Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Semua membaik


__ADS_3

Hal pertama yang dilakukan Rian adalah menelepon Tuan Felix. Telepon darinya bersambut rasa haru dan bahagia dari Tuan Felix.


"Pah, maafkan aku." Rian benar-benar menyesal.


"Tidak perlu minta maaf. Papa mengerti. Bagi Papa, kamu sudah kembali adalah hal yang paling penting," ucap Tuan Felix.


Satu hubungan sudah diperbaiki. Rian bahkan meminta saran untuk pertunangannya. Ia masih bingung untuk bertahan dengan Shelin atau kembali mengejar Riri.


"Papa hanya akan mendukung semua keputusanmu. Papa yakin kamu bisa menentukan kebahagiaanmu sendiri. Hanya satu yang harus kamu ingat, kalau kebahagiaan itu kamu yang ciptakan. Kamu tidak akan bahagia kalau kamu sendiri tidak menciptakannya," ucap Tuan Felix.


"Apa aku bisa?" tanya Rian.


"Tentu kamu bisa," jawab Tuan Felix.


"Caranya?" tanya Rian.


"Banyak-banyak bersyukur," jawab Tuan Felix.


Bersyukur? Ya saat ini mungkin ia kurang bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Ia masih berharap untuk memiliki Riri padahal sudah ada Shelin di sampingnya.


"Gimana kabar Mpus pah?" tanya Rian.


Tuan Felix menjawab dengan santai apa yang ia tahu tentang Riri. Rupanya Riri sama sekali tidak pernah berniat mengganggu Tuan Felix. Menurutnya, Rian sudah memilih jalannya dan berbahagia. Meskipun sempat sakit dan kecewa, namun Riri sudah merelakan pilihan Rian.


"Apa dua sudah punya pacar lagi?" tanya Rian.


Mulutnya memang berkata untuk tidak mencari tahu apapun tentang Riri. Tapi pada kenyataannya ia penasaran dengan status Riri saat ini. Berharap mendengar jawaban yang membuatnya kecewa agar ia bisa sedikit melupakan Riri. Namun ternyata tidak sesuai harapan. Riri masih sendiri dan fokus dengan pekerjaannya.


Dia masih setia. Dia tidak mudah menggantikan aku. Sedangkan aku? Aku sudah sangat jahat menyakiti hatinya. Tapi ini sudah terjadi. Yang harus aku lakukan sekarang adalah jangan sampai ada hati yang tersakiti lagi. Shelin tidak pantas merasakan sakit untuk semua ketulusannya.


"Ri, Rian. Apa kamu masih di sana?" tanya Tuan Felix saat Rian tidak berkomentar apapun.


"Ya, aku di sini Pah." Rian berusaha mengalihkan pikirannya tentang Riri.


"Papa tahu ini langkah sulit untukmu. Tapi percayalah, Papa akan selalu mendukungmu. Apapun pilihan hidupmu. Jangan takut! Kamu tidak sendiri," ucap Tuan Felix.


Rian senang dengan ucapan Tuan Felix yang bisa menenangkan hatinya. Ia yakin dengan pilihannya sekarang. Shelin harus bahagia. Dia yang memilihnya maka dia yang akan bertanggung jawab.


Setelah panggilan dengan Tuan Felix selesai, Rian mencoba menghubungi Shelin. Namun nomor ponsel Shelin tidak aktif. Malam ini Rian menghubungi semua orang yang sudah mengkhawatirkannya. Menenangkan mereka semua karena ia baik-baik saja.


Mia bahkan sampai menangis saat mendapat telepon dari Rian. Ia pikir Rian masih marah dan tidak akan memaafkannya. Sebegitu besar rasa sayang Mia yang penuh dengan ketulusan. Tapi sayangnya Rian sempat mengecewakannya.


"Aku sayang sama Kakak," ucap Rian.


Kalimat yang Mia tunggu selama ini. Selama Rian berubah dan tidak Mia kenali lagi. Akhirnya Rian kembali. Ia kembali menjadi Rian, orang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.


"Jangan pernah berubah lagi Ri," ucap Mia.


Rian berjanji akan selalu menjadi Rian yang Mia inginkan. Ia juga minta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia perbuat. Hubungan mereka pun sudah membaik.


Sampai larut malam, Rian mencoba menghubungi Shelin lagi. Namun sampai saat ini Shelin masih belum bisa dihubungi. Karena lelah, Rian merebahkan tubuhnya. Dengan senyum yang mengembang, Rian nampak memejamkan matanya. Ia merasa tenang setelah beberapa beban di hatinya perlahan menghilang. Kini tugasnya hanya satu, Shelin. Dan ia akan segera menyelesaikannya.


Malam ini Rian tidur dengan nyenyak. Ia terbangun sesuai alarm yang sudah ia setting sejak semalam. Ia mandi dan bersiap. Semangatnya sudah kembali.

__ADS_1


"Pagi Pak," sapa Rian dengan penuh semangat.


"Pagi Pak," ucap Manto dengan menunduk hormat.


Manto tersenyum senang melihat Rian yang lebih bersemangat. Wajahnya sudah tidak kusam lagi. Kini Rian terlihat lebih berseri meskipun kumis dan rambutnya belum sempat ia rapikan.


Siang ini Rian makan siang dengan menu yang sudah ia pesan pada Sindi malam tadi. Obrolan hangat pun terjadi saat jam istirahat dan itu membuat Manto merasa sangat senang. Akhirnya Rian yang ia kenal sudah kembali.


Hari ini Rian segera pulang saat jam kerjanya sudah usai. Ia harus pergi ke salon sebelum menemui Shelin. Ia benar-benar merapikan diri sebelum mengunjungi rumah calon istrinya itu.


"Selamat sore," sapa Rian saat masuk ke rumah itu.


Sapaan lembut dan senyum Rian membuat Shelin dan kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain. Bibir mereka masih basah saat membahas Rian yang sudah lama tidak mengunjungi mereka.


"Masuk Nak!" ucap ibunya Shelin.


Rian mencium punggung tangan kedua orang tuan Shelin bergantian. Ia juga tersenyum ramah dan hangat pada Shelin. Senyum yang sudah cukup lama tidak Shelin lihat akhir-akhir ini.


"Mau minum apa?" tanya ibunya Shelin.


"Tidak usah repot-repot bu. Air putih saja," jawab Rian.


Mereka mengobrol hangat tentang banyak hal. Namun orang tua Shelin sama sekali tidak membahas tentang perubahan Rian. Seolah mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Rian selama ini. Ah, sebenarnya mereka memang tidak tahu. Karena Shelin menutup rapat semua yang tidak mengenakkan itu. Shelin tidak mau orang tuanya ikut merasa kecewa dan sakit hati.


"Ibu dan ayah istirahat dulu ya!" ucap ayahnya Shelin.


Mereka memang sengaja memberi waktu untuk Rian dan Shelin bicara berdua. Mereka juga pernah muda. Rian pasti canggung saat ada mereka di sana. Meskipun begitu, ibunya Shelin mengamati mereka dari kejauhan. Karena mereka tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Kenapa kamu diam saja? Masih marah padaku?" tanya Rian.


"Tidak," jawab Shelin singkat.


Shelin tidak langsung senang dan tenang. Ia masih khawatir kalau Rian datang hanya untuk mengakhiri hubungannya secara baik-baik. Karena sebelumnya ia meminta Rian untuk datang ke rumahnya menjelaskan akan dibawa kemana hubungan mereka.


"Aku ingin memperbaiki semuanya," ucap Rian.


Shelin menatap Rian. Ia menyelidiki kalimat itu dengan berhati-hati. Apakah ia tidak salah mendengar? Ataukah itu hanya sebuah kiasan saja?


"Lalu Riri?" tanya Shelin pelan.


Shelin tidak mau jika orang tuanya tahu tentang ini. Cukup hanya mereka berdua yang menyelesaikan semuanya. Shelin cukup dewasa untuk berusaha menyelesaikan semua masalahnya sendiri.


"Sudahlah. Dia hanya masa laluku," ucap Rian.


"Tapi masih ada yang belum tuntas kan? Tuntaskan dulu," ucap Riri.


"Semuanya sudah selesai. Dia hanya masa lalu," ucap Rian.


Hatinya bergemuruh saat mengucapkan kalimat itu. Batinnya berperang saat mulutnya berusaha meyakinkan Shelin. Ah tidak, bukan hanya meyakinkan Shelin, tapi ia juga sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia mengingatkan dirinya bahwa masa depannya adalah Shelin, bukan Riri lagi.


"Apa kamu yakin?" tanya Shelin.


"Apa kamu tidak percaya?" Rian balik bertanya.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu," ucap Shelin penuh keyakinan.


Rian tersenyum dan mengecup punggung tangan Shelin. Ia melihat wajah cantik itu berseri memerah. Cantik, meskipun wajah Riri selalu membayangi setiap pandangannya. Namun Rian selalu berusaha menepis semua masa lalunya itu.


Rian pamit setelah malam mulai menyapa. Ia kembali ke rumah kontarakannya. Rencananya malam ini ia akan mengemas barang-barangnya dan kembali ke rumah Tuan Wira.


Namun sesampainya di sana, ia melihat dirinya dari pantulan cermin. Ia menghela napas panjang dan duduk di tepi ranjang. Berat rasanya berusaha merupakan sesuatu yang mungkin tidak bisa ia lupakan.


Melupakan Riri tidak semudah melupakan Maudi. Saat pertama kali ia patah hati, Riri dengan mudah menjadi obat untuk dirinya. Tapi kali ini, kehadiran Shelin pun belum bisa mengobati luka hatinya.


Riri terlalu spesial di hatinya. Wanita itu sangat berarti. Unik dan selalu membuatnya rindu. Kepolosannya yang selalu membuat Rian yakin jika wanita itu benar-benar tulus. Semua perjuangan Riri untuk bertahan hidup di sana membuat Rian harus mengakui jika Riri adalah wanita hebat.


Dan sekarang ia duduk termenung menyesali semua keputusannya. Meninggalkan wanita yang nyaris sempurna hanya karena keegoisannya. Tapi semua sudah terjadi. Langkahnya sudah terlalu jauh. Tidak mungkin ia mundur begitu saja. Ia harus tetap melangkah.


Ketukan pintu membuat Rian tersadar dari lamunannya. Ia segera membuka pintu dan melihat Rina berdiri di ambang pintunya.


"Mau apa?" tanya Rian.


"Kamu baik-baik saja kan?" Rina balik bertanya sambil menatapnya bingung.


"Aku baik-baik saja. Sudah sana pergi," ucap Rian.


"Dih, ngusir. Jahat banget," ucap Rina.


"Kamu pasti ke sini mau mengejek aku lagi kan?" tuduh Rian.


"Buruk sangka," jawab Rina.


Rina cemberut sambil melangkah pergi meninggalkan rumah Rian. Rian mengamati kepergian Rina dengan kerutan di dahinya. Batinnya terus menduga apa yang kira-kira terjadi pada Rina.


"Rin," panggil Rian yang berlari menyusul Rina.


"Kamu kenapa ngikutin aku? Sudah sana pulang saja," ucap Rina.


"Ya ampun begitu aja marah. Ya sudah aku minta maaf. Kamu kenapa?" tanya Rian.


Biasanya Rina selalu menjadi pendengar yang baik untuk Rian. Namun kali ini terbalik. Rian giliran menjadi pendengar yang baik karena Rina tengah bercerita.


"Terus kenapa kamu nangis?" tanya Rian.


Rina mengangkat wajahnya dan memukul Rian.


"Kok jadi marah sama aku?" tanya Rian.


"Kamu ini jadi orang kok tidak peka. Aku kan jadi kesal," ucap Rina.


"Bukan tidak peka. Aku hanya tidak mengerti kenapa kamu menangis? Apa hubungannya calon suami kamu yang habis kontrak dan pesta pernikahan?" tanya Rian.


"Astaga Rian! Kamu ini kelamaan jadi orang kaya. Gak bisa mikir susah," jawab Rina.


"Loh kok begitu sih ngomongnya?" tanya Rian.


"Ya kamu sih," ucap Rina kesal.

__ADS_1


"Aku cuma mau tahu jawabannya. Kamu tinggal jelasin dan jangan marah-marah," ucap Rian.


__ADS_2