Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Marahan?


__ADS_3

"Pus, maaf ya!" ucap Rian sambil menarik tangan Tuan Felix.


"Apa sih, Ri?" tanya Tuan Felix.


"Ayo pulang Pah," ajak Rian.


"Yakin mau pulang?" tanya Tuan Felix.


"Iya. Ayo Pah," ajak Rian lagi.


"Pus, Papa pulang dulu ya!" ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," jawab Riri.


Rian nampak mengernyitkan dahinya saat melihat Riri dan Tuan Felix sangat akrab.


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Tidak," jawab Rian. "Pus, aku pulang dulu ya!" pamit Rian pada Riri.


"Iya Mas. Hati-hati," ucap Riri.


Tuan Felix melambaikan tangan ada Riri, begitupun Riri yang ikut membalas lambaian tangan Tuan Felix. Rian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.


"Papa jangan begitu sama Riri," ucap Rian.


"Riri atau Mpus?" tanya Tuan Felix.


"Namanya Riri. Hanya saja aku sering memanggilnya Mpus," jawab Rian.


"Mterus maksud kamu jangan begitu itu seperti apa?" tanya Tuan Felix.


"Papa kelihatan seperti yang snagat akrab. Ikut-ikutan panggil Mpus. Terus suruh dia manggil Papa juga," protes Rian.


"Ya terus kenapa? Jadi Mpus itu nama kesayangan? Hanya kamu saja yang boleh manggil dia Mpus? Begitu?" tanya Tuan Felix.


"Ya bukan begitu Pah," jawab Rian sambil menggaruk kepalanya.


"Kamu kenapa sih Ri?" tanya Tuan Felix.


Kenapa Papa begitu dekat dengan Mput padahal mereka baru bertemu? Sedangkan dengan Maudi? Papa selalu saja marah setiap kali aku menyebut namanya. Aku tidak bisa membiarkan ini terus-terusan. Ini akan membuat aku semakin sulit untuk membawa Maudi ke rumah Papa.


"Dia anak baik loh, Ri. Cantik. Apa lagi ya? Oh ya dia pasti pintar. Kamu mau cari yang bagaimana lagi?" tanya Tuan Felix.


"Papa yang bilang kalau aku masih terlalu dini membahas tentang pernikahan," jawab Rian.


"Memangnya Papa suruh kamu menikah?" tanya Tuan Felix kembali.


"Tapi kan arah bicara Papa ya ke sana. Aku yakin itu," jawab Rian.


"Ya kalau Tuhan menakdirkan bersama, kenapa tidak? Manusia kna hanya berencana dan berdoa," ucap Tuan Felix.


"Ya tapi kan aku dan Mpus hanya berteman," ucap Rian.


"Iya, Papa juga tahu. Kamu tenang aja," ucap Tuan Felix.


"Jadi Papa tidak perlu memintanya main ke rumah," ucap Rian.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Ya karena kita hanya berteman Pah," jawab Rian.


"Memangnya kalau teman tidak boleh main ke rumah?" tanya Tuan Felix.


Rian diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan Felix. Seandainya bisa jujur, ingin sekali ia mengatakan jika dirinya takut Maudi semakin cemburu. Rian tidak mau melukai hati Maudi terlalu dalam.


"Atau jangan-jangan kamu malu karena Mpus hanya seorang pembantu," tuduh Tuan Felix.


"Tidak Pah, tidak. Bukan begitu," ucap Rian.


"Terus kenapa?" tanya Tuan Felix.


Rian bingung. Ia menyerah karena tidak bisa memberikan jawaban yang logis untuk Tuan Felix.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak masalah kalau Riri ke rumah," ucap Rian pasrah.


"Nah begitu dong. Papa senang kalau anak baik itu main ke rumah. Papa boleh minta nomor Mpus?" ucap Tuan Felix.


Rian menatap Tuan Felix bingung. Padahal ia sudah memanggil Riri dengan nama aslinya, tapi Tuan Felix masih saja memanggil Riri dengan sebutan Mpus. Sepertinya Tuan Felix terlanjur nyaman dengan nama Mpus.


"Tidak punya," jawab Rian.


"Pelit sekali," ucap Tuan Felix.


"Ya ampun Pah. Aku benar-benar tidak punya nomor dia," ucap Rian.


"Ya sudah kalau begitu biar nanti Papa yang minta nomornya. Papa mau bilang kalau kamu pelit," ucap Tuan Felix.


"Silahkan. Mpus juga tahu kalau aku tidak punya nomornya," ucap Rian.


"Terserah," jawab Rian.


Setelah itu, suasana di dalam mobil hening. Tidak satupun diantara mereka yang bicara, sampai akhirnya mobil sampai di halaman rumah.


"Selamat istirahat Pah," ucap Rian.


"Iya. Selamat istirahat," ucap Tuan Felix.


Keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. Jika Tuan Felix memilih mandi dan segera tidur, Rian justru segera menghubungi Mia. Ia menceritakan semua pertemuannya dengan Riri di pesta Mr. Aric.


"Jadi dia pembantu? Hebat sekali," ucap Mia penuh dengan kekaguman.


Rian juga sebenarnya merasa kagum pada Riri. Dia bisa kuliah di kampus ternama dengan status sebagai seorang pembantu. Entah bagaimana ceritanya dan caranya ia membiayai kuliahnya. Rian ingin segera bertemu lagi dengan Riri. Ia ingin tahu banyak hal tentang Riri.


"Aku jadi ingin bertemu dengannya," ucap Mia lagi.


Rian merasa obrolannya dengan Mia tidak bisa dilanjutkan. Pujian dan sanjungan Mia terhadap Riri hanya akan membuat Maudi semakin terlihat buruk.


Setelah Rian mengakhiri panggilannya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sepintas bayanagan Riri melintas di benaknya. Wajah dan tingkah polos itu membuatnya penasaran. Keberaniannya terhadap Maudi adalah prestasi baginya, apalagi ditambah status Riri sebagai pembantu yang mampu kuliah di kampus besar itu.


Kamu itu sebenarnya siapa sih, Pus? Aku harus bertemu denganmu besok. Aku harus tahu siapa kamu.


Tidak lama ia mengingat wajah cantik Maudi. Bibirnya tersenyum lebar. Sehebat dan secantik apapun Riri, ia tidak bisa mengalihkan hatinya. Sebanyak apapun orang lain memuji Riri, namun hatinya hanya milik Maudi.


Keesokan paginya, Rian berangkat lebih awal dari jadwal kuliahnya. Ia berharap bisa bertemu dan mengobrol dengan Riri. Namun sayangnya, saat sampai ke kampus, Riri tidak ia temui.

__ADS_1


"Rian," panggil Rey.


"Hai Rey, sudah sehat?" tanya Rian.


"Sehat," jawab Rey.


Semenjak Rian menjenguk Rey, hubungan mereka kembali membaik. Meskipun tidak seperti dulu, namun setidaknya kini sudah jauh lebih baik.


"Baguslah," ucap Rian.


"Dari mana?" tanya Rey saat melihat Rian datang dari gedung jurusan tata busana.


"Aku mencari Riri," jawab Rian dengan santai.


Rian mencoba setenang mungkin agar Rey tidak salah paham. Hal ini karena Riri dan Maudi kuliah di jurusan yang sama.


"Apa Maudi ada?" tanya Rey.


"Aku tidak bertemu dengannya," jawab Rian.


"Aku permisi, mau cari Maudi dulu." Rey pamit.


"Kalau bertemu dengan Riri, katakan aku mencarinya." Rian meyakinkan Rey jika ia benar-benar tidak mencari Maudi.


"Ok," jawab Rey.


Mereka berpisah. Rey yang pergi mencari Maudi, sedangkan Rian pergi ke kantin. Berharap bisa bertemu dengan Riri di sana. Saat ia tidak berhasil menemukan Riri di kantin, ia berusaha mencari Riri di tempat-tempat lain. Namun sayangnya Riri tidak juga ia jumpai.


Jam sudah semakin mendekati jadwal kuliah, Rian menyudahi pencariannya. Ia akan melanjutkannya nanti setelah istirahat.


Saat di kelas, berkali-kali bayangan Riri melintas di kepalanya. Rian berusaha menepis semua bayangan Riri. Ia berusaha fokus dengan materi kuliah yang diberikan dosennya.


"Akhirnya selesai juga. Aku harus mencari Riri lagi," gumam Rian.


"Mau kemana?" tanya Rey saat melihat Rian segera keluar dari kelas.


"Cari Riri," jawab Rian.


"Oh iya tadi aku tidak bertemu dengan Riri. Memangnya kamu ada apa dengan dia? Kalian marahan?" tanya Rey.


Marahan? Pertanyaan itu seolah meyakinkan Rey atas hubungan apa yang terjalin antara Rian dan Riri sebenarnya.


"Hanya sedikit salah paham saja. Aku duluan ya!" jawab Rian.


Rian segera pergi mencari Riri lagi. Namun ia masih tidak berhasil. Sampai akhirnya ia memberanikan diri meminta jadwal kuliah di kelas Riri. Ternyata hari ini Riri tidak ada jadwal kuliah.


"Besok aku pasti akan bertemu denganmu Pus. Aku sudah tahu jadwalmu," gumam Rian.


Setelah tahu Riri tidak mungkin ia temui hari itu, Rian segera kembali ke kelas. Kembali mengikuti perkuliahan hingga selesai.


"Rian, mau pulang?" tanya Maudi.


"Iya," jawab Rian.


"Aku ikut ya!" ucap Maudi dengan manja.


Ah, wajah cantik itu berhasil membuat dadanya bergetar.

__ADS_1


"Kamu sama Rey saja ya!" ucap Rian saat melihat Rey ada di belakang Maudi. "Rey, duluan ya!" lanjut Rian sambil melambaikan tangannya pada Rey.


"Iya," jawab Rey sambil membalas lambaian tangan itu.


__ADS_2