Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Egois


__ADS_3

Riri terlihat memegang dadanya saat Rian dan Tuan Felix sudah pergi dari ruangannya. Pengakuan Rian benar-benar membuat Riri merasa dadanya sesak. Tidak pernah terpikir sebelumnya jika Rian akan menemuinya kembali dan mengucapkan kalimat itu.


Dulu kalimat itu sangat membuatnya bahagia. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Rian bukan lagi pria yang akan menajdi masa depannya. Pria itu sudah jadi masa lalunya.


"Aku juga masih mencintaimu, Mas." Riri pun akhirnya mengakui perasaannya.


Rasa yang seharusnya hanya Riri sendiri yang tahu. Rasa yang seharusnya tidak ia ucapkan sampai kapanpun. Namun akhrinya ia mengungkapkan perasaannya meskipun hanya ia sendiri yang ada di ruangan itu.


Riri segera mengusap wajahnya dan memyadarkan dirinya. Ia tidak mau terlarut dalam perasaan yang tidak seharusnya ia simpan saat ini.


Hari ini menjadi hari yang berantakan untuk keduanya. Kedatangan Rian ke kantor Riri ternyata bukan menyelesaikan keadaan. Hak itu justru membuat masalah semakin rumit.


Riri tidak bisa konsentrasi hari ini. Banyak pekerjaan yang terbengkalai karena kehadiran Rian. Konsentrasinya buyar. Ia hanya berusaha menenangkan dirinya tanpa melakukan apapun. Hanya berdiri di depan kaca dan menatap kosong ke arah luar.


Sepi. Setelah kedatangan Rian, Riri justru merasa kesepian. Kehadiran Rian justru membuatnya mengingatkan kalau ia memang sendiri. Bahkan Rian yang selalu ada untuknya kini sudah menjadi calon suami orang.


Tuan Felix adalah orang yang sangat peka dengan perasaan Riri. Ia orang yang marah besar saat melihat apa yang Rian lakukan hari ini. Ia tahu akibat yang akan Riri rasakan setelah kejadian ini.


"Kamu benar-benar keterlaluan," ucap Tuan Felix.


"Pah maafkan aku. Aku hanya tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku hanya ingin membuktikan ucapan Hiro. Katanya Mpus masih mencintaiku," ucap Rian.


"Hiro lagi, Hiro lagi. Bangun Rian! Sadar. Apa yang kamu lakukan hanya melukai Riri. Kamu sudah mau menikah dengan Shelin. Lalu dengan mudah kamu melukai hati Shelin dan membuat Riri merasa kembali tersakiti," ucap Tuan Felix tegas.


"Pah aku hanya tidak ingin menyesal karena keputusanku," ucap Rian.


"Gila kamu! Keputusan sudah kamu ambil. Ingat Rian, tujuan kamu ke sini adalah untuk memperbaiki kesalahanmu. Bukan melakukan kesalahan baru yang justru melukai dua orang sekaligus," ucap Tuan Felix.


Rian diam. Ucapan Tuan Felix memang sangat pedas, tapi memang seperti itu kenyataannya. Ia memang sudah melukai dua wanita sekaligus. Ia bahkan bisa melihat Riri menahan air mata yang nyaris membasahi pipinya.


"Aku sangat mencintai Mpus, Pah." Rian kembali berusaha mengungkapkan perasaannya.


"Sudah Rian, cukup!" ucap Taun Felix.


Tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Rian, Tuan Felix segera pergi ke kantor. Awalnya ia ingin menghabiskan waktu dengan Rian sebelum Rian kembali ke Indonesia. Tapi sayangnya semua tidak berjalan sesuai harapannya.


Diam di rumah hanya akan membuat Tuan Felix dan Rian menjadi semakin bersitegang. Mereka akan terus berdebat tanpa menghasilkan keputusan terbaik. Ego Rian sedang membara. Ia tengah mengedepankan perasaannya tanpa berpikir dengan logikanya.

__ADS_1


Rian yang hanya sendiri di rumah itu tidak bisa menahan diri. Tanpa sepengaletahuan Tuan Felix, ia menemui Riri lagi. Sayangnya Riri tidak ada di kantor. Ia melihat pergelangan tangannya. Masih jam kerja tapi Riri sudah tidak ada di kantor.


Meeting adalah jawaban yang Rian terima dari orang kantor. Namun Rian tidak percaya jika Riri benar-benar meeting. Rasanya sangat kecil kemungkinan untuk Riri meeting hari ini. Apalagi saat ia tidak mendapat tempat meetingnya. Ia merasa ini hanya alasan Riri agar tidak bertemu dengannya lagi.


Rian tidak tinggal diam. Ia pergi menemui Riri di rumahnya. Hasilnya masih sama. Riri tidak ada di sana. Akhirnya Rian pergi ke kampus tempat ia dan Riri bertemu. Dugaannya tepat. Ia mendapati Riri di sana.


"Kenapa lari dariku?" tanya Rian.


Riri memalingkan wajah dan mengusap pipinya yang basah dengan air mata. Suara Rian sudah melekat di telinga Riri meskipun ia belum memastikan siapa yang bertanya padanya. Namun hatinya sudah yakin jika itu Rian.


"Aku sedang bersiap untuk kuliah," jawab Riri setelah merasa lebih tenang.


"Oh ya? Bukan karena kamu sedang merindukan masa-masa indah yang pernah kita lalui di sini saat itu?" tanya Rian.


Sial! Riri tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Rian sangat hapal dengan apa yang ia rasakan saat ini. Tebakan Rian memang sangat tepat. Tapi Riri tidak mungkin mengiyakan kenyataan yang sebenarnya.


"Jangan pernah mengingat masa lalu. Semua sudah berlalu. Mas dan aku sudah punya kehidupan yang berbeda," ucap Riri.


"Apapun itu, aku hanya ingin jawaban jujur darimu. Kamu masih mencintai aku kan?" Tanya Rian.


"Kenapa Pus? Kenapa sulit sekali untuk jujur? Katakan kalau kamu memang masih sangat mencintai aku kan?" desak Rian.


"Tidak Mas," jawab Riri tegas.


"Kamu jahat Pus," ucap Rian.


Riri marah saat mendengar Rian yang menuduhnya jahat. Padahal seharusnya ia yang marah dan memaki Rian. Rian yang jahat karena sudah mendapat wanita lain sedangkan dirinya masih berharap banyak pada Rian.


Tidak ada keberanian untuk Riri mengungkapkan kemarahannya. Semua itu hanya akan membuat Rian yakin kalau rasa itu masih tersimpan utuh dalam hatinya. Hanya saja sudah terbungkus rasa kecewa yang terlalu besar.


"Kamu bisa jujur atas perasaanmu pada Hiro. Tapi kenapa kamu tidak bisa jujur padaku?" tanya Rian setelah cukup lama mereka saling diam.


"Hiro?" tanya Riri.


"Iya. Hiro datang menemuiku dan memintaku untuk meyakinkan perasaanku. Hiro yang bilang kalau kamu masih menyimpan perasaan itu. Makanya aku ke sini menemuimu," ucap Rian.


Riri merasa seolah jantungnya berhenti berdebar. Ia benar-benar tidak menyangka jika Hiro akan melakukan semua ini. Benarkah Hiro ingin menebus kesalahannya dengan cara menyatukan mereka lagi? Lalu apa kabar dengan Shelin?

__ADS_1


Ah tidak! Semua ini justru hanya akan menambah masalah baru. Keraguan Riri berbanding terbalik dengan keyakinan Rian. Ia terus mendesak Riri untuk jujur atas perasaannya.


Riri tidak pernah jujur. Ia terus menolak jika Rian mengatakan bahwa rasa itu masih ada. Baginya Rian akan semakin terbebani saat mendengar pengakuannya. Rian akan semakin yakin untuk kembali padanya. Padahal ada Shelin yang sedang menunggu hari bahagia itu.


"Aku tidak akan menikahi Shelin kalau kamu tidak jujur atas perasaanmu," ucap Rian.


Riri menatap Rian penuh makna.


"Semua tidak ada hubungannya denganku," ucap Riri.


"Jelas ada," jawab Rian.


"Dimana?" tanya Riri.


"Jawab dulu pertanyaanku," ucap Rian.


"Kalaupun aku mengakui perasaanku, apa gunanya? Kamu akan tetap menikah dengan dia kan? Sudahlah, lupakan masa lalu itu. Sekarang ada masa depan yang harus kamu perjuangkan," ucap Riri.


"Terima kasih Pus, terima kasih." Rian memeluk Riri dengan erat.


Riri berusaha melepaskan pelukan Rian. Ia tidak mau terjadi salah paham. Ia tidak mau disebut pelakor.


"Apa maksudmu Mas? Terima kasih untuk apa?" tanya Riri bingung.


"Dari jawabanmu, aku tahu kamu masih menyimpan rasa itu. Aku akan memperjuangkan cinta kita. Benar kata Hiro, kita akan bahagia." Rian mencium tangan Riri.


Dengan cepat Riri menarik tangannya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Pus, ayo berjuang bersama. Kita bahagia bersama. Aku yakin Shelin akan mengerti," ucap Rian.


"Mas, kamu jahat. Dia perempuan. Aku tahu bagaimana sakitnya dia kalau sakpai itu semua terjadi," ucap Riri.


"Tapi paling tidak, kita berdua bahagia. Kalau aku memaksakan diri untuk menikahi Shelin, hanya Shelin yang bahagia. Sementara kita akan sakit. Aku tidak mau meratapi rasa sakit itu seumur hidupku," ucap Rian.


Riri menatap Rian dengan tidak percaya. Rian benar-benar sudah keterlaluan. Ia memang masih beharap jika semua bisa diperbaiki. Tapi tidak dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain juga.


"Maaf Mas, aku tidak seegois kamu. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain," ucap Riri sambil pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2