Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kebiasaan buruk


__ADS_3

"Ri, kamu kenapa? Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita. Papa siap jadi pendengar yang baik," ucap Tuan Felix tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Aku tidak kenapa-kenapa. Papa kerja saja. Jangan mikir macam-macam ah," ucap Rian.


"Ri, Papa masih bisa mendengarkan ceritamu dengan baik meskipun Papa sedang bekerja," ucap Tuan Felix.


"Nanti kalau aku butuh teman, aku pasti cerita sama Papa. Sekarang aku baik-baik saja kok," ucap Rian.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita sekarang juga tidak apa-apa. Hanya saja kamu harus tahu kalau kamu tidak sendiri," ucap Tuan Felix.


"Aku tahu itu. Terima kasih ya Pah," ucap Rian.


Pagi ini Rian menemani Tuan Felix hingga jam makan siang. Saat diajak makan siang bersama, Rian menolak karena harus segera pergi ke kampus.


"Jangan lupa makan siang ya!" ucap Tuan Felix setelah Rian mencium tangannya.


Anggukan kepala dan senyuman manis Rian menghiasi wajah yang selalu membuat Tuan Felix tenang. Makan siang di tempat yang berbeda membuat mereka termenung. Membayangkan sudah berapa minggu mereka tidak bisa makan siang bersama.


Sama-sama sibuk dengan aktivitasnya, membuat keduanya kekurangan waktu untuk bersama. Ada kalanya mereka saling merindukan momen bersama sehingga Rian harus menyusul Tuan Felix pagi ini.


Tentu hal itu menjadi perlakuan manis untuk Tuan Felix. Rian yang sudah bersamanya sejak beberapa tahun terakhir, selalu dianggap anak kecil oleh Tuan Felix. Bahkan adakalanya Tuan Felix merinding jika membayangkan Rian menikah.


Tuan Felix membayangkan jika Rian akan pergi meninggalkannya dan fokus dengan kehidupannya yang baru. Dan tentunya ia akan kembali sendiri. Tidak hanya kesedihan, tapi ketakutan juga menguasai dirinya.


Mungkinkah aku akan hidup sendiri lagi di masa tuaku? Haruskah aku menikah lagi agar ada yang menemaniku di hari tua nanti? Astaga, mikir apa aku ini.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Tuan Felix segera kembali ke kantor. Ia menghubungi Rian untuk memastikan kalau Rian juga sudah makan siang.


"Sama Mpus?" tanya Tuan Felix saat tahu jika Rian sedang makan siang.


"Tidak," jawab Rian.


Mendengar nama Mpus, Rian seketika kehilangan selera makannya. Bagaimana tidak, Rian baru saja melihat Riri keluar dari mobil Hiro. Nampaknya Riri semakin dekat dengan pria yang sedang mendekatinya itu.


"Sama Rey?" tanya Tuan Felix yang membuyarkan lamunan Rian.


"Tidak Pah. Aku sendiri," jawab Rian.


"Kasihan sekali kamu. Kalau saja dekat, Papa pasti akan menemani makan siangmu." Tuan Felix mulai menggoda Rian.


"Apaan sih Pah. Aku tidak semelow itu," ucap Rian.


Berusaha tertawa ditengah rasa sakit yang merasuki hatinya, ternyata begitu sulit. Bibirnya bisa tersenyum, namun batinnya perih. Bayangan senyum Riri saat keluar dari mobil Hiro membuat Rian yakin jika Riri bukan untuknya lagi.


"Hey," ucap Rey sambil menepuk bahu Rian.


Rian yang sedang melamun sampai membuat sendok di tangannya menghantam piring. Tentu saja hal itu mengundang banyak perhatian dari pengunjung kantin yang lain.


"Kamu ini kebiasaan," bisik Rian kesal.


"Kamu yang kebiasaan. Siang-siang begini kok bengong," ucap Rey.


Bengong? Ya sebenarnya Rian menyadari jika ia memang sedang bengong. Ia memikirkan hal yang tidak ingin merusak pikirannya. Tapi haruskah ia bercerita pada Rey? Tidak! Batin Rian tidak mengizinkan.


"Ri, halo." Rey mengibaskan tangannya di deoan wajah Rian.


"Apaan sih?" tanya Rian.

__ADS_1


Ia kembali tersadar dari lamunannya. Namun sebisa mungkin Rian tidak menunjukkan semua itu.


"Kamu mikirin apa sih?" tanya Rey. "Riri ya?" lanjutnya saat lama tidak mendapat jawaban dari Rian.


"Sok tahu," ucap Rian sambil melanjutkan makan siangnya.


"Ya kali aja karena Riri dan Hiro semakin dekat. Si Hiro kan mepet terus sama Riri," ucap Rey.


Apa? Jadi Rey juga tahu? Rian segera mengambil gelas di hadapannya dan meneguknya hingga habis. Ia sudah tidak sanggup makan lagi. Tengorokannya seret dan selera makannya benar-benar sudah hilang.


"Ayo ke kelas!" ajak Rian.


Rey hanya tersenyum dan mengikuti Rian dari belakang. Membiarkan sahabatnya itu berjalan lambat dengan langkah gontai.


"Aku boleh memberimu saran?" tanya Rey.


Langkah Rian terhenti. Ia membalikkan badannya dan menatap Rey.


"Apa?" tanya Rian.


Jujur saja, saat ini ia memang sangat membutuhkan saran untuk langkahnya ke depan. Ia bahkan tidak bisa menyikapi langkah apa saja yang harus ia lakukan saat melihat Riri dan Hiro berjalan di hadapannya lagi.


Rey menarik Rian agar duduk di bebangkuan. Ia merasa masih ada waktu untuk menenangkan Rian sebelum jam kuliah masuk.


"Kamu pastikan tentang perasaan Riri padamu saat ini," ucap Rey.


"Lalu?" tanya Rian.


"Kalau dia masih setia dengan perasaannya padamu, aku punya langkah selanjutnya untuk menghadapi masalah ini. Rey berusaha meyakinkan Rian.


"Langkah apa dulu?" tanya Rian.


"Kalau ternyata perasaan Riri sudah berubah?" tanya Rian.


"Aku juga punya langkah selanjutnya. Pokoknya kamu tenang saja. Aku pasti beri solusi terbaik deh. Lagian belum apa-apa sudah pesimis duluan," ucap Rey sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya nanti aku tanya," ucap Rian.


Mereka mengakhiri obrolan siang ini karena harus segera ke kelas. Setelah selesai, Rian segera pamit pada Rey untuk menemui Riri dan menanyakan tentang perasaan wanita yang ia cintai itu.


"Kamu tidak bisa meyakinkan siapapun kalau kamu sendiri tidak yakin. Yakinlah Ri," ucap Rey.


Rian mengangguk dan segera pergi. Ia menunggu di dekat kelas Riri. Ia memang tidak bisa seberani Hiro yang masuk ke kelas Riri.


"Mas Rian," ucap Hiro dengan sangat ramah.


Wajah Rian menjadi kikuk. Ia marah dan tidak enak saat melihat Hiro menyapanya. Ia takut jika seandainya Riri justru memilih untuk pulang dengan Hiro.


"Mas," ucap Hiro sambil mengguncang bahu Rian saat terlihat melamun.


"Eh iya," jawab Rian dengan spontan.


"Mas Rian kenapa?" tanya Hiro.


"Ti-tidak. Aku hanya kurang istirahat saja," jawab Rian gugup.


Rian tidak berani menatap wajah Hiro karena malu jika Hiro tahu kebohongannya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Mas tidak kenapa-kenapa," ucap Hiro.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Rian ragu.


"Menunggu Riri. Mas sendiri sedang apa?" tanya Hiro.


"Untuk apa kamu menunggu calon istriku?" Rian balik bertanya.


"Maaf Mas. Aku hanya menunggu Riri, takutnya dia mau ikut pulang bareng. Katanya hari ini tidak ada jemputan," jawab Hiro.


Amarah Rian membara. Bisa-bisanya Hiro menjawab hal yang sangat tidak tahu diri. Rian curiga jika Riri menolak pengakuannya sebagai calon suami Riri.


"Kamu pulang duluan saja. Biar aku yang antar Riri," ucap Rian sambil menahan emosi.


"Oh ya sudah Mas. Aku pulang duluan ya!" ucap Hiro.


"Satu kali lagi aku ingatkan. Kamu tidak perlu peduli pada calon istriku. Aku bisa mengantar jemput Riri kapanpun dia butuh," ucap Rian mengingatkan Hiro.


Sebentar Hiro membalikkan badannya dan tersenyum. Lalu ia beranjak pergi tanpa terlihat marah atau sekedar tersinggung. Rian tentu semakin kesal dengan sikap Hiro yang menurutnya sangat menantang dirinya.


"Mas," sapa Riri.


Bibir merah muda itu merekah dengan wajah ceria. Rian menyingkirkan sebentar kekesalannya karena tidak ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman.


"Sudah selesai?" tanya Rian.


"Sudah," jawab Riri.


"Ayo!" ajak Rian sambil menarik tangan Riri.


"Kemana?" tanya Riri sambil menatap tangannya yang sudah ada dalam genggaman Rian.


"Pulang. Memangnya kamu mau kemana?" Rian balik bertanya.


"Ah tidak. Ayo Mas!" ajak Riri.


Riri.mengikuti Rian dengan hati yang berdebar tidak karuan. Bagaimana tidak, tangannya tidak dilepaskan sama sekali oleh Rian hingga mereka benar-benar sampai ke parkiran dan masuk mobil.


"Mas sengaja menunggu di sana?" tanya Riri mencoba membuka pembicaraan.


"Iya," jawab Rian.


"Sudah lama?" tanya Riri.


"Lumayan," jawab Rian.


Riri menarik napas panjang saat mendapati Rian kembali pada kebiasaan buruknya. Rian akan selalu menjawab singkat setiap pertanyaannya dan Riri sangat tidak menyukai semua itu.


Mas, kamu ini memang menyebalkan. Sepertinya kamu harus belajar banyak hal dari Hiro. Dia selalu bisa mencairkan suasana. Bukan malah membuat suasana jadi tidak nyaman seperti ini.


Saat Riri menyadari apa yang baru saja batinnya pikirkan, Riri tiba-tiba menggeleng dan mengusap wajahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rian.


"Tidak Mas," jawab Riri.


Suasana kembali hening. Sesekali Rian melihat Riri dengan sudut matanya. Wanita itu tidak berubah. Ia tetap cantik dan selalu membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


Aku harus mulai dari mana ya?


Rian tengah gelisah saat ingin menjalankan apa yang disarankan oleh Rey. Tapi ia harus melakukan itu. Ia yakin jika Rey bisa membuat Hiro menjauhi Riri.


__ADS_2