Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mencari dan menanti


__ADS_3

Malam ini Dion meminnta Manto untuk pulang. Sempat terjadi penolakan karena Manto ingin tahu perkembangan atasannya itu. Namun Dion meyakinkan jika Rian akan baik-baik saja. Dion justru meminta Manto untuk beristirahat karena besok kendali perusahaan ada pada Manto.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Manto pulang. Ia mempercayakan Rian pada Mia dan Dion. Mereka adalah orang-orang tulus yang pasti akan menjaga Rian.


"Kalau begitu saya pamit. Sampaikan salam saya pada Pak Rian, Tuan." Manto menunduk hormat sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Iya. Nanti akan saya sampaikan," ucap Dion.


Melihat Manto keluar, Tuan Wira ikut keluar. Ia menemui Manto dan menanyakan kenapa Danu tidak ikut ke rumah sakit. Pikiran buruk Tuan Wira terjawab sudah. Bahkan ia tercengang dengan jawaban Manto.


Danu tidak di sana bukan berarti Danu tidak peduli. Ia hanya tidak ingin timbul masalah saat bertemu dengan Dion. Bagaimanapun Dion asti akan ke rumah sakit jika tahu Rian di sana.


"Pak Danu hanya mengurus perushaan. Untuk hari ini, pekerjaan saya dan Pak Rian dipegang oleh Pak Danu. Makanya sekarang pun Pak Danu masih di kantor," jawab Manto.


Benarkah? Raut wajah menyesal karena sudah berpikiran buruk tentang Danu kini menyelinap dalam dirinya. Ia tidak menyangka jika Danu menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada Rian dengan cara yang berbeda.


"Terima kasih untuk informasinya," ucap Tuan Wira.


Manto pergi setelah semua pertanyaan Tuan Wira terjawab dan meruntuhkan pandangan negatif tentang Danu. Ia memang tidak terlalu mengenal Danu, namun hatinya yakin jika partner kerjanya itu memang orang baik.


Tuan Wira kembali ke dalam ruangan. Ia menunduk lemah karena masih menyesali pikiran buruknya yang baru saja terpatahkan. Ia melihat Dion sekilas, lalu melihat Rian dan Mia bergantian.


Kenapa Danu harus terjebak dalam situasi seperti ini? Seandainya dia bukan masa lalu dari Mia, mungkin dia akan menjadi salah satu bagian dari keluargaku yang sangat dekat.


Ya, karena status Danu adalah mantan suami Mia, justru Sindi yang mulai menjauh. Bukan tidak ingin dekat, tapi ia menjaga perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Papa kenapa?" tanya Mia sambil mendekat.


"Tidak. Papa tidak apa-apa," jawab Tuan Wira sambil tersenyum.


Mia meminta Tuan Wira untuk pulang. Namun Nyonya Helen menolak. Sedangkan Tuan Wira tidak mau pulang kalau istrinya juga tidak pulang. Akhirnya Dion meminta Mia dan kedua orang tuanya pulang.


"Kasihan Naura dan Narendra. Mama dan Papa menginap saja di rumahku. Si kembar pasti akan sangat senang," bujuk Dion.


Mendengar nama kedua cucu kembarnya, Nyonya Helen sangat bersemangat. Ia pamit kepada Rian dan pulang. Ruangan itu mulai sepi karena hanya ada Dion yang sedang tiduran di sofa.


"Kak," panggil Rian.


Dion dengan cepat bangun dan duduk di samping ranjang.


"Kamu butuh apa?" tanya Dion.


"Sebaiknya Kakak pulang saja, istirahat. Besok kan Kakak harus kerja," jawab Rian.


"Gampang. Kamu jangan khawatir. Aku bisa tidur dimana saja. Nanti pagi Mia akan membawakanku baju ganti," ucap Dion.


"Pulang saja Kak. Ada perawat di sini. Aku tidak sendiri," ucap Rian.


Sayangnya Rian tidak berhasil membujuk Dion. Apa yang Dion lakukan membuat Rian semakin yakin kalau ia tidak sendiri. Apa yang ia lakukan ternyata hanya membuat orang yang ia sayangi ikut menderita.


Seharusnya malam ini Dion tidur dengan nyenyak di rumah. Tapi karena Rian yang nemikirkan ini dan itu hingga drop, akhirnya Dion harus ikut tidur di sana.


"Kak, maafkan aku sudah merepotkan Kakak." Rian terlihat menyesal.


"Sudahlah, yang penting kamu sehat dan bisa cepat kembali ke rumah," ucap Dion.


"Iya Kak," jawab Rian.


Malam ini Rian tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa sakit di bagian kepalanya membuat Rian berkali-kali mengaduh. Ia memijat pelan kepalanya. Sesekali ia melihat Dion yang tengah tertidur di sofa.

__ADS_1


Ingin rasanya Rian berteriak memanggil Dion untuk membantunya memijat kepalanya yang sakit. Namun ia tahu kalau Dion juga lelah. Beruntung seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan Rian.


"Tolong pijat kepalaku sebentar," ucap Rian saat perawat itu selesai memeriksa.


"Baik Tuan," ucap perawat itu.


"Di sini," ucap Rian sambil menarik tangan perawat itu dan menunjukkan bagian yang sakit.


Karena Rian bekum tidur, ia mengajak perawat itu untuk mengobrol. Ternyata namanya Rina. Usianya lebih muda lima tahun dibanding Rian. Wajahnya tidak cantik, tapi dia begitu lembut dan sangat manis. Tubuhnya juga sedikit berisi. Di wajahnya terdapat beberapa jerawat.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Rian tiba-tiba.


"Sudah Tuan," jawab Rina malu-malu.


"Namaku Rian," ucap Rian.


"Iya Tuan Rian," ucap Rina.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil Rian saja. Umur kita tidak terlalu jauh," ucap Rian.


"Saya akan terlihat sangat tidak sopan Tuan. Apalagi Tuan kan seorang pemilik perusahaan yang sedang naik daun itu," ucap Rina.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Rian.


"Semua data pasien tertulis jelas Tuan," jawab Rina.


"Ah, aki pikir kamu adalah fans beratku," ucap Rian sambil tertawa.


Rina juga tidak munafik bahwa ia bisa dengan mudah menjadi fans Rian. Karena selain memiliki pekerjaan yang sangat hebat, Rian juga memiliki paras yang sangat tampan. Tidak sulit untuk menarik perhatian seorang wanita.


"Kamu mau jadi pacarku?" tanya Rian.


"Aku serius," ucap Rian.


"Wanita mana sih yang menolak untuk menjadi pacar Tuan?" tanya Rina.


"Nyatanya aku malah ditinggalkan pacarku," jawab Rian.


"Benarkah? Aku tidak percaya padamu Tuan," ucap Rina.


"Ayolah. Berhenti memanggilku Tuan," pinta Rian.


"Maaf Tuan. Aku hanya tidak mau dipecat karena sudah bersikap kurang ajar pada pasien spesial seperti Anda," ucap Rina.


"Aku yang bertanggung jawab," ucap Rian.


"Baiklah," ucap Rina.


"Dimana pacarmu?" tanya Rian.


"Di luar kota," jawab Rina.


"Kalau aku memintamu untuk menjadi pacarku, apa kamu mau meninggalkannya untukku?" tanya Rian.


Rina hanya menggeleng sambil tertawa. Ia menolak bukan karena hanya tidak percaya pada Rian, tapi ia terlalu mencintai kekasihnya. Baginya, hanya kekasihnya itu yang bisa mencintainya dengan begitu tulus.


Saat Rian bertanya tentang jarak kepercayaan Rina pada kekasihnya, Rina hanya berusaha percaya sepenuh hati. Baginya menutup telinga dari berita miring cukup membuatnya lebih tenang.


"Bagaimana kalau ternyata dia benar-benar selingkuh?" tanya Rian.

__ADS_1


"Seandainya aku melihat dia tergoda dengan wanita lain, aku hanya perlu bersyukur karena Tuhan telah menunjukkan siapa dia." Rina tersenyum tenang.


"Kamu pasti sakit hati kan?" tanya Rian.


"Pasti, aku kan mencintai dia. Tapi aku tidak perlu meratapi rasa sakit itu. Karena aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik buatku," jawab Rina.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rian.


"Aku hanya akan memperbaiki diri di tengah sakit itu. Sulit memang, tapi apa lagi yang bisa aku lakukan kecuali menangis dan pasrah?" ucap Rina.


"Hanya itu? Kenapa kamu tidak memperjuangkan cintamu?" tanya Rian.


Rina hanya tersenyum miris. Tidak ada kata maaf untuk sebuah perselingkuhan. Kesalahan yang sangat besar kemungkinannya untuk terulang. Hingga Rina tidak mau berdamai dengan perselingkuhan.


Rian mulai mencari tahu apa tanggapan Rina tentang masalahnya dengan Riri. Ia ingin tahu siapa yang salah diantara mereka berdua. Rian seolah berandai-andai bahwa itu adalah kisah orang lain. Ia ingin Rina menilai tanpa merasa tidak enak padanya.


"Aku rasa itu karena laki-lakinya tidak tegas," ucap Rina.


"Apa maksudmu?" tanya Rian kesal.


"Itu cerita Tuan ya?" Rina segera menutup mulutnya.


"Bu-bukan. Itu cerita temanku. Dan satu lagi. Jangan panggil aku Tuan," ucap Rian.


"Terus kenapa marah? Aku kan hanya memberikan penilaian menurut pandanganku saja," jawab Rina.


"Ya sudah iya. Lanjutkan saja. Tadi aku kesal karena posisiku sebagai laki-laki. Aku jadi merasa tersudutkan," ucap Rian.


"Laki-laki itu mencari, sedangkan perempuan itu menanti. Berarti tugas teman Anda itu mencari. Cari keberadaannya, cari tahu alasan dia mengambil keputusan itu. Setelah semua jelas dan terbukti dia bersalah, baru cari yang baru." Rina memberikan tanggapannya dengan sangat jujur.


Rian yang merasa disalahkan oleh Rina sudah tidak sabar ingin membela diri. Tapi ia sadar jika apa yang dilakukannya hanya akan membeberkan cerita sebenarnya.


Ini sudah terlalu larut. Rina pamit untuk istirahat dan memanggilnya kembali jika ada keluhan. Setelah Rina pergi, Rian memejamkan matanya. Ia mengingat semua ucapan Rina.


Benarkah semua kesalahan itu ada padanya? Haruskah ia mencari Riri dan mencari tahu apa alasan sebenarnya? Ah, sudah jelas kalau alasan Riri hanyalah Mr. Aric. Pengabdian yang menurut Riri berurusan dengan hati nurani, bertolak belakang dengan pikiran Rian.


Rian berpikir jika Riri lebih mementingkan Mr. Aric dibanding dengan dirinya. Hal yang menurut Rian sangat menyakitkan. Tanpa Rian benar-benar mencari tahu alasan Riri yang sebenarnya.


Jika disebut terlambat, mungkin memang sudah terlambat. Rian merasa semuanya sudah terlambat. Ia tidak mau melihat lagi ke belakang. Baginya Riri sudah mengkhianati janji yang sudah disepakati mereka berdua.


Rian merasa semua tentang Riri semakin membuatnya sakit. Ia berusaha mengalihkan semua bayangan Riri setiap kali mengusik pikirannya. Malam ini Rian sama sekali tidak bisa tidur. Ia baru bis tidur setelah jam lima pagi.


Saat Dion terbangun, Rian justru baru saja terlelap. Bahkan saat Mia datang pun Rian masih saja belum bangun. Mia berusaha membangunkan Rian, namun Rian hanya membuka matanya sebentar dan kembali terlelap.


"Sudahlah Mi. Biarkan Rian istirahat. Mungkin pengaruh obat membuatnya sangat mengantuk," ucap Dion.


Mia mengangguk. Akhirnya ia pergi ke kantor tanpa sepengetahuan Rian. Ia hanya titip pesan pada perawat untuk mengabarkan kehadirannya. Ia tidak mau Rian berpikir jika tidak ada yang peduli padanya.


Sebuah kartu permintaan maaf dan ucapan semangat sembuh Mia simpan di atas meja. Ia sedih melihat kondisi Rian saat ini.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Mia tidak menyangka kalau Rian akan sebegitu patah hatinya saat berpisah dengan Mpus," jawab Mia.


"Sudah, nanti aku carikan pengganti Mpus," ucap Dion.


"Aa," ucap Mia dengan tatapan tajam.


"Iya, iya. Aku hanya becanda. Ayo berangkat!" ajak Dion.

__ADS_1


__ADS_2