
Malam ini Rian mendapat introgasi dari Tuan Felix. Ya, mungkin karena beberapa panggilan dari ayah angkatnya itu ia abaikan. Padahal Tuan Felix meneleponnya saat sudah jam pulang kerja. Rian terbata menjawab apa yang ada di kepalanya.
Berusaha menutupi apa yang terjadi sebenarnya, sampai akhirnya semua terbongkar juga. Rian memang tidak bisa berbohong ada Tuan Felix.
"Jadi kamu merekomendasikan Danu?" tanya Tuan Felix.
"Pah, dibalik semua masalah pribadi perlu diakui kinerja Kak Danu itu memang sangat bagus. Aku bisa menjamin itu," ucap Rian.
"Oh ya? Lalu bagaimana dengan Dion? Apa kamu tidak memikirkan masalah yang akan terjadi nanti?" tanya Tuan Felix.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi nanti. Yang aku lakukan sekarang adalah mencoba bicara dengan Kak Dion dan semuanya baik," ucap Rian.
"Syukurlah kalau begitu. Papa hanya tidak ingin ada masalah di sana," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," ucap Rian.
Tuan Felix memang masih khawatir dengan keadaan Dion dan Mia setelah Danu masuk ke perusahaan Rian. Tapi ia yakin jika Rian bisa mengatasi semuanya. Dion dan Mia juga pasti bisa menyikapi semua ini.
Malam ini Rian tidur dengan kegelisahan yang menyelimuti hatinya. Beberapa kali ia terbangun karena pikirannya terpusat pada hari esok. Danu memulai harinya dengan perusahaan Rian besok pagi.
Aduh, besok gimana ya?
Rian terbangun dan duduk di sofa. Perlahan tangannya mulai mengetik, menceritakan semua kegelisahannya pada Riri. Hanya kepada Riri ia selalu berani menceritakan semuanya.
Rian memang selalu mengetik, setidaknya Riri tidak terganggu. Kalau Riri sedang tidak bekerja, ia pasti selalu menghubunginya. Sama halnya seperti saat ini. Riri meneleponnya dan menemaninya. Saran2 dari Riri memang selalu mempengaruhinya. Ia bisa mengambil tindakan dengan saran yang diberikan Riri.
"Terima kasih sudah menemani malamku," ucap Rian sesaat sebelum mengakhiri panggilan itu.
Setelah mendengar suara Riri, hatinya mulai tenang. Apalagi kalimat2 Riri yang selalu meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Hal itu membuat Rian bisa tidur nyenyak malam ini.
Paginya Rian bangun sebelum alarm di ponselnya bangun. Ia segera mandi dan bersiap. Pakaian yang sudah disiapkan sejak semalam segera ia pakai. Di depan cermin, ia mengamati wajahnya.
Rambutku sudah tidak rapi. Kumisku juga sudah mulai berantakan.
Terlalu sibuk hingga Rian tidak terlalu menyadari perubahan penampilannya. Ia membuka laci dan mengambil pisau cukur. Membuang habis kumisnya. Sementara untuk rambut, ia hanya merapikannya dengan sisir. Meskipun tidak menutupi rambutnya yang sudah tidak pendek lagi.
"Naura kemana?" tanya Rian saat berada di ruang makan.
"Naura di kamar," jawab Nyonya Helen.
"Belum siap ke sekolah?" tanya Rian.
"Naura sakit," jawab Narendra.
"Sakit apa?" tanya Rian panik.
"Sakit hati diselingkuhin pacarnya," jawab Narendra.
"Rendra, jangan begitu." Nyonya Helen menatal Narendra tajam.
__ADS_1
Peringatan dari Nyonya Helen agar Narendra tidak selalu mengatai saudara kembarnya seperti itu. Naura memang menangis saat pulang sekolah kemarin. Menurut Narendra, Naura menangis karena melihat siswa sekelasnya itu sedang dekat dengan siswi lain.
Sementara Nyonya Helen tidak mau mendengar penjelasan itu. Karena pada kenyataannya Naura demam dan pucat.
"Itu karena Naura tidak mau makan. Dia kepikiran sama pacarnya," ucap Narendra.
"Rendra, berhenti bicara yang tidak-tidak." Nyonya Helen yang kesal sampai menggebrak meja.
Narendra terkejut. Matanya berlinang. Ia tidak menyangka jika Nyonya Helen akan melakukan hal ini padanya. Dengan cepat Narendra berdiri dan berlari. Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.
Suasana di ruang makan sangat tidak nyaman. Hal ini membuat Rian diam. Ia bingung harus bersikap apa. Ia hanya bisa melihat Tuan Wira berdebat dengan Nyonya Helen.
"Mama kenapa sih? Rendra juga cucu Mama," ucap Tuan Wira dengan nada tinggi.
"Tapi Rendra selalu bilang seperti itu. Mama tidak suka. Naura itu masih kecil. Kenapa harus selalu pacar, pacar, pacar yang dibahas? Dia bisa mencari bahasan lain. Pusing Mama dengar ocehan Rendra," ucap Nyonya Helen.
Perdebatan masih belum berakhir. Keduanya terus bertahan dengan argumennya masing-masing. Sementara Rian memilih untuk meninggalkan ruang makan dan menemui Narendra.
"Rendra, Om boleh masuk?" tanya Rian sambil mengetuk pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban. Rian mencoba kembali mengetuk pintu kamarnya. Namun sayang nya masih tidak ada jawaban. Rian akhirnya membuka pintu kamar Narendra meskipun tidak ada jawaban dari keponakannya itu.
"Rendra, maafkan Oma ya. Oma tidak bermaksud seperti itu. Oma hanya belum siap melihat Naura tumbuh semakin dewasa," ucap Rian.
"Memangnya Oma tidak tahu kalau aku juga takut kehilangan Naura. Sekarang Naura berubah Om. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan pacarnya yang selingkuh itu dibanding denganku," ucap Narendra.
Rian memahami maksud Narendra. Ia tersenyum senang saat melihat kepedulian Narendra pada Naura. Bagaimanapun, apa yang Narendra lakukan hanya karena rasa sayangnya. Mungkin hanya cara menunjukkannya saja yang berbeda.
"Iya Om," ucap Narendra.
Rian mengantar Narendra ke sekolah. Tapi sebelum itu, ia mengajak Narendra untuk masuk ke kamar Naura. Melihat keadaannya. Sempat menolak, tapi Rian berhasil membuat Narendra masuk ke kamar Naura.
"Rendra khawatir padamu," ucap Rian.
"Benar kah?" tanya Naura.
Narendra menggeleng. Tidak ingin melihat Naura kecewa, Rian terus menggoda Narendra sampai akhirnya mereka berdua sudah baikan.
"Aku sekolah dulu ya!" ucap Narendra.
"Iya," ucap Naura dengan senang.
"Jangan lupa makan dan minum obat," ucap Narendra.
"Siap," ucap Naura dengan senyum yang semakin lebar.
Ada rasa bahagia tersendiri saat melihat Narendra kembali perhatian padanya. Naura bahkan memeluk Narendra sebelum berangkat sekolah.
Di jalan, Rian mengingatkan Narendra untuk menjaga sikap di hadapan Naura dan Nyonya Helen.
__ADS_1
"Mereka itu wanita. Kita harus mengerti bahwa mereka sensitif," ucap Rian.
"Mereka egois. Mau menang sendiri," ucap Narendra.
"Tapi mereka sangat lembut dan sayang sama kamu," ucap Rian.
Narendra hanya diam, berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Rian. Ia selalu meyakinkan Narendra kalau laki-laki yang mengalah itu bukan berarti kalah dan lemah. Justru karena dia hebat dan berani mengalahkan egonya.
Setelah memastikan Narendra membaik, Rian pergi ke kantor. Gelisah saat melihat jam yang terus bergerak maju dengan cepat. Padahal ini adalah hari pertama Danu masuk kantor.
"Kak Danu sudah ke sini?" tanya Rian saat sampai ke kantor.
Manto mengangkat wajahnya.
"Sudah Pak. Pak Danu sudah saya antar ke ruangannya," ucap Manto.
"Apa dia bertanya kenapa saya belum dampai di kantor?" tanya Rian.
"Tidak. Sepertinya Pak Danu orang yang santai dan tidak mau terlalu tahu urusan orang lain," jawab Manto.
" Ya sudah aku ke ruangan Kak Danu dulu ya!" ucap Rian.
Rian mengetuk pintu ruangan Danu. Saat membuka pintu, ia melihat Danu berdiri dan membungkuk hormat.
"Jangan begitu Kak. Aku ini Rian," ucap Rian merasa tidak enak.
"Bapak adalah atasan saya. Sudah seharusnya saya menghormati Bapak," ucap Danu.
"Ya ampun Kak, jangan begitu. Aku adalah adik Kak Sindi. Masa Kakak bersikap kaku begitu padaku?" tanya Rian.
"Di luar, Anda adalah orang yang dekat dengan istri saya. Tapi di kantor, Anda adalah atasan saya. Biarkan saya bersikap profesional," ucap Danu.
Haruskah seperti ini? Rian yang tidak terbiasa dibuat tidak enak dengan sikap Danu yang berlebihan menurutny. Namun pada akhirnya Rian percaya jika itu hanya sebuah perofesionalitas saja. Karena saat pulang, Rian mengikuti Danu ke rumahnya.
Sikap hangat Danu sangat berbeda dengan sikap formalnya saat di kantor. Kedatangan Rian disambut hangat oleh Sindi dan anaknya. Dandi yang sudah beberapa kali dengan Rian, kini sudah terlihat akrab. Entah karena Dandi yang memang butuh sosok teman. Atau justru Rian yang memang sangat menyukai anak kecil.
"Om tidak tidur di sini?" tanya Dandi saat Rian pamit.
"Kapan-kapan ya!" jawab Rian.
Jawaban yang tidak pasti namun disambut penuh harapan oleh Dandi.
"Ri," panggil Sindi.
"Iya Kak," jawab Rian.
"Terima kasih," ucap Sindi sambil tersenyum lebar.
"Aku sudah bosan mendengar kata itu. Sudahlah Kak, ini hanya jalan takdir saja. Kita bahagia sama-sama ya," ucap Rian.
__ADS_1
Setelah Rian pulang, keduanya bernostalgia mengingat semua kenangan mereka saat tinggal di rumah Nyonya Helen. Senyum itu terukir di bibir mereka masing-masing. Rasa syukur karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik kembali membuat mereka yakin jika jalan Tuhan itu memang yang terbaik.