Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Permintaan Nyonya Helen


__ADS_3

Mia dan Dion tengah gelisah dengan keadaan Nyonya Helen. Sementara Tuan Wira tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Nyonya Helen. Kedua tangan yang sudah tidak muda lagi itu saling berpegangan. Seolah saling menguatkan satu sama lain.


Mata Rian bergantian menatap dua pasang manusia yang selalu dipenuhi rasa cinta dan ketulusan. Tiba-tiba bibirnya tersenyum membayangkan jika disampingnya juga ada Riri. Wanita yang akan embguatkannta dalam segala situasi dan kondisi.


Tidak seperti ini. Saat ia butuh teman, Riri justru menghadirkan kekecewaan untuknya. Ia mengeluh. Jangankan untuk bersama, bahkan untuk bertemu saja rasanya sangat sulit. Ia merasa jika perlahan harapannya semakin memudar.


"Ri," panggil Nyonya Helen memecah keheningan.


"Iya Ma," jawab Rian.


Dengan segera Rian mendekat dan menggenggam tangan Nyonya Helen. Ia mencium tangan yang sudah mulai keriput itu. Tidak lupa membisikkan kalimat sayangnya untuk Nyonya Helen.


"Terima kasih sudah hadir di hidup Mama," ucap Nyonya Helen.


"Tuhan terlalu baik hingga mempertemukan aku dengan Mama. Berkat Mama semua berubah. Mama cepat sehat ya! Nanti kita jalan-jalan," ucap Rian.


"Mama tidak mau jalan-jalan," ucap Nyonya Helen.


"Mama maunya apa?" tanya Rian.


"Mama mau melihat kamu menikah. Bisa kan?" tanya Nyonya Helen.


"Bisa dong Ma. Mama tenang saja. Mama akan sembuh dan melihat aku menikah nanti. Bahkan Mama akan menggendong cucu Mama dariku," jawab Rian.


"Mama tidak kuat. Mama hanya ingin melihat kamu menikah," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma, iya. Mama tenang saja ya!" ucap Rian sambil kembali mencium tangan Nyonya Helen.


"Ri," panggil Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Rian.


Sampai tiga kali Nyonya Helen mengucapkan hal yang sama. Mengulang kembali permintaannya agar Rian segera menikah. Sebanyak itu pula Rian menenangkan Nyonya Helen sembari menyembunyikan kegelisahannya.


Bagaimana mungkin Rian akan menikah. Sementara Riri saja malah membatalkan acara kepulangannya ke Indonesia. Hal yang membuat Rian sangat tertekan. Di satu sisi ia ingin menunggu Riri sampai ia benar-benar siap. Tapi di sisi lain ada harapan Nyonya Helen yang harus segera dilaksanakan.


Haruskah Rian memaksa Riri untuk segera menikah dengannya dalam waktu dekat? Bagaimana kalau ternyata Riri menolak? Kembali hati Rian dipenuhi dengan kegelisahan.


"Ri, aku mau bicara." Mia menarik tangan Rian.


Rian yang tengah duduk di samping ranjang, melihat keadaan Nyonya Helen. Terlihat Nyonya Helen sedang tertidur. Rian mengangguk dan mengikuti Mia. Ia sudah menduga apa yang akan dibicarakan oleh Mia.


"Aku juga bingung harus bagaimana," ucap Rian.


Dengan gamblang Rian menjelaskan tentang batalnya Riri untuk pulang ke Indonesia. Mia melihat begitu tertekannya Rian dengan situasi ini.


"Jika dibandingkan antara Mama dan Mpus lebih sayang mana?" tanya Mia.


"Maksudnya?" tanya Rian.


Mendengar cerita Rian, Mia tidak yakin jika Riri bisa menikah dalam waktu dekat. Namun ia tahu Rian sangat mencintai Riri. Tapi ia tidak bisa menutup mata jika permintaan ibunya menuntut Rian untuk segera menikah.


"Kamu akan menikahi siapa jika seandainya Mpus tidak mau menikah dalam waktu dekat?" tanya Mia.


"Mi, kamu ini apa-apaan sih? Jangan dengarkan Mia. Kamu masuk saja. Temani Mama. Biar aku ajak Mia untuk keluar sebentar," ucap Dion yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"A, Mia sedang bicara dengan Rian. Tolong lepaskan. Mia belum selesai," ucap Mia.


Dion mengabaikan ucapan Mia. Ia terus memeluk Mia agar lebih tenang sambil mengajaknya pergi menjauh dari Rian. Sementara Rian tidak sanggup untuk membuka mulutnya. Ia masih membisu dan membeku di tempat yang sama. Masih dengan pikiran yang semakin kacau.


"Ri," panggil Tuan Wira.


"Eh Papa," ucap Rian yang tersadar dari lamunannya.


"Tolong temani Mama sebentar saja ya. Papa mau menelepon ke kantor dulu. Ada urusan pekerjaan," ucap Tuan Wira.


"Oh ya tentu. Biar aku temani Mama. Papa tidak perlu khawatir," ucap Rian.


Rian segera masuk dan duduk di samping ranjang Nyonya Helen. Menatap wajah pucat yang sedang berbaring tanpa daya. Selang infusan menjalar di kedua tangannya. Sedih rasanya saat melihat Nyonya Helen yang selalu menguatkannya kini justru tidak punya kekuatan sama sekali.


"Ma, janji sama aku Mama harus sehat ya! Aku akan menikah dan Mama akan melihat betapa aku bahagia di hari pernikahan itu," ucap Rian pelan.


Sebagai seorang pria, Rian bisa dikatakan sebagai pria cengeng. Ia bisa dengan mudah menangis saat semua berurusan dengan orang tua. Ia yang hanya memiliki orang lain yang sudah ia anggap dan menganggapnya keluarga, hanya bisa menahan sakit melihat keadaan Nyonya Helen saat ini.


Padahal Mama tidak pernah meminta apapun padaku selama ini. Kenapa kali ini Mama minta sesuatu yang menurutku sangat sulit? Aku takut tidak bisa mewujudkan apa yang Mama inginkan.


Rian mengelap sudut matanya saat melihat Dion masuk ke ruangan. Ia tahu bagaimana hancurnya Rian saat ini. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Mia sepenuhnya. Apa yang Mia lakukan hanya sebuah cara untuk meluapkan rasa cintanya pada Nyonya Helen.


"Ri, aku antar Mia pulang dulu ya. Nanti kalau Papa sudah ke sini, kamu juga pulang. Istirahat!" ucap Dion.


"Kak Dion jangan khawatir. Aku akan tetap di sini untuk menjaga Mama," ucap Rian.


"Kamu pulang saja. Biar aku yang akan jaga Mama nanti," ucap Dion.


"Mama Helen juga Mamaku. Aku berhak untuk menjaganya di sini," ucap Rian.


"Terima kasih ya. Mama pasti senang," ucap Dion.


"Tidak perlu berterima kasih Kak. Ini sudah menjadi tugasku. Sudah sewajarnya seorang anak melakukan ini untuk ibunya kan?" tanya Rian.


Dion mengangguk sambil menahan rasa terharunya. Ia memang dilahirkan sebagai anak tunggal. Namun kehadiran Rian adalah warna baru dalam kehidupan keluarganya. Walaupun dulu sempat ada rasa cemburu, namun akhirnya ia sangat mengerti kenapa Rian bisa disayangi oleh orang tuanya layaknya anak kandung.


"Aku pulang dulu ya!" ucap Rian.


"Iya Kak," ucap Rian.


Mia memang sengaja tidak dibawa kembali ke ruangan itu. Dion tidak mau membuat suasana kembali tegang saat Mia bertemu dengan Rian. Saat ini Mia sedang tidak bisa mengontrol perasaannya.


"Kenapa lama sekali A? Mama gimana?" tanya Mia saat Dion sudah kembali ke parkiran.


"Tadi aku titip Mama dulu ke pihak rumah sakit. Meskipun sebentar, tapi aku mau kalau pihak rumah sakit benar-benar mengontrol keadaan Mama. Mama juga sudah membaik. Tadi sedang tidur pulas," jawab Dion.


Satu kebohongan Dion lakukan dengan terpaksa. Saat ini Mia tidak boleh mendengar nama Rian agar masalah tidak melebar dan membuat semua menjadi runyam.


"Aku sayang Mama," ucap Mia.


"Semua sayang Mama," ucap Dion.


Mia melihat Dion sebentar lalu mendelik. Ia tahu kalau saat ini suaminya tengah membela Rian. Dan hal itu sedang tidak ia harapkan sama sekali.


Keadaan tidak menyenangkan itu terbawa sampai ke rumah. Hingga kedua anak kembar mereka bingung dengan sikap ibunya yang begitu dingin.

__ADS_1


"Mama sedang cape. Nanti Papa ke kamar kalian ya!" ucap Dion.


Dion menemani Mia ke kamarnya. Menenangkan istrinya yang masih penuh dengan kekesalan.


"Aa kembali ke rumah sakit saja. Temani Mama. Mia mau istirahat," ucap Mia.


"Mi, tolong bersikap tenang. Kasihan anak-anak. Mereka butuh kamu," ucap Dion.


"Iya Aa tenang saja. Mia cuma mau istirahat sebentar saja," ucap Mia.


Melihat sikap Mia yang tidak baik, Dion segera pergi. Sebelum kembali ke rumah sakit, ia menemui Naura dan Narendra. Memberi tahu mereka jika Nyonya Helen sedang di rumah sakit. Mereka merengek ingin ikut ke rumah sakit. Namun Dion menjelaskan jika saat ini Mia lebih membutuhkan mereka.


Mereka yang sudah mulai beranjak remaja mengerti. Lagi pula di rumah sakit tidak boleh terlalu banyak orang. Mereka bisa menjenguk Nyonya Helen besok.


"Pah, salam buat Oma ya!" ucap Naura.


"Iya sayang. Nanti Papa sampaikan ya!" ucap Dion.


Setelah melihat kedua anak kembarnya mengerti, ia segera kembali ke rumah sakit. Betapa terkejutnya Dion saat melihat ibunya tengah dikelilingi oleh dokter dan perawat.


"Rian, Mama kenapa?" tanya Dion panik.


Rian segera menarik tangan Dion dan menenangkannya.


"Dokter sedang memeriksa Mama. Kakak tenang ya!" ucap Rian.


"Mama kenapa? Kumat lagi?" tanya Dion yang masih panik.


"Kakak tenang saja. Ini hanya cek rutin saja. Mama sudah membaik," ucap Rian.


"Ah syukurlah," ucap Dion sambil mengusap dadanya.


"Minum dulu Kak," ucap Rian sembari memberikan sebotol air mineral pada Rian.


"Terima kasih Ri," ucap Dion.


Malam ini mereka lewati dengan obrolan yang sangat dalam. Benar-benar cerita antara dua laki-laki sebagai kakak beradik. Rian mengadukan Riri yang justru kini sulit dihubungi. Sedangkan ia terbentur dengan permintaan Nyonya Helen.


"Sudahlah Ri. Pernikahan itu sekali dalam seumur hidupmu. Jangan sampai kamu menyesal hanya karena tergesa-gesa dalam mengambil keputusan," ucap Dion.


"Tapi selama ini Mama tidak pernah menginginkan apapun dariku. Mama hanya ingin aku menikah. Itu saja," ucap Rian.


"Sudahlah, Mama pasti mengerti. Kamu jangan membebani dirimu seperti itu," ucap Dion berusaha menenangkan Rian.


Sebenarnya Dion sedang menyembunyikan rasa sedihnya. Tidak dipungkiri, ia juga ingin melihat ibunya bahagia. Melihat Rian menikah adalah harapan Nyonya Helen. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Permisi," ucap perawat.


Rian dan Dion yang tengah bercerita mengalihkan pandangan mereka. Melihat seorang perawat dengan setelah putih mendekat dan memberikan sejumlah obat.


"Bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Dion.


"Nyonya Helen sudah sangat membaik. Kami akan terus memantau perkembangannya. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami," ucap perawat itu.


"Baiklah. Terima kasih banyak," ucap Dion.

__ADS_1


Perawat itu kembali setelah menjelaskan obat yang harus diminum ibunya malam ini. Dalam hati ada rasa iri dengan keberadaan Dion dan Rian di ruangan itu. Betapa kompaknya mereka berdua menunggu pasien. Dari kegelisahannya perawat itu sudah bisa membaca betapa besar dan tulus kasih sayang Dion dan Rian untuk ibunya.


__ADS_2