
Riri menarik napas saat akan menceritakan semua deritanya pada Rian. Ini adalah pertama kalinya. Hatinya berdebar tidak menentu. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menahan air matanya atau tidak.
"Mas mau mulai dari mana?" tanya Riri.
"Dari awal," jawab Rian antusias.
"Terlalu panjang Mas. Tidak akan selesai selama seminggu," ucap Riri.
"Ya sudah terserah kamu saja," ucap Rian tidak sabar.
"Ya harus jelas dong. Mas mau tahu soal apa dulu," ucap Riri.
"Aku mau tahu semuanya. Ayo cerita!" ucap Rian.
"Tidak bisa begitu dong Mas. Aku kan bingung mulainya dari mana," ucap Riri.
"Astaga Mpus, apa saja tentang kamu. Ayo ceritakan padaku!" ucap Rian.
"Yang mana?" tanya Riri.
Rian menghela napas panjang dan sangat dalam. Rasanya ia sudah sangat jengkel dengan Riri yang tidak kunjung bercerita.
"Ada hubungan apa antara kamu dengan Mr. Aric?" tanya Rian dengan serius.
Pertanyaan Rian membuat Riri mengerutkan dahinya.
"Majikan dan pembantu. Seperti yang Mas tahu," jawab Riri.
"Lalu mengapa kamu terlihat begitu ketakutan saat Mr. Aric masih di ruang operasi? Kamu sampai menangis terus-terusan. Bahkan kamu terlihat sangat bahagia saat Mr. Aric sudah melewati masa kritisnya," ucap Rian.
"Kalau Mr. Aric meninggalkanku, siapa yang peduli dengan hidupku? Masa depanku? Mau jadi apa aku tanpa Mr. Aric?" tanya Riri.
Rian diam. Jawaban Riri memang sama persis dengan dugaan Tuan Felix. Tidak ada hubungan spesial kecuali majikan dan pembantu. Tapi mengapa ekspresi Riri pada Mr. Aric terlihat berlebihan bagi Rian?
"Apa kamu mencintai Mr. Aric?" tanya Rian tiba-tiba.
Riri menatap Rian dengan tatapan tajam. Lalu tertawa sinis.
"Apa itu cinta?" ucap Riri sambil mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.
Rian menatap ekspresi Riri yang terlihat aneh. sepertinya ada sesuatu yang Riri sembunyikan.
__ADS_1
"Kamu tidak pernah jatuh cinta?" tanya Rian.
"Cintaku sudah hilang. Rasaku sudah mati. Aku hanya memiliki asa yang tinggi untuk membuktikan jika aku bisa. Itu saja," jawab Riri.
"Hilang? Mati? Sejak kapan?" tanya Rian.
"Sejak dia menikahi kakakku sendiri," jawab Riri dengan mata yang berlinang.
"Kamu punya pengalaman buruk tentang cinta?" tanya Rian.
Riri menunduk. Ia mulai menangis. Perlahan isak tangisnya mulai terdengar semakin nyata. Rasa sakit itu semakin nampak seiring air mata Riri yang terus mengalir deras.
"Kamu bisa cerita padaku. Semuanya. Kamu cerita saja," ucap Rian.
"Aku tidak pernah peduli dengan cinta. Aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku. Hanya itu saja," ucap Riri dengan suara bergetar.
"Ya, aku yakin kamu bisa mewujudkan semua cita-citamu. Aku tahu kamu wanita kuat dan hebat," ucap Rian menggenggam tangan Riri.
Riri segera melepaskan tangan Rian dan mengusap air matanya hingga benar-benar kering.
"Mas, maaf ya aku terlalu cengeng. Aku ke kelas dulu ya!" ucap Riri.
"Tidak. Kamu tidak cengeng. Kamu kuat. Oke, masuklah ke kelas. Cicilanmu sampai sini dulu. Nanti aku tagih cicilan selanjutnya ya!" ucap Rian sambil tertawa.
Rian hanya tersenyum dan mengangguk. Ia berusaha menyembunyikan penolakannya atas permintaan Riri. Rasanya biar ia saja yang mengantar Riri pulang setiap hari. Masih banyak yang ingin ia cari tahu tentang kehidupan sahabatnya itu.
Selama berada di kelas, Rian masih memikirkan Riri. Ia menjadi takut jika ia mengalami hal yang sama dengan Riri. Bagaimana jika ternyata Maudi benar-benar menikah dengan Rey? Apakah Rian juga tidak akan merasakan cinta lagi seperti Riri?
"Kenapa?" tanya Rey menepuk bahu Rian saat melihat Rian bergidik.
"Eh, tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Rian gugup.
"Aku harap kita seperti dulu lagi. Kalau ada apa-apa kamu cerita padaku," ucap Rey penuh harap.
Ya. Semenjak Rey berhubungan dengan Maudi, Rian memang tidak lagi terlalu dekat dengan Rey. Ia memberi jarak yang begitu nyata diantara keduanya. Tapi tunggu dulu! Rey bilang apa? Seperti dulu? Bagaimana bisa seperti dulu, sementara sampai saat ini Rey masih bersama Maudi.
"Aku tidak apa-apa Rey," jawab Rian.
Beruntung dosen masuk saat Rey akan memaksa Rian untuk bercerita padanya. Paling tidak hari ini ia merasa aman dari introgasi Rey.
Setelah selesai materi kuliah, Rian buru-buru merapikan laptopnya dan bergegas pulang.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Rey.
"Ada urusan," jawab Rian.
"Soal Riri?" tanya Rey.
"Ah, ada deh." Rian segera berlari menghindar dari Rian.
Baru saja Rian akan menghampiri Riri, mobil mewah sudah nampak menjemputnya. Rian hanya bisa menatap Riri dari kejauhan. Riri bahkan tidak menyadari kehadirannya yang tengah memperhatikannya.
"Mpus, masih banyak cicilan yang harus kamu bayar. Tadi baru cicilan pertama. Aku pasti akan tagih cicilan kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai aku tahu betul apa yang kamu alami selama hidupmu," gumam Rian.
Rian yang sejak dulu merasa menjadi manusia paling sedih di dunia ini, kini merasa kalau penderitaannya itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Riri.
Dengan rasa ingin tahu yang masih membelenggu, Rian menginjak gas hingga akhirnya mobil terparkir tepat di depan rumah mewah Tuan Felix. Masih terlalu siang, Tuan Felix belum sampai ke rumah. Rian hanya menyimpan laptop dan berganti pakaian.
Taman belakang adalah pilihan tepat saat kepala Rian terasa sangat sakit. Secangkir teh hangat menemani suasana hatinya yang tengah gelisah. Cerita menyeramkan Riri, membuat kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan Maudi.
Rian takut Maudi juga akan menjadi penyebab ia kehilangan cintanya. Sampai saat ini Rian belum bisa mengganti posisi Maudi di hatinya. Namun ia memang mengakui jika akhir-akhir ini ia tidak terlalu sakit saat melihat Maudi bersama Rey.
Tidak munafik, sebenarnya rasa kecewa dan kesal itu masih ada. Namun tidak sebesar dan sesakit dulu. Rian tidak menyadari. Entah itu karena waktu yang sudah membuatnya terbiasa, atau justru kehadiran Riri yang membuat bayangan Maudi semakin bias dalam kepalanya.
Kini yang Rian takutkan bukan lagi sakit karena kehilangan Maudi. Tapi ia takut trauma yang membuat Rian seperti Riri. Saat ini Rian juga tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil. Apakah harus merebut Maudi kembali dari Rey, atau justru membuang bayangan Maudi sejauh mungkin.
"Ah, tidak mungkin. Aku tidak mungkin menemukan wanita seperti Maudi. Wanita yang katanya jahat dan bukan wanita baik, tapi hatiku masih tetap berharap dengan wanita itu. Bagaimana ini?" gerutu Rian sambil mengacak rambutnya yang mulai panjang.
Rian meraih gelas yang berisi teh hangat itu. Meniupnya sebentar lalu menikmati tegukan demi tegukannya. Hangat dan menenangkan. Rian lebih tenang saat ini. Matanya ia pejamkan dan mengatur napas dengan baik.
Dering ponsel membuat mata itu terbuka. Dengan malas Rian merogoh saku celananya. Saat melihat nama Mia, Rian segera bersemangat.
Rian menceritakan apa saja yang ia lalui selama beberapa hari ini saat mereka tidak sempat saling bicara. Kesibukan Mia membuat Rian harus menahan rasa gelisahnya sendirian.
Topik tentang Riri memang masih hangat yang Mia terima. Sebagai seorang Kakak yang baik, Mia hanya bisa mengangguk dan mengiyakan setiap aduan dan kegelisahan adiknya itu.
"Aku rasa kamu sudah mulai mencintai Riri," ucap Mia tiba-tiba.
Rian yang sedang meneguk teh hangat langsung tersedak. Ia terkejut dengan respon Mia terhadap ceritanya. Bukan. Bukan itu yang Rian inginkan. Lalu kenapa Mia membahas tentang semua itu?
"Kakak ini apa-apaan sih," ucap Rian sambil mengelap bibir dan dagunya.
"Setiap kamu cerita, biasanya hanya Maudi yang kamu bahas. Tapi kali ini, bahasan tentang Riri hampir lima puluh persen dengan bahasan Maudi. Kamu mau pilih mana? Maudi atau Riri?" tanya Mia.
__ADS_1
"Mereka hanya temanku. Tidak lebih," jawab Rian.