisnya. Membasahi wajahnya yang semakin pucat. Pertama kalinya ia akan bertemu dengan keluarganya. Lebih tepat, semua keluarganya.


"Jangan takut. Papa akan menemanimu," ucap Tuan Felix saat sudah sampai ke Indonesia.


Riri mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Felix. Tangannya yang basah karena tegang menyentuh tangan Tuan Felix.


"Papa serius?" tanya Riri.


"Iya. Kenapa?" Tuan Felix balik bertanya.


"Pah, terima kasih banyak. Maaf hanya saja aku tidak percaya jika Papa akan menemaniku bertemu dengan mereka," jawab Riri.


"Papa tahu kamu tidak siap menghadapi semua ini. Tapi kamu harus tahu, apa yang kamu lewati seharusnya sudah membuat bahumu kuat. Seharusnya hal-hal kecil seperti itu sudah tidak bisa membuatmu ketakutan lagi," ucap Tuan Felix.


Riri melepaskan tangannya dari Tuan Felix. Ia sadar jika ucapan Tuan Felix ada benarnya. Tapi ia juga tidak siap dengan kenyataan yang akan dihadapinya. Obrolan tentang pernikahan itu memang sudah terjadi. Namun pihak keluarga menolak pernikahan Riri yang dirasa terlalu mendadak. Apalagi diadakan sederhana. Karena yang mereka tahu Riri sudah menjadi seorang bos yang memiliki banyak uang.


"Kata mereka aku terlalu murah," ucap Riri sambil memalingkan wajah.


Tuan Felix mengamati jika Riri tengah menangis. Ia melihat Riri mengusap sudut matanya saat memalingkan wajah darinya. Perlahan ia menarik bahu Riri, membuat gadis itu menatap bola matanya.


"Mereka siapa?" tanya Tuan Felix.


"Ibu dan Kakakku. Paman dan bibi juga mengatakan hal yang sama," jawab Riri dengan mata yang berlinang.


"Lalu ayahmu?" tanya Tuan Felix.


"Papa merestui. Papa akan menjadi wali di pernikahanku nanti. Tapi mereka tidak mau menghadiri perniakahanku. Hanya Papa yang akan hadir," jawab Riri sambil menunduk menjatuhkan air mata yang sudah tidak sanggup ia bendung.


"Papa sayang sama kamu. Banyak yang sayang sama kamu. Apa yang membuatmu menangis? Karena mereka tidak hadir? Atau karena alasan mereka?" tanya Tuan Felix.


"Alasan mereka. Kenapa mereka masih saja menuhankan uang? Kenapa selalu saja uang menajdi prioritas utama?" tanya Riri kesal.


"Biarkan saja mereka tidak hadir dengan alasan itu. Karena nanti mereka akan menyesal. Pernikahanmu akan disiarkan live di televisi," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Hah?" tanya Riri dengan wajah tidak percaya.


Mulutnya yang menganga membuat Tuan Felix tertawa dan segera mengatupkan kembali mulut mungil itu.


"Nanti nyamuk sama lalat masuk," ucap Tuan Felix sambil tertawa.


Riri tidak berniat untuk tertawa sama sekali. Ia hanya fokus dengan ucapan Tuan Felix yang ia dengar. Informasi itu benar-benar membuatnya terkejut. Pasalnya Rian sama sekali tidak memberi tahu apapun. Ia hanya akan menyiapkan semuanya dengan sederhana.


"Benarkah?" tanya Riri.


"Duh, kejutannya gagal deh. Tapi Papa mohon jangan beritahu keluargamu ya! Papa hanya ingin melihat siapa yang benar-benar menyayangimu dengan tulus," jawab Tuan Feliz.


Riri mengangguk. Kejutan itu sungguh membuatnya tidak percaya. Tapi di sisi lain, ia juga merasa risih saat apa yang ia anggap sakral justru menjadi konsumsi publik. Namun ia juga sadar jika Rian adalah orang yang disorot. Apa yang akan mereka lewati tentu harus diketahui oleh publik.


"Ini karena ketakutan Mas Rian akan komentar buruk kan?" tanya Riri.


"Ini tidak masalah kan buatmu?" Tuan Felix balik bertanya.


"Tidak," jawab Riri sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua menuju rumah Riri. Di sana memang sudah ada keluarga Riri. Kedatangan Riri disambut hangat oleh ayahnya. Pelukan hangat itu membuat Riri menangis tersedu. Tidak lama ibunya mengahmpiri dan ikut memeluk Riri. Saat ini Riri merasa dunia sedang berpihak padanya.


"Mama dan Papa sehat?" tanya Riri sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Sehat," jawab mereka.


"Oh ya Ma, Pa, kenalkan ini Papa Felix. Beliau adalah keluargaku saat ada di Jerman," ucap Riri mengenalkan Tuan Felix.


Ayah dan ibunya Riri menyalami Tuan Felix. Obrolan ringan namun hangat terjadi diantara mereka bertiga. Sampai akhirnya Tuan Felix membahas tentang pernikahan Riri dan Rian. Tiba-tiba kakaknya Riri datang dan membuat suasana memanas.


"Ma, sudahlah. Tidak ada gunanya hadir di acara murahan seperti itu. Si Riri itu bodoh sekali. Dia sudah jadi bos. Calon suaminya katanya juga bos. Tapi nikahan seperti ketangkap hansip. Bikin malu," ucap kakaknya.


Riri sudah ingin membela diri. Namun Tuan Felix menahannya. Ia berusaha menjelaskan keadaan yang menjadi penyebab pernikahan itu diadakan secara sederhana.


"Tuh Ma. Apalagi alasannya karena hanya ingin menyenangkan hati seseorang aja. Nanti kalau orang itu mati gimana? Apa pernikahannya juga selesai?" ucap kakaknya.


"Astaga Kak. Tidak seperti itu. Kami memang saling mencintai dan akan menikah. Hanya saja pernikahannya dipercepat," ucap Riri.


Tiba-tiba sikap ibunya berubah. Wanita paruh baya yang awalnya begitu hangat tiba-tiba berubah. Ia menolak untuk menghadiri pernikahan itu. Bahkan berusaha untuk membatalkan pernikahan itu.


"Ma, jangan begitu. Sudah cukup Riri menderita selama ini. Biarkan Riri bahagia dengan pilihannya," ucap ayahnya.


"Pah, tapi Riri ini anak kita. Mama tidak yakin Riri akan bahagia jika pernikahannya saja asal-asalan begini," ucap ibunya Riri.


"Ma, jangan begitu. Pernikahan kita tidak asal-asalan. Aku sangat mencintai Mas Rian. Aku akan bahagia jika menikah dengan pria pilihanku," ucap Riri.


"Karena Mama tahu kamu sangat mencintai dia. Mama tidak mau kamu bodoh hanya karena cinta. Jangan mau dibodohi pria itu," ucap ibunya.

__ADS_1


"Ma, sudahlah. Riri ini bukan anak-anak. Dia bisa menentukan pilihannya sendiri," ucap ayahnya.


"Riri, menikah itu untuk membuat kita bahagia. Bahagia itu harus dengan uang. Jangan menuhankan cinta. Hidup tidak akan bahagia kalau hanya dengan cinta," ucap kakaknya.


"Cukup Kak. Aku sudah pernah kehilangan kebahagiaan saat itu. Dan kakak adalah penyebab kehilangan kebahagiaanku. Aku tidak akan kehilangan cintaku untuk kedua kalinya. Kalau kakak dan mama tidak mau datang, aku sama sekali tidak keberatan. Aku hanya butuh Papa," ucap Riri dengan nada gemetar.


Bukan hanya keluarga Riri, Tuan Felix juga terkejut dengan sikap Riri. Ia terlihat begitu berapi-api. Tidak pernah ia melihat Riri semarah itu.


"Berani kamu berkata seperti itu?" tanya kakaknya dengan nada yang jauh lebih tinggi.


"Apa alasanku tidak berani? Aku berhak untuk memperjuangkan kebahagiaanku," jawab Riri dengan nada menantang.


"Kamu ini memang sudah diatur. Kalau sudah menderita saja nanti baliknya ke siapa? Ke sini juga kan?" ucap kakaknya.


"Oh ya? Lalu kalau menurut Kakak harta bisa membuat kita bahagia, apa kabar kakak yang ternyata seperti ini? Beginikah definisi bahagia versi kakak?" ucap Riri dengan senyum sinis.


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Riri. Ia sama sekali tidak menghindar dari tamparan itu. Ia hanya kembali tersenyum sinis dan menyentuh pipinya yang terasa panas.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya ayahnya.


Ayahnya berusaha mengusap pipi Riri dan menenangkannya. Namun Riri melepaskan tangan itu dan tersenyum.


"Aku tidak apa-apa Pah," ucap Riri.


"Apa yang kakak kamu lakukan karena dia sayang padamu. Mengertilah," ucap ibunya.


"Terima kasih untuk tamparannya. Terima kasih untuk semuanya. Mama tidak perlu lagi membela dia. Aku sudah tahu apa dan siapa aku di sini. Permisi," ucap Riri. "Ayo Pah!" lanjutnya sambil menarik tangan Tuan Felix.


"Tunggu Ri," ucap ayahnya.


"Biarkan saja. Jangan ditahan kalau memang dia tidak bisa menerima kasih sayang keluarganya," ucap ibunya.


"Pergi saja! Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini," teriak kakaknya.


Riri menoleh. Dadanya sudah bergemuruh. Seandainya boleh, ia ingin sekali menutup mulut mereka dengan uang yang ia miliki saat ini. Tapi ia tidak bisa mengedepankan emosinya saat ini.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Tapi apapun yang terjadi, jangan pernah hubungi aku lagi dengan alasan apapun. Pintu maafku sudah tertutup untuk Kakak. Aku hanya bisa menerima Mama jika suatu saat Mama berubah. Walaupun aku tahu Mama tidak akan pernah berubah selama masih dibawah pengaruhmu," ucap Riri.


Tanpa mendengarkan ocehan dari kakaknya, Riri sudah kembali berlalu meninggalkan rumah itu. Genggamannya yang kuat pada Tuan Felix seolah meminta bantuan atas rasa sakit yang sudah menghujam terlalu dalam.


"Jangan menangis. Jangan menunjukkan kamu lemah di hadapan lawanmu. Tetaplah tersenyum," bisik Tuan Felix.


Riri berusaha mengikuti apa yang Tuan Felix katakan. Ia menahan air mata yang nyaris berjatuhan dari pelupuk matanya. Saat ia sudah semakin menjauh, ia melambaikan tangan dengan senyum sinisnya.


"Menangislah. Lawanmu sudah tidak ada. Tumpahkan semua rasa sedihmu sekarang sebelum nanti bertemu dengan Rian," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Riri segera menangis tersedu. Isak tangisnya membuat Tuan Felix membuka kacamatanya dan mengusap sudut matanya. Ia ikut sakit saat menyaksikan kejadian tadi.


"Kamu tidak kalah. Papa melihat kamu menang. Kamu menang Pus. Papa bangga padamu," ucap Tuan Felix.


__ADS_2