
"Jangan di sini! Nanti kotor kamarnya. Di dapur aja yu!" ucap Mia.
"Oh, ayo!" ajak Rian.
Rian dan yang lainnya berjalan menuju dapur. Namun semua menahan langkahnya saat Rian berhenti.
"Selamat ulang tahun Rian," ucap Nyonya Helen, Tuan Wira, Dion, Reza dan Danu dengan senyum lebar dan balon di tangannya.
"Kalian," ucap Rian.
Rian menyimpan kue di atas meja makan yang sudah tersaji banyak sekali makanan. Ia geli sendiri melihat tingkah Tuan Wira, Dion, Reza, dan Danu yang masing-masing memegang balon di tangannya.
"Kalian kenapa sih? Perasaan tadi kita gak janjian gini ya?" tanya Mia pada Sindi dan Maya.
"Ini sih idenya Mama," jawab Dion.
"Terus Aa mau?" tanya Mia sembari menahan tawanya.
Dion melempar balon yang ada di tangannya.
"Semua gara-gara Mama," ucap Dion sembari cemberut.
"Tapi Rian senang kan? Namanya merayakan itu jangan jaim. Yang penting itu, orang yang ulang tahunnya senang. Coba tanya Rian, dia pasti senang." Nyonya Helen membela diri.
"Tapi kan banyak cara lain yang bisa membuat Rian bahagia," ucap Tuan Wira yang ikut melemparkan balon itu.
Keempat anak yang awalnya meminta kue, kini beralih. Mereka menjadi lebih tertarik dengan balon-balon yang lumayan banyak. Setelah mendapat balon, Mia meminta pengasuh untuk membawa anak-anak ke tempat bermain kembali.
"Kak, terima kasih banyak ya!" ucap Rian.
Ia sama sekali tidak menyangka jika perayaan ulang tahunnya ke dua puluh ini sangat berkesan. Banyak hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya, kini menjadi kenyataan.
Para bos dengan jas dan dasinya yang begitu rapi, terlihat lucu dengan balon-balon yang mereka pegang. Semua itu hanya untuk membuat Rian senang di hari ulang tahunnya.
"Sudah dua puluh tahun. Bukan waktunya untuk main-main lagi. Semakin kuatkan pundakmu, belajar lebih dewasa lagi." Dion memeluk Rian sebentar.
"Iya Kak," ucap Rian.
__ADS_1
Reza dan Danu juga turut mengucapkan selamat ulang tahun pada Rian. Doa baik dan harapan mengalir untuk Rian.
"Makannya kapan ya? Perut sudah minta jatah nih," ucap Tuan Wira.
"Eh ayo makan dulu!" ucap Mia.
Semuanya makan. Menu spesial tertata rapi di atas meja makan. Bukan tidak mau merayakan di luar, namun Mia sengaja menyiapkan semua kejutan itu di rumahnya.
"Aku sengaja membuat acaranya di rumah. Supaya kenangan ini terpatri bukan hanya untuk kami dan kamu. Tapi aku yakin, rumah ini juga akan menyimpan semua kenangan bahagia kita. Jadi, sejauh apapun kamu pergi, aku harap kamu tidak akan lupa dengan rumah ini." Mia tersenyum lebar pada Rian.
"Aku tidak mungkin melupakan rumah ini. Rumah yang menjadikan aku orang paling bahagia karena memiliki kalian. Terima kasih semuanya," ucap Rian.
"Rian, maafin Mama ya kalau selama ini Mama belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Buat kalian juga," ucap Nyonya Helen.
"Mama adalah wanita hebat dan ibu terbaik. Kami beruntung memiliki Mama," ucap Mia sembari mengusap sudut matanya.
Bukan hanya Mia, Sindi dan Maya juga ikut mengusap sudut matanya. Mereka juga mengungkapkan rasa terima kasih dan syukur atas hadirnya Nyonya Helen dalam hidup mereka.
"Sudah dong. Ayo makan! Kalau kebanyakan nangis, nanti makanannya jadi asin." Tuan Wira yang ikut tersentuh, berusaha mengalihkan pembahasan mengharukan itu.
"Iya ayo!" ajak Mia.
"Mumpung sedang berkumpul, aku dan Rian sekalian pamit ya! Besok kami kembali ke Jerman," ucap Tuan Felix.
Rian nampak tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. Sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu liburannya di sana. Namun ia tidak mau jika Maudi masih terus menemuinya di rumah itu.
Bagi Rian, saat ini ia belum bisa mengubah Maudi. Maka yang bisa ia lakukan adalah menghindar. Ia berusaha menghindar dari Maudi. Lebih baik kembali ke Jerman. Menghabiskan waktu liburannya dengan belajar banyak hal pada Mr. Aric.
"Rian, semangat terus ya kuliahnya. Aku yakin kamu pasti akan menjadi orang yang sukses. Tapi kalau sudah sukses, jangan sampai lupa padaku. Kamu harus ingat semua cerita denganku dulu saat kamu belum jadi apa-apa," ucap Sindi.
"Mana mungkin aku melupakan Kakak. Terlalu banyak kenangan indah bersama Kakak dan yang lainnya. Aku tidak akan pernah melupakan semuanya" ucap Rian.
"Tenang saja. Rian itu pintar. Otaknya bisa lebih banyak menyimpan memory. Jadi tidak mungkin melupakan kita semua. Apalagi Papa. Iya kan?" ucap Tuan Wira.
Semua tertawa saat tahu jika Tuan Wira juga tidak ingin dilupakan oleh Rian. Suasana sedih pun seketika menjadi tawa bahagia. Tuan Wira memang selalu pintar membuat suasana menjadi lebih hidup lagi.
Setelah sore, semuanya pamit. Mereka juga minta maaf jika tidak bisa mengantar Rian ke bandara besok pagi. Namun itu bukan hal menyakitkan, karena kehadiran dan perlakuan mereka semua saat ini adalah bukti kasih sayang untuknya.
__ADS_1
"Pah, terima kasih ya!" ucap Rian saat suasana rumah sudah kembali sepi.
Tuan Felix yang sedang memainkan ponselnya menatap sumber suara. Pria itu menyimpan ponselnya di atas meja dan membuka kacamatanya.
"Untuk apa? Dan sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu?" tanya Tuan Felix.
"Aku benar-benar terharu. Ini adalah ulang tahun pertamaku dirayakan oleh banyak orang," ucap Rian.
"Ini semua ide Mia," ucap Tuan Felix sembari kembali mengenakan kacamatanya.
"Tapi kata Kak Mia, Papa yang meminta Maya dan Sindi untuk mengantarkan Yaza dan Dandi ke sini." ucap Rian.
"Kamu senang?" tanya Tuan Felix.
"Sangat. Aku sangat senang," jawab Rian.
"Syukurlah kalau kamu senang. Dan jangan selalu berterima kasih atas apa yang sudah menjadi hak kamu. Sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk membahagiakan anaknya," ucap Tuan Felix.
Rian tersenyum bahagia. Ia memang tidak perlu meragukan ketulusan kasih sayang Tuan Felix untuknya. Semua aturan yang dibuat Tuan Felix semata-mata hanya untuk menjadikan Rian sesuai harapannya.
"Tidur sana. Sudah malam. Besok kita akan berangkat pagi. Jangan sampai kesiangan," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," ucap Rian.
Rian kembali ke kamarnya. Dalam kesendirian, bibirnya mengembang sempurna. Merekah dengan sangat lebar. Bayangan kebahagiaan tadi tidak beranjak dari ingatannya. Ia merasa sedang memonton semua adegan yang membahagiakan itu.
Rian tidak lupa mengambil ponselnya. Tidak ada orang yang ia hubungi. Tidak ada chat yang ia kirimkan untuk orang lain. Ia hanya kembali membuka foto-foto kebersamaannya dengan keempat keponakannya itu.
"Aku akan membahagiakan kalian seperti orsng tua kalian membahagiakanku saat ini," gumam Rian.
Hampir saja ia kesiangan. Untung bunyi Alarm di ponselnya membantunya bangun tepat, waktu meskipun matanya sulit sekali ia buka.
Dengan mata yang nyaris terpejam, Rian segera mandi dan membersihkan dirinya. Matanya mulai terbuka sempurna saat air dinguin mengguyur kepala hingga seluruh tubuhnya.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Rian menenteng kopernya menuju ruang makan. Sudah ada Mia dan Dion di sana. Tidak lama datang pasangan yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
"Om Rian mau kemana?" tanya Narendra.
__ADS_1
"Iya. Om mau pulang dulu ya!" jawab Rian
"Pulang kemana? Rumah Om Rian kan di sini," ucap Naura.