Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Jangan kaku


__ADS_3

Rian menghilang seharian. Tidak ada yang bisa menemukannya. Ia bersembunyi di rumah kontrakan dekat rumah Rina. Kawasan yang tidak terlalu mewah hingga mereka tidak akan menduga jika Rian berada di sana.


"Rin, Rina." Rian mengetuk pintu rumah Rian pagi-pagi sekali.


Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Ia kesal dan kembali. Karena tidak ada teman, akhirnya Rian memutuskan untuk kembali ke kontrakannya. Dalam pantulan cermin, ia mengamati dirinya sendiri.


Banyak sekali perubahan pada dirinya. Kini sudah tidak nampak lagi wajah bersih dan rapi. Kumis tipisnya sudah mulai menghiasi wajahnya. Rambutnya sudah mulai panjang dan terlihat tidak rapi.


Rian mengusap wajahnya. Ia tersenyum sinis melihat wajahnya sendiri. Tidak lama ia bersiap dan pergi ke kantor. Kedatangannya di kantor tentu mengejutkan Manto yang tengah mengamati layar laptopnya.


"Pak Rian?" ucap Manto terkejut.


"Pagi Pak," ucap Rian.


"Pa-pagi," ucap Manto gugup.


Rian tidak banyak bicara. Ia tidak mau Manto banyak bertanya. Saat ini ia hanya ingin mengalihkan rasa gelisahnya.


"Sayang," ucap Shelin yang datang ke ruangan Rian.


Rian memaksakan bibirnya untuk tersenyum meskipun ia tidak mengharapkan kehadiran Shelin. Melihat pemandangan itu, Manto segera pamit ke luar. Ini kesempatannya untuk memberi tahu Danu tentang kedatangan Rian.


"Serius Pak?" tanya Danu.


"Serius dong. Masa saya becanda?" ucap Manto. "Eh mau kemana?" tanya Manto sambil menarik tangan Danu.


Danu yang hendak ke ruangan Rian mengurungkan niatnya saat tahu kalau ada Shelin di sana. Ia bertanya tentang Rian selama menghilang, namun sayangnya Manto tidak tahu apapun.


"Kita jangan membuat Rian tidak nyaman di sini," ucap Danu.


"Makanya saya tidak berani bertanya apapun pada Pak Rian," jawab Manto.


Manto memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaannya di ruangan Danu. Ia membiarkan Shelin bicara dengan Rian. Berharap jika Shelin bisa membuat Rian jauh lebih tenang.


"Pak," panggil Rian.


"Pak Rian, ada yang bisa saya bantu?" tanya Manto.


"Tolong berikan pekerjaan yang harus saya kerjakan sekarang," pinta Rian.


"Tapi Pak," ucap Manto.


"Shelin sudah pulang," jawab Rian yang mengerti maksud ucapan Manto.


"Saya ambilkan di ruangan Pak," ucap Manto.


"Ayo kembali ke ruangan!" ajak Rian.


Danu hanya memperhatikan Rian secara diam-diam. Rian bahkan hanya melempar senyum tanpa menyapanya sama sekali. Tidak ada keramahan seperti Rian yang ia kenal sebelumnya.

__ADS_1


"Aku harus membuat Rian kembali seperti dulu," ucap Danu.


Meskipun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi paling tidak ia sudah memastikan jika Rian sehat. Kabar itu langsung ia kabarkan pada Sindi. Dan seperti yang ia yakini, Sindi akan segera mengabarkan tentang Rian pada Tuan Felix.


"Mas cari tahu dimana ia tinggal," ucap Sindi.


"Mana mungkin aku cari tahu kalau dianya sendiri menutup diri. Mending kamu ikutin dia pas pulang nanti," ucap Danu.


Ide Danu memang ada benarnya juga. Ia harus mengikuti Rian naik grab. Karena kalau ia mengikuti Rian dengan Danu, tentu Rian akan sangat mengenali mobil Danu. Ia tidak mau salah paham dan malah jadi masalhah baru.


Sesuai intruksi Danu, Sindi segera mengikuti Rian saat mobilnya sudah keluar dari kantor. Sindi sempat mengerutkan dahinya saat melihat mobil yang Rian bawa menuju sebuah rumah sakit.


Kamu sakit apa Ri?


Pikiran buruk Sindi menghiasi kepalanya. Berbagai dugaan berkeliaran tanpa tahu jawaban pasti. Namun saat Sindi akan keluar dan mengikuti Rian, tiba-tiba Rian sudah keluar kembali dengan wajah datar.


Tangannya memainkan kunci sampai akhirnya kunci itu ia gunakan untuk membuka mobil. Setelah itu, Rian melajukan kembali mobilnya. Sindi mengerutkan dahinya. Mobil yang Rian bawa tidak menuju rumah Mia atau Nyonya Helen.


Jalanan asing yang belum pernah. Sindi lewati. Ia terus mengikuti Rian meskipun kepalanya sedang sangat bingung. Kemana tujuan Rian sebenarnya?


Sindi menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat parkir Rian. Dari kejauhan ia mengamati Rian yang mengetuk pintu sebuah rumah. Sindi semakin bingung saat melihat seorang wanita keluar dari dalam rumah dan mengobrol dengan Rian.


Dari pengamatan Sindi, ia melihat Rian dan wanita itu terlihat begitu akrab. Mia tetap di sana meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bahas.


Merasa takut kalau keberadaannya diketahui Rian, Sindi segera pulang. Hari ini untuk tahu dimana tempat tinggal Rian sudah cukup. Ia hanya mengabarkan pada Tuan Felix bahwa semuanya baik-baik saja. Rian hanya butuh waktu untuk sendiri.


"Kamu tidak jadi ngikutin Rian?" tanya Danu saat melihat Sindi sudah pulang.


Danu hanya mengangguk dan mengerti maksud Rian. Sindi memang benar. Ia tidak bisa menanyakan langsung pada Rian. Dia tidak mungkin menjelaskan apapun padanya. Bahkan mungkin Rian justru marah pada Sindi yang diam-diam membuntutinya.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya! Besok aku kabari kalau Rian sudah sampai ke kantor," ucap Danu.


Keesokan paginya Danu menunggu kedatangan Rian. Bahkan ia sudah meminta Danu untuk mengabari dirinya jika Rian sudah datang. Hari ini Rian datang lebih siang dari hari kemarin. Namun walaupun begitu, Danu masih bersyukur saat tahu Rian datang ke kantor.


Sindi segera pergi ke tempat yang sudah direncanakan. Sayangnya rumah itu kosong. Tidak ada jawaban saat Sindi terus menerus mengetuk pintu rumah itu. Sampai akhirnya seorang warga menghampirinya.


"Mau bertemu Rina ya Mba?" tanya orang itu.


"Ah iya. Rina nya ada?" Sindi balik bertanya.


Agar tidak terlihat mencurigakan, Sindi seolah-olah sudah mengenal pemilik rumah itu. Padahal, namanya saja baru tahu hari ini. Itu pun karena orang itu menyebut namanya.


"Rina masih kerja. Biasanya nanti agak siangan baru pulang," ucap orang itu.


"Oh ya kalau boleh tahu kerjanya dimana ya?" tanya Sindi.


Pertanyaan Sindi tentu membuat orang itu bingung. Rasanya tidak mungkin Sindi tidak tahu dimana tempat kerja Rina kalau ia memang benar-benar mengenalnya.


"Aku baru saja ke Jakarta. Jadi tidak tahu alamat tempat kerjanya," ucap Sindi menjelaskan kembali kebohongannya.

__ADS_1


Orang itu langsung memberikan alamat rumah sakit temlat Rina bekerja. Ia menyembunyikan rasa bingungnya saat melihat alamat itu. Jelas kalau itu adalah rumah sakit dimana Rian di rawat saat itu.


Tanpa menunda, Sindi langsung mengunjungi rumah sakit itu. Bermodal nama dan alamat tempat tinggal Rina, Sindi mencari orang yang akan memberinya banyak informasi tentang Rian.


Tidak lama Sindi berhasil bertemu dengan Sindi. Tapi sayangnya Rina akan menemui pasien.


"Tidak apa. Aku tunggu di sini," ucap Sindi.


Rina mengangguk dan segera menyelesaikan tugasnya. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Rina segera menemui Sindi.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu," ucap Rina.


"Jangan kaku begitu. Panggil aku Sindi saja," ucap Sindi.


"Aku panggil Mba Sindi saja ya!" ucap Rina.


"Ah boleh," jawab Sindi.


Keduanya senang saat mendapat teman baru yang sangat ramah. Meskipun Rina tidak tahu apa alasaan Sinsi menemuinya, tapi ia yakin Sindi adalah orang baik.


Setelah merasa basa basinya cukup, Sindi mengajak Rina untuk pergi dari rumah sakit. Tidak langsung pulang ke rumahnya, Sindi mengajak Rina ke sebuah tempat makan yang tidak jauh dari rumah sakit.


"Maaf nih Mba, kalau aku boleh tahu Mba Sindi ada keperluan apa ya sama aku?" tanya Rina.


"Ah, aku sampai lupa sama tujuanku. Habisnya kamu orangnya asyik," jawab Sindi.


Rina senang saat Sindi nyaman dengannya. Ia pun mulai mendengarkan dengan seksama cerita Sindi tentang Rian. Seperti yang ia tahu kalau Rian memang sedang tidak baik-baik saja. Namun ia tidak menyangka jika penyesalan Rian begitu mendalam.


"Aku minta tolong yakinkan Rian jika Shelin memang pilihannya. Jangan buat Shelin menjadi korban keegoisan Rian. Pertunangan itu sudah digelar dan diketahui banyak orang. Kamu mengerti kan?" tanya Sindi.


Rina hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahu harus berbuat seperti apa. Karena apa yang ada di kepalanya bertolak belakang dengan keinginan Sindi. Nama baik memang perlu. Tapi Rian juga tidak bisa hidup berumah tangga dengan penyesalan yang terlalu dalam.


"Aku permisi ya! Aku minta kamu rahasiakan kedatanganku pada Rian. Aku takut nanti dia salah paham," ucap Sindi.


"Iya Mba," ucap Rina.


Setelah Sindi pergi, Rina memikirkan kembali semua ucapan Sindi. Haruskah ia membujuk Rian untuk melupakan Riri? Padahal sudah sangat jelas kalau Rian sangat mencintai Riri. Tapi apakah pantas Rian menanggung semua ini seumur hidupnya?


Ah Rina belum bisa menentukan tindakannya. Ia hanya butuh istirahat karena malam tadi sudah melewati banyak kegiatan yang menguras energi. Ia pulang dan mandi. Setelah itu ia berbaring di atas ranjang. Kepalanya memikirkan ucapan Sindi yang masih terngiang jelas dalam ingatannya.


Rina menggelengkan kepalanya dan bangun. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya ada di posisi Rian saat ini. Tentu apa yang Rian alami adalah masalah besar dan sangat berat. Ia belum tentu bisa berdiri seperti Rian saat ini.


"Kamu tidak mau dengar apa yang aku bilang saat itu sih," ucap Rina pelan.


Ya, saat itu Rina pernah mengingatkan Rian untuk pergi mencari kebenaran dan kepastian tentang Riri baru mencari penggantinya. Namun rasa kecewa Rian saat itu membuat Rian harus merasakan kecewa yang sangat berat.


Lama Rina memikirkan masalah yang tengab di hadapi Rian. Sampai akhirnya Rian sadar jika kedatangan Rian dalam hidupnya hanya membawa segudang masalah.


"Kenapa aku harus ikut memikirkan masalah dia ya?" ucap Rina.

__ADS_1


Merasa lelah dan pusing, Rina memilih untuk tidur. Ia butuh istirahat agar bisa tetap sehat dan tidak stres karena masalah orang lain. Hanya beberapa menit saja, Rina berhasil terlelap dalam tidurnya yang begitu nyenyak. Melupakan sejenak semua masalah yang seharusnya tidak mengganggunya sama sekali.


__ADS_2