Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mama pasti kuat


__ADS_3

Maudi mendekap ponselnya panggilan itu berakhir. Bibir yang tersenyum itu kini menjadi muram. Bayangan Maudi kembali mengganggu pikirannya.


"Aku harus kuat. Jangan samai rasa cemburuku mengganggu pikiran Mas Rian," gumam Riri.


Setelah menata perasaannya kembali, Riri melanjutkan pekerjaannya. Ia membereskan lemari Mr. Aric. Semua selesai dengan teat waktu. Saat ia akan keluar dari kamar, Mr. Aric baru saja akan masuk ke dalam kamar.


Riri segera pamit namun Mr. Aric meminta waktunya sebentar. Penuh tanda tanya. Tidak sekalipun Mr. Aric bicara dengan seserius ini. Riri terkejut saat Mr. Aric memberikan sebuah kertas padanya.


Selembar surat yang menyatakan bahwa Riri berhak atas seperempat dari harta yang dimiliki Mr. Aric. Hal yang tidak pernah Riri bayangkan sebelumnya. Sempat menolak karena Riri merasa ini terlalu berlebihan.


Bagi Riri, Mr. Aric sudah membayar biaya kuliahnya saja sudah lebih dari cukup. Karena kalau saja upahnya bekerja yang digunakan untuk biaya kuliah, tentu sama sekali tidak akan cukup. Namun Mr. Aric menganggap hal itu tidak ada apa-apanya, dan memaksanya untuk tetap menerima surat itu.


Tuhaaan, kenapa masih ada manusia baik seperti ini. Aku tidak yakin jika dia adalah manusia. Bagiku dia bagaikan malaikat yang sudah diturunkan untuk mengubah nasibku.


Dengan mata yang berlinang, Riri kembali ke kamarnya. Surat itu masih dalam genggamannya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.


"Pah, Ma, ini adalah buah kesabaranku. Rasa sakit yang aku rasa kini berubah jadi bahagia. Tangis sedih dan kecewa itu kini sudah sirna. Aku ingin segera kembali ke Indonesia. Menunjukkan kepada kalian kalau aku mampu mengubah nasibku," gumam Riri.


Riri menatap layar ponselnya. Melihat beberapa foto di galeri ponselnya. Jemarinya berkali-kali menggeser layar. Bibirnya tersenyum merekah saat melihat foto Rian.


"Terima kasih pria hebat. Sejauh ini Mas adalah pria baik yang selalu menguatkanku saat rapuh. Meyakinkanku saat hati ini penuh keraguan. Aku akan pulang dan menjadi istrimu," ucap Riri sambil tersenyum.


Senyumnya semakin merekah saat melihat nama Rian di layar ponselnya.


"Mas, ada apa?" tanya Riri saat tombol hijau itu sudah ia sentuh.


"Alamat orang tua kamu dimana?" Rian balik bertanya.


"Tidak perlu Mas cari. Mas fokus saja dengan tujuan Mas," jawab Riri.


"Hey, aku belum mulai bekerja. Seminggu lagi kantor baru akan selesai. Nanti disela-sela waktu luangku, aku akan mencari orang tuamu. Biar kalian bisa kembali berkomunikasi," ucap Rian.


"Jangan Mas. Tidak perlu," jawab Riri.


Riri segera mengakhiri panggilan itu dengan alasan sibuk. Rian tidak bisa menolak jika sudah beralasan seperti itu. Riri sendiri lebih memilih berbohong agar bahasan tentang orang tuanya semakin dalam dan berlanjut.


Sementara Rian hanya menggeleng saat Tuan Felix menunggu jawabannya. Sebenarnya yang meminta alamat orang tua Riri adalah Tuan Felix. Sebagai seorang ayah, ia ingin tahu bagaimana keadaan keluarga calon menantunya.


"Dia tidak memberi tahu alamat orang tuanya?" tanya Tuan Felix.


"Tidak Pah," jawab Rian.


"Ya sudah tidak apa-apa. Kota tidak memaksa Mpus. Mungkin dia punya alasan tersendiri untuk merahasiakan semuanya darimu," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," jawab Rian.


"Papa mau ke kamar dulu ya! Papa cape. Mau istirahat," ucap Tuan Felix.


"Nauraaaa, Rendraaaa," teriak Nyonya Helen.

__ADS_1


Baru saja Tuan Felix pamit ke kamar, ia harus menutup telinganya saat mendengar teriakan Nyonya Helen yang mengusik gendang telinganya. Sepertinya kini Tuan Felix dan Rian tahu kenapa Naura selalu berteriak saat berbicara. Ada turunan dari Nyonya Helen.


"Haii, Rian, Tuan Felix. Sehat?" tanya Nyonya Helen daat melihat Ruan dan Tuan Felix berdiri di depan rumah.


"Sehat Ma. Mama sehat?" Rian balik bertanya dan mencium tangan Nyonya Helen.


Nyonya Helen mengusap kepala Rian. Rasa kagumnya muncul saat anak itu masih tetap sopan meski sudah lama tinggal di Jerman. Namun budaya negeri tercinta masih ia junjung tinggi.


"Baik. Seperti yang kamu lihat. Mama baik-baik saja," jawab Nyonya Helen.


"Aku sangat merindukan Mama. Sudah sangat lama ya kita tidak bertemu," ucap Rian.


"Iya. Mama juga rindu padamu. Padahal Mama merasa baru kemarin kamu masih jadi anak SMP. Sekarang kamu sudah sarjana dengan nilai yang sangat memuaskan," ucap Nyonya Helen mengungkapkan rasa bangganya.


"Semua berkat Mama juga. Kalau saja Mama tidak memintaku tinggal bersama Mama saat itu, mungkin aku masih menjadi penjual lotek sampai saat ini. Terima kasih ya Ma," ucap Rian.


"Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Tuhan sayang padamu sehingga mengangkat derajatmu lebih tinggi. Semua itu berkat kebaikan dan ketulusanmu juga," puji Nyonya Helen.


"Mama selalu membuatku terbang melayang. Sekali kagi terima kasih Ma," ucap Rian.


"Oh ya mana cucu Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Mungkin mereka sedang mandi Ma," jawab Rian.


"Memangnya mereka baru pulang?" tanya Nyonya Helen sambil melihat pergelangan tangannya.


"Mereka baru pulang main denganku," jawab Tuan Felix.


"Oh," ucap Nyonya Helen.


Jawaban yang sebenarnya tidak aneh dan sudah Nyonya Helen duga sebelumnya. Namun ia dibuat terkejut saat Tuan Felix menanyakan kabar suaminya. Ia berpura-pura tenang saat menjawab pertanyaan dari besannya itu.


"Kapan dia main ke sini? Atau harus aku yang ke sana?" tanya Tuan Felix.


Seolah tidak tahu apa-apa, Tuan Felix terus mendesak Nyonya Helen agar menjelaskan semuanya. Namun sepertinya Nyonya Helen adalah istri yang sangat taat pada suaminya. Tidak ada satu katapun yang menggambarkan jika Tuan Wira sedang sakit.


"Suamiku sedang sangat sibuk. Dia pasti akan menemuimu setelah pekerjaannya selesai," jawab Nyonya Helen.


Seandainya Tuan Felix dan Rian tidak tahu keadaan Tuan Wira dari Dion dan Mia, mungkin saat ini mereka hanya akan percaya dengan kata sibuk. Nyonya Helen memang seperti pemeran drama korea. Sangat meyakinkan.


"Aku tunggu sebelum kembali ke Jerman. Sampaikan salamku padanya," ucap Tuan Felix.


Nyonya Helen mengangguk. Ia lega saat Tuan Felix sudah kembali ke kamarnya. Ia berharap Rian tidak banyak bertanya karena tidak ingin ada kebohongan lagi yang ia ucapkan.


Rian membaca raut wajah Nyonya Helen. Ia tidak lagi membahas tentang Tuan Wira dan segera mengajak nyonya Helen untuk menemui kedua cucu kembarnya.


"Ri, katanya kamu sudah punya calon ya?" tanya Nyonya Helen.


"Mudah-mudahan jodohnya ya Ma. Tapi aku rasa masih terlalu jauh jika aku mengakuinya sebagai calon," jawab Rian.

__ADS_1


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Aku belum punya apa-apa. Malu Ma kalau sudah ngaku-ngaku punya calon," jawab Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Nyonya Helen pun memberi pandangan tentang nikah muda. Rejeki itu bisa datang dari arah mana saja. Bahkan menikah itu adalah gerbangnya rejeki.


"Kalau kamu siap, menikahlah. Rejeki akan ada jalannya saat kamu sudah menikah," ucap Nyonya Helen.


"Ah Mama. Apa yang mau aku berikan? Aku tidak punya apa-apa," ucap Rian.


"Kamu jangan ragu pada kuasa Tuhan. Setiap niat baik pasti ada jalannya. Percaya sama Mama," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma. Aku percaya," ucap Rian.


Sedang asyik bercerita, Naura dan Narendra datang dengan teriakan khas mereka. Rian senang saat melihat Narendra sudah kembali ceria seperti yang ia kenal sebelumnya.


"Oma, ayo kita main." Naura menarik tangan Nyonya Helen untuk ke ruangan bermain.


Dengan senang hati Nyonya Helen mengikuti kedua cucu kembarnya untuk melihat mainan baru yang ditunjukkan oleh keduanya. Rasa sedih karena keadaan suaminya, seketika menghilang saat melihat cerianya kedua cucunya yang begitu lucu.


Diam-diam Nyonya Helen mengabadikan aktivitas mereka dengan ponselnya. Tentu saja semua itu akan ia tunjukkan kepada suaminya saat pulang nanti. Hal itu akan menjadi oleh-oleh yang paling membahagiakan untuk Tuan Wira.


"Oma, Opa masih sibuk?" tanya Naura dengan wajah polosnya.


DEG.


Nyonya Helen terkejut saat mendengar pertanyaan dari Naura. Mau sampai kapan ia membohongi semua orang dengan keadaan suaminya. Tapi ia juga tidak mau jika suaminya marah dan kecewa jika ia tidak bisa menjaga rahasia itu. Terlebih kepada kedua cucunya.


"Nanti kalau sudah sibuk, Opa pasti akan segera menemui kalian. Doakan Opa ya!" ucap Nyonya Helen.


Pah, cepat sembuh. Lihatlah kedua cucu kembar kita yang sangat lucu ini sangat merindukanmu.


Nyonya Helen meminta Naura dan Narendra untuk membuat video. Mengungkapkan rasa rindu mereka kepada Tuan Wira. Bibir Nyonya Helen tersenyum getir, saat melihat wajah polos itu bicara di depan kamera. Namun seolah-olah mereka sedang bicara dengan Tuan Wira.


"Oma, sudah." Naura memberikan ponselnya pada Nyonya Helen.


"Terima kasih ya," ucap Nyonya Helen.


"Oma, kenapa tidak video call saja?" tanya Narendra.


"Opa sibuk. Oma takut mengganggu," jawab Nyonya Helen.


Entah sudah berapa kebohongan yang ia ucapkan kepada Narendra dan Naura. Sedih rasanya, namun untuk saat ini ia tidak punya pilihan lain selain berbohong.


Maafkan Oma ya anak-anak.


Wajah penuh rasa bersalah itu sangat terlihat jelas di wajah Nyonya Helen. Rian yang melihatnya dari celah pintu hanya bisa ikut sedih tanpa bisa berbuat apa-apa.


Kuat ya Ma. Rian yakin Mama pasti kuat.

__ADS_1


__ADS_2