Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Jalan berdua


__ADS_3

"Kalau Papa perhatikan kok kalian mirip ya?" ucap Tuan Felix.


"Hah?" ucap Rian terkejut.


Rian dan Riri saling menatap kembali. Memastikan kemiripan apa yang ada pada mereka berdua.


"Tuh kan, mirip kan?" ucap Tuan Felix lagi.


Keduanya semakin tidak paham apa maksud Tuan Felix. Namun tiba-tiba Tuan Felix berdiri dan berbisik.


"Tidak mau berterima kasih karena Papa sudah memberi kesempatan kalian untuk saling menatap begitu? Mpus cantik kan?" bisik Tuan Wira.


"Papa mau ke toilet sebentar ya!" ucap Tuan Felix pada Riri.


Riri mengangguk. Namun setelah Tuan Felix pergi, Riri bertanya tentang apa yang dibisikkan Tuan Felix tadi. Rian hanya bisa menggeleng karena tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya diucapkan Tuan Felix


"Ih, Mas ayo dong jawab. Tadi Papa bisikin apa?" tanya Riri lagi.


"Tidak ada. Papa cuma bilang makanannya enak," jawab Rian.


Riri hanya cemberut. Ia yakin jika Tuan Felix bukan membisikkan apa yang Rian katakan. Tapi apa boleh buat, Riri tidak bisa memaksa Rian untuk buka suara.


"Kamu hari ini ada acara kemana saja?" tanya Rian.


"Aku hari ini tidak kemana-mana Mas. Habis dari sini mau langsung pulang," jawab Riri.


Pulang? Mendengar kata itu Rian tiba-tiba saja kecewa. Rasanya ia tidak ingin mendengar kata itu. Ia ingin Riri tetap di sana bersamanya. Meskipun tidak ada yang mereka bahas, namun Rian senang dengan kehadiran Riri di rumahnya.


"Kalau jalan-jalan dulu mau?" tanya Rian ragu.


"Wah, mau dong. Aku ingin refreshing Mas. Biar tidak mumet," jawab Riri dengan girang.


Rian menatap Riri tidak percaya. Ia tidak menyangka jika Riri dengan mudah mengiyakan. Bahkan responnya sangat baik. Padahal Rian sempat ragu. Takut jika Riri menolak ajakannya.


"Ka-kamu mau?" tanya Rian meyakinkan hatinya sendiri.


"Mau Mas. Kita keliling ya. Aku mau tahu tempat-tempat yang bagus di sini," jawab Riri dengan santai.


Mendengar jawaban Riri serta ekspresi wajahnya, bahagia itu sedikit berubah menjadi cemas. Sikap santai dari Riri membuat Rian menganggap jika Riri tidak mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.


"Kapan Mas?" tanya Riri.


"Eh, ayo. Mau sekarang?" Rian balik bertanya.


"Nunggu Papa ya Mas. Siapa tahu Papa mau ikut," jawab Riri.


"Papa? Oh ya, iya." Rian mengangguk.


Pah, jangan ikut ya. Sekali ini saja, izinkan aku berdua dengan Riri menikmati libur hari ini.


"Tuh Papa sudah ada," ucap Riri sambil menunjuk Tuan Felix.


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Mas Rian mau ngajak jalan-jalan. Ayo Pah!" ajak Riri.


"Kemana?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


Tatapan pria tua itu mengarah pada Rian. Ia tidak menyangka jika Rian memiliki keberanian untuk mengajak Riri berkencan. Kencan? Ah mungkin bukan, tapi yang pasti Rian dan Riri akan jalan-jalan. Menghabiskan waktu libur bersama.


"Kemana saja Pah. Terserah," jawab Rian.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke cafe teman Papa saja?" ucap Tuan Felix meminta persetujuan.


"Pah, kita baru saja selesai makan. Masa sudah makan lagi?" tanya Rian.


"Ya kan bisa pesan minum saja. Sekalian ngobrol-ngobrol santai," jawab Tuan Felix.


"Tapi Pah. Cafe itu tempat biasa. Mungkin Riri bisa kita ajak ke taman bunga atau tempat wisata di sekitar sini. Aku yakin itu akan lebih menyenangkan dari pada hanya menghabiskan segelas minuman di cafe," ucap Rian.


"Memangnya kamu mau kemana, Pus?" tanya Tuan Felix.


"Aku sih terserah. Gimana Papa," jawab Riri.


"Jadi kalau ke cafe mau kan?" tanya Tuan Felix.


"Boleh Pah," jawab Riri.


Rian mengernyitkan dahinya. Tidak lama ia menggelengkan kepalanya.


"Terserah. Aku ikut aja," ucap Rian.


"Nah begitu kan enak. Ayo berangkat!" ajak Tuan Felix.


Rian dan Riri mengikuti Tuan Felix yang berangkat lebih dulu. Namun saat Rian dan Riri sudah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Tuan Felix memegang perutnya.


"Aduh Papa tiba-tiba mules. Papa tidak ikut ya. Kalian jalan berdua saja," ucap Tuan Felix sambil segera keluar.


"Tidak usah. Berangkat saja," ucap Tuan Felix sebelum akhirnya menutup pintu rumah.


"Gimana Mas?" tanya Riri.


"Kita berangkat saja," jawab Rian.


Mobil mulai melaju. Melintasi jalan yang cukup ramai. Beberapa klakson dibunyikan membuat Riri kebingungan.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Mas, kalau rame begini lebih baik kita pulang saja," jawab Riri.


"Kamu mau ke tempat sepi?" tanya Rian.


"Eh, bukan begitu Mas. Aku hanya malu saja kalau banyak orang," jawab Riri.


"Malu kenapa?" tanya Rian.


"Aku tidak cantik seperti bule-bule di sini," jawab Riri.


"Buat aku kamu tetap cantik kok," ucap Rian santai.


Tidak lama, wajah Rian memerah. Ia baru menyadari bahwa bibirnya bisa dengan begitu mudah mengucapkan kalimat itu.


"Wah, terima kasih ya Mas. Kalau aku boleh tahu, bule-bule di sini tipe wanita idaman Mas bukan?" tanya Riri.


Rian bernapas lega saat Riri tidak membahas pujiannya. Padahal ia sudah sangat tegang sendiri.

__ADS_1


"Tidak," jawab Rian.


"Oh iya aku lupa. Tipe wanita Mas pasti seperti Mba Maudi kan? Oh iya gimana kabar Mba Maudi, Mas?" tanya Riri.


"Tidak tahu," jawab Rian ketus.


"Memangnya tidak ada kabar ya Mas?" tanya Riri.


"Tidak," jawab Rian.


Sebenarnya Maudi masih sering menghubunginya. Namun kabar dari Maudi hanya membuatnya tidak nyaman. Maka ia memilih untuk menganggap jika Maudi sama sekali sudah tidak ada.


"Mas kangen tidak sama Mba Maudi," tanya Riri.


"Tidak," jawab Rian.


"Padahal aku kangen loh Mas. Aku kangen karena tidak ada yang ribut-ribut di kampus," ucap Riri sambil tersenyum.


Mereka berdua kembali ke bayangan saat Maudi masih di Jerman. Kelakuan Maudi memang selalu membuat Riri dan Rian kesal. Bahkan bagi Rian, setelah Maudi tidak di Jerman pun wanita itu sering membuatnya kesal.


"Lebih baik kamu cari bahasan lain saja, Pus. Aku tidak ingin membahas tentang Maudi. Dia sudah menjadi masa lalu," ucap Rian.


Ya, masa lalu yang sangat kelam. Rasanya ia tidak mau jika harus mengingat hal-hal yang berhubungan dengan Maudi. Selain ia menyesali kedekatannya dengan Maudi saat itu, ia juga selalu merasa bersalah pada Tuan Felix.


Tuan Felix adalah salah satu orang yang sangat enggan berkomunikasi dengan Maudi. Bahkan saat mendengar namanya saja, ia sudah marah tidak karuan.


Berbeda dengan kehadiran Riri yang selalu membuat Tuan Felix merasa sangat bahagia. Meskipun ia tidak ikut jalan-jalan bersama mereka berdua, namun Tuan Felix sedang senyum-senyum sendiri membayangkan Rian dan Riri.


Rian, kamu harus berterima kasih karena Papa tidak ikut. Papa hanya ingin tahu bagaimana reaksi kamu saat tahu Papa ingin ikut bersama kalian. Kamu pasti takut terganggu kan sama Papa? Awas ya anak nakal. Jangan sampai kamu menyia-nyiakan kesempatan ini.


Tuan Felix kembali mendapat telepon dari Mia saat sedang membayangkan kencan pertama mereka. Ia segera menjawab panggilan dari anak satu-satunya itu.


"Pah, Riri sudah pulang?" tanya Mia saat panggilannya sudah dijawab.


"Belum. Dia sedang jalan-jalan dengan Rian," jawab Tuan Felix.


"Papa kok tidak ikut?" tanya Mia.


"Tidak. Papa memberi kesempatan agar mereka semakin dekat," jawab Tuan Felix.


"Oh ya Pah, tanah untuk perusahaan sudah siap. Papa jadi kan beli tanah di daerah itu?" tanya Mia.


"Apa?" tanya Tuan Felix terkejut.


"Papa kenapa?" tanya Mia yang curiga.


"Tidak ada apa-apa Mi. Semuanya baik-baik saja," jawab Tuan Felix.


"Pah, ada masalah apa?" tanya Mia curiga.


"Tidak ada, Mi." Tuan Felix berusaha menutupi apa yang terjadi.


Bukan tanpa alasan. Saat Tuan Felix dan Rian sempat ingin mengabari masalah perusahaan, mereka mendapat kabar dari Sindi bahwa perusahaan Mia juga sedang krisis.


Aduh, bagaimana ini? Uang dari mana? Aku bahkan tidak menyimpan uang. Tabungan Rian saja sudah aku masukkan ke dalam kas perusahaan.


Saat bicaranya terdengar begitu santai, pada kenyataannya Tuan Felix sedang menunduk dan memijat kepalanya yang terasa sedikit sakit.

__ADS_1


__ADS_2