Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Saling berjanji


__ADS_3

Rian memanfaatkan sisa waktunya di Jerman dengan belajar hal-hal tentang perusahaan. Ia mempelajari beberapa hal baru yang belum ia temukan sebelumnya. Tentunya itu akan sangat ia butuhkan saat nanti ia akan merintis usaha barunya di Indonesia.


Memang tidak sendiri. Ada Dion dan Mia yang siap membantunya. Namun Rian juga tahu jika mereka punya perusahaan sendiri dan tentunya akan sangat sibuk dengan urusannya.


"Jangan terlalu seriua begitu. Sudah dua hari belakangan ini kamu terlihat sangat tertekan. Lebih baik kamu bertemu dengan Mpus," ucap Tuan Felix.


Rian yang tengah fokus dengan laptopnya segera mengangkat wajahnya. Fokusnya buyar saat mendengar nama Mpus disebut. Ya, sudah dua hari ia absen untuk bertemu dengan Riri. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


"Mpus sedang ujian," ucap Rian.


"Ujian kan ada istirahatnya. Masa dia tidak punya waktu sama sekali. Hanya dua hari lagi sebelum kamu benar-benar jauh dengannya," ucap Tuan Felix.


Papa benar. Kenapa aku bisa menghabiskan dua hariku tanpa Mpus? Aku memang butuh semua persiapan ini untuk bisnis baruku nanti. Tapi aku melupakan kalau aku merindukan Mpus.


"Iya nanti aku akan menemui Mpus, Pah." Rian kembali fokus dengan laptopnya.


Setelah Tuan Felix pergi, Rian segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Riri. Ia memastikan jika Riri juga tengah merasakan hal yang sama. Rindu. Ya, sebuah rasa yang selalu membelenggu mereka meskipun baru dua hari tidak bertemu.


Tuan Felix tidak benar-benar pergi. Ia mendengarkan Rian dari balik pintu. Bibirnya tersenyum lebar saat mendengar anaknya tertawa lepas. Bahagia Rian adalah bahagia tersendiri untuknya. Ia berjanji akan menjaga Riri untuk Rian.


Seperti yang sudah direncanakan, Rian pergi malam ini. Rian memang mengajak Tuan Felix untuk ikut, namun kali ini ia menolak. Tuan Felix sengaja memberi waktu untuk mereka berdua.


"Papa sibuk," ucap Tuan Felix.


Kebohongan yang mudah sekali ditebak oleh Rian. Karena ia tahu betul jika tidak pernah ada kata sibuk jika ia mengajaknya pergi makan malam. Apalagi jika bersama Riri. Akhirnya ia menyadari jika memang Tuan Felix memberikan waktu berdua untuknya dengan Riri.


"Aku tidak akan mengecewakan Papa. Tenang saja," ucap Rian.


"Aku percaya padamu," ucap Tuan Felix sambil tertawa.


Ya, mungkin dulu Tuan Felix selalu menjadi orang ketiga saat Rian dan Riri jalan bersama. Sebenarnya ia memang khawatir dengan pergaulan anak jaman sekarang. Namun setelah melihat gaya berpacaran Rian dan Riri, Tuan Felix yakin jika memang keduanya tidak akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


Malam ini adalah acara makan malam pertama kalinya Rian dan Riri berdua tanpa adanya Tuan Felix yang membuat keduanya kadang merasa kaku. Rian berpikir jika malam ini akan menjadi sangat menyenangkan. Namun ternyata ketidakhadiran ayahnya justru membuat dirinya semakin kaku.


"Kamu kenapa diam saja, Mas?" tanya Riri.


"Aneh ya kalau Papa tidak ikut," jawab Rian.


"Iya. Padahal biasanya Papa akan selalu ada topik pembicaraan yang bisa kita bahas bersama ya Mas," ucap Riri.


"Iya," jawab Rian sambil melanjutkan makan malamnya.

__ADS_1


"Mas, ayo pulang!" ajak Riri saat selesai makan.


"Kok pulang?" tanya Rian sambil melihat pergelangan tangannya. Malam ini belum terlalu larut.


"Terus mau apa lagi?" Riri balik bertanya.


Ya, Rian sadar jika ia tidak mengajak Riri bicara. Ia sendiri bingung dengan bahasan yang harus dibahas saat itu.


"Kamu siap menjalani hubungan jarak jauh denganku?" tanya Rian.


Ini adalah bahasan basi sebenarnya. Namun ia tidak punya bahasan lain. Meskipun Riri sudah menjelaskan banyak hal tentang pertanyaan ini.


"Mas, apa yang kamu khawatirkan dari kesetiaanku?" jawab Riri dengan pertanyaannya.


"Aku tidak pernah meragukan kesetiaanmu Pus. Aku hanya tidak nyaman saat dihadapkan dengan kenyataan ada Hiro di sini," jawab Rian.


"Mas masih cemburu pada Hiro?" tanya Riri.


"Menurutmu ini berlebihan?" Rian balik bertanya.


"Bukankah di Indonesia ada Mba Maudi?" tanya Riri.


Jantung Rian seakan berhenti berdegup. Ia menatap Riri tajam. Bingung dengan pertanyaan Riri.


"Apa maksudmu?" tanya Rian.


"Kenapa aku tidak pernah membahas Mba Maudi selama ini? Karena aku percaya padamu Mas. Sebesar apapun usaha Mba Maudi untuk mendekatimu, kamu tidak akan kembali padanya kan?" Riri menatap Rian penuh kasih.


Cemburu pun sebenarnya Riri rasakan saat ia menyadari keberadaan wanita yang sempat menjadi bagian hidup Rian. Di Indonesia, mereka mungkin akan sering bertemu. Rasa khawatir memang sempat menguasai Riri, namun ia meyakinkan dirinya sendiri untuk mempercayai Rian.


"Aku berjanji akan menjaga diri dan perasaanku. Kamu jangan khawatir ya! Jangan berpikiran buruk tentangku. Kamu fokus kuliah," ucap Rian.


"Kalau begitu Mas juga jangan khawatirkan aku. Fokus saja dengan bisnisnya, karena aku berjanji akan menjaga diri dan perasaanku untuk Mas. Adil kan?" tanya Riri.


Rian tersenyum dan menggenggam tangan Riri. Ia belajar banyak hal malam ini. Apa yang ia cemaskan ternyata dirasakan pula oleh Riri. Namun ia kalah karena Riri justru bersikap lebih tenang.


"Aku kalah," ucap Rian.


"Aku tidak sedang mengalahkanmu. Kita sedang sama-sama belajar," ucap Riri.


"Aku harus belajar banyak darimu," ucap Rian.

__ADS_1


"Aku bukan guru Mas," ucap Riri.


"Kamu akan menjadi guru untuk anak kita nanti," ucap Rian.


"Mas, ternyata kamu gombal ya kalau tidak ada Papa. Nanti aku lapor ke Papa ah," ucap Riri.


"Hahaha," Rian hanya tertawa mendengar ancaman Riri.


Malam ini mereka lalui dengan rencana indah yang akan mereka wujudkan nanti. Beberapa tahun ke depan. Kapan tepatnya mungkin mereka tidak tahu. Tapi semua rencana itu tersimpan rapi. Dibungkus dengan harapan dan doa agar semua berjalan sesuai rencana.


"Ayo pulang Mas!" ajak Riri untuk kedua kalinya.


Jika ajakannya yang pertama hanya basa basi, maka ajakannya kali ini benar-benar serius. Waktu sudah semakin malam. Meskipun Mr. Aric sedang tidak di rumah, namun Riri berusaha untuk tidak bersikap seenaknya.


"Ayo!" ajak Rian.


Perjalanan pulang kali ini tidak seperti biasa. Tidak ada alunan musik yang terdengar dalam heningnya malam. Mereka lebih asyik tertawa dan bicara tentang banyak hal.


Riri terus membahas banyak hal tentang masa depan. Terlihat begitu ceria dan penuh harap dari wajah cantik Riri. Rian semakin yakin dengan keputusan ayahnya. Ia akan kembali ke Indonesia. Merintis perusahaan barunya. Ia harus sukses demi membahagiakan calon istrinya.


Setahun mungkin terlalu cepat untuk sebuah kesuksesan yang Rian ingin berikan untuk Riri. Namun Riri selalu meyakinkannya tentang sabar dan konsisten. Karena usaha tidak akan mengkhianati hasil.


"Aku akan selalu merindukanmu," ucap Rian.


"Aku juga, Mas." Riri menggenggam tangan Rian yang sedang memeang kemudi.


Rian gugup. Ia segera menepi dan menghentikan mobilnya. Tatapannya membuat Riri salah tingkah. Tangannya meraih dagu wanita cantik yang berusaha membuang muka.


"Maafkan aku," ucap Rian.


Belum sempat Riri bertanya apa maksud pertanyaannya, sebuah kecupan singkat mendarat di dahinya. Dadanya berdebar. Ia menatap Rian.


"Mas," ucap Riri.


Lagi-lagi Rian menyambar singkat bibir Riri. Kali ini Riri tidak bisa membuka mulutnya. Ia semakin tegang. Posisi Rian yang sangat dekat dengan dirinya membuat rasa takut luar biasa.


"Mpus, maafkan aku." Rian segera menjauhkan tubuhnya.


Riri masih belum menjawab. Ia hanya memegang bibirnya sambil melihat Rian yang sedang menutup kepalanya. Rian terlihat sangat bersalah. Namun ia sama sekali tidak menyalahkan Rian dalam hal ini.


Sebagai wanita remaja yang sedang dimabuk cinta, ia merasa perlakuan Rian padanya sangat normal. Bahkan jika saja ia boleh jujur, ia pun menikmati apa yang Rian lakukan padanya.

__ADS_1


__ADS_2