
"Ayo!" ajak Rey.
"Tidak usah Mas. Aku bisa pulang sendiri," ucap Riri.
"Kenapa? Takut Rian cemburu?" tanya Rey.
"Takut Mba Maudi cemburu," jawab Riri.
"Kita sudah putus," ucap Rey.
"Tapi aku tidak mau nanti ada masalah baru Mas," ucap Riri.
"Dia tidak berhak marah. Dan aku rasa dia tidak akan marah," ucap Rey.
"Kenapa?" tanya Riri.
"Karena dia tidak mencintaiku," jawab Rey.
"Bukankah kalian pacaran?" tanya Riri.
"Aku juga baru tahu kalau pacaran tidak berarti saling mencintai," jawab Rey.
"Maksudnya?" tanya Riri.
"Ayo pulang! Biar kau ceritakan di jalan," ucap Rey.
"Ayo Mas!" ajak Riri.
Riri yang awalnya merasa tidak enak dengan ajakan Rey, kini sangat bersemangat. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Rey dan Maudi sebenarnya. Kisah cinta seperti apa yang menbuat keduanya harus putus.
"Jadi bagaimana Mas?" tanya Riri saat ia sudah masuk ke dalam mobil Rey.
"Kamu ini seperti wartawan," ucap Rey sambil tertawa.
"Mas, aku kan sebagai teman Mas Rey dan Mas Rian mau tahu kisah kalian. Salah kalau aku cari informasi?" tanya Riri.
"Berarti kamu juga sudah tahu cerita dari pihak Rian?" tanya Rey.
"Belum. Mas Rian malah sudah tidak mau berteman denganku lagi," ucap Riri.
"Kenapa?" tanya Rey.
Sebentar Rey melihat ke arah Riri. Wajah lucu itu nampak sedih dengan keputusan Rian.
"Mas Rian bilang katanya agar Mba Maudi tidak terus-terusan mencari masalah denganku," jawab Riri.
"Itu karena Rian mencintaimu," ucap Rey.
"Hussst, Mas ini kalau ngomong suka aneh," ucap Riri.
"Loh, itu kenyataan Ri. Rian khawatir sama kamu. Makanya dia tidak mau melihat Maudi menyakitimu," ucap Rey.
"Ya karena kita berteman saja. Seorang teman yang baik tidak akan rela kalau temannya disakiti," ucap Riri.
"Tidak ada teman laki-laki dan perempuan yang benar-benar hanya berteman. Pasti salah satunya ada yang menyimpan perasaan lebih. Karena waktu, bahkan keduanya bisa merasakan hal yang sama." Rey mencoba melihat raut wajah Riri.
"Kata siapa?" tanya Riri datar.
"Apa kamu mencintai Rian?" tanya Rey.
__ADS_1
"Tidak," jawab Riri sambil menggeleng.
"Haha, kasihan Rian. Baru kali ini cintanya bertepuk sebelah tangan," ucap Rey sambil tertawa terbahak.
"Mas, ih apaan sih?" tanya Riri sambil memukul Rey.
"Aku tidak menyangka jika kamu bisa menolak orang sesempurna Rian," jawab Rey.
"Tidak ada orang yang sempurna Mas. Setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangannya," ucap Riri.
"Tapi buktinya Maudi dan kamu sama-sama nyaman dengan Rian," ucap Rey.
"Aku nyaman-nyaman saja dengan siapapun yang baik padaku. Eh iya hampir saja lupa. Ayo cerita kenapa Mas bilang kalau kalian pacaran tapi tidak saling mencintai?" tanya Riri.
"Ya itu. Maudi hanya mencintai Rian," jawab Rey.
"Terus kenapa Mba Maudi bisa pacaran dengan Mas Rey kalau memang masih mencintai Mas Rian?" tanya Riri.
"Entahlah. Mungkin karena Maudi ingin membuat Rian cemburu dengan hubungannya denganku," ucap Rey.
"Ya ampun Mas. Mba Maudi kok jahat sekali," ucap Riri.
"Aku yang salah karena sudah percaya pada Maudi. Harusnya aku sadar diri siapa aku dibanding Rian," ucap Rey.
"Mas kok jadi tidak percaya diri begitu?" tanya Riri.
"Memang itu kenyataannya. Sebaik apapun aku, tetap tidak ada artinya di mata Maudi. Menurut kamu juga begitu kan?" tanya Rey.
"Bagiku sama saja. Kalian sama-sama baik," ucap Riri.
"Tapi aku tidak sekaya Rian," ucap Rey.
"Sama saja," ucap Rey.
"Nanti kalau sudah kerja, siapa tahu justru Mas Rey yang lebih sukses. Jadi Mas lebih banyak uangnya nanti," ucap Riri.
"Kamu tidak tertarik dengan pria yang kaya?" tanya Rey.
"Untuk saat ini aku hanya tertarik dengan kuliahku saja," ucap Riri.
Rey melihat Riri. Masih banyak sekali pertanyaan tentang wanita yang duduk di sampingnya itu. Namun sayangnya mobil sudah sampai di depan rumah Riri.
"Lain kali kita bercerita lagi ya!" ucap Rey.
"Boleh Mas," ucap Riri.
Riri melambaikan tangannya dan tersenyum saat melihat mobil Rey melaju semakin menjauh. Riri masuk ke rumah dengan wajah cerianya. Ia tidak tahu jika Rian tengah memperhatikannya dengan perasaan kesal.
"Rey, apa maumu? Kamu sudah berhasil membuatku cemburu setelah merebut Maudi saat itu. Dan sekarang, kamu juga merebut Riri setelah melepaskan Rian begitu saja. Rey," ucap Rian kesal.
Hatinya sangat kecewa saat melihat Rey mengantar Riri pulang. Ia tidak menyangka jika Rey akan mencari Riri setelah Maudi meninggalkannya.
Berkali-kali Rian memukul setirnya dengan penuh kekecewaannya. Ia tidak menyangka jika keputusannya meninggalkan Riri justru akan memberi kesempatan Rey untuk mendekati Riri.
Sampai saat ini, Rian belum menyadari perasaannya yang sebenarnya pada Riri. Yang ia tahu, rasa kecewa itu membelenggu hatinya saat melihat Riri dengan Rey.
"Semua gara-gara Maudi," ucap Rian geram.
Rian mulai menyadari perasaannya pada Maudi yang semakin terkikis bahkan nyaris musnah. Meskipun terkadang ia masih memikirkan Maudi, namun apa yang terjadi pada Maudi saat itu membuat Rian tidak lagi bermimpi tentang Maudi.
__ADS_1
"Pah, sudah pulang?" tanya Rian basa basi saat melihat Tuan Felix sudah ada di rumah.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Aku tidak kenapa-kenapa Pah," jawab Rian.
Tuan Felix tahu saat Rian ada masalah. Selain karena Tuan Felix sudah sangat mengenal anaknya, Rian juga tipe orang yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya.
"Mandi dan makan dulu! Kita harus bercerita," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian.
Rian segera masuk ke kamarnya. Menyimpan laptopnya dan membuka bajunya. Duduk sebentar di atas sofanya dan mengacak kasar rambut hitamnya.
Tangannya mengepal. Rian menahan emosinya sekuat tenaga. Ia segera mandi dan menenangkan dirinya di bawah guyuran air.
"Duduk di sini!" ucap Tun Felix saat melihat Rian sudah keluar dari kamarnya.
Tuan Felix menepuk kursi di sampingnya. Rian pun duduk di tempat yang Tuan Felix inginkan.
"Cerita pada Papa!" ucap Tuan Felix.
"Maudi kembali berulah," ucap Rian.
"Kenapa lagi dia?" tanya Tuan Felix kesal.
"Dia memarahi Mpus. Aku sampai harus menjauh dari Mpus agar Mpus tidak kena masalah dengan Maudi. Tapi Mpus malah jalan dengan Rey," jawab Rian.
Tidak lagi malu. Kini hatinya sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan kecewanya. Ia butuh orang saat ini. Dan Tuan Felix satu-satunya orang yang paling tepat.
"Kamu cemburu?" tanya Tuan Felix.
"Bukan cemburu. Aku hanya kesal karena Mpus tidak menghargaiku," jawab Rian.
"Menghargai apa?" tanya Tuan Felix.
"Aku menjauhinya, bukan berarti dia bisa dekat dengan Rey. Seharusnya dia tahu kalau Rey itu sahabatku," jawab Rian.
"Itu artinya kamu cemburu," ucap Tuan Felix.
"Tapi aku dan Mpus hanya berteman," ucap Rian.
"Ya itu artinya kamu sudah disalip sama sahabat kamu. Suruh siapa jauhin Mpus," ucap Tuan Felix.
"Aku begitu karena aku peduli. Aku tidak mau Mpus terkena masalah hanya karena Maudi," ucap Rian membela diri.
"Harusnya kamu yang tegas Maudi. Katakan padanya kalau hati kamu sudah bukan untuknya lagi," ucap Tuan Felix.
Rian diam. Mungkin benar. Selama ini memang ia yang kurang tegas pada Maudi. Ah, mungkin ia tidak tegas pada perasaannya sendiri. Tidak dipungkiri, ternyata rasa untuk Maudi masih belum hilang sepenuhnya, meskipun ia sudah tahu buruknya Maudi.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Rian.
"Kejar Mpus. Papa sudah bilang, perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan. Dan Mpus pantas untuk kamu perjuangkan," jawab Tuan Felix.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana? Rey sudah mendekati Mpus. Apa aku harus kembali bersaing untuk wanita yang sama?" tanya Rian.
"Selagi mereka belum menikah dan berkomitmen, perjuangkan. Kamu juga berhak untuk bahagia. Papa yakin Mpus adalah wanita yang paling tepat untukmu," ucap Tuan Felix.
Bukan tanpa alasan. Beberapa terakhir ini Rian memang tidak terlihat sedih sama sekali. Ia begitu ceria saat bersama dengan Riri.
__ADS_1