Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tujuh bulan


__ADS_3

Kehamilan Riri tersebar ke setiap media. Namanya muncul di setiap media cetak yang beredar. Ada ketidaknyamanan saat Riri merasa gerak geriknya diawasi.


"Mas, aku tidak nyaman." Rengekan Riri membuat Rian mengangkat kepalanya yang tengah sibuk dengan layar laptopnya.


"Ini resikonya. Kamu sabar ya! Mereka juga tidak melebihkan berita apapun tentangmu," ucap Rian sambil mengecup punggung tangan Riri.


"Tapi Mas, aku merasa tidak bebas. Setiap kali aku ke butik, banyak sekali kamera yang memotretku. Bibirku harus berpura-pura senyum sepanjang jalan. Padahal terik mentari membuatku ingin menggerutu sepanjang jalan," ucap Riri.


Rian menyudahi pekerjaannya. Ia segera memeuk Riri yang sedang mengeluh. Rian tahu kehamilannya membuat Riri sudah lelah. Apalagi ditambah dengan tingkah wartawan yang selalu bertanya tentang banyak hal pada Riri.


"Lebih baik kamu istirahat saja. Serahkan semua urusan butik pada Maya saja," ucap Rian.


"Mas, Kak Mia sudah mempercayaiku untuk mengurus butik. Aku tidak mau Kak Mia mengira aku lepas tanggung jawab," ucap Riri.


Rian mengerti ketakutan Riri. Ah, sebenarnya karena Riri juga sangat menyenangi apa yang ia lakukan. Padahal hamil muda Riri membuatnya terlihat begitu pucat dan lesu. Namun Riri masih tetap terlihat semangat saat mengurus butik.


Meskipun tidak seaktif sebelum hamil, Riri tetap menjalankan bisnisnya dengan senang hati. Mia juga sempat mengingatkan Riri agar tidak terbebani dengan butik. Tapi Riri tetaplah Riri. Wanita yang penuh semangat dan sangat bertanggung jawab atas apa yang sedang ia jalani.


"Aku bisa melakukan semuanya dengan baik," ucap Riri.


Mia hanya mengangguk. Ia pun meminta agar Riri banyak istirahat. Istirahat bukan berarti malas. Riri sedang hamil dan istirahat itu sangat dibutuhkan oleh Riri saat ini.


Masa ngidam Riri memang repot. Nampak begitu lemas dan sering pingsan. Namun walaupun begitu, tidak ada keinginan Riri yang aneh-aneh. Padahal Rian sudah mempersiapkan dirinya dengan sangat siaga. Jaga-jaga jika istrinya memintanya untuk mengambil mangga di kebun milik tetangga.


Kehamilannya kini sudah menginjak usia tujuh bulan. Perutnya semakin besar dan membuat Rian gemas setiap kali menatap Riri. Perut mulus dan rata itu kini sudah tampak membesar. Sesekali Rian pernah merasakan gerakan kecil dari calon anaknya.


Hasil USG menunjukkan jika calon anaknya akan berjenis kelamin laki-laki. Sesuai dengan harapan Rian selama ini. Meskipun sebenarnya Riri ingin memiliki anak perempuan.

__ADS_1


"Nanti anaknya Akbar Aghizal ya," ucap Rian sambil mengusap perut Riri.


"Tidak ah," tolak Riri.


"Kenapa? Kurang bagus?" tanya Rian.


"Di tempatku nama Akbar biasa dipanggil Abay. Tidak suka," jawab Riri.


"Ya itu kan di tempatmu," ucap Rian.


"Sama saja. Dimana-mana juga nama Akbar dipanggil Abay," ucap Riri.


"Tidak juga," ucap Rian.


Perdebatan mereka malam ini membuat Tuan Felix ikut tersenyum. Pintu kamar Riri dan Rian yang tidak tertutup membuat Taun Felix yang tidak sengaja lewat di depan kamar mereka, bisa melihat dan mendengar dengan jelas. Ya, sekarang Tuan Felix sudah tinggal di Indonesia.


Sebenarnya Tuan Felix ingin membeli rumah dan tinggal di rumahnya sendiri. Namun Mia melarangnya. Mia meminta Tuan Felix tinggal di rumahnya. Karena besok ada meeting ke luar kota dengan Rian, jadi malam ini Tuan Felix menginap di rumah Tuan Wira.


Saat Rian dan Tuan Felix ke luar kota, Rian melarang Riri keluar rumah. Ia bahkan meminta Bu Risa untuk ke rumah Tuan Wira, menemani Riri yang sedang hamil besar.


"Tapi jangan bawa Kak Rara ya Bu," pinta Rian.


Bu Risa tahu hubungannya dengan Rara memang tidak baik. Bahkan ia tidak tahu kapan semua itu akan berakhir. Namun Bu Risa tidak mau menutup mata. Rara memang kadang tidak menunjukkan itikad untuk memperbaiki hubungannya dengan Riri.


Setiap kali Rian pergi ke luar kota, Bu Risa selalu bersenang hati menemani Riri di rumah besar itu. Bahkan Bu Risa bisa tidur satu kamar dan satu ranjang dengan Riri. Kamar besar dan mewah yang ditempati anaknya itu.


"Kamu beruntung," ucap Bu Sari sambil membelai rambut Riri saat Riri sedang tidur.

__ADS_1


Selalu kalimat itu yang Bu Risa sampaikan setiap kali menatap Riri yang tengah tertidur pulas. Kadang air mata membasahi pipinya saat mengingat kejadian masa lalu yang menimpa keluarganya. Ah, tapi Bu Risa selalu menepis pikiran buruk itu. Ia hanya selalu bersyukur dengan apa yang terjadi padanya.


Kalau saja kejadian itu tidak membuat Riri pergi bertahun-tahun, mungkin saat ini Riri tidak akan bertemu dengan Rian. Pria yang sangat mencintai Riri dengan sepenuh hatinya.


Riri akan bangun sebelum ibunya bangun. Ditatapnya wajah yang sudah tidak muda lagi. Sudah banyak kerutan di wajah itu. Wajah yang selalu membuat Riri tersenyum saat menatapnya.


"Aku sangat menyayangi Mama," ucap Riri sambil mengecup pelan Bu Risa.


Tidur nyenyak Bu Risa sama sekali tidak terganggu dengan kecupan Riri. Bahkan saat Riri selesai mandi pun, Bu Risa masih tidur nyenyak.


"Ma," panggil Riri sambil mengguncang pelan tubuh Bu Sari.


"Hemmm," ucap Bu Risa sambil menggeliat.


Bu Risa terkejut saat matanya terbuka sempurna dan melihat Riri sudah segar dengan aroma sabun yang khas.


"Jam berapa ini?" tanya Bu Risa.


"Ini sudah jam enam. Ayo bangun Ma. Katanya Mama mau pulang pagi," ucap Riri.


Bu Risa memang ingin pulang pagi. Ia tidak mau Rara marah karena merasa cemburu saat ibunya terlihat lebih menyayangi Riri. Ia pun segera mandi dan pamit bahkan sebelum sarapan bersama. Ada sopir yang siap mengantar Bu Risa kapanpun ia pulang.


Setelah ibunya pulang, Riri duduk di samping Nyonya Helen. Tidak lama Tuan Wira datang dan segera bergabung bersama keduanya. Menu sarapan sudah berjejer di meja makan. Namun Riri hanya tertarik dengan selebar roti yang diolesi selai cokelat.


"Makan yang banyak biar cucu Mama sehat," ucap Nyonya Helen sambil mengusap perut Riri.


"Ini sudah cukup, Ma. Aku cepat lapar tapi cepat kenyang," ucap Riri setelah menelan roti dari mulutnya.

__ADS_1


Setelah sarapan, Tuan Wira pamit untuk ke kantor. Meninggalkan Riri dan Nyonya Helen yang masih asyik mengobrol. Sampai akhirnya Nyonya Helen meninggalkan Riri saat ponselnya berdering.


Entah apa yang dibicarakan Nyonya Helen, namun Riri berpikir jika itu adalah panggilan dari temannya. Dari kejauhan, Riri mengamati ibu mertua rasa ibu kandung yang sudah membuatnya jatuh hati. Nyonya Helen berhasil mrmbuat Riri merasa ssngat nyaman di rumah itu.


__ADS_2