
Saat semalaman Tuan Felix tidak bisa tidur, Manto juatru tidur lebih awal. Lelah badan dan pikiran membuatnya tidur nyenyak sesaat setelah tubuhnya berada di atas ranjang. Apalagi saat fasilitas yang disediakan Tuan Felix untuknya sangat membuatnya nyaman.
"Hoaaaam," Manto menutup mulutnya saat ia menguap.
Manto menggeliat dan membuka matanya perlahan. Ia meraba ponsel yang semalam sempat dimainkannya sebentar. Namun pas melihat ponsel, ini masih terlalu malam. Manto kembali tidur. Ia harus memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Ada kasus besar yang harus ia hadapi saat ini.
Bunyi alarm langsung membuat matanya terbuka. Ia memang sudah harus bangun dan segera bersiap untuk menghadapi hari ini. Setelah selesai mengenakan pakaian rapi dan membawa beberapa berkas serta laptop, Manto keluar kamar.
Manto mengedarkan pandangannya saat merasa rumah itu sepi. Ia melihat pergelangan tangannya. Biasanya diwaktu ini Tuan Felix sudah duduk di ruang makan dan menyambutnya. Namun kali ini tidak ada tanda-tanda jika Tuan Felix sudah keluar kamar.
"Lebih baik aku sarapan duluan," gumam Manto.
Saat sedang makan, beberapa kali Manto melihat ke sekitar. Sarapannya hampir selesai namun masih belum terlihat tanda-tanda ad orang yang keluar dari kamar.
Berkali-kali Manto melihat pergelangan tangannya. Seharusnya ia sudah berangkat sekarang. Tapi Tuan Felix masih belum datang dan sarapan. Akhirnya Manto memberanikan diri untuk mencari tahu keadaan Tuan Felix.
"Tuan," panggil Manto sambil mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Sampai dua kali panggilanny masih diabaikan. Manto mulai mengerutkan dahinya. Ia mulai menduga kenapa Tuan Felix tidak seperti biasanya. Ada keraguan saat harus pergi ke kantor tanpa Tuan Felix. Bukan tidak berani, tapi ia tidak mau bertindak tanpa ada perintah. Apalagi ia harus memastikan keadaan Tuan Felix sebelum meninggalkan pria itu sendirian.
Manto berusaha menunggu sampai sepuluh menit. Lagi-lagi ia masih berusaha untuk memanggil Tuan Felix. Meskipun ia masih belum mendapat jawaban. Sampai akhirnya Manto berusaha membuka pintu kamar Tuan Felix.
"Tuan, maaf ya saya harus membuka pintu kamar Anda. Saya harus memastikan jika Anda baik-baik saja," ucap Manto.
Tidak lama Manto segera membuka pintu kamar Tuan Felix. Awalnya ia berpikir jika pintu itu akan dikunci. Namun nyatanya tidak. Kamar itu terbuka dan tidak dikunci sama sekali.
Dari ambang pintu Manto menatap Tuan Felix yang masih tertidur. Tangannya memegang ponsel yang kini disimpan di atas perutnya. Manto sudah menduga apa yang terjadi pada Tuan Felix semalam.
"Tuan, maaf. Saya izin masuk. Saya harus memastikam jika Anda baik-baik saja," ucap Manto.
Perlahan Manto masuk ke kamar Tuan Felix. Ia melihat jika perut Tuan Felix masih kembang kempis. Ia lega saat tahu jika Tuan Felix baik-baik saja. Manto duduk dan mengambil sebuah buku kecil dari tasnya.
"Tuan, saya berangkat ke kantor duluan. Maaf jika saya lancang masuk ke kamar Anda. Saya hanya khawatir dengan keadaan Anda. Saya juga tidak bisa menunggu Anda untuk berangkat ke kantor. Rencana yang sudah kita susun harus segera direalisasikan. Saya mau semua masalah ini segera selesai. Saya sudah tidak tega melihat Anda bergelut dengan kerinduan di setiap waktu."
Surat itu ia simpan di atas meja, sementara ia segera pergi ke kantor. Kedatangn Manto yang hanya seorang diri tentu mengundang banyak pertanyaan. Namun Manto sudah menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyan yang datang padanya.
__ADS_1
Manto sibuk memantau setiap aktivitas orang yang bekerja di kantor itu. Matanya menatap tajam setiap gerak gerik orang yang tampil di cctv. Nyaris tidak ada yang mencurigakan. Sampai akhirnya Manto mengetahui satu orang baru yang masuk dalam listnya.
"Ini masih belum selesai. Masih ada orang lain yang terlibat. Berapa banyak sebenarnya mereka?" ucap Manto sambil mengeryitkan dahinya.
Pandangan Manto beralih pada ponselnya. Panggilan dari Rian membuatnya mengabaikan rekaman cctv itu sebentar. Ia harus menenangkan dulu Rian yang panik karena ponsel Tuan Felix tidak aktif.
"Tuan Felix belum bangun saat saya pergi ke kantor, Pak. Tadi saya lihat ponselnya sedang dipegang meskipun Tuan Felix sedang tidur," ucap Manto.
Manto juga menjelaskan jika kemungkinan Tuan Felix ketiduran sampai ponselnya mati. Ia menduga jika Tuan Felix melihat foto Rian dan yang lain untuk mengobati rasa rindunya. Rian tentu sangat terharu mendengar ucapan Manto. Meskipun ucapan itu belum tentu benar seratus persen, namun Rian cukup senang dengan kemungkinan yang Manto ucapkan.
"Pak, gimana kasusnya?" tanya Rian.
Saat tahu jika kasus itu masih belum selesai, Rian merasa sangat sedih. Artinya Tuan Felix akan lebih lama di Jerman. Padahal ia dan Riri sudah sangat merindukan kedatangan Tuan Felix di rumah itu.
"Gimana Mas?" tanya Riri dengan sangat antusias.
Rian hanya menggeleng. Ia tahu betul jika suaminya sedang menjawab hal yang sangat tidak ia harapkan. Tapi apa boleh buat. Masalah itu terlalu besar dan tidak bisa dianggap enteng. Semua harus berjalan sesuai rencana.
"Mas sabar ya! Aku yakin Pak Manto bisa bantu Papa kok. Aku yakin masalah ini akan cepat selesai," ucap Riri.
Sebenarnya bukan hanya Rian yang sedang gelisah. Riri pun merasakan hal yang sama. Tapi ia harus berusaha tenang agar Rian tidak panik dan sedih. Riri memeluk Rian. Berharap pelukannya bisa menenangkan suaminya. Namun apa yang Riri lakukan disalah artikan oleh Rian.
Bahkan saat pakaian atasnya sudah tidak tersisa. Ia hanya menelan salivanya saat sentuhan demi sentuhan membuatnya begitu melayang. Rian yang sampai saat ini masih belum mendapatkan haknya sebagai suami, tiba-tiba meraba bagian itu.
Dahinya mengernyit saat ia merasakan lekukan itu nyata di tangannya. Tidak ada lagi bantalan tebal yang mengganjal di sana. Lagi-lagi Rian yang penasaran harus memastikan apa yang ia lihat itu dengan mata dan kepalanya sendiri.
"Bulannya sudah pulang?" bisik Rian.
Riri yang sedang merasakan kenikmatan tiba-tiba membuka matanya saat mendengar pertanyaan Rian.
"Bulan apa?" tanya Riri bingung.
"Kan kemarin katanya datang bulan. Terus sekarang si bulan sudah pulang ya?" tanya Rian.
Riri mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang dari kemarin?" ucap Rian dengan senyum nakalnya.
"Baru juga aku bersih-bersih tadi," ucap Riri.
Ternyata Rian sudah tidak peduli dengan ucapan Riri. Ia hanya sedang berusaha menimmati apa yang menjadi haknya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama.
Meskipun Rian belum pernah melakukan ini sebelumnya, tapi sebagai pria dewasa ia tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Darahnya sudsah berdesir. Napasnya kian memburu. Apa yang ada di hadapannya nampak sangat menggoda.
Kriiiing.. Kriiiing..
Dering ponsel membuat Rian harus bergegas mematikan ponselnya. Bahkan saat ia belum melihat nama si pemanggil.
"Sia-pa?" tanya Riri terbata.
Rian belum menghentikan gerakan tangannya. Hal itu membuat Riri masih terbuai dalam kenikmatan yang disuguhkan suaminya.
"Tidak tahu," jawab Rian.
Saat proses pemanasan sudah cukup, Rian segera mempersiapkan diri untuk pertempuran yang sesungguhnya. Ia harus mendapatkan haknya saat ini juga.
"Siap ya Pus," bisik Rian.
"Pelan-pelan," ucap Riri.
"Siap. Kamu tenang saja," ucap Rian.
Wajah sumringah Rian ternyata tidak berlanjut. Haknya harus kembali dipending saat Nyonya Helen memanggilnya dan mengetuk pintu kamarnya.
"Mama, kenapa harus ganggu sih? Duh, pending lagi." Rian menepuk dahinya.
Sementara Riri hanya diam dan segera memakai kembali pakaiannya. Ia segera ke kamar mandi untuk menyelamatkan diri. Sementara Rian terpaksa harus membuka pintu dan bersiap menjawab pertanyaan diluar dugaannya.
"Ada apa Ma?" tanya Rian saat membuka pintu.
Wajah lesu Rian membuat Nyonya Helen menanyakan keberadaan Riri. Saat tahu jika Riri sedang di kamar mandi, Nyonya Helen memberikan pertanyaan yang membuat Rian ternganga.
__ADS_1
"Mama tidak mengganggu kan? Kalian sudah beres kan?" tanya Nyonya Helen.
Rian yang cukup lama membuka pintu kamarnya, diperkuat dengan keberadaan Riri yang kini tengah di kamar mandi. Belum lagi keadaan kasur yang berantakan membuat Nyonya Helen mengambil kesimpulan sendiri atas dugaannya. Sementara Rian hanya bisa menahan malu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.