Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mantan sopir ambulance


__ADS_3

Sopir itu bingung saat melihat Tuan Wira masih berada dalam mobil. Padahal mobilnya sudah terparkir hampir satu menit yang lalu.


"Maaf, Tuan. Ini sudah sampai," ucap sopir itu.


"Iya aku tahu," jawab Tuan Wira.


Sopir itu semakin bingung dengan yang terjadi pada tuannya itu. Apa yang sebenarnya ia tunggu di dalam mobil? Entahlah. Sopir itu enggan bertanya tentang apapun. Tugasnya hanya mengantar dan menjemput. Itu saja.


Setelah hampir lima menit, Tuan Wira baru keluar. Akhirnya sopir itu lega. Namun tidak lama, Tuan Wira mengetik kaca mobilnya.


"Hey, bawa itu ke ruanganku lima menit kemudian." Tuan Wira menunjuk tas bekal yang masih berada di dalam mobil.


Sopir itu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Tuan Wira lalu mengangguk. Setelah melihat Tuan Wira semakin jauh, sopir itu menggelengkan kepalanya. Akhirnya ia mendapat jawaban atas pertanyaanya.


Sumber kegelisahan Tuan Wira rupanya perkara tas bekal yang berwarna pink. Sopir itu tersenyum mesem dan mengambil tas bekal itu ke pangkuannya. Ia melihat pergelangan tangannya. Memastikan lima menit kemudian untuk masuk ke ruangan Tuan Wira.


Lima menit sudah berlalu. Ia segera keluar dari mobil membawa tas bekal itu ke ruangan Tuan Wira. Ia tidak bisa menghitung banyaknya pasang mata yang memperhatikan kedatangannya.


Ternyata ini alasan Tuan Wira gelisah saat membawa tas bekal berwarna pink itu. Hampir semua mata tertuju padanya. Sebegitu aneh kan dengan warna pink di tangan laki-laki?


Sopir itu melenggang membawa tas bekal pink dan segera masuk ke dalam ruangan Tuan Wira. Tuannya itu sudah menunggunya. Meskipun malu untuk membawa tas bekal pink, tapi perutnya memang sudah lapar. Tidak eduli apa warna tasnya, yang penting isinya. Ia butuh asupan untuk perutnya yang belum diisi apapun pagi ini.


"Kenapa masih di sini?" tanya Tuan Wira saat sedang menyuapkan bekal itu.


"Saya belum diperintah untuk pulang, Tuan." Sopir itu menunduk hormat.


Tuan Wira menepuk dahinya. Ia segera meminta sopir itu pulang dan menjemputnya tepat waktu.


"Eh tunggu," panggil Tuan Wira.


Sopir itu kembali membalikkan tubuhnya padahal ia nyaris sampai ke pintu keluar.


"Ada apa Tuan?" tanya sopir itu.


"Nanti kalau kamu menjemputku jangan lupa bawa kantong kresek berwarna hitam ya!" jawab Tuan Wira.


"Kantong kresek hitam?" tanya sopir itu tidak mengerti.


"Iya. Kamu tahu kantong kresek hitam kan?" tanya Tuan Wira.


"Tahu, Tuan. Tapi untuk apa?" tanya sopir itu bingung.


"Sudah jangan banyak tanya. Yang penting nanti kamu harus bawa kantong kresek hitam," jawab Tuan Wira.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Tidak ingin mendapat masalah karena pertanyaannya yang tak kunjung mendapat jawaban, sopir itu segera pergi meninggalkan ruangan tuannya.


Setelah sopir itu pergi, Tuan Wira menikmati sarapan yang sudah dibawa dari rumah. Tidak lama, ia bahkan belum menyelesikan sarapannya, ia mendapat telepon dari sekolah Naura. Ia terpaksa harus menyimpan bekal itu karena ada hal yang lebih penting dibanding sarapan.


"Baik-baik. Saya akan segera ke sana," ucap Tuan Wira.


Tuan Wira menyimpan bekal itu tanpa menutup dan membereskannya. Semua bekalnya masih berantakan di atas meja. Sementara ia segera keluar untuk mencari sopirnya. Tapi sayangnya terlambat. Sopirnya sudah pulang.


Tidak ingin mengulur banyak waktu, Tuan Wira segera memanggil satpam untuk menyiapkan mobil kantor untuknya. Dengan seorang sopir yang menemaninya, ia segera pergi menuju sekolah cucu kesayangannya.


"Bisa lebih cepat sedikit tidak sih?" tanya Tuan Wira kesal saat sopirnya membawa mobil dengan sangat lambat.


"Saya boleh ngebut, Tuan?" tanya sopir itu.


"Bukan hanya boleh, tapi harus. Cepat, ingatlah kalau ini adalah perintah," jawab Tuan Wira.


"Pegangan Tuan," ucap sopir itu.


Seorang sopir memperbaiki letak kacamata hitam yang ada di wajahnya. Ia melihat tuannya dari spion depan, memastikan tuannya sudah berpegangan. Setelah semuanya oke, sopir itu menginjak gas dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hey, hati-hati." Tuan Wira memegang erat pegangan mobil.


"Siap Tuan. Anda tidak perlu khawatir," ucap sopir itu tanpa mengurangi kecepatannya.


"Anda yang meminta saya untuk ngebut. Saya hanya menjalankan perintah, Tuan." Akhirnya sopir itu memperlambat laju mobilnya.


Tuan Wira mengusap dadanya. Ia mengambil beberapa lembar tissue dan mengusap keringatnya yang mengalir deras karena kepanikannya.


"Di depan belok kanan," ucap Tuan Wira.


"Siap, Tuan." Sopir itu mengangguk dan mengambil arah kanan saat melihat ada simpangan.


"Apa kamu sering membawa mobil secepat itu?" tanya Tuan Wira.


"Sering Tuan. Bahkan lebih cepat dari tadi," jawab sopir itu santai.


"Apa? Aku heran mengapa sopir ugal-ugalan seperti kamu bisa bertahan di kantor," ucap Tuan Wira.


"Tapi sebelumnya aku tidak pernah ngebut seperti ini memakai mobil kantor, Tuan." Sopir itu meyakinkan Tuan Wira.


"Lalu kamu pakai mobil pribadimu?" tanya Tuan Wira.


"Boro-boro Tuan. Saya tidak punya mobil," jawab sopir itu santai.

__ADS_1


"Lalu kamu pakai mobil siapa?" tanya Tuan Wira.


"Mobil ambulance," jawab sopir itu.


"Apa? Mobil ambulance?" tanya Tuan Wira tidak percaya.


"Iya. Karena sebelumnya saya adalah sopir ambulance," jawab sopir itu.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di kantor?" tanya Tuan Wira.


"Baru hari ini, Tuan." Sopir itu menjawab jujur.


Baru hari ini? Jadi aku adalah orang pertama yang dijadikan bahan praktek mantan sopir ambulance? Satpam itu benar-benar kurang ajar. Kalau saja bukan karena kedua cucu kesayanganku, aku tentu akan mengusut masalah ini. Kamu beruntung hey mantan sopir ambulance.


Setelah sampai, Tuan Wira segera berlari mencari ruangan UKS. Sempat bingung karena tidak tahu ruangan itu, ternyata ada guru yang menghampirinya dan membantunya ke ruangan UKS.


"Terima kasih, bu." Tuan Wira menunduk hormat.


"Sama-sama, Tuan. Silahkan," ucap guru itu sambil membuka pintu UKS.


Tuan Wira segera memeluk Naura yang sedang menangis. Tangisnya semakin keras. Sementara Narendra yang masih tiduran di ruangan UKS menutup telinganya.


"Naura, jangan menangis. Berisik," ucap Narendra.


"Naura kan khawatir," ucap Naura sambil mengusap pipinya.


"Kamu kenapa sebenarnya? Kenapa main bola sepagi ini?" tanya Tuan Wira sambil mengusap kepala Narendra.


Dengan cepat Naura menjelaskan tentang apa yang terjadi. Apa yang terjadi tidak seperti yang dipikirkan Tuan Wira. Bola itu melambung tinggi dan keras tepat mengenai kepalanya, hingga pingsan. Ia hanya berusaha melindungi saudara kembarnya, karena sebenarnya Naura yang seharusnya terkena bola nyasar itu.


"Terima kasih ya!" ucap Naura sambil menangis.


"Sudah jangan menangis. Aku yang kena bola kok kamu yang nangis?" ucap Narendra.


"Rendra, Naura hanya merasa bersalah dan khawatir padamu," ucap Tuan Wira menjelaskan.


Berbeda dengan Naura yang lembut dan cengeng, Narendra punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada saudara kembarnya itu.


"Ayo kita pulang!" ajak Tuan Wira.


"Aku masuk kelas saja Pah," ucap Narendra.


"Kamu yakin?" tanya Tuan Wira.

__ADS_1


Narendra meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. Namun Naura sempat merengek untuk mengajak Narendra pulang dan diperiksa ke dokter. Naura khawatir kalau Narendra mengalami luka serius di kepalanya. Walaupun akhirnya jsutru Narendra yang berhasil membujuk Naura untuk masuk kelas lagi.


__ADS_2