
Riri pamit karena Tuan Felix tidak mengizinkannya untuk menemaninya di rumah sakit. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia tidak tega meninggalkan Tuan Felix. Namun seperti permintaan Tuan Felix untuk tidak membuat Rian curiga. Tuan Felix hanya ingin melihat Rian bahagia.
Belum sampai rumah, Rian sudah menghubunginya. Riri menjawab panggilan itu setelah mengusap air matanya. Air mata kesedihan dan keharuan yang tumpah menjadi satu.
"Dari mana saja?" tanya Rian.
"Dari negeri dongeng," jawab Riri sambil tertawa.
"Apaan sih? Aku serius Pus," ucap Rian.
"Aku juga serius," ucap Riri.
"Apaan tuh maksudnya dari negeri dongeng?" tanya Rian.
"Aku baru saja bertemu dengan Papa Felix. Ia memberikan ini. Katanya dari seseorang," ucap Riri sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Apa hubungnnya dengan negeri dongeng?" tanya Rian masih bingung.
"Karena ini seperti dongeng. Aku dilamar sama orang lewat Papanya. Tapi orang itu sendiri tidak pernah bilang apapun padaku. Padahal kita semalaman teleponan loh," jawab Riri.
Rian tersenyum saat melihat Riri terus menatap dan memamerkan cincin pemberian darinya. Ia senang saat tahu kalau Riri menerima lamarannya. Jujur saja meskipun ia tahu jika Riri masih mencintainya, tapi ia takut ada trauma dalam diri Riri. Ketakutan akan penolakan itu yang membuat Rian sempat gelisah.
"Kan kejutan. Tapi kamu suka, kan?" tanya Rian.
"Suka dong. Pilihan Papa memang best," jawab Riri.
"Hey, jangan begitu. Waktu Papa meneleponku, aku sedang sangat sibuk. Makanya aku menyerahkan semuanya ke Papa. Papa juga sudah tahu seleraku kok," ucap Rian membela diri.
Tanpa dijelaskan, Rian sudah tahu kalau jawaban Riri adalah sindiran untuknya. Riri sempat kesal karena Rian masih sibuk dengan pekerjaannya dibanding persiapan untuk melamarnya. Namun sekali lagi Rian menjelaskan bahwa kini dia sudah bukan ABG lagi yang hanya berpikir tentang sebuah keromantisan. Ada hal yang harus ia kerjakan dimana semua hasilnya untuk membahagiakan istrinya nanti.
"Siapa tuh istrinya?" tanya Riri.
"Siapa lagi kalau bukan Mpus, sayangnya aku. Si cantik yang pakai cincin keren dariku," jawab Rian.
"Dari Papa," ucap Riri.
"Astaga Pus, itu aku yang beli kok. Beneran," ucap Rian.
"Papa yang beli," ucap Riri.
__ADS_1
"Iya Papa yang beli. Tapi aku yang bayar. Aku transfer. Beneran hasil jerih payahku," ucap Rian.
Riri yang memang sudah tahu cerita itu dari Tuan Felix hanya tertawa. Begitu ingin diakuinya hingga Rian terus bersikeras menjelaskan bahwa semua adalah perjuangannya juga.
"Iya, iya. Aku tahu," ucap Riri sambil tertawa.
"Papa sudah cerita kan sama kamu?" tanya Rian.
"Iya. Papa sudah cerita semuanya kok," jawab Riri.
"Oh ya Papa kemana ya? Kok aku telepon tidak pernah ada jawaban?" tanya Rian.
"Papa lagi sibuk. Banyak kerjaan. Memangnya kamu aja yang bisa sibuk?" ejek Riri.
"Dih, aku sibuk buat kamu Pus." ucap Rian.
Rian tahu sekarang Riri adalah seorang pemimpin di perusahaan besar di Jerman. Riri sudah bisa mendapatkan apapun yang ia mau dengan uangnya sendiri. Tapi sebagai seorang laki-laki, ia juga harus bertanggung jawab atas istrinya nanti.
"Sekaya apapun kamu, aku tetap harus memberi nafkah untukmu. Berapapun itu," ucap Rian.
"Kata siapa aku kaya? Hanya satu yang aku punya di dunia ini. Kamu," ucap Riri.
"Ah jangan gombal. Aku makin kurus. Bisa terbang aku nanti," ucap Rian salah tingkah.
"Halo, Pus." Rian menatap layar ponselnya dengan kerutan di dahinya.
Teleponnya tidak terputus, namun hening. Rian tidak mendengar suara apapun. Berkali-kali ia memanggil Riri, namun tidak ada jawaban. Sampai akhirnya panggilan itu berakhir. Ia sangat khawatir dengan keadaan Riri. Dengan status barunya sebagai calon suami, Rian merasa ada tanggung jawab yang semakin besar pada Riri.
Kekhawatirannya sedikit berkurang saat Riri mengirim pesan jika baterai ponselnya sudah low. Meskipun begitu, Rian tidak sepenuhnya percaya pada Riri. Tidak biasanya ia mematikan ponsel tanpa pamit. Hanya ada satu alasan. Riri tengah marah padanya. Tapi saat ini mereka sedang bahagia. Tidak ada bahasan yang membuat Riri marah seharusnya.
Rian kembali membalas pesan yang dikirim Riri. Ia membahas tentang status mereka yang sudah setahap lebih serius dibanding hanya pacaran-pacaran anak sekolah. Ia mau ada keterbukaan tentang hal apapun diantara mereka.
Riri memang butuh teman. Tapi ia tidak siap untuk menceritakan semua masalah keluarganya. Masih ada rasa takut jika setelah tahu cerita ini, Rian menjadi berbeda padanya.
Sampai saat ini Rian selalu berusaha untuk mencari tahu keluarga Riri. Ia ingin berkenalan dengan mereka. Karena menurutnya keluarga Riri adalah keluarganya juga. Riri juga sempat berpikir akan mengenalkan Rian ke keluarganya.
Pikiran itu berubah setelah Riri tahu kalau kakaknya tidak mengharapkan kehadirannya. Meskipun ibunya sempat memanggilnya penuh kerinduan, tapi ia tidak mau jika harus pulang dan menambah masalah baru.
Janji Riri adalah suatu saat nanti ia akan mengenalkan Rian dalam keadaannya sudah membaik. Ia tidak mau pandangan Rian padanya berubah saat tahu kalau keluarganya gila harta. Apalagi dengan keadaan Rian yang sudah sangat mapan. Ia tidak mau keluarganya memanfaatkan Rian.
__ADS_1
"Keluargamu adalah keluargaku juga. Kamu kan tahu aku sudah tidak punya keluarga. Jadi kapan kamu mengenalkan keluargamu?" tanya Rian melalui sebuah pesan singkat.
Riri tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka jika Rian membahas apa yang tengah ia sembunyikan.
"Aku sudah lama hilang kontak dengan mereka. Nanti kalau aku sudah ada komunikasi, aku pasti akan mengenalkanmu. Sabar ya!" balas Riri.
Entah Rian sudah curiga atau hanya memang ingin mengenal keluarga Riri, ia terus meminta alamat keluarganya. Riri berkelit. Ia mencari alasan yang intinya mengulur waktu.
"Siapa nama ayah dan ibumu? Biar aku cari. Dimana rumahnya? Setidaknya kalau mereka pindah, pasti akan ada yang tahu alamat barunya." Rian masih terus membujuk Riri.
Keluargaku memang sudah pindah Mas. Aku bahkan sudah tahu keberadaan mereka. Tapi kehadiranku di sana hanya akan menambah masalah baru. Aku tidak mau kehadiranmu juga hanya akan membuat masalah baru lagi untuk mimpi kita.
Pesan itu tidak dibalas oleh Riri. Ia tidak mau jika masalah ini melebar dan berimbas pada hubungan mereka. Apalagi saat ini Riri cukup sensitif. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Sebagai calon suami yang baik, Rian tidak Memaksa Riri. Ia membiarkan Riri tenang sampai akhirnya nanti bisa memberi tahunya tentang keluarganya. Baginya, dalam keadaan jauh seperti ini hanya perhatian dan pengertian yang ia berikan. Saat ia tidak bisa menenangkan Riri dengan pelukannya, yang bisa ia lakukan adalah membiarkan Riri tenang dengan caranya.
Setelah sempat nyaris kehilangan Riri, ia merasa jauh lebih dewasa. Banyak sekali pemikiran yang membuatnya tidak gegabah dalam bersikap. Baginya, Riri adalah berlian yang harus ia jaga. Jangan sampai tergores, apalagi hilang.
Sikap dewasa Rian juga ssngat berefek pada perusahaan. Beberapa perubahan baik terjadi di perusahaan. Kemampuan, pengalaman dan kematangan Rian dalam mengambil sikap menjad bahan utama menarik proyek-proyek baru untuk perusahaannya.
Prinsip yang Rian terapkan adalah menerima proyek kecil dan mengerjakan proyek besar. Rian tidak pernah memilih proyek yang masuk ke perusahaannya. Ia menganggap semua proyek itu sama. Sama-sama rejeki yang akan membuat perusahaannya semakin besar.
Harapannya pada perusahaan semakin besar saat ada dua orang yang selalu siap sedia. Mereka saling membantu demi perusahaan. Dari mulai merintis sampai akhirnya mereka kewalahan dengan proyek-proyek yang masuk. Semua mereka lalui dengan saling bekerja sama.
Nama Rian semakin besar saat ia menjadi pengusaha muda yang menginspirasi di dunia industri. Sorotan tidak pernah lepas darinya. Segala hal Rian lakukan selalu menjadi berita hangat.
Tidak terkecuali dengan status Rian yang masih sendiri. Pertanyaan kapan dan kapan sudah akrab di telinganya. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Selama ia tidak merugikan orang lain, ia tidak perlu menggubris berita-berita miring tentang dirinya.
Rian tidak mau menikah hanya karena desakan orang. Ia hanya akan menikah jika Riri sudah siap menikah dengannya. Kepalanya bukan lagi memikirkan untuk menikah muda, tapi bagaimana jadi suami yang bertanggung jawab.
Tanggung jawabnya akan semakin besar saat ia sudah menjadi suami dan ayah. Belum lagi baktinya pada Tuan Felix. Karena harapannya setelah menikah nanti, Tuan Felix akan menetap di Indonesia. Tidak hanya itu, harus siap mengurus semua keponakannya.
Ada Naura dan Narendra anak Mia dan Dion. Ada Dandi anak dari Danu dan Sindi. Mereka harus sukses. Rian bertanggung jawab pada mereka seperti dulu saat ia disayangi oleh orang tuanya.
Sebenarnya tidak hanya mereka. Ada Yaza, anak Reza dan Maya. Sahabat Dion yang kini tinggal jauh di luar pulau. Sudah tidak ada komunikasi sebenarnya, tapi jika suatu saat Yaza membutuhkannya maka ia harus siap.
Pundaknya harus siap dengan semua beban yang ada. Ia akan menjadi suami, ayah, anak, om yang siap untuk semua orang yang ia sayangi. Kehidupannya yang berubah karena kebaikan semua orang akan ia balas dengan apa yang ia bisa.
Malam ini Rian menyusun target hidup yang belum tercapai. Beberapa point sudah ia lingkari. Beberapa lagi masih ia pikirkan. Banyak hal yang membuat Rian harus kuat. Saat akan menyerah, ia mengingat bagaimana Tuhan sudah memberinya kesempatan untuk hidup. Sampai akhirnya kehidupannya berubah menjadi jauh lebih baik.
__ADS_1
"Aku punya banyak hutang budi pada mereka. Mulai sekarang, aku sudah harus memikirkan semua itu. Aku tidak bisa egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri," gumam Rian.
Secangkir kopi hangat menemaninya malam ini. Menatap luas ke langit malam yang dipenuhi bintang. Rambutnya sedikit tersibak dengan hembusan angin malam. Tubuhnya yang semakin kurus adalah bukti bahwa banyaknya beban dan tanggung jawab yang ia hadapi saat ini.