Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Berita duka


__ADS_3

Merasa gelagat Riri sudah berbeda, Rian sengaja membahas tentang Shelin. Ia ingin Riri mengakui perasaan cemburunya.


"Dia sekarang sudah bahagia sama Hiro. Aku senang kalau melihat dia bahagia begitu," ucap Rian.


"Oh," jawab Riri.


Rian menahan tawa saat mendengar tanggapan Riri yang begitu dingin. Ia bisa merasakan kecemburuan Riri padanya. Masih belum puas membuat Riri mengaku, Rian kembali membahas tentang Shelin.


"Halo, halo," ucap Rian.


Rian menatap layar ponselnya. Panggilan Riri sudah berakhir. Tidak lama Riri mengirim sebuah pesan padanya. Riri mengatakan jika ponselnya lowbat. Ia menyeringai membaca pesan itu.


Alasan klasik baginya. Rian sangat paham jika Riri hanya mencari alasan saja. Riri pasti sengaja karena tidak mau mendengar cerita apapun tentang Shelin. Alasan lowbat juga bermaksud agar Rian tidak meneleponnya saat ini.


"Dia masih sangat mencintaiku. Aku tahu itu. Kamu pasti cemburu, Pus. Aku suka," ucap Rian sambil berguling memeluk ponselnya.


Rian merasa hidupnya sudah kembali normal. Semangat hidupnya benar-benar sudah mulai tertata lagi. Tujuan hidupnya semakin jelas. Meskipun ia masih belum tahu kapan waktu yang selama ini ia nantikan.


Ponsel Rian kembali berdering. Tuan Wira yang belum mendapat kabar jika Rian pulang ke rumah kontrakannya merasa cemas. Akhirnya kecemasan itu sirna saat tahu jika Rian baik-baik saja.


"Papa Wira sekilas terlihat cuek. Padahal sangat perhatian. I Love you Pah," gumam Rian.


Malam ini Rian melupakan sejenak pekerjaannya. Ia tidur dengan nyenyak setelah mendapat respon dari Riri. Penantian dan kesabarannya selama hampir dua tahun terjawab sudah. Kini sudah mulai terlihat titik terang setelah sekian lama redup bahkan nyaris gelap gulita.


Alarm di ponselnya membangunkan Rian. Tangannya meraba sekitar mencari benda pipih itu. Rian menggeliat lalu menguap. Ia bangun dan segera ke kamar mandi. Sebelum berangkat ke kantor, ia segera mengirim pesan untuk Riri.


Perbedaan waktu antara Indonesia dan Jerman membuat Rian sudah terbiasa dengan pesannya yang tidak langsung direspon. Masih ada satu jam sebelum jadwalnya ke kantor. Ia memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan pekerjaan kantornya.


Baru saja semangat itu membara untuk bekerja, namun Rian mengurungkan niatnya. Charger laptopnya ketinggalan di kantor. Ia lupa kalau kemarin laptopnya sudah lowbat.


Niatnya kini berubah. Ia memainkan ponsel. Sebuah aplikasi media sosial dibukanya. Sudah cukup lama ia tidak menggunakan aplikasi itu. Beberapa fitur baru sudah digunakan dalam aplikasi yang tengah ia gunakan itu.


Saat asyik, Rian dibuat terbelalak saat melihat berita yang mengejutkan. Ia mengucek matanya dan kembali melihat ponsel itu. Memastikan berita yang ia baca itu benar atau tidak.


"Astaga. Hoax bukan sih ini?" gumam Rian sambil memegang dadanya.


Rian segera menghubungi Hiro untuk memastikan berita itu. Namun sayangnya Hiro tidak menjawab panggilannya. Ia segera bersiap dan pergi menuju rumah Hiro. Ia harus memastikan berita itu benar atau tidak.


"Mau kemana? Masih pagi," tanya Rina setengah berteriak.


"Ada urusan," jawab Rian sambil melambaikan tangan dan pergi dengan tergesa-gesa.


"Mau kemana lagi dia?" tanya suami Rina.

__ADS_1


Rina hanya menggeleng. Ia juga tidak tahu kemana Rian akan pergi. Baru saja kemarin sore Rian datang ke rumah itu dengan wajah ceria. Tiba-tiba pagi ini Rian keluar dengan wajah cemas. Sempat khawatir dengan keadaan Rian, tapi ia yakin kalau Rian pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.


Rina dan Rian sudah tidak seakrab dulu lagi. Sangat jarang pesan yang masuk dari Rian setelah Rina menikah. Mungkin Rian tidak mau membuat suami Rina tidak nyaman dengan keakraban mereka.


Memang benar dugaan Rina, Rian sengaja menjaga jarak karena takut suaminya tidak nyaman dengan kedekatan mereka. Sebagai seorang laki-laki, ia sangat mengerti perasaan suami Rina.


Ah Rian menepis pikirannya tentang Rina. Ia kembali fokus ke jalanan setelah mendengar bunyi klakson di belakang mobilnya. Ia tidak sadar jika lampu merah sudah berganti lampu hijau beberapa detik yang lalu.


"Iya, iya. Sabar pak sabar. Ini saya jalan," gerutu Rian pelan.


Saat sampai ke rumah Hiro, sudah berjajar karangan bunga yang mengucapkan bela sungkawa. Hati Rian bergetar. Ada rasa sedih yang menyelinap dalam hatinya.


"Ya Tuhan, ternyata ini bukan hoaks." Rian memejamkan matanya dan memegang dadanya.


Rian turun setelah tubuhnya tidak gemetar lagi. Ia masih tidak percaya melihat nama Maudi tertulis jelas pada karangan bunga yang berjejer di depan rumah Hiro.


Mata Rian kembali dibuat membulat sempurna saat melihat Shelin dan kedua orang tuanya ada di sana. Langkah Rian tertahan. Kepalanya berpikir ulang untuk melanjutkan langkahnya atau justru putar arah dan pergi dari sana.


Hubungan Rian dan Shelin memang sudah membaik. Namun respon kedua orang tua Shelin padanya sedikit berbeda sejak kejadian itu. Bukan tidak mau menerima konsekuensi atas kesalahannya. Namun Rian tidak mau mengundang masalah baru dalam keadaan berduka seperti ini.


Saat ia akan kembali ke dalam mobilnya, ia melihat beberapa wartawan yang fokus dengan kameranya. Beruntung Rian menggunakan hoodie dan kacamata. Kedatangan Rian lolos dari intaian kamera para wartawan.


Rian memutuskan untuk pergi ke kantor. Ia datang setelah Manto selesai memarkir Mobilnya. Manto yang tidak sadar akan kedatangan Rian, pergi berlalu dengan menjinjing tas laptop di tangannya.


Selesai memarkir mobilnya, Rian berteriak memanggil Manto. Orang yang dipanggil segera menoleh dan menunggunya. Ia berlari menghampiri Manto.


"Bapak baca berita gak?" tanya Rian.


"Berita yang mana Pak?" Manto balik bertanya.


Rian mengeluarkan ponselnya dan mencari berita tentang Maudi.


"Yang ini," jawab Manto sambil menunjukkan ponselnya.


Manto menatap layar ponsel yang disodorkan Rian dengan kerutan di dahinya. Ia memang membaca berita itu. Tapi karena ia tidak terlalu mengenal Maudi, ia menyikapinya biasa saja.


"Iya saya baca Pak. Memangnya kenapa?" tanya Rian.


"Ini berita sebenarnya gimana sih Pak?" Rian malah balik bertanya.


"Beritanya?" tanya Manto bingung.


"Iya," jawab Rian sambil mengangguk.

__ADS_1


"Ya begitu Pak. Kata beritanya kan begitu," ucap Manto.


"Jadi bener meninggal?" tanya Rian memastikan.


"Katanya begitu," jawab Manto.


"Ih Pak Manto ini katanya-katanya terus. Jadi belum tahu juga berita kebenarannya?" tanya Rian.


"Tidak. Saya kan hanya baca sesuai artikel yang beredar Pak," jawab Manto.


Rian pamit dan meninggalkannya. Manto masih bingung dengan sikap Rian yang begitu cemas dengan berita itu. Ia mengingat-ingat apa hubungan antara Rian dengan Maudi. Ah tiba-tiba Maudi ingat bahwa Maudi adalah wanita yang sempat menjadi masa lalu Rian.


"Apa Pak Rian belum move on ya?" gumam Manto.


Manto segera menepis segala pikirannya tentang Rian yang panik dengan berita itu. Ia menuju ruang kerjanya karena tidak enak jika Rian sudah menunggunya di sana.


Saat pintu ruangan terbuka, mata Manto mengedar ke seluruh sudut ruangan. Pandangannya tidak menangkap sosok Rian di sana. Ia yajin jika Rian sedan ke ruangan Danu dan bertanya tentang hal yang sama.


Dan dugaan Manto memang benar. Rian sedang bertanya tentang berita duka itu kepada Danu. Danu yang tidak tahu apa-apa hanya menggeleng saja.


"Masa tidak tahu sih Kak?" tanya Rian.


"Saya bahkan tidak membaca berita itu," jawab Danu.


Rian menghempaskan napasnya kasar. Ia tidak berhasil mendapat informasi dari Manto dan Danu. Sebenarnya Rian tahu jika berita itu bukan hoax. Karangan bunga yang berjejer dengan tulisan duka sudah menjawab pertanyaan Rian. Namun ia masih berusaha mendapat jawaban yang ia inginkan. Ia berharap Maudi masih hidup dan berita itu hanya hoax belaka.


Hubungan Rian dan Maudi memang tidak pernah baik-baik saja, setelah mereka memutuskan untuk menyudahi ikatan cinta diantara keduanya. Namun bagaimanapun, Maudi masih sangat muda. Ia tidak menyangka jika Maudi akan pergi secepat itu.


Rian kembali ke ruangannya. Sudah ada Manto yang menyambutnya di sana. Ia hanya membalasnya dengan senyum yang dipaksakan. Senyumnya kembali terukir saat sebuah pesan dari Riri masuk ke ponselnya.


Dengan cepat Rian menghubungi Riri. Orang yang sedang dimabuk asmara itu tidak menganggap keberadaan Manto. Ia asyik berbicara melepas rindu dengan Riri. Sementara Manto hanya berusaha fokus sambil sedikit mencari tahu siapa yang membuat Rian menjadi sangat ceria setelah cemas pagi ini.


Mendengar nama Mpus disebut oleh Rian, Manto ikut tersenyum. Ia turut senang saat melihat Rian begitu ceria. Manto yang tahu kalau penantian Rian sudah berakhir ikut terharu melihat kebahagiaan Rian saat ini.


Padahal baru beberapa menit lalu Manto berpikir jika Rian masih mencintai mantannya yang baru saja meninggal itu. Namun kini ia yakin kalau perasaan Rian hanya untuk Riri. Tentu ia tidak meleewatkan berita ini. Dengan cepat berita ini sampai ke telinga Tuan Felix.


Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Tuan Felix. Bahkan pria keturunan Jerman itu membuka kacamatanya dan mengusap sudut matanya. Ia terharu dengan mendengar kabar itu.


"Akhirnya kebahagiaanmu sudah datang, Ri. Jangan lepaskan Mpus lagi. Papa yakin dia adalah sumber kebahagiaan kamu," gumam Tuan Felix.


Kembalinya Riri dengan Rian membawa perubahan besar. Semangat Rian benar-benar membara. Ia sering pulang lebih malam dibanding Manto dan Danu. Bahkan saat ini Rian sedang mempelajari kelemahan perusahaan besar. Ia menginginkan kerja sama dengan perusahaan itu.


Semua kerja keras Rian membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan besar yang ia mimpikan itu. Semua keuntungan yang masuk ke dalam rekening pribadinya sebagian ia simpan untuk tabungan masa depan.

__ADS_1


Rian bahkan sudah menghitung biaya pesta pernikahan yang akan ia gelar suatu saat nanti dengan Riri. Kali ini Rian tidak menuntut Riri dengan pertanyaan kapan. Ia hanya mempersiapkan semuanya. Sudah cukup lelah bertanya tentang waktu yang ia sendiri belum tahu jawaban atas pertanyaan itu. Hingga Rian mengubah fokus pertanyaan itu dengan mempersiapkan diri saja.


"7


__ADS_2