
Saat tiba di Indonesia, Mia dan Dion sudah menyambut. Rian masih berusaha keras memberikan senyumnya setelah selama di pesawat wajahnya ditekuk.
"Selamat datang kembali di negeri tercinta," ucap Dion sambil melebarkan tangannya.
Rian segera menyambar Dion meskipun dengan pikirannya yang kacau.
"Terima kasih ya Kak," ucap Rian.
Rian juga tidak lupa menyalami Mia yang baru saja melepaskan pelukannya dari Tuan Felix. Rasa kesal Rian memang tidak hilang, namun wajah kedua anak kembar yang tiba-tiba muncul seketika mengobati perasaannya.
"Waaah, anak gadis dan bujangan om udah gede ya?" ucap Rian sambil memeluk Narendra dan Naura.
"Om, Naura kangen." Naura mengeratkan pelukannya.
"Naura geser, aku juga kangen sama om." Narendra menggeser Naura dari pelukan Rian.
"Eh, jangan bertengkar begitu. Om sayang kalian berdua," ucap Rian.
"Apa kalian hanya merindukan Om Rian?" tanya Tuan Felix.
Suara bariton itu membuat Naura dan Narendra segera melepaskan pelukannya dan segera berpindah. Pelukan mereka kini sudah menjadi milik Tuan Felix. Rian hanya tertawa melihat tingkah kedua keponakan kembarnya.
"Kakak tidak mau produksi lagi?" tanya Rian pada Mia.
"Produksi apa?" Mia balik bertanya.
"Ya biar din rumah semakin seru," ucap Rian.
"Ah, sekarang giliran kamu yang bikin rumah jadin seru. Kapan nih mau bawa Mpus ke rumah?" tanya Mia.
Pertanyaan Mia kembali membawa Rian pada bayangan beberapa waktu yang belum lama ini. Saat ia hendak meninggalkan Riri sendiri. Ah, kegelisahan kembali dirasakan pria yang tengah diselimuti cemburu itu.
Melihat Rian yang tidak bisa mengontrol perasaannya, Tuan Felix dengan sigap mengajak mereka untuk segera ke rumah. Mia yang sudah curiga kini harus melupakan kecurigaannya.
"Papa lama di sini?" tanya Dion.
"Paling lama seminggu," jawab Tuan Felix.
"Kenapa sebentar sekali, Pah?" protes Rian.
Ya, mungkin bagi Rian seminggu itu akan terasa sangat sebentar. Namun tidak bagi Tuan Felix. Dalam waktu seminggu itu, entah berapa agenda yang harus ia cancel demi mengantar Rian ke Indonesia.
"Iya Pah. Harusnya Papa sebulan di sini. Biar Papa tahu bagaimana Rian merintis semuanya dari awal," ucap Mia.
Ya, mengatasnamakan Rian agar Tuan Felix memperlama waktu liburnya di Indonesia. Padahal sebenarnya protes itu dari dalam hatinya sendiri. Namun sayangnya Mia gagal. Karena Tuan Felix sudah harus pulang seminggu ke depan. Terlalu banyak pekerjaan yang ia tinggalkan jika lebih lama dari waktu yang sudah direncanakan.
"Om aku punya game baru. Ayo main!" ajak Narendra.
"Om kan baru sampai. Biarkan om istirahat dulu ya! Nanti baru diajak main," ucap Mia.
"Yaaah, Mama gak seru." Narendra marah dan segera meninggalkan Rian.
"Hey, jangan marah!" Rian mencoba menyergah Narendra.
Sayangnya Mia justru menarik tangan Rian.
"Biarkan saja," ucap Mia.
"Tapi aku tidak tega Kak," ucap Rian.
__ADS_1
"Kamu dan Papa harus istirahat. Lagi pula tidak baik kalau harus selalu menuruti kemauannya. Sesekali dia harus tahu kalau tidak semua yang diinginkannya akan tercapai," ucap Mia.
Rian salut dengan cara mendidik yang Mia lakukan untuk kedua anak kembarnya. Meskipun rasanya tidak mungkin ada hal yang tidak bisa dicapai oleh Narendra dan Naura, namun penanaman prinsip itu dilakukan oleh Mia dan Dion.
Mia dan Dion adalah tipikal orang yang memang tidak ingin membuat anaknya tidak siap dengan kata kecewa. Jadi mereka membiasakan anaknya untuk menyadari bahwa mereka harus siap dengan semua keadaan. Mereka sama dengan yang lainnya. Begitu yang selalu Mia ucapkan pada kedua anak kembarnya.
"Ri, kamar kamu sudah disiapkan Mba." Dion membawa koper besar menuju kamar Rian.
"Biar aku saja Kak," ucap Rian sambil menarik koper itu dari tangan Dion.
"Tidak apa-apa. Biar aku bantu," ucap Dion.
"Aku bisa sendiri Mas," ucap Rian.
"Oke," ucap Dion.
Dion hanya mengikuti Rian yang berjalan membawa koper besar miliknya. Sementara Tuan Felix sudah diantar Mia untuk istirahat di kamarnya.
"Kak, sudah lama tinggal di rumah ini? Kok aku tidak tahu ya?" tanya Rian.
"Sudah lama. Yang penting kamu sekarang tahu kan?" jawab Dion sambil tersenyum.
"Bukannya Mama Helen tidak mau berpisah dengan Kakak?" tanya Rian.
"Ya, Mama memang sempat menolak. Tapi akhirnya Mama paham," jawab Dion.
"Paham apa?" tanya Rian dengan serius.
"Namanya rumah tangga kan tidak bisa selalu bersama orang tua. Kita harus mandiri," jawab Dion.
"Memangnya kalau tinggal bersama orang tua itu tidak mandiri ya Kak?" tanya Rian.
"Bukankah Kak Mia begitu dewasa?" tanya Rian.
"Mia memang sangat dewasa bagiku. Ya, seperti yang kamu tahu Mia seperti apa. Namun Mia merasa tidak bebas apalagi tentang cara mendidik Naura dan Narendra. Mama terlalu manjakan mereka," jawab Dion.
"Kakak tidak sedih pisah rumah dengan Mama Helen?" tanya Rian.
"Sedih ya pastilah, Ri. Aku yang selama ini tinggal dengan Mama merasa sangat kehilangan. Namun sebagai seorang suami, aku harus bisa membuat istriku nyaman. Aku harus bertanggung jawab atas kebahagiaan istriku," jawab Dion.
"Kalau Kakak disuruh memilih antara istri atau ibu, Kakak pilih mana?" tanya Rian.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Dion sambil tertawa.
"Ya kan aku hanya bertanya," jawab Rian.
"Istri dan ibu itu adalah dua wanita yang tidak bisa dibandingkan. Keduanya adalah orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Makanya jangan salah pilih istri. Cari yang seperti Mia. Dia tidak pernah membatasi hubunganku dengan Mama. Bahkan Mia yang selalu mengingatkanku untuk selalu memberi kabar dan menjenguk Mama," ucap Dion.
"Mpus sudah mirip seperti Kak Mia kok," ucap Rian pelan.
"Ekhem. Aku tidak mendengar apapun kok," ucap Dion sambil tertawa.
"Kak," ucap Dion terkejut sambil menutup mulutnya.
Percakapan kali ini membuat Rian mendapat banyak ilmu tentang pernikahan. Rian masih harus banyak belajar. Ia akan mempersiapkan semuanya, karena tidak ingin membuat Riri kecewa.
"Kamu sudah siap menikah?" tanya Dion.
Rian menggeleng.
__ADS_1
"Lalu Mpus tidak akan kamu nikahi?" tanya Dion.
"Ah, bukannya begitu." Rian menggeleng.
"Menikahlah kalau kamu sudah siap," ucap Dion.
"Aku belum siap. Aku belum punya apa-apa," jawab Rian menunduk.
"Kalau begitu berusahalah agar kamu punya segalanya," ucap Dion.
"Kakak menikah umur berapa?" tanya Rian.
"Jangan tanya umur. Aku menyesal telat menikah," jawab Dion.
"Jadi Kakak lebih suka dengan pria yang menikah muda?" tanya Rian.
"Tentu. Apalagi kalau sudah sukses. Mau menunggu apa? Ya menikahlah," jawab Dion.
"Mas, biarkan Rian istirahat." Mia tiba-tiba datang.
"Eh, iya aku sampai lupa. Aku keluar dulu ya. Selamat istirahat," ucap Dion.
Kedatangan Mia menyudahi obrolan Rian dan Dion. Padahal Rian masih sangat ingin bertanya banyak hal pada Dion.
"Iya Kak. Terima kasih ya!" ucap Rian.
Setelah Dion dan Mia keluar dari kamarnya, Rian berbaring. Badannya memang lelah, tapi pikirannya jauh lebih lelah. Ia sangat lelah dengan rasa khawatirnya sendiri.
Mungkin aku yang berlebihan Pus. Aku pervaya padamu. Aku tidak akan termakan dengan ulahmu Hiro. Aku tahu kamu ingin menghancurkan hubungan aku dan Mpus. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menang.
Hasil percakapannya dengan Dion, membuatnya berpikir lebih dewasa. Ia harus fokus dengan pekerjaannya. Ia harus meniti karirnya dan segera menikahi Riri. Menyiapkan semuanya agar setelah mereka menikah, ia akan bertanggung jawab pada Riri.
Tidak terasa, Rian tersenyum dengan segala lamunannya. Ia kembali sibuk dengan bayangan masa depan yang indah bersama dengan Riri. Rasa lelah itu membawa semua harapannya ke dalam sebuah mimpi yang indah.
Rian terlelap. Sesekali ia mengigau memanggil nama Riri dengan bibir yang tersenyum lebar. Wajah penuh harapnya sudah mulai tertata dengan baik. Semua kegelisahan perlahan memudar.
"Ooooom," teriak Naura dan Narendra yang membuka kamar Rian.
Rian segera terbangun. Ia pusing saat terbangun tiba-tiba. Mengakhiri mimpinya yang sangat indah.
"Om, lihat ini!" teriak Naura.
"Awas. Itu punyaku," teriak Narendra.
Keduanya saling berteriak dan menarik sebuah buku gambar.
"Hey, ada apa ini?" tanya Rian sambil memegang kepalanya.
"Gambarnya jelek sekali," ucap Naura sambil tertawa.
"Ini bagus," teriak Narendra dengan wajah kesal.
"Mana coba om lihat gambarnya!" ucap Rian.
"Tidak mau," jawab Narendra sambil menyembunyikan buku gambarnya.
"Dia malu. Gambarnya jelek. Wleeee," ucap Naura puas.
"Naura, jangan begitu." Rian menarik Naura agar tidak mengejek Narendra lagi.
__ADS_1
Melihat Naura sudah diam, Narendra segera berlari keluar dari kamar Rian. Wajah sedih jelas terbaca dari wajah Narendra. Rian segera mengingatkan Naura untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi. Naura pun mengangguk dan meminta maaf.