Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ayo cerita!


__ADS_3

Rian beristirahat sebentar. Ia memulihkan dirinya sebelum pulang. Riri sudah tidak menemaninya lagi. Ia berbaring sendiri dengan kepalanya yang memikirkan Riri terus menerus.


"Mpus pasti sedang ketakutan saat ini," gumam Rian.


Setelah merasa lebih segar, Rian segera mencari keberadaan Riri. Benar, Riri nampak menangis di depan ruang operasi. Matanya sudah sembab, sementara tangannya masih terus menyeka air mata.


"Pus," panggil Rian.


Tangannya menyentuh bahu Riri dan mengangkatnya yang tengah menangis duduk di lantai.


"Mas, Mr. Aric belum keluar. Bagaimana ini?" ucap Riri gemetar.


"Kamu tenang saja. Mr. Aric pasti akan baik-baik saja," ucap Rian.


Riri kembali memeluk Rian. Membenamkan wajahnya pada dada Rian dan menangis lagi. Rian mengusap kepala Riri. Menenangkan sahabatnya, meyakinkan Riri jika ia tidak sendiri.


Riri segera memburu Dokter saat pintu ruang operasi terbuka. Bertanya tentang keadaan Mr. Aric. Akhirnya Riri bisa mengusap dadanya setelah tahu Mr. Aric berhasil melewati masa kritisnya.


"Mas, terima kasih ya. Aku tidak tahu kalau tidak ada Mas," ucap Riri sambil tersenyum.


"Aku sudah bilang kalau kamu tidak sendiri. Tapi kamu masih ingat kan kalau kamu punya hutang padaku?" tanya Rian.


"Iya Mas. Nanti pasti aku jelaskan semuanya. Tapi tidak saat ini," jawab Riri.


"Kenapa tidak sekarang? Bukankah kamu bisa cerita sambil menunggu Mr. aric sadar?" tanya Rian.


"Nanti saja Mas. Aku ingin kita bercerita saat sedang di tempat yang lebih nyaman," jawab Riri.


"Oke," jawab Rian.


Meskipun Rian sangat penasaran dengan penjelasan Riri tentang hidupnya dan hubungannya dengan Mr. Aric, Rian berusaha sabar menunggu. Ia pulang setelah hari mulai gelap. Ia tidak ingin membuat Tuan Felix khawatir. Lagi pula, Riri sudah memintanya pulang sejak tadi. Ia tidak mau kalau Mr. Aric tahu Rian pendonor darah yang menyelamatkannya.


"Hati-hati ya Mas. Salam buat Papa," ucap Riri.


"Iya," ucap Rian sambil mengangguk.


Setelah sampai ke parkiran, Rian segera menghubungi Tuan Felix.


"Dari mana saja kamu?" tanya Tuan Felix marah.


"Pah, tenang dulu. Aku di rumah sakit. Ini baru mau pulang," jawab Rian.


"Di rumah sakit? Kamu kenapa? Sakit? Tabrakan?" tanya Tuan Felix panik.


"Pah, Pah, Pah, aku tidak apa-apa. Papa baik-baik saja. Papa tunggu di rumah nanti aku jelaskan ya!" jawab Rian.


"Ya sudah cepat. Jangan lama-lama," ucap Tuan Felix.


Rian segera memacu mobilnya. Bayangan Riri tergambar jelas di matanya. Bagaimana sedih dan tangis Riri saat Mr. Aric belum keluar dari ruang operasi. Rian juga ingat jelas bagaimana senyum Riri saat mendengar Mr. Aric sudah melewati masa kritisnya.


Beberapa kali Rian hampir menabrak. Fikirannya tidak fokus. Ia terus memikirkan Riri. Namun ia berusaha memfokuskan dirinya agar bisa mengemudi dengan baik. Sampai akhirnya Rian berhasil sampai di depan rumahnya. Tuan Felix sudah menunggunya di depan rumah dengan gelisah.


"Kamu kenapa? Tidak apa-apa kan?" tanya Tuan Felix sambil memutar tubuh Rian, memastikan jika Rian baik-baik saja.


"Pah, aku baik-baik saja. Sudah, aku pusing. Jangan diputar-putar begini," ucap Rian.

__ADS_1


"Terus kamu kenapa ke rumah sakit? Papa telepon tidak diangkat," tanya Tuan Felix.


"Mr. Aric Pah," jawab Rian.


"Mr. Aric? Dia dirawat?" tanya Tuan Felix tidak percaya.


"Iya Pah," jawab Rian.


"Tidak mungkin," ucap Tuan Felix sambil menggelengkan kepalanya.


"Kok tidak mungkin? Mr. Aric di operasi. Aku yang mendonorkan darahnya. Nih," ucap Rian sambil menunjukkan tangannya.


Tuan Felix memeriksa tangan Rian. Benar, ada bekas jarum di tangannya. Matanya memandang lekat pada Rian, menuntut penjelasan.


"Aku juga tidak tahu jelas Mr. Aric sakit apa. Riri dan dokter sama sekali tidak memberi tahuku tentang penyakit Mr. Aric. Hanya saja Mr. Aric sedang membutuhkan donor darah segera. Sementara stok di rumah sakit sedang kosong. Karena kebetulan sama denganku, aku mendaftarkan diri menjadi pendonor. Begitu," ucap Rian panjang lebar.


Rian nampak memperhatikan ekspresi Tuan Felix. Nampaknya Tuan Felix sedang mencerna penjelasan Rian yang sulit sekali ia percaya.


"Aku tidak bohong Pah," ucap Rian lagi.


"Ya, Papa percaya." Tuan Felix duduk dan diam.


"Memangnya apa yang membuat Papa tidak percaya?" tanya Rian.


Mr. Aric mungkin pernah terdengar sakit. Namun Tuan Felix tidak menyangka jika bisa sampai separah itu dan harus dioperasi. Selama ini, Mr. Aric selalu melakukan perawatan di rumah. Ia akan menyewa beberapa dokter spesialis di rumahnya untuk proses penyembuhan.


"Aku tidak menyangka jika Mr. Aric yang begitu kuat ternyata menyembunyikan penyakitnya yang serius," ucap Tuan Felix.


"Nanti aku cari tahu pada Riri ya Pah," ucap Rian.


"Tapi aku mau bertanya tentabg Mr. Aric. Apa dia pernah jatuh cinta?" tanya Rian.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Tuan Felix.


"Aku mau tahu ada hubungan apa antara Mpus dengan Mr. Aric," ucap Rian.


"Kamu ini kalau cemburu ya kira-kira dong," ucap Tuan Felix sambil meninggalkan Rian.


"Pah, Pah," panggil Rian mengejar Tuan Felix.


"Kamu kalau suka sama Mpus, logika kamu harus jalan." Tuan Felix menunjuk kepalanya sendiri.


"Pah, tapi Mpus kelihatan begitu sedih dan ketakutan. Apa Papa tidak curiga?" tanya Rian.


"Memangnya kalau Papa yang ada di ruangan operasi, kamu tidak akan sedih?" tanya Tuan Felix.


"Ya Papa kan jelas Papanya aku. Jadi aku pasti sedih," jawab Rian.


"Terus Mpus di sini punya siapa selain Mr. Aric?" tanya Tuan Felix.


"Tidak ada," jawab Rian.


"Kamu pikir kalau dia sendirian dia tidak ketakutan? Mikir," ucap Tuan Felix sambil pergi meninggalkan Rian yang masih berdiri mematung.


Rian masuk ke kamar dan mandi. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya memikirkan jawaban Tuan Felix.

__ADS_1


Kenapa aku bisa berpikiran sejahat itu pada Mpus? Maafkan aku Pus.


Rian menyesali pikiran buruknya pada Riri. Hal itu karena ia sudah termakan omongan Maudi tentang Riri. Maudi mengatakan jika Riri menjual diri. Hal itu membuat Rian sempat percaya karena Riri begitu takut kehilangan Mr. Aric. Ia mengira jika diantara mereka ada hubungan spesial.


Malam sudah berganti pagi. Rian menggeliat. Ia merasa tubuhnya pegal dan sangat lelah. Melihat jam yang menempel di dindingnya. Masih sangat pagi, namun rasa ngantuk sudah menghilang.


"Hari ini Mpus pasti tidak ke kampus. Apa aku ke rumah sakit lagi ya?" gumam Rian.


Rian mandi dan bersiap. Jadwal pagi membuatnya harus mengubur dalam-dalam rasa malasnya. Laptop dan beberapa tugas untuk hari ini sudah ia siapkan.


"Masuk pagi?" tanya Tuan Felix yang sudah menunggunya di ruang makan.


"Iya Pah," jawab Rian.


"Jangan lupa tanyakan keadaan Mr. Aric pada Mpus," ucap Tuan Felix.


"Iya. Nanti kalau ketemu Mpus aku tanyakan. Tapi sepertinya Mpus tidak akan masuk hari ini," ucap Rian.


"Ya sudah kamu cari dia ke rumah sakit," ucap Tuan Felix.


"Aku takut Mpus malah kena masalah kalau aku sering menemuinya," ucap Rian.


"Ya sudah terserahlah," ucap Tuan Felix.


Rian dan Tuan Felix berangkat dengan mobil yang berbeda dan arah yang berbeda. Rian yang sudah yakin jika Riri tidak akan masuk, nampak terkejut saat melihat Riri duduk di bebangkuan dengan buku di tangannya.


"Pus," panggil Rian.


"Mas," ucap Riri sambil menutup bukunya.


"Aku mengganggumu?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Riri tersenyum.


"Kamu masuk hari ini? Terus bagaimana dengan Mr. Aric?" tanya Rian.


"Mr. Aric yang memintaku untuk masuk. Ia tidak mau kalau aku ketinggalan materi kuliah terlalu lama," jawab Riri.


"Terus Mr. Aric?" tanya Rian.


"Mr. Aric sudah pulang. Sudah ada dokter dan perawat yang mengobservasi," jawab Riri.


"Sudah pulang?" tanya Rian.


"Iya, Mr. Aric ingin segera pulang dan dirawat di rumah saja," jawab Riri.


"Kapan kamu mau bayar hutangmu?" tanya Rian.


"Aku cicil sekarang ya!" ucap Riri.


"Ya ampun, dikira tukang kredit kali ah." Rian menggelengkan kepalanya.


"Dari pada tidak aku bayar sama sekali?" tanya Riri.


"Ya sudah iya. Ayo cerita!" ucap Rian.

__ADS_1


__ADS_2