Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Meminta setengah memaksa


__ADS_3

Selesai dari kamar mandi Rian menatap ponselnya dengan bimbang. Ia penasaran dengan balasan apa yang akan diberikan Riri, namun ia juga takut seandainya balasan Riri membuatnya kecewa.


"Pak, sarapannya sudah saya siapkan." Manto memberikan sarapan untuk Rian.


Rian menatap sarapan yang sudah tersaji di meja. Memang benar ia harus sarapan. Ia butuh asupan sebelum membaca pesan yang dikirim Riri.


"Astaga Pak, jangan merepotkan begini. Saya bisa cari sarapan sendiri," ucap Rian.


"Bapak sudah terlalu baik hingga menemani saya di sini. Apa yang saya berikan ini tidak ada apa-apanya," ucap Manto.


"Jangan begitu. Saya ikhlas kok. Bapak kan teman saya," ucap Rian.


"Saya juga ikhlas. Sebagai seorang teman wajar jika saya menyiapkan sarapan untuk Bapak," ucap Manto.


Rian tesenyum. Ia tidak mau berdebat dengan Manto. Apalagi istri Manto melihat perdebatan itu dan tersenyum.


"Ya sudah saya terima. Makan Pak, bu," ucap Rian sebelum makan.


"Silahkan Pak," ucap Manto.


Sementara istrinya hanya mengangguk lemah. Manto kembali menemani istrinya saat Rian sedang sarapan. Ia juga meminta izin untuk tidak masuk kerja lagi.


"Jangan pikirkan pekerjaan. Saat ini yang paling penting adalah kesehatan istri Bapak," ucap Rian.


Rian sudah tahu bagaimana kinerja Manto selama ini. Saat Manto sedang tidak bisa bekerja, ia sudah sangat mengerti. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu. Sejauh ini ia sendiri bisa menghandle pekerjaan Manto. Ia juga tidak khawatir karena ada Danu yang selalu siap membantunya.


"Pak, saya ke kantor dulu ya!" ucap Rian yang pamit pada Manto dan istrinya.


Berkali-kali Manto mengucapkan terima kasih pada Rian atas perhatian yang sudah diberikannya. Bagi Manto, Rian benar-benar atasan yang tidak hanya menganggapnya bawahan. Rian memang selalu konsekuensi dengan ucapannya.


Rian selama ini selalu mengucapkan bahwa Manto adalah sahabatnya. Dan saat ini Manto bisa membuktikan bahwa ucapan Rian memang benar. Rian benar-benar sahabatnya. Selama ini Manto belum pernah memiliki seorang atasan yang begitu baik seperti Rian.


Pekerjaan membuatnya memiliki kenyamanan dan keluarga baru. Manto yang selalu mengerti keadaan Rian menjadi alasan Rian tidak perlu memberikan jarak diantara mereka. Rian sama sekali tidak takut dianggap tidak berwibawa di hadapan Manto. Nyatanya Manto selalu menghormatinya meskipun bukan dalam lingkungan pekerjaan.


"Manto?" gumam Rian sambil mengerutkan dahinya.


Rian yang sedang menyetir akhirnya menepi dan menjawab panggilan Manto. Pikirannya sudah buruk. Ia takut Manto mengabari hal yang tidak ingin ia dengar. Ternyata Manto hanya mengabari jika charger ponselnya ketinggalan.


Ya, Manto melupakan chargernya di rumah sakit. Tapi tidak masalah. Saat ini baterai ponselnya sudah full. Ia juga bisa memakai charger milik Mia saat pulang kerja. Karena ia sudah mengangendakan untuk menginap di rumah Mia hari ini.


Perjalanan dilanjutkan kembali Rian sudah ditunggu oleh Danu karena ada berkas yang harus ia kirim pagi itu. Ia senang saat melihat Danu begitu sigap. Saat ia lupa akan agenda pentingnya, Danu selalu mengingatkannya.


"Terima kasih ya Kak," ucap Rian.


"Sama-sama," ucap Danu.


Rian segera masuk ke ruangannya. Bukan untuk bekerja. Ia hanya ingin tahu balasan apa yang dikirim Riri. Sampai saat ini ia belum sempat membaca pesan itu.


"Kamu balas apa ya Pus? Please jangan buat aku kecewa," gumam Rian.


Matanya berbinar. Bibirnya mulai mengembang saat Rian membaca pesan itu. Ternyata Riri juga mengaharapkan hal yang sama. Ia menginginkan kebersamaan yang sama. Walaupun Riri belum memberikan kepastian, namun Rian sudah punya sedikit harapan.


Rian segera menelepon Riri. Hatinya yang tengah berbunga tidak bisa ia sembunyikan lagi. Apalagi saat melihat dan mendengar suara Riri, debaran jantungnya terasa lebih cepat dibandingkan biasanya.


"Kangen," ucap Riri tiba-tiba.

__ADS_1


Rian terkejut saat Riri mengungkapkan erasaan rindunya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Riri sudah mulai berani. Biasanya Riri sangat anti untuk mengungkapkan perasaannya seperti itu.


"Kenapa? Salah ya?" tanya Riri.


"Ah tidak. Aku suka," jawab Rian.


"Besok aku ke Indonesia," ucap Riri.


"Hah?" tanya Rian.


"Kok hah? Tidak suka ya?" tanya Riri.


"Bukan, bukan begitu. Coba ulangi lagi," ucap Rian.


"Besok aku ke Indonesia," ucap Riri.


Rian masih belum menjawab. Ia masih menyadarkan dirinya sendiri. Karena ucapan Riri bagaikan mimpi dalam hidupnya.


"Mas," panggil Riri.


"Ah iya," ucap Rian.


"Mas kenapa?" tanya Riri.


"Aku baik-baik saja. Aku menunggumu," jawab Rian.


Saat panggilan sudah berakhir, Rian masih berpikir jika semua itu hanyalah sebuah mimpi. Ia masih takut bermimpi terlalu tinggi. Ekspektasinya untuk Riri terlalu tinggi.


Seharian Rian menunggu kabar yang sangat ia nanti. Kabar baik yang mengejutkannya. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya karena harus pulang lebih awal. Ia akan menceritakan semuanya pada Mia.


Suara Rian yang tak asing lagi di telinga Naura dan Narendra membuat keduanya memburu Rian. Pelukan mereka sangat erat tanda bahwa mereka sangat merindukan kedatangannya.


"Mama mana?" tanya Rian.


"Datang-datang kok nanyain Mama. Memangnya om tidak kangen ya sama kita?" tanya Naura.


"Sayang, maaf. Bukannya om tidak kangen, tapi ada hal penting yang mau om bahas dengan Mama. Maaf ya," ucap Rian sambil mengusap kepala Naura dan Narendra.


Sebagai permintaan maaf, Rian menemani Naura dan Narendra untuk bercerita. Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul lima.


"Mama biasa pulang jam berapa sih?" tanya Rian setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.


Naura melihat jam di dinding.


"Biasanya sih jam segini juga sudah pulang Om," jawab Naura.


Rian keluar dan menghubungi Mia. Ternyata Mia sedang lembur hari ini.


"Ri, aku sama A Dion pulangnya jam delapan. Kamu tidur duluan saja," ucap Mia.


"Aku tunggu Kak. Ada yang mau aku bahas sama Kakak," ucap Rian.


"Oh ya? Tentang apa?" tanya Mia.


"Mpus," jawab Rian.

__ADS_1


"Mpus?" tanya Mia.


"Nanti saja kita bahas ya kalau Kakak sudah pulang. Itu juga kalau Kakak tidak cape," jawab Rian.


"Oh tidak, santi saja. Tunggu ya!" ucap Mia.


Rian yang lelah sudah menguap beberapa kali. Padahal baru jam tujuh. Ia melihat ke kamar Naura dan Narendra, mereka sedang mengerjakan tugas. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk ke kamar mereka.


Rian masuk ke kamarnya. Matanya semakin berat. Ia kembali menguap berkali-kali. Karena takut ketiduran, Rian keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tengah. Ia menyalakan televisi. Menunggu Mia yang tak kunjung datang.


"Kak Mia kok masih belum pulang ya," ucap Rian setelah menguap lagi.


Mia yang ternyata pulang lebih malam sudah melihat Rian tidur di kursi. Ia mencoba membangunkan Rian namun hanya menggeluat tanpa membuka matanya.


"Ri," panggil Mia lagi sambil mengguncang pelan tubuh Rian.


Lagi-lagi Rian masih saja tidur nyenyak tanpa menghiraukan panggilan Mia. Ponsel Rian tergeletak di atas meja dan nampak panggilan dari Riri.


"Mpus nelepon loh A," ucap Mia.


"Dianya sudah tidur. Biarkan saja," ucap Dion.


Mia dan Dion akhirnya membiarkan Rian tertidur di kursi. Mereka melihat kamar anak kembarnya. Namun keduanya sudah tidur. Mereka mengecup anak kembarnya bergantian.


"Ayo Mi," ajak Dion.


Mia menatap kedua anak kembarnya. Sekarang mereka tidur di satu kamar yang sama namun ranjang yang berbeda. Mia berkali-kali melihat keduanya bergantian.


"Mi, kenapa?" tanya Dion.


"Mereka sudah besar ya A?" ucap Mia sambil tersenyum.


"Iya Mi. Kita sudah mau punya menantu ya?" ucap Dion.


"Heh, menantu dari mana. Mereka masih anak-anak," jawab Mia.


"Tadi katanya sudah besar," ucap Dion.


"Iya habisnya Mia takut kalau bahas menantu. Mia rasanya sudah tua banget," ucap Mia.


"Lah, memangnya siapa yang masih muda?" tanua Dion.


"Ih Aa," ucap Mia sambil memukul bahu Dion.


Dion segera memeluk Mia.


"Tapi kamu tetap yang paling cantik di mataku," ucap Dion.


Mia yang masih kesal hanya cemberut kesal. Dion masih berusaha membujuk Mia. Namun perasaan Mia yang masih kesal membuat Mia tidak bergeming. Dion segera menggendong Mia dan membawanya ke kamar.


Malam ini menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Dion yang merasa penat dengan pekerjaan yang panjang meminta Mia untuk menuntaskan hasratnya. Sudah beberapa hari Dion yang sibuk dengan pekerjaan, membuatnya mengesampingkan hasratnya.


Bukan karena tidak tergoda dengan Mia yang tak muda lagi, tapi karena Dion tidak tega melihat keadaan Mia. Setiap hari Mia terlihat lelah karena harus lembur.


Tapi semua itu tidak berlaku untuk malam ini. Dion yang sudah tidak bisa menahan hasratnya segera meminta setengah memaksa pada Mia.

__ADS_1


__ADS_2