Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Lupa hari


__ADS_3

Rian mengajaknya untuk makan malam di luar. Hal yang jarang Rian lakukan sebelumnya. Shelin tentu sangat antusias dengan ajakan Rian. Ia memilih pakaian terbaiknya untuk malam spesial ini.


Saat Rian datang menjemput, senyum Shelin terlihat sangat cantik. Ia menyambut kedatangan Rian. Namun Rian justru menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Apa ada yang salah?" tanya Shelin.


Shelin nampak melihat pakaiannya lalu memegang wajahnya. Ia bingung dengan tatapan itu. Mungkin Rian tidak suka karena wajahnya terlalu menor? Tidak, Shelin tidak pernah berdandan seperti itu.


"Bisa kamu ganti pakaianmu?" Rian balik bertanya.


"Pakaian?" tanya Shelin.


Shelin kembali melihat pakaiannya. Roknya menutup dengkul, tidak terlihat seksi. Ia memegang dadanya. Pakaiannya tidak memperlihatkan bagian dadanya. Lalu kenapa Rian tidak suka dengan pakaiannya?


"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Ayo berangkat!" ajak Rian.


"Ah, tidak. Sebentar ya!" ucap Shelin.


Melihat Rian tidak suka, Shelin segera mengganti pakaiannya. Meskipun ia sendiri belum tahu apa alasan Rian memintanya untuk mengganti pakaian itu.


"Ini bagus?" tanya Shelin.


Rian menatap Shelin yang datang dengan pakaian berwarna merah muda. Ia tersenyum, meskipun sebenarnya ia masih tidak menyukai pakaian yang dikenakan Shelin itu.


"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu," ucap Rian.


Shelin tersipu malu dan segera berangkat. Tangannya yang digenggam erat oleh Rian, berhasil membuat jantungnya berdebar cepat. Semakin hari Rian terasa semakin romantis.


"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Shelin memecah keheningan malam.


"Apa?" tanya Rian.


"Kenapa dengan pakaianku yang tadi?" tanya Shelin.


"Aku tidak suka. Menurutku tidak cocok denganmu," jawab Rian.


"Oh," jawab Shelin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Rian.


"Ah tidak. Aku senang kamu mengoreksiku seperti itu. Aku ingin selalu terlihat menarik untukmu," jawab Shelin.


"Terima kasih," ucap Rian sambil mengecup punggunv tangan Shelin.


Maafkan aku karena kebohonganku. Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu.


Rupanya baju yang Shelin pakaian adalah baju yang sama dengan yang Rian berikan untuk Riri. Seketika bayangan Riri menyeruak kembali dalam ingatan Rian. Tidak ingin ia berlarut dalam bayangan masa lalunya, Rian berusaha menghentikan semua itu.


Beruntung Shelin wanita yang baik dan penurut. Tanpa banyak tanya, ia mengikuti apa yang Rian pinta. Itu adalah nilai plus yang membuat Rian semakin kuat untuk memperjuangkan Shelin.


Makan malam ini sangat romantis. Shelin belum pernah merasakan suasana indah seperti ini. Ia sampai berkali-kali mengucapkan terima kasih sambil menggenggam erat tangan Rian.


Malam indah itu sudah berlalu. Rian kembali mengantar Shelin ke rumahnya. Seharusnya malam ini ia pulang ke rumah Nyonya Helen, tapi ia mengurungkan niatnya.


Ini sudah terlalu malam. Rian tidak mau mengganggu istarahat kedua orang tua angkatnya. Ia memilih untuk kembali ke rumah kontrakannya. Rumah yang menjadi tempat singgahnya saat kepalanya terasa pusing dengan beban hidupnya.


Rumah itu memang sudah jarang ditinggali olehnya. Namun setiap kali ke sana, ia merasa sangat tenang. Ia merasa bebas untuk mengekspresikan apanyanh ia rasakan. Termasuk saat ini. Ia ingin melepaskan kegelisahannya saat bayangan Riri kembali mengusik kehidupannya.


Rian sudah menghapus semua kenangan dengan Riri dalam ponselnyan Tapi memory di kepalanya belum terhapus seutuhnya. Masih ada sisa kenangan yang mungkin tidak bisa ia lupakan sepanjang hidupnya. Terlalu indah dan sangat mengesankan.


Rian segera menyadarkan dirinya dari bayangan yang menghantuinya itu. Ia segera membuka ponsel dan melihat foto-foto kebersamaannya dengan Shelin. Perlahan kepalanya kembali pulih.

__ADS_1


Tidur terlelap setelah semua kegelisahannya sudah teratasi. Saking nyenyaknya, Rian bangun saat mentari sudah mulai menari. Dengan kepala yang masih pusing ia segera mandi dan bersiap.


"Mau kemana?" tanya Rina setengah berteriak.


"Ke kantor lah. Masa ke rumah sakit. Aku berangkat ya!" jawab Rian.


"Eh tunggu dulu," ucap Rina.


"Apa lagi? Aku buru-buru. Sudah kesiangan ni," ucap Rian.


"Memangnya kantormu hari ini tidak libur ya?" tanya Rina.


Rian diam sebentar. Libur? Astaga ia sampai lupa kalau hari ini libur. Ia tidak sadar kenapa alarm di ponselnya tidak membangunkannya. Itu karena memang ia sengaja agar bisa tidur dengan bebas di saat hari libur.


"Katanya mau berangkat ke kantor. Ya sudah sana! Nanti karyawan menunggumu," ejek Rina sambil menahan tawa.


Rian yang cemberut tidak jadi berangkat ke kantor. Ia justru menghampiri Rina yang sedang duduk santai di depan rumahnya. Berusaha menyingkirkan rasa mslunya karena bisa sampai lupa hari.


"Mana suamimu?" tanya Rian.


"Sedang melamar kerja Ri. Doakan ya!" jawab Rina.


"Semoga lancar. Jangan khawatir! Pasti ada rejekinya," ucap Rian.


"Iya. Biar bisa bayar utang," ucap Rina.


"Aku tidak pernah merasa memberimu kasbon ya!" ucap Rian.


"Bukan sama kamu," ucap Rina.


"Utang ke siapa?" tanya Rian.


"Ke pegadaian," jawab Rina.


Rina menceritakan semuanya. Perhiasan peninggalan orang tuanya sudah masuk di pegadaian dan masih harus dicicil olehnya. Ia bahkan menyesal karena sudah menggadaikan perhiasan itu hanya untuk sebuah pesta pernikahan.


"Seharusnya aku tidak perlu memaksakaan diri," ucap Rina penuh sesal.


"Jangan menyesali semua itu. Pesta pernikahan itu terjadi sekali dalam seumur hidup. Sudah sewajarnya kamu membuat semua berkesan," ucap Rian.


Ucapan Rian berhasil sedikit menepis rasa sesal dalam hati Rina.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Berapa lagi cicilanmu?" tanya Rian.


"Aku hanya bercerita. Jangan selalu berlebihan padaku," jawab Rina.


"Kita ini kan teman. Kamu sama teman saja itungan," ucap Rian.


Bukan itungan, tapi ia merasa Rian terlalu baik padanya. Sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan orang sebaik Rian. Ternyata ia salah saat bercerita tentang keuangan pada Rian.


"Kamu selalu saja berkata seperti itu. Aku hanya tidak mau selalu membebankan beban hidupku padamu," ucap Rina.


"Kita kan teman. Aku tidak merasa itu beban. Selama aku bisa membantumu, itu tidak masalah. Kamu juga sudah banyak membantuku," ucap Rina.


Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya Rina menyerah. Benar apa kata Rian, perhiasan itu peninggalan ibunya. Seharusnya ia menyimpan itu dengan baik.


"Terima kasih ya Ri. Aku banyak berhutang budi padamu," ucap Rina.


"Berhenti mengucapkan kalimat itu. Aku sangat terganggu," ucap Rian.


Rian juga bercerita kalau ia akan segera melangsungkan pernikahan dengan Shelin. Hanya beberapa bulan lagi, setelah proyek terbesarnya rampung. Sebenarnya semua persiapan bisa berjalan tanpa dirinya ikut campur. Namun, ia ingin terlibat untuk acara spesialnya.

__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Rina.


"Kamu bantu doa saja. Doakan semua berjalan lancar sesuai dengan harapan," jawab Rian.


"Mentang-mentang aku miskin," ucap Rina.


Rian berdecih tidak suka saat mendengar jawaban Rina. Ia selalu terganggu dengan bahasan miskin dan kaya.


"Karena kamu orang baik. Doa orang baik itu pasti dikabul sama Tuhan," ucap Rian.


Sampai saat ini Rina hanya bisa menunjukkan rass bahagia dengan ekspresinya. Tanpa ia tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Rian.


Mungkin benar apa yang diucapkan Rian. Hanya doa yang bisa ia berikan untuk sahabatnya itu. Rian punya banyak uang dan akan dengan mudah untuk mewujudkan apa yang ia harapkan.


Obrolan Rian dan Rina selesai saat Shelin meneleponnya. Ia segera pamit untuk menjawab panggilan dari Shelin. Rina hanya tersenyum bahagia saat melihat Rian bahagia.


Rina adalah orang pertama yang diberi tahu tentang rencana pernikahan itu. Shelin dan Tuan Felix pun belum tahu rencana itu. Saat ini Rian hanya ingin fokus dengan pekerjaannya. Ia harus banyak mengumpulkan rupiah untuk pesta yang ingin ia gelar dengan sangat mewah itu.


Sejak saat itu, yang Rina lakukan adalah membantu Rian dengan caranya sendiri. Mendoakan Rian agar ia selalu lancar dalam setiap urusannya.


Mungkin berkat doa Rina juga semua urusan Rian memang benar-benar berjalan dengan lancar. Bukan hanya lancar, tapi setelah proyek besar itu selesai justru semakin banyak proyek baru berdatangan. Rian bahkan sempat ragu untuk menerima tawaran kerja sama itu. Ia takut tidak bisa memberikan yang terbaik.


Tuan Felix yang mendirikan perusahaan itu adalah orang yang paling bahagia dengan perkembangan perusahaan Rian. Ia senang saat apa yang ia berikan benar-benar bisa dikelola dengan baik oleh Rian. Ia berhasil memberikan apa yang seharusnya ia dapatkan.


Sekarang, Rian menagih janji Tuan Felix. Perusahaannya sudah maju dan ia meminta ayah angkatnya itu untuk menetap di Indonesia bersamanya. Ia sudah mampu membiayai kehidupan Tuan Felix, sesuai target yang pernah mereka bahas saat itu.


Padahal saat itu Tuan Felix hanya memberikan tantangan saja. Ia tidak benar-benar ingin membebani Rian dengan kehadirannya di Indonesia. Ia memang ingin segera menetap di Indonesia, tapi ia sudah menyiapkan semuanya.


"Jadi kapan Pah?" tanya Rian.


"Nanti," jawab Tuan Felix.


"Kapan? Perlu aku jemput?" tanya Rian yang sudah tidak sabar.


"Nanti setelah kamu menikah," jawab Tuan Felix.


"Jadi nambah lagi syaratnya," ucap Rian.


"Memangnya masih lama?" pancing Tuan Felix.


Akhirnya Rian tidak bisa menghindar. Pesta pernikahan itu akan segera ia gelar dengan sangat mewah. Tuan Felix sempat kesal karena tidak diberitahu sebelumnya.


"Pokoknya Papa datang ke sini semua sudah beres. Aku bisa atur semuanya sendiri," ucap Rian.


Tuan Felix memang kesal. Tapi jawaban Rian bisa menghilangkan amarahnya. Ia bangga pada Rian yang semakin dewasa. Mampu menyelesaikan masalahnya dan mewujudkan impiannya tanpa harus melibatkan Tuan Felix.


"Jangan sampai Papa lupa dikabari," ancam Tuan Felix.


"Ya ampun Pah. Mana mungkin aku jadi anak durhaka begitu," ucap Rian.


Bahkan Rian berencana untuk menjemput Tuan Felix ke Jerman. Ia pergi sendiri sebagai bukti kalau Tuan Felix adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Orang yang sudah mengubah jalan dan nasib hidupnya.


"Kalau tidak ada Papa mungkin sekarang aku," ucapan Rian terhenti saat Tuan Felix memotong ucapannya.


"Masih jadi tukang lotek," ucap Tuan Felix.


Ucapan Tuan Felix tentu membuat Rian tertawa terbahak. Ternyata Tuan Felix sudah sangat mengingat setiap kalimat yang sering ia ucapkan.


Orang yang tidak tahu cerita masa lalu antara Tuan Felix dan Rian, pasti tidak ada yang menyangka jika mereka bukan anak dan ayah kandung. Kedekatan mereka bahkan bisa membuat pasangan anak dan orang tua cemburu. Rian dan Tuan Felix adalah salah satu gambaran keluarga yang sangat harmonis. Tumbuh hangat meskipun tanpa sentuhan kasih sayang dari seorang ibu.


Sebenarnya ada Nyonya Helen yang menyayangi Rian dengan begitu tulus. Tapi pada akhirnya mereka menjadi tidak terlalu dekat karena Tuan Felix membawa Rian untuk tinggal di Jerman.

__ADS_1


Mau tidak mau jarak memang membedakan kedekatan antara Rian dan Nyonya Helen, atau Rian dan Tuan Felix. Waktu untuk selalu bersama membuat Rian merasa lebih dekat dengan Tuan Felix. Meskipun keduanya memberikan kasih sayang yang begitu tulus padanya. Dan itu membuat Rian sangat bersyukur.


__ADS_2