
Tuan Wira mengantarkan Naura dan Narendra ke kelasnya. Ia memastikan jika kedua cucunya baik-baik saja. Setelah menunggu di sana beberapa waktu, ada telepon. Rekan bisnisnya menghubunginya dan memintanya bertemu sekarang.
Dilema antara harus menemui rekan bisnisnya itu atau tetap menunggu kedua cucu kesayangannya itu. Namun saat Narendra memberinya kode untuk segera pergi, akhirnya ia mengambil keputusan untuk pergi.
"Nanti Opa jemput lagi ya!" ucap Tuan Wira pelan.
Narendra yang ada di dalam kelas hanya mengangguk. Ia tidak ingin membuat Tuan Wira khawatir padanya. Semua karena ulah saudara kembarnya. Siapa lagi kalau bukan Naura. Tapi di sisi lain ia juga senang melihat cara Naura peduli padanya.
"Jangan menangis," ucap Narendra sambil mengusap punggung Naura.
"Mana yang sakit?" tanya Naura.
"Naura, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Narendra.
"Kalau ada yang sakit jangan lupa bilang ya!" ucap Naura.
Untuk pertama kalinya Naura duduk di samping Narendra. Hal ini tentu mencuri perhatian dari teman sekelasnya. Banyak yang merasa iri dengan hubungan adik kakak yang terjalin diantara mereka.
Hal yang paling aneh adalah saat Narendra terlihat begitu dekat dengan Naura. Padahal biasanya ia jarang sekali terlihat mengobrol dengan Naura. Apalagi perhatian seperti ini.
Tidak lama, guru masuk dan membawa kertas soal. Setiap siswa mendapat dua kertas. Satu kertas soal, satu lagi kertas untuk jawaban. Naura beberapa kali melihat Narendra yang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di mejanya.
Naura takut kalau Narendra masih sakit dan tidak bisa menulis. Ia berinisiatif untuk membantu saudara kembarnya itu untuk menulis. Tapi Narendra menolak dan meyakinkan Naura bahwa Narendra bisa sendiri.
Saat sedang mengerjakan soal, sesekali Narendra melihat ke arah Naura. Ia begitu terharu saat meluhat Naura begitu menyayanginya. Bahkan saat ulangan saja, Naura terus menangis.
"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa," bisik Narendra saat melihat Naura menangis.
Naura mengangguk dan tersenyum. Tapi ia masih saja menangis. Semakin lama tangisannya semakin terdengar. Narendra segera mengusap punggung Naura.
"Sudahlah. Ayo kerjakan ulangannya. Fokus saja. Kamu lihat kan kalau aku tidak kenapa-kenapa. Naura, aku baik-baik saja." Narendra terus meyakinkan Naura tentang keadaannya.
"Tapi aku menangis bukan karena khawatir keadaanmu," ucap Naura sambil terisak.
"Terus kamu nangis kenapa?" tanya Narendra.
"Aku lupa jawabannya soal nomor dua, nomor lima dan nomor tujuh," jawab Naura sambil mengusap pipinya.
Narendra memalingkan wajahnya dan menepuk dahinya. Antara kesal dan ingin tertawa. Padahal ia sudah begitu terharu melihat tangisan Naura. Tapi akhirnya ia harus kecewa karena jawaban Naura diluar ekspektasinya.
Ulangan berlangsung sesuai waktu yang sudah ditentukan. Naura menangis semakin keras saat guru sudah selesai mengambil semua jawaban ulangan dan meninggalkan kelas.
__ADS_1
"Naura, sudahlah malu. Ayo kita ke kantin," ajak Narendra.
"Tidak mau," ucap Naura.
"Sudahlah Naura, aku yakin nilai kamu pasti tetap bagus kok." Narendra berusaha menenangkan saudara kembarnya.
"Tapi aku tidak mengerjakan tiga soal," jawab Naura.
Narendra menggelengkan kepalanya saat sulit menghadapi tangisan Naura. Tangisan itu berhenti saat teman sekelasnya memberikan permen berbentuk love untuk Naura.
"Terima kasih," ucap Naura manja.
Narendra mengangkat salah satu sudut bibirnya melihat tingkah Naura yang menurutnya tidak lucu sama sekali. Ia tidak suka saat teman sekelasnya itu selalu mendekati Naura dan memberinya beberapa jajanan.
"Aku bilangin Mama dan Papa," ucap Narendra sambil pergi meninggalkan Naura.
Naura tidak terpengaruh oleh sikap Narendra. Ia hanya sedang sangat senang saat teman sekelasnya itu menghiburnya. Seketika perasaannya mulai membaik. Sementara Narendra terus menggerutu tentang sikap adiknya yang menyebalkan.
Kali ini Narendra makan di kantin sendirian. Ia tidak ditemani Naura. Padah tadinya ia ingin mengajak Naura makan bareng di kantin. Tapi kedatangan teman sekelasnya itu membuat semuanya gagal. Ia makan sendiri.
Narendra melihat jam dinding di kantin sekolah. Ia buru-buru menghabiskan makanan dan minuman yang ia pesan. Setelah lima menit, ia pun kembali ke kelas karena sebentar lagi sudah jam masuk kelas.
"Kembali ke kursimu. Aku bisa menjaga Naura," ucap Narendra.
"Jangan begitu. Dia kan teman kita," ucap Naura membela teman laki-lakinya itu.
"Hussst, jangan banyak protes." Narendra dudun di samping saudara kembarnya yang nampak cemberut kesal.
Saat jam pulang, Narendra berjalan lebih dulu keluar kelas. Naura yang tahu kalau Narendra sedang marah padanya segera berlari menyusul.
"Rendra, tunggu!" teriak Naura.
Narendra yang masih kesal tidak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan dan masuk ke dalam mobil saat Tuan Wira sudah menunggunya.
"Kok manyun begitu? Kenapa?" tanya Tuan Wira.
Narendra mengabaikan pertanyaan Tuan Wira dan memilih menatap keluar jendela. Ia bungkam karena tidak mau membahas Naura lagi.
"Aduh, cape. Rendra mana?" tanya Naura dengan napas terengah-engah.
"Di dalam," jawab Tuan Wira.
__ADS_1
Naura segera masuk dan terus membujuk Narendra yang masih saja manyun.
"Hey, sudah. Kalian ini kenapa?" tanya Tuan Wira.
"Tuh Rendra manyun terus," jawab Naura sambil ikut cemberut.
Narendra tidak komen sama sekali. Ia masih tetap bungkam. Hal itu membuat Tuan Wira menyalahkannya.
"Dia biang keroknya," ucap Narendra kesal.
"Loh, kok aku sih?" tanya Naura.
"Kamu masih kecil sudah pacaran," jawab Narendra ketus.
"Pacaran?" tanya Tuan Wira terkejut.
Rasanya jantungnya hampir copot. Bagaimana mungkin cucunya yang selalu ia anggap anak kecil sudah pacaran.
"Masih pakai seragam merah putih," gumam Tuan Wira sambil menggelengkan kepalanya.
"Gak, gak. Naura gak pacaran Pah. Dia teman sekelas," ucap Naura sambil terus menggelengkan kepalanya.
"Teman sekelas kok begitu," ucap Narendra.
"Apaan sih. Kamu jangan mengadu yang tidak-tidak. Nanti aku adukan kamu ke Om Rian," ucap Naura.
"Adukan sana. Om Rian juga harus tahu kalau kamu sudah pacaran," ucap Narendra.
"Dia teman sekelas, bukan pacarku." Naura berteriak.
Narendra dan Tuan Wira hanya menutup telinganya dengan kedua tangannya. Teriakan Naura memang selalu cetar dan mrmbuat telinga sakit.
"Sudah diam. Ayo kita pulang!" ajak Tuan Wira.
Keduanya diam. Mereka saling bungkam dan menyimpan unek-unek yang siap diadukan pada Rian. Sempat ingin diantar ke kantor Rian, namun ditolak oleh Tuan Wira. Ia tidak mau jika kedua cucu kesyangannya itu terbiasa mengganggu jam kerja Rian.
"Bagaimana pelajaran hari ini?" tanya Tuan Wira.
"Sangat buruk," jawab Narendra dan Naura hamoir bersamaan.
Tuan Wira menggelengkan kepalanya saat menghadapi keduaya bersitegang.
__ADS_1